
Aini sudah lancar sekali bahasa sini. Namun bila bicara dengan orang sini yang tidak pernah sekolah masih agak sulit. Karena kebanyakan wanita di sini bahkan tidak pernah sekolah.
Kalau pun sekolah biasa nya tidak sampai tamat. Kalau sudah bisa tulis baca biasa nya mereka cuma di rumah saja. Atau lebih tepat orang tua mereka enggan menyekolah kan anak anaknya apa lagi perempuan.
"Mbak apa kabar ?" tanya seorang wanita paroh baya.
"Baik jawab Aini." Ada perempuan sini yang bertanya namun dia tidak bicara dalam bahasa resmi dia pakai bahasa daerah.
"Kamu nggak pergi ke walimah hari ini," tanya perempuan itu penuh selidik.
Karena yang bicara orang yang tidak pernah sekolah kental bicara dalam bahasa daerah Aini kesel kalau pun Aini paham maksud ucapannya apa namun Aini malas menjawab.
"Kenapa kamu pakai bahasa daerah pakai bahasa national lah?" jawab Aini sedikit kesal.
"Saya tidak paham kamu bicara apa?" lagi lagi itu wanita bicara. Aduh batin Aini ini orang memang sok pinter.
"Aku bicara dalam bahasa national negara mu kalau kamu tidak paham artinya kamu memang tidak berpendidikan," jawab Aini memang sudah kesal sekali. Dia tidak suka dengan orang yang mengajak bicara dalam bahasa daerah.
Akhirnya di bilang tidak sekolah perempuan itu mukanya memerah menahan malu.
"Yah pendidikan mu cuma adat dan seperti kebiasaan perempuan sini suka ngurusin urusan orang, ngurus urusan sendiri aja nggak bener," jawab Aini dengan faseh. Membuat perempuan itu semakin kesal.
"Ada apa ini." Tiba tiba perempuan yang lain datang mendengar percakapan Aini namun dia bisa bahasa urdu.
"Ini orang ngomong pakai bahasa daerah dia tau saya tidak terlalu paham eh malah bilang nggak ngerti ucapan saya," jawab Aini lagi.
"Tapi bahasa urdu mu jelas kok saya paham kamu bicara urdu," jawab perempuan ini.
"Berarti benarkan? Kalau kamu paham bahasa urdu saya, artinya saya bicara benar dalam kosakata Urdu, kalau dia tidak paham berarti dia yang bodoh. Bukan saya. Memang kalau saya bicara dalam bahasa Indonesia kalian paham?" tanya Aini.
Itu memang kebiasaan perempuan sini. Dulu bahkan mereka kalau bicara malah suka menertawakan Aini. Karena bahasa urdu Aini terbolak balik. Sekarang malah Aini bisa menjawab setiap orang yang bicara mengejek dirinya.
Aini bicara bahasa resmi di jawab mereka dalam bahasa daerah. Lepas itu di bilang pula dia tidak paham apa yang Aini ucapkan. Bikin muak saja mereka sok pinter setelah di test ternyata mereka nggak paham apa apa.
"Kakak kamu bicara Urdu faseh. Mungkin mereka terbiasa di kampung saja. Jadi tidak pernah tau orang dari luar."
"Saya juga heran. Dia yang tidak paham masalah saya ditertawakan. Seharusnya mereka malu. Yah wajar sih kalau orang tidak pernah sekolah," jawab Aini lagi.
"Biar saja nanti dia yang cuci piring." Aini mendengar iparnya bicara melarang ipar yang lain kerja dia mahu Aini yang kerjakan, karena mereka mahu ke pasar.
"Aini nanti rumah kamu bersihkan kami mau belanja ke pasar, nanti ada tamu yang datang rumah berantakan," perintah iparnya.
