
Aini pagi ini mendapat sms kalau suaminya akan pulang. Sudah bisa di bayangkan kepulangannya kali ini juga tidak berarti apa apa. Keuangan juga tidak berubah. Keaadaan juga sama.
Pagi pagi Aini sudah siap siap di rumah menyambut kedatangan suaminya. Anak anak sudah pergi sekolah. Aini sengaja tidak memberitahu anak anaknya. Dan dia pun tau kepulangan suaminya tidak membawa apa apa.
Karena suaminya selama didubai juga tidak kerja dengan baik. Buat apa terus bertahan disana. Sementara disini cacu suaminya selalu marah marah. Aini sudah bilang jangan biarkan anak cacu yang ngantar ke sekolah. Namun suaminya tidak juga ikut ucapannya. Ini yang membuat Aini dan anak anak susah. Cacinya selalu ribut ribut tidak suka dan menyusahkan mereka. Mereka tidak mau mengantar dan jemput anak anak Aini dari sekolah.
"Hei Aini kamu suruh Furqan sewa rikhsaw saja untuk antar jemput anakmu, kalian menyusahkan kami terus. Kamu juga tidak mengajari anakmu sopan pada kami. Buat apa ngantar anakmu ke sekolah? Kalau dia kurang ajar," ucap caci waktu itu.
"Saya juga tidak mau, anak saya di antar suami kamu. Cuma Furqan saja yang mau," jawab Aini dongkol.
********
Aini sudah berapa kali juga bilang lebih baik bayar sewa antar jemput anak sekolah. Setiap hari juga lalu di depan rumah. Namun selalu ada alasannya untuk tidak ikut ucapan Aini. Suaminya selalu berpikir lebih baik dengan cacunya saja. Sekalipun cacunya selalu ribut dan marah marah ada saja kesalahan yang membuat mereka murka.
Dan hari ini suaminya pulang tanpa membawa uang. Tidak lama datang taxi yang mengantar suaminya dari bandara. Di lihatnya suaminya turun dari taxi.
"Assalamualaikum sayang, apa kabar ? Apa kah baik baik saja?" tanya Furqan menahan rindu. Sambil di peluk istrinya.
"Waalaikumussalam bagaimana perjalanannya?" tanya Aini.
"Yah baik baik saja, anak anak mana?" tanya lelaki itu.
"Mereka pergi sekolah, saya tidak memberi tau mereka, kalau kamu datang hari ini," jawab Aini.
"Oh oke. Nanti biar saya yang jemput mereka pulang sekolah.Kamu bagaimana ?" tanya suami Aini lagi.
"Biasa saja, sama seperti dulu," jawab Aini.
"Saya pulang tidak membawa apa apa, kasihan kamu dan anak anak," ucap Suami Aini.
"Sudah nggak usah dipikirkan, sekarang makan lah dulu, nanti diatur lagi. Mau bagaimana? Yang penting kamu selamat pulang. Hidup pas pasan tidak mengapa," jawab Aini pasrah.
Aini menyiapkan makanan untuk suaminya. Dan suaminya makan dengan lahap karena rindu juga makanan rumah.
Sudah seminggu kepulangan suaminya dan belum dapat bekerja. Keuangan belum juga membaik. Begitu tau abangnya pulang ipar Aini datang.
"Abang apa kabar?" tanya saudari suami Aini dengan wajah di manis maniskan karena memang ada maunya. Oleh oleh dari luar negri.
"Baik, kamu bagaimana? Apa sering sakit sakitan?"tanya suami Aini pada iparnya.
"Saya memang penyakitan ,bagaimana di sana? Apa ada oleh oleh untuk saya.
"Biasa saja kerja tak jalan, saya tidak bawa apa pun. Termasuk untuk anak dan istri saya," jawab lelaki itu.
"Mmmhh tapi untuk saya mestilah ada oleh oleh," jawb saudarinya kecewa.
"Memang tak punya malu", sahut Aini.
