
Dua saudara itu selalu bersama. Bukan apa apa ini semua didikan Aini. Dulu iparnya mengatakan Aini tidak menjaga Akram dengan baik. Karena Akram selalu bertengkar baik dengan anak tetangga atau adek sendiri.
Hari ini Yasmin datang seperti biasa. Membawa Umer anak madunya. Yang sudah di anggap anak sendiri.
"Assalamualaikum," ucap Yasmin. Sambil membimbing umer masuk.
"Waalaikumussalam," jawab popo Yasmin tidak lain orang tua angkat Yasmin. Sambil memeluk Yasmin dengan erat. Karena sudah lama tidak datang. Sebenarnya tidak terlalu lama sih,kurun waktu dua bulan saja tidak datang.
"Apa kabar Nak, saya rindu kamu," jawab popo Yasmin lagi.
"Saya apa kabar tak ada. Saya di sana banyak kerja . Jaga anak madu juga. Sekarang dia lagi hamil anak ke dua," jawab Yasmin lirih.
"Kenapa kamu bernasib seperti ini," ucap popo Yasmin. Dan mulai menangisi nasib Yasmin. Sementara Yasmin sendiri juga menangis nangis bombay. Ini lah drama yang sering di lihat Aini. Bagaimana mungkin dia bisa kuat mentalnya , sementara selalu menceritakan kesedihannya pada ibu angkatnya. Yang ada dia semakin down. Coba kalau di tabahkan hatinya. Di suport besarkan hatinya. Tentu dia akan kuat mentalnya tidak perlu tertekan.
"Umer," panggil Yasmin. Sambil mencari cari anak madunya.
"Popo ji, Umer pergi keluar main dengan Rafi dan Huzel. Di sana di depan rumah kakek Rafi," ucap Akram.
"Kamu pergi panggil dia! Bilang popo yang panggil," jawab Yasmin.
"Nggak mau , saya di larang ami ji ke sana. Dan Rafi selalu jahat sama saya," ucap Akram.
"Umer," teriak Yasmin. Namun Umer malah sengaja tidak mendengar. Asik bermain.
"Ku tinju kau nanti. Bagi balik kelereng saya," ucap Rafi pada Umer.
"Ini punya saya, tak mau bagi balik sama kamu," ucap Umer. Sambil lari membawa kelereng di tangan. Melihat itu Rafi kesal dan mengejar Umer, sambil memukul punggung Umer kuat kuat. Dan kontan saja Umer terjatuh ke tanah.
"huhuhuhuhu." Bocah itu menangis kuat. Dan Yasmin yang mendengar suara Umer begegas keluar.
"Ada apa? Kenapa menangis? Siapa yang pukul kamu? Cepat sini sama mama. Cup cup.. Sudah jangan nangis lagi," jawab Yasmin.
"Mama ji. Rafi mukul saya dia mau ambil kelereng saya," isak Umer.
"Rafi, kenapa kamu pukul anak saya? Awas kau yah nanti ku bilang sama dadi kamu," ucap Yasmin kesal.
Sambil membawa Umer ke dalam dan membersihkan luka Umer. "Sudah kamu main dengan Akram saja. Dia tidak jahat sama adeknya," ucap Yasmin.
"Popo saya tidak mau main dengan Umer. Dia bukan adek saya. Saya cuma akan main dengan adek saya. Kalau saya bertengkar dengan adek saya, ami saya tidak akan bertengkar sendiri. Karena kami anak anak ami. Kalau saya main dengan Umer, trus bertengkar, nanti popo sama ami saya juga bertengkar," jawab Akram.
"Bhai Akram ayo main pedang pedangan," pinta Ali pada bhainya.
"Ayoo. Kita mulai." Pranggh treenng. Dengan berbagai gaya Akram dan Ali asik main. Sambil tertawa kadang hampir saling pukul beneran. Namun Aini menasehatkan. Silahkan main puas puas , dengan syarat tidak boleh saling menyakiti. Dan tidak boleh menangis apa lagi mengadu.
Umer melihat dengan tatapan iri. "Mama ji. Saya mau ikut main sama mereka," ucap Umer pada Yasmin.