"Enak aja kalian lepas perut kenyang, sekarang pergi ke pasar dan saya yang bersihkan semua, saya cuma akan nyuci piring yang saya kotorkan tadi yang lain kaliankan yang kotorkan jadi kalian yang bersihkan," jawab Aini tak kalah ketus. Menjawab ipar ini perlu ketus.
"Kenapa kamu nggak mau bantu? Kamukan tidak ke mana mana," jawab iparnya heran.
"Oh kalian tau saya tidak ke mana mana jadi kalian bisa manfaatkan," jawab Aini.
"Apa ini ribut ribut perempuan. Kerja rumahpun tidak mau," omel iparnya lagi.
__ADS_1
"Kalau memang kalian tak mau ikut bersih bersih, kenapa kalian tinggal di sini? Saya cuma akan bersihkan apa yang saya pakai. Itu selebihnya barang kalian. Mengapa aku yang di suruh bersihkan."
Begitulah selalu itu lah makanya Aini muak kalau iparnya atau yang lain datang. Mereka tau Aini tidak pernah ke mana mana jadi mereka memang suka suka datang dan pergi.
"Abang istri mu kok begitu". Iparnya mengadu pada suami Aini.
"Memang kenapa dia?" tanya Abangnya.
"Dia kalau di suruh nggak mau padahal dia tidak ke mana mana?" jawab saudarinya lagi.
"Memang saya babu kalian? suka suka atur saya dan kamu kenapa sering sering datang sini rumah laki mu nggak ada apa?" tanya Aini. Semakin kesal di lapor ke suami sendiri.
"Apa ini kenapa bicara begitu sama adek saya?" tanya Suami Aini.
"Memang benar, dia sudah menikah tapi terus terusan ke sini lalu di sini ngatur ngatur kalau kamu banyak duit tak apa, tapi kamu untuk saya dan anak saya saja sering nggak mencukupi buat makan, malulah kalian," jawab Aini.
"Kamu jangan bikin malu saya. Kalau kamu tidak mau melayani dia sebagai tamu kamu sebaiknya berusaha berbuat baik," jawab Suami Aini.
"Kamu yang memang tak punya malu, kamu seharus tau dan kamu tidak mahu tau."
"Kamu yang keterlaluan ini adat kami kalau kamu ingin tinggal di sini kamu harus ikuti adat sini, kalau tidak kamu pergi dari sini pulang saja."
"Siapa yang mahu tinggal di sini? Kalau kamu memang ngusir saya kamu buat lah semua dokument saya kasih uang baru saya pergi," tantang Aini. Memang begitu dikit dikit ngusir. Tapi tiket tidak dibeli.
"Kamulah yang urus semua saya tidak ada duit," jawab iparnya lagi tanpa malu.
"Saya memang tak ada uang kamu kalau mahu pergi pergi saja lah jangan trus trusan bertengkar," suami Aini mulai panas.
"Untuk makan anak saja tidak cukup masih lagi sok berlagak adat saya juga bisa cari uang kalaupun saya perempuan, kami perempuan Indonesia bisa cari uang tidak sama dengan perempuan kalian sudah kawin masih saja minta minta sama keluarga," jawab Aini.
"Ini memang adat kami", sanggah ipar nya. Tanpa ada rasa malu.
"Iya benar adat kalian, mengemis tidak makan dengan usaha sendiri, buktinya kamu sudah kawin masih sering datang. Jadi wajar keluarga suami mu perlakukan kamu juga tidak baik. Karena kalian sama adatnya dan kamu juga tidak tahan, dan kamu ingat baik baik yah kalau nanti saya ada pekerjaan dan dapat gaji trus saya bisa beli makanan untuk saya dan anak saya apa kah kamu masih punya malu ?" jawab Aini lantang.
"Yah carilah kerja keluar rumah."
"Saya bukan bodoh dalam rumahpun saya bisa dapat uang," jawab Aini.
"Baguslah kalau begitu."
