
Hari hari berlalu sampai sudah berminggu minggu namun sikap suaminya tetap tidak berubah. Sekalipun begitu biaya sekolah anak biaya bulanan lainnya tetap suaminya yang bayar.
Namun itu semua jauh dari cukup. Kalau mahu beli baju keperluan pribadi suaminya tidak pernah belikan. Setiap hari raya ipar iparnya beli baju baru, bahkan setiap kali ganti musim. Ini sudah tahun ke tujuh pun Aini tetap tak bisa ganti ganti baju. Selagi masih ada yang lama masih di pakai. Begitu juga dengan anak anaknya.
Namun tahun ini ia berniat belikan anak anaknya baju baru dan sepatu baru. Satu dua layan masing masing. Dan untuk dirinya juga. Sebagian uang masih di sisihkan nya untuk tabungan kelak mengurusi semua dokumentnya dan anak anak yang sudah lama habis masa berlaku. Kalau mengharapkan dari suami tak kan pernah bisa.
"Abang untuk kami mana baju baru?" iparnya seperti biasa minta jatah baju baru.
"Saya mana ada uang, minta sama suami kalian ,"Jawab suami Aini.
"Tapi istri dan anak anakmu beli baju baru, adat kita abang lupa? Kamukan abang aku. Dan aku juga berhak dapat baju dari abang," ucap saudarinya.
"Itu duit Aini. Dari gajinya", jawab suami Aini datar.
"Mintakan lah sama istrimu diakan yang tertua jadi juga bertanggung jawab sama adek adek mu," ucap saudarinya lagi tanpa malu.
"Kamu minta sendiri lah," jawab suami Aini kesal.
"Aini baju untukku mana?" tanya ipar Aini.
"Baju apa?" tanya Aini heran. Sambil memandang suaminya bingung.
"Baju hari raya," jawab iparnya lagi.
"Memang tak tau malu kau yah, abangmu aja tidak ngasih baju untukku dan anakku. Hadeh kau pula yang harusku kasih baju, kenapa kalian tak punya malu," jawab Aini sambil geleng geleng kepala.
"Kamu yang tua seharusnya juga ber tanggung jawab," ucap ipar Aini setengah memaksa kehendak.
"Adat kalian itu cuma menyusahkan orang, ini adat pahit kau kasihkan ke aku. Dan yang manis manis kau telan sendiri. Kalau begitu aku juga mau," jawab Aini ketus. Sebal melihat tingkah iparnya.
Pagi pagi sudah di ganggu oleh iparnya yang minta jatah baju, yang abangnya sendiri tidak ngasih anak bini.
Namun Aini memang sudah tidak punya hati lagi. Entah kapan suaminya akan terbuka pikirannya. Kadang ingin rasanya meninggalkan mereka, anak dan suami setelah di pikir pikir lagi kasihan anak anak bila orang tua ber pisah.
"Sayang apa kah kau masih mau hidup bersama ku", tanya Aini sama suami nya. Di tatap wajah lelaki yang sudah memberi dia dua jagoan itu.
"Terserah kamu, saya tidak memaksa kamu. Kalau kamu mau pergi silahkan," ucap lelaki itu pasrah.
"Maksud kamu apa?" tanya Aini tidak paham ke mana arah tujuan ucapan suaminya.
__ADS_1
"Yah terserah kamu kamu masih mau atau tidak," jawab pria itu mengambang.
"Itu kan pertanyaan saya dan saya mau tau pikiran mu?" jawab Aini heran dan bingung nggak nyambung nyambung.
"Kamu taunya, saya yang bawa kamu ke sini,kamu tidak punya siapa siapa tapi saya di negara saya juga seperti tak punya siapa siapa," jawab suaminya menahan kesal. Karena menurut dia Aini keras kepala dan tidak mau ikut ucapan suami.
"Trus salah saya kah? Kita apa apa di sini kurang. Kalau kamu mau saya ikut ucapan kamu. Seharusnya kamu biarkan saya seperti perempuan sini. Baru saya ikut ucapan kamu. Kalau saya mau beli baju karena adekmu cacimu popomu beli baju setiap bulan, trus kamu marah marah. Semua perempuan sini boleh trus kenapa saya tidak boleh?" tanya Aini.
"Saya tidak salahkan kamu atau siapa pun ini nasib sayalah, saya orang biasa saja oleh sebab itu saya juga mau istri saya biasa pula," jawab suami Aini.
Mendengar itu Aini semakin nggak ngerti maksudnya apa. Kalau memang selama ini suaminya selalu membantu adek adeknya itu pun tidak ada yang kembali uangnya.
Namun bila sekarang hidup susah soal anak anak butuh biaya siapa yang bantu. Tidak ada bahkan ngasih duit 10 rupe pun mereka bilang bilang. Aku ngasih ini itu.
"Sayang bisa kita bicara, saya harap kamu akan paham maksud saya," ucap suami Aini.
"Bicara apa?" tiba tiba suaminya ngajak bicara. Perasaan tidak enak menyelimuti hatinya.
Memang sekalipun mereka bertengkar namun suaminya tetap manggil sayang.
"Saya akan kembali kerja ke luar negara," jawab suami Aini lagi.
"Kamu tetap di sini sampai saya bisa ngumpulin uang untuk kita nanti". Sambil menghirup nafas dalam dalam. Mencoba menenangkan diri.
"Saya tidak masalah kamu pergi lagi. Tapi dengan syarat uang saya yang pegang, selama ini kan tidak uang orang yang pegang trus anak saya selalu kurang makan baju," jawab Aini.
"Iya sayang mesti lah nanti kamu yang pegang, karena saya pergi untuk anak saya," ucap suaminya lagi.