"Tidak boleh, nanti kamu nangis trus ngadu sama popo, weeeeè," cibir Akram.
"Umer sini. Jangan ke sana. Kamu main sendiri saja," ucap Yasmin.
"Mama. Saya mau main juga," Umer teriak sambil menarik rambut Yasmin. Kontan saja Yasmin kesakitan dan marah.
"Aduhh. Kenapa di tarik rambut saya. Dasar anak nakal. Dia bukan saudaramu jadi dia tidak mau main sama kamu. Trus mengapa saya kamu pukul," jawab Yasmin.
"Saya pukul kamu," ucap Umer sambil melampiasan kekesalannya pada Yasmin.
"Ahhhhh sakit," teriak Yasmin. Sambil balik memukul Umer. Umer teriak keras. Karena tidak di ijinkan main. Umer sangat keras kepala. Apa yang di mau harus di penuhi.
"Bhai. Awas," teriak Ali.
"Tidak kena," ledek Akram.
Lalu mereka ketawa bersama. Yasmin yang melihat cuma mayun saja. Sedang Umer masih tetap melawan ucapan Yasmin.
*******
"Rafi, tadi mukul Umer sampai jatuh. Kenapa dia degil jahat sama orang," protes Yasmin pada Dadi Rafi.
"Namanya anak anak wajar nakal, lagi pula Umer yang datang ke tempat Rafi bermain," bela Dadi Rafi. Tak mau cucunya di salahkan.
"Anak anak memang nakal. Tapi tidak seharusnya juga dia mukul dengan keras begitu. Kalau luka bagaimana?" ucap Yasmin lagi.
"Kalau begitu kamu jagalah dia. Jangan biarkan dia main dengan cucuku." jawab Dadi Rafi tidak mau mengalah.
Bagaimana pun cucunya tidak mau di salahkan. Soal anak orang kalau jahat sama cucunya, maka dia tidak akan diam. Sudah heboh besar. Dan di datanginya anak orang itu mau di beri pelajaran.
"Dadi ji. Tadi Umer mencuri kelereng saya," ucap Rafi. Tiba tiba Rafi datang.
__ADS_1
"Ini punya Umer. Tadi bawa dari rumah. Sampai sini dia mau main sama Rafi. Itu lah tadi Rafi mukul Umer," Ucap Yasmin.
"Bohong punya saya, dia yang mencuri. Dasar anak anjjjj." Lalu dia pergi lari ke luar.
"Lihat cucumu. Ngomong gali. Apa kamu tidak malu? Cucumu bicara begitu,"ucap Yasmin lagi.
"Kamu ini. Gara gara Umer tadi. Coba kalau Umer tidak mengganggu Rafi, tidak akan Rafi bicara begitu," bela Dadi Rafi yang tidak lain adalah kalla Yasmin.
Memang kalla punya sifat tidak mau cucunya di salahkan. Walaupun cucunya sendiri yang salah. Tapi coba kalau anak orang yang salah. Maka dia pun akan marah marah sambil bicara gali. Gali artinya bicara kasar kotor atau ngatain orang anjjjj.
"Huzel," teriak Rafi lagi. Sambil berlari mengejar Huzel. Dan Huzel berlari ke dalam rumah Yasmin. Ada dadi Rafi dan Yasmin.
"Dadi , dadi tolong saya," sambil berlari memeluk dadinya. Untuk menghindar dari kejaran abangnya.
"Ada apa ini," tanya dadi Huzel.
Lalu Rafi datang dan memukul Huzel dengan kuat. Huzel pun menangis keras.
"Dadiiii huhuhu," teriak Huzel.
"Hei kenapa kamu mukul adekmu. Berhenti," ucap dadinya. Sambil menghalangi Rafi memukul Huzel. Satu pukulan telak tepat kena ke punggung Huzel. Huzel tejatuh. Lalu Rafi di pegang sama dadinya mau mukul balek.
"Kamu jahat sama adekmu. Ku pukul kamu nanti," ucap dadinya. Sambil mukul kepala Rafi.
"kamu anak anjjjj, dadi anjjjj," sambil berlari Rafi keluar.