"Yah kalau saya bisa buktikan ke kamu trus apa kamu masih bangga dengan adat kamu?" tanya Aini.
"Buktikan lah usaha mu baru bicara."
Aini memang sudah menjalani pekerjaannya beberapa bulan yang lalu tapi belum berhasil. Karena kendala net dia memang tak punya jaringan net.
Capek sedih dengan keadaan uang untuk makan saja tidak cukup apa lagi untuk beli pakaian.
Kalau tidak ingat anak anak sudah pasti dari dulu dia pergi dari sini. Semua demi anaknya, karena Aini tidak mau anaknya jadi korban ke egoisannya. Kasihan mereka pikir Aini. Jadi apa pun itu Aini tetap bertahan sampai anak anaknya dewasa dan tamat sekolah.
__ADS_1
Sebenarnya urusan sekolah, suami Aini sangat perhatian,dia tidak mau anaknya tidak sekolah. Memang sekolah negri murah tapi untuk urusan sekolah justru suaminya pilih swasta. Dan Aini sangat bershukur itu.
********
"Ami ji kenapa kita tidak pindah saja? Saya tidak suka dengan orang orang di sini," ucap anak sulung Aini.
"Sabarlah sayang. Mungkin suatu saat nanti kita bisa pergi dari sini," jawab Aini. Sambil memeluk anaknya. "Bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya Aini.
"Biasa saja Ami. Saya bosan. Teman teman selalu mengganggu saya," jawab anak Aini.
"Kamu yang sabar yah. Kamu anak kebanggaan mama. Kamu cepat besar. Lalu kita akan atur semuanya. Mau ke mana tinggal di mana?" jawab Aini.
"Ami, bagaiman kalau kita pindah ke indonesia?" tanya anaknya lagi.
"Sayang kalau nanti di sana ada yang mengganggu kamu. Trus? Mahu pindah lagi ke sini?" tanya Aini.
"Di sana ada keluarga Ami, tentu saya senang di sana. Saya di sini bosan," jawab bocah itu lagi.
Di tatapnya anak sulungnya mencoba memberi jawaban yang tepat. " Begini. Di sini kamu juga sekolah. Nah di sana juga kan? Coba kalau nanti pindah trus ada anak yang mengganggu, bisa jadikan? Sebaiknya tamatkan dulu sekolahmu. Baru kita pindah. Jadi di sana tidak perlu sekolah lagi. Bagaimana?" tanya Aini. Yang di ikuti anggukkan kepala tanda setuju oleh bocah pintar itu.
Ya Allah mudahkan lah kehidupan kami. Sekalipun tinggal di lingkungan keluarga bapak sendiri. Namun anak seperti di buat stress. Begitu juga dengan Aini.
*******
Duduk termenung seorang diri. Tengah malam Aini sering terbangun. Menyadari nasib diri.
"Ami." Rupanya anak bungsu Aini terbangun.
"Ya sayang kenapa? Mau minum?" tanya Aini.
"Ami..takut," rengek bocah kecil itu. Sambil memeluk ibunya.
"Kenapa sayang? Apa kamu mimpi buruk?" Aini mencoba menenangkan anaknya .Sepertinya kegundahan hatinya berdampak buruk pada anaknya.
"Ami, mau minum air."
"Sebentar sayang Ami ambilkan," jawab Aini. Bergegas dia menuju dapur dan membawa segelas air.
Tranggg.... Tiba tiba gelas dalam gengaman terjatuh. Kontan membangunkan suaminya.
"Ada apa?" tanya suaminya.
"Tadi dia minta minum, setelah minum waktu saya ambil gelas jatuh," jawab Aini.
"Kenapa sayang belum tidur? Ayo sama papa?" panggil ayahnya.
"Ami mau tidur sama papa," rengek anaknya. Sambil menunjuk papanya.
"Ya sudah sini ami antar, tidur yah," ucap Aini sambil mencium kening anaknya.
__ADS_1