__ADS_1
"Ngapain malu wajar saya minta oleh oleh saya adeknya, dia abang saya," jawab perempuan itu tak mau kalah. Apa pun yang penting adat. Dan meminta pada abang itu keharusan karena kalau nanti pulang ke rumah suaminya. Pasti di tanya, apa oleh oleh dari abangmu? Kalau nggak ada. Abang mu ternyata pelit. Jadi ini adat memang selalu menyusahkan. Tidak ada toleransi.
"Justru karena kamu adeknya dan dia abangmu seharusnya kamu lebih berperasaan, dia pulang ongkos di jalan saja ."
"Saya tidak bawa apa apa untuk anak dan istri pun saya tidak bawa," jawab suami Aini sedih. Tertunduk pilu. Merasa malu pada istri. Namun saudarinya lagi lagi nambah stress.
"Mmmhh buat apa saya datang menemui kamu kalau begitu," jawab perempuan itu dengan kecewa.
"Saya tidak nyuruh kamu datang menemui saya," bantah suami Aini lagi sambil geleng kepala, melihat sikap adeknya.
"Hahaha ya benar karena kamu tidak dapat oleh oleh. Makanya kamu kecewa. Adat apaan kamu ini, seharusnya prihatin melihat keadaan abangmu. Ini malah tidak peduli, muka tembok ," jawab Aini kesal dengan sikap iparnya.
"Ah sudahlah kamu pulanglah ke rumah suamimu buat apa kamu di sini," ucap suami Aini pada saudarinya kesal.
"Ya saya harus pulang lagian di sini saya tidak dapat apa apa," balas saudarinya kesal dan kecewa.
"Gila punya adat. Yang selalu meminta minta,bagaimana kalau istrimu seperti dia? Lagi bagus biar kamu rasa," jawab Aini lagi.
Sudah hampir sebulan suaminya juga belum kerja. Uang pun sudah tidak ada. Dan bahan makanan semua sudah habis.
"Ata habis nih untuk siang nanti tidak ada," lapor Aini pada suaminya.
"Nanti saya cari sekarang kamu coba pinjam dulu," jawab suami Aini.
"Pinjam sama siapa ? Sama caci mu aku nggak mau dia mulutnya ember bicara ngomel ngomel," elak Aini.
Miris rasanya mendengar ucapan suaminya memang kehidupan mereka semakin sulit saja. Bukan Aini tidak mau membeli dengan uang gajinya tetapi uang itu memang sengaja Aini simpan untuk urusan dokument.
Nah kalau untuk makan saja suami kesulitan memenuhi, trus bagaimana biaya dokument mereka. Aini bertekad biarlah kurang kurang makan asal nanti duit terkumpul dan bisa pulang.
"Sayang saya memang sudah capek hidup di sini, saya punya keluarga negara sendiri tapi saya pun macam orang asing," ucap suami Aini pasrah.
"Trus apa mau kamu?" tanya Aini bingung.
"Kalau kamu mau pulang,pulanglah bawa anak anak semua," jawab laki laki itu.
"Oh jadi kamu sudah tak mau bertanggung jawab, ok kalau begitu, dulu saya kamu dapati satu orang dan saya juga akan pergi satu orang," jawab Aini tegas.
"Trus yang jaga anak anak siapa?" tanya pria itu ragu.
"Bukan urusan saya, mereka anak anak mu kamu urus sendirilah, saya pun mau lihat siapa yang menjaga anak anak mu?" tantang Aini lagi. Bukan sekali dua kali bicara begitu. Setiap dia tertekan oleh kehidupan di negaranya justru menyuruh Aini pergi.
"Lebih baik kamu bawa aja semua," jawab pria itu mayun dan sedih semakin pilu.
"Ngapain saya harus bawa mereka,kalau saya pergi sendiri, di sana saya tidak akan mikir anak bagaimana karena anak sama kamu," elak Aini lagi. Tetap bingung dengan sikap suaminya. Kalau mau nyuruh pulang belikan tiket. Sekalian tiket anak anak.