Yasmin melihat semua kejadian itu tersenyum sendiri. Tadi baru saja Yasmin komplain sama dadi Rafi, namun dadinya membela Rafi. Sekarang Rafi sendiri yang mukul Huzel. Juga ngata ngatai anak anjjjj.
"Nah kamu lihat sendiri sifat Rafi," ucap Yasmin pada kallanya.
"Mama ji. Mau keluar main," ucap Umer.
"Nggak usah nanti kamu di pukul sama Rafi lagi," ejek Yasmin.
"Saya mau main sama siapa?" tanya Umer.
"Nanti papamu datang kita pulang," jawab Yasmin.
Yasmin memperhatikan Akram dan Ali bermain. Memang kadang mereka bertengkar. Tapi setelah itu mereka bermain lagi.
"Trus apa salahnya Umer main dengan Akram?" tanya Yasmin lagi.
"Kenapa kau tak suruh dia main dengan Rafi? Apa kau lupa, dulu kamu yang bilang kalau Rafi baik sama Huzel. Dan kamu menjelekkan Akram karena jahat dan tidak mau main dengan Ali. Sekarang kamu malah ingin Akram bermain dengan Umer. Saya tidak suka anak saya bermain dengan anak anak orang," jawab Aini lagi.
Enak saja. Rasakan sekarang ngurus anak. Padahal itu bukan anak kandung anak madu. Ya ampun bodoh sekali. Dulu sering alasan sakit. Kok sekarang kuat ngurus anak orang. Dulu di nasehatin kamu harus kuat. Namanya hidup bekeluarga. Eh malah alasan banyak. Wajar dari kecil bak ratu di manja popo setelah kawin jadi babu tanpa gaji. Mau tidak mau harus ikut ucapan laki. Kalau tidak di cerai.
Bbbbbrrrrrrrmmmm. Suara motor berhenti di depan rumah. Rupanya suami Yasmin ayah umer datang menjemput.
"Papa ji," teriak Umer ke arah papanya.
"Umer kenapa mukamu," tanya papanya sambil menggendong anaknya.
"Tadi di dorong Rafi, sampai terjatuh ke tanah. Mukanya kena tanah semua," lapor Yasmin pada suaminya.
"Kenapa kamu tidak jaga, seharusnya kamu perhatikan jangan main sama dia. Kamu juga tau dia anak yang kasar," ucap suami Yasmin.
"Dia yang bandel. Dia yang lari keluar tanpa saya tau. Trus sudah di panggil tidak mau dengar," bantah Yasmin.
"Kalau kamu memperhatikan dia dengan baik, tidak mungkin dia keluar diam diam. Ngurus anak satu saja kamu tidak becus," bentak ayah Umer pada Yasmin.
Karena di perhatikannya Umer mukanya terluka gores. Dan membuat tanda yang lama hilang.
"Ayo ganti baju Umer. Kita pulang," ucap Yasmin. Sambil di gendongnya Umer dan mencuci muka, tangan, dan kaki bocah itu.
"bhai, gendong," ucap Ali pada Akram manja.
"Mmmmhhh ayo sini," ucap Akram.
Ali senang di gendong abangnya. Sambil berkata. "Ami ji. Lihat saya di gendong abang yahuuuuuu," teriak Ali kegirangan.
"Papa saya juga mau abang," ucap Umer.
"Kenapa? Kamu sendiri sudah abang?" tanya papanya heran.
"Lihat Ali dari tadi dia senang main dengan abangnya. Saya mau main dengan Rafi tapi Rafi jahat sama saya. Trus mama bilang main sama Akram. Tapi Akram cuma mau main dengan adeknya. Saya bukan adeknya," ucap Umer sama papanya.
"Sudahlah tak apa nanti kamu besar kamu juga jadi abang," bujuk Yasmin sama Umer.
__ADS_1
Lalu mereka berangkat. Setelah pamit sama popo ibu angkat Yasmin. Dan keluar menuju pintu gerbang.
***********
"Ami. Mana bag sekolah saya?" tanya Ali.
"Kenapa tanya sama mama? Di mana semalam kamu tarok?"tanya Aini.
"Di sini, di atas meja," jawab Ali.