"Oh jadi yang lalu pergi buat siapa? Buat orang lain? apa sekarang rencana mau pergi?" tanya Aini kesal ingat yang dulu.
"Lihat lah besok mungkin saya akan ke Dubai," jawab suami Aini.
"Trus kamu ada uang tidak untuk pergi?" tanya Aini ragu.
"Nggak ada, nanti cari pinjam sama orang," jawab suami Aini kurang yakin. Siapa yang akan memberi pinjaman.
Aini tidak percaya lagi, kadang suaminya sendiri ucapannya sulit di pegang. Nanti uang bukan ke tangan Aini justru keluarganya yang pegang.
Sudah capek rasanya hidup bersama suaminya percuma di beri nasehat, namun lagi lagi yang menang adat mereka di banding kenyataan.
__ADS_1
Semua kalau bukan demi anaknya dia sudah pulang dari dulu. Namun dia tidak sanggup meninggalkan anak anaknya. Mau tidak mau sekarang dia masih bertahan berharap suaminya terbuka matanya dan ikut ucapan Aini.
Seperti mimpi saja memang akhirnya suaminya pergi lagi ke Dubai. Dengan berhutang sana sini. Dan ternyata benar uang bukan dia yang pegang, lagi lagi cacunya yang pegang. Bahkan untuk keperluan Aini seperti mengemis minta sama cacunya . Benci sekali rasanya melihat kenyataan ini.
"Cacu. Suami saya kirim uang saya minta. Saya perlu. Hari ini saya mau ke pasar," ucap Aini sama cacu suami.
"Suami kamu bilang kalau mau apa apa biar saya yang belikan," jawab cacu.
Yang ada Aini seperti pengemis minta sama cacunya. Ini yang bikin Aini semakin benci. Buat apa suaminya jauh dari dia dan anak anak ternyata uang pun orang yang pegang.
"Kenapa harus begitu. Apa pentingnya setiap mau sesuatu ijin dulu," ucap Aini kesal. Mana bebas dia begitu. Dan caci juga melarang suaminya kalau Aini butuh sesuatu. Suka mengatur apa yang bole dan tak boleh. Sesuai ijin cacu caci.
Aini sudah bilang jangan berurusan dengan cacunya lagi. Lagi lagi suaminya tidak mendengar ucapannya. Malah meyakinkan Aini tidak ada masalah. Kalau nanti kamu yang pegang uang ngambil uang nanti kamu di rampok. Soalnya kamu orang asing dan orang mesti curiga.
"Sayang itu alasan kamu saja. Saya kerja dulu di malaysia semua sendiri. Kenapa sekarang di negara suami tidak boleh melakukan apa pun?" Aini protes sama suaminya. Namun suaminya mengatakan Aini tidak bersukur.
"Kamu bersukurlah. Uang tinggal minta. Kalau kamu perlu. Dan apa yang kamu inginkan kasih tau saja sama cacu. Nanti di belikan," jawab suami Aini beralasan lebih baik uang cacu yang pegang. Yang ada caci iri kalau uang di tangan Aini.
Yah bilang aja memang suaminya lebih percaya keluarganya di banding istrinya. Hari berganti hari sudah dan suaminya di sana kadang ada kerja dan kadang tidak ada. Uang yang di pinjam sama orang waktu mau pergi belum juga lunas.
Sedangkan Aini di negara suaminya tetap hidup susah. Gaji Aini kerja memang ada tetapi untuk biaya anak sekolah suaminyalah yang harus bayar di tambah bayar listrik dan lain lain.
Namun semua itu tidak cukup juga untuk makan. Akhirnya cuma enam bulan suaminya di sana. Aini selalu marah marah nyuruh dia pulang. Karena cacu suaminya bukan malah membuat hidup Aini tenang. Justru semakin membuat Aini dan anaknya tertekan buat apa suami kerja jauh ninggalin anak bini uang juga bukan istri yang pegang. Berkali kali Aini nyuruh suaminya pulang saja. kerja di sini saja lebih baik.
"Sayang , apa kamu tahan kalau saya tambah lagi kerja? Nanti kita bisa kumpul uang? Kamu sabarlah lagi," bujuk suami Aini. Berharap Aini mau .
"Saya tidak mau. Lebih baik kamu pulang saja. Di sini anak anak tak rasa kasih sayang papa. Dan saya di sini susah sendiri. Saya tidak mau kamu kerja di sana lagi. Pulang saja," jawab Aini. Padahal kalau uang di tangan Aini sudah tentu Aini mau.
"Tapi nanti di sana kerja susah. Di sini saya boleh kirim lebih uang. Cobalah kamu paham," bujuk suami Aini.
"Saya tidak mau. Kamu pulang saja. Saya tidak peduli yang penting kamu jaga anak anak kita. Saya tidak mau anak anak di antar cacu kamu terus. Anak susah, kamu jauh, uang bukan saya yang pegang buat apa? Lebih baik kamu di sini saja. Cari saja kerja di negara kamu sendiri," jawab Aini lagi. Tak mau mengalah terus.
"Ok baiklah, tapi nanti jangan marah marah, kalau apa apa tak cukup. Kamu tau sendiri kalau di sana gaji kurang. Kita tidak bisa planning apapun. Kamu harus sabar saja," jawab suami Aini.
"Saya boleh sabar. Kurang makan kurang baju. Tapi saya tak bisa sabar kalau keluargamu terus terusan datang. Sudahlah kita serba kurang, malah mereka sering sering datang," jawab Aini lagi.
"Mereka juga tak mau datang. Kita mana ada kasih mereka makan," jawab suami Aini.
"Baguslah kalau tak mau. Jangan pernah datang lebih baik," jawab Aini.
__ADS_1
Seminggu kemudian suami Aini kembali ke Pakistan. Kerja serabutan