"Ok saya juga tak fikir kamu pulanglah," jawab pria itu tertekan. Karena belum ada kerja. Jadi perasaan gundah justru nyuruh anak bini pulang.
__ADS_1
"Kamu beli tiket urus surat surat saya, kasih duit baru saya pergi," jawab Aini.
"Saya tidak ada uang sebanyak itu," elak laki laki itu semakin bingung.
"Itu bukan urusan saya, dari mana uang kamu dapat buat apa saya mikir kalau kamu sudah tidak ingin kita bersama. Anak anak nasib merekalah kalau memang orang tua harus berpisah," jawab Aini panjang lebar.
"Saya susah di sini kerja tak bagus uang tak cukup," ucap suaminya lirih. Pasrah dengan keadaan.
"Waktu kamu dulu kerja. Saya juga tak beli baju makan cukup trus sekarang apa beda nya ?" tanya Aini.
"Tapi kalau kamu mau kamu silahkan pergi," ucap pria itu tidak yakin dengan ucapan sendiri. Bukannya merangkul memeluk istri, ini malah nyuruh pergi.
"Apa ini sudah kamu pikirkan baik baik?" tanya Aini
"Dari pada kita bertengkar terus ," jawab laki laki itu.
"Yang membuat kita bertengkar itu adat kalian. Bukan masalah saya kurang pakaian dan makanan tetapi adat. Yang kalian banggakan itu yang selalu menyusahkan kita di tambah keluarga yang kamu banggakan itu mana peduli kesusahan kamu".
"Trus apa lagi saya lakukan ," jawab suami Aini
"Setidaknya kamu sadarlah kalau kamu ada uang semua menghormati kamu bila kamu tak punya uang jangankan menghormati menegurpun tidak."
Ditatap mata suaninya yang sendu."Aini bersukur saja kita ada anak. Sementara orang ada tak punya anak. Yang jaga anak kamu ibunya wajar. Ini namanya hidup." jawab laki laki itu lagi dengan tulus.
Bukalah mata hatimu sayang bisik Aini dalam hati. Buat apa kamu terus terusan menyiksa diri dengan menuruti adat kalian. Adat itu semampu saja kalau memang tidak sanggup kenapa terus dipaksakan.
********
"Hari ini mau beli apa? Untuk dimasak?" Tiba tiba suaminya bertanya mau masak apa.
"Apa tidak salah baru semalam kamu nyuruh saya pulang ,eh sekarang nanya apa yang di masak seharusnya nanya bulan kapan mau pulang tanggal berapa tiket ?" jelas Aini heran pada suaminya.
"Sayang kenapa kamu tidak paham juga, kamu istri saya ibu anak anak saya,bagaimana saya bisa menyuruh kamu pulang bagaimana anak anak kita kalau kamu jauh?" tanya pria itu bertubi tubi.
"Itu kan kemauan kamu trus kenapa berubah sekarang?"tanya Aini cuek.
"Sudahlah jangan marah marah lagi kasihan anak anak kita. Nanti jadi korban. Mereka salah apa? Kenapa kita berpisah?" jawab suami Aini.
"Siapa yang marah sama kamu , kamu sendiri yang bicara sekarang kamu pula yang mengingkari," jawab Aini kesal dengan sikap suaminya.
"Saya suami kamu. Apa tak bole saya marah? Atau sayang sama kamu?" tanya pria itu.
"Ini bukan masalah sayang atau marah, masalahnya kamu sendiri ucapannya tidak bisa di pegang," bela Aini.
"Ya sudah maafkan saya. Saya tidak bisa menjaga anak anak kalau kamu tidak ada. Dan saya tidak percaya orang lain yang menjaga anak anak kita," jawab suami Aini sambil tersenyum konyol.
"Baru sadar rupanya?" tanya Aini kesal. Seolah suaminya mempermainkan dirinya saja. Semalam nyuruh pulang. Sekarang bilang sayang. Edan gumam Aini.
__ADS_1