"Aduh sayang. Bag kamu jatuh. Lihat kotor sekali. Kosongkan biar mama cuci," perintah Aini.
"Assalamualaikum," ucap Furqan.
"Waalaikumussalam," serempak anak anak menjawab. "Papa datang," teriak Ali senang memang anak anak Aini cuma Ali yang lebih dekat dengan papanya.
"Kenapa dengan bag sekolahmu?" tanya papanya.
"Kotor. Mau dicuci dulu," ucap Ali.
"Aini. Tadi Yasmin datang cerita apa?" tanya Furqan.
"Cerita apa? Tak ada? Emang kenapa?" tanya Aini.
"Anaknya sakit katanya. Trus pergi berobat. Kok kamu tak tanya sama dia?" tanya Furqan.
"Hahaha anaknya sakit, sakit apaan? Kok sama kali penyakit Yasmin dengan anaknya. Dari tadi anaknya lari lari ke sana ke sini. Main sama Rafi bertengkar. Minta main sama Akram , Akram tak mau. Rafi mukul Umer sampai jatuh. Yasmin komplain sama kala kamu, kalla kamu bela cucunya. Hahaha aneh aneh saja. Datang datang ke sini sakit," jawab Aini.
"Iya papa. Umer juga jahat. Saya tak mau main dengan Umer. Lebih baik main dengan Ali saja. Tadi Rafi juga mukul Huzel adeknya," ucap Akram.
"Yah sudah kalian main berdua saja. Mereka biar saja. Yang penting kamu jaga adekmu," ucap Furqan.
"Gas habis nih," ucap Aini pada Furqan.
"Kok cepat habis," tanya Furqan.
"Cepat apaan sudah mau satu bulan," jawab Aini.
"Saya belum dapat gaji lagi," jawab Furqan.
"Trus bagaimana mau masak? Tak payah makanlah?" jawab Aini.
"Kamu ada duit. Pakailah dulu," jawab Furqan.
"Kenapa? Duit saya yang tempo haripun kamu tidak bayar," jawab Aini.
"Trus bagaimana caranya beli gas?" tanya Furqan.
"Bukan urusan saya. Kamu suami saya kamu yang urus, kalau saya pula yang mikir. Lebih baik saya kerja. Kamu urus anak anak. Apa apaan ini. Kalau saya kerja kamu ribut terus," jawab Aini.
"Iya saya tau. Ya sudah keluarkan selender. Saya pergi beli," jawab Furqan.
"Akram bantu papamu," teriak Aini dari dapur.
"Iya mama," jawab Akram.
"Nah kamu bila lagi bisa bawa motor. Pergi beli gas sendiri," tanya Furqan.
"Ya papakan yang belum ijinkan," jawab Akram.
"Kamu belajar lah dulu. Di dekat rumah baru bawa ke jalan raya. Keliling sini saja dulu," ucap Furqan pada Akram.
Sebenarnya Akram sudah bisa bawa motor. Tapi untuk membawa ke jalan raya belum berani.
"Ayo naik. Pegang selender," ucap Furqan.
Mereka berdua anak sama ayah pergi meluncur membeli gas. Sebenarnya Aini bukan tidak mau membantu. Tapi buat apa? Furqan dengan mudah membantu adek adeknya, di saat keuangan mereka sulit. Lalu di saat keperluan mereka habis kenapa tidak mencoba memikirkan. Aini bukan pelit. Dia tidak mau lemah. Mengalah soal uang.
"Ali, ayo masuk jangan main di luar. Nanti ada orang asing yang nangkap anak anak." Memang akhir akhir ini ada penculikkan anak anak sedang marak.
"Iya ami ji," jawab Ali.
"Kamu ingat kan. Kalau di sekolah sering mendengar berita penculikan. Anak anak. Untuk di ambil organ tubuhnya?" tanya Aini.
"Iya ami. Saya dengar," jawab Ali polos.
"Sudah sekarang kamu jangan main di luar. Main dalam rumah saja. Dan main dengan abang mu saja. Lebih baik kalian bertengkar bermain bersama kalian abang adek. Dari pada dengan anak orang. Ami tidak suka. Paham?" tanya Aini pada Ali anaknya.
__ADS_1