Demi Sibuah Hati

Demi Sibuah Hati
Tahun kelima


__ADS_3

Sebelumnya caci suami sudah mengerti kondisi anaknya lumpuh separoh. Pasangan itu sudah pergi berobat kemana mana. Pergi ke dukun pun juga ke berbagai dokter pun juga. Namun hasilnya tetap nihil.


Seiring perjalanan waktu anak bungsu Aini suda memasuki usia sekolah . Yah cuma beda setahun dengan anak cacinya. Karena sewaktu cacinya mulai hamil seingatnya anak baru belajar jalan.


Nah hari berlalu tahun berganti. Namun perlakuan cacu caci ipar dan suami tetap tidak berubah.


"Aini coba lah kamu mengerti anak kita laki laki kita harus bagi belajar baik sama orang tua harus patuh," ucap suami Aini.


"Pastilah saya mau anak saya patuh pada saya orang tuanya," jawab Aini tak mau kalah. Karena dia tau tujuan suaminya bicara.


"Bukan kita saja semua orang tua."


"Maksud kamu apa?"


"Kenapa? Kamu tidak bagi belajar sopan santun anak kita."


"Saya semakin tidak mengerti ucapan mu."


"Kamu kan tau cacu caci juga orang tua seharusnya kita bagi belajar anak kita untuk menghormati mereka."


"Saya semakin heran dengan kamu. Anak sekarang sudah lupa bahasa ibunya dan saya tidak lancar bahasa sini malah kamu salahkan saya yang tidak mengajari anak sopan santun."


"Tapi kamu kan ibunya."


"Lah kamu sendiri bapaknya."


Hehe ada lucu juga ada kesel juga ada muak juga melihat sikap keluarga suaminya. Sudah nyata nyata mereka yang buat anaknya menjadi degil bandel eh malah nyalah kan ibunya.


"Ami anti bilang dulu ada permata dari dadi," ucap anaknya suatu hari.


"Apa maksud kamu?" Aini tidak paham maksud anak nya.


"Anti yang bilang."


"Anti siapa?"


"Ini anti sebelah."


"Oh." Baru Aini paham memang sebenarnya anaknya manggil caci dengan sebutan dadi tapi dia nggak mahu di panggil dadi mahunya anti.


Sementara caci itu kan arti nya sama juga dengan anti dari pihak paman dari keluarga bapak.


"Nak, dia bohong sama kamu," jawab Aini.


Berlari lari anak Aini menghampiri caci suaminya.


"Kamu tipu yah sama saya." Lalu di tendangnya baskom cuci baju yang ada si situ.


"Hei kurang ajar kau yah."


"Hehe ,kenapa tadi kamu bohongi saya."


"Awas kau ya nanti ku bilangin sama suamiku," jawab caci lagi.


"Bilang aja wwee weee." Sambil meledek caci anak Aini lari menghindar.


Yah benar saja tidak lama datang cacu datang komplain pasal anak Aini tadi karena caci yang mengadukan.


"Mana anak mu ?" tanya cacu.


"Kenapa cari dia," tanya Aini.


"Dia tidak sopan sama istri saya," jawab cacu.


"Lah kenapa pula?" tanya Aini.


"Anak mu memang kurang ajar tak tau sopan santun," jawab cacu memvonis sepihak.


"Anak saya, saya yang tau dia seperti apa",jawab Aini.


Dengan ngomel ngomel lagi lagi caci cacunya berulah. cacinya tipe perempuan yang suka adu domba karena sebenarnya dia tidak suka dengan Aini dan anaknya tetapi tetap suka nyuruh ini itu.

__ADS_1


Dan suka kali mengerjai anaknya. Lalu kalau anaknya jadi degil eh malah mengadukan ke lakinya. Itu Aini paham betul sifat istri cacunya. Namun lagi lagi cacunya malah menganggap istrinya cuma bercanda. Tapi kalau giliran anak Aini yang bercanda istri cacunya langsung marah dan ngadu ke suaminya.


Wanita itu memang punya sifat tukang bohong. Kalau bicara sama Aini lain lalu sama suami Aini lain lagi eh kalau melapor kan ke suaminya di tambah tambahin dan bicara sama anak Aini lain. Akhirnya Aini pun bilanglah kalau yang ngomong itu istri cacu sendiri eh cacunya. M.alah marah sama Aini tak terima ucapan Aini. Lalu Aini bilang ke suaminya eh lagi lagi suaminya dengan alasan nggak mahu ribut ribut di katakan Aini suka cari gara gara. Trus giliran anak Aini yang ngadu ke Aini yah jelas Aini marah sama anaknya.


"Kamu jangan main ke rumahnya lagi," larang Aini pada anaknya.


"Kenapa ami?" tanya anak Aini polos.


"Kamu yang bandel juga nggak nurut ucapan ami, dia itu tidak suka sama kita. Dia sengaja cari cari alasan supaya kita salah terus. Lebih baik kamu jangan pernah masuk ke rumahnya main aja di rumah sendiri." Dengan panjang lebar Aini menasehati anaknya namun yang namanya anak anak apa lagi laki laki mana mahu main di rumah saja.


Suatu hari cacinya komplain ngadu lagi.


"Lihat sekarang anaknya di larang main ke rumah kita," Lapor caci sama cacu.


"Kenapa begitu?" tanya cacu heran. Antara tak percaya dengan ucapan istrinya.


"Ya dia bilang kita jahat," fitnah caci lagi.


"Oh memang orang asing tak tau diri emang siapa yang bantu dia di sini dia tak punya siapa siapa," sombong pula sama kita.


"Baguslah dia begitu rasain kamu jangan tolong apa pun lagi ke dia dan anaknya."


"Nanti saya bilang ke suaminya suruh ajarin bini dan anaknya."


Dan ternyata benar suami Aini malah memarahi Aini yang terus ribut sama orang. Gimana nggak ribut Aini macam babu dia lalu anak Aini jadi bahan pelampiasan kalau dia tak suka. Trus kalau mhu pinjam barang barang Aini harus Aini yang antarkan dan jemput.


Dan kalau sudah di tolongi tidak berterima kasih kalau tidak di tolong di paksa cacu sama suaminya supaya Aini mau. Sebenarnya mereka cuma mau memanfaat kan Aini saja. Karena kalau jahat sama Aini nggak ada yang akan balas karena Aini tidak punya saudara.


Nah ini yang Aini sudah muak sekali ingin rasanya Aini lawan saja. Tidak peduli di bilang kurang ajar. Atau tidak sopan sama yang lebih tua.


Yang penting dia mahu bebas menjalani hidupnya. Bebas ngatur anak anaknya. Jangan ikut campur cacu caci atau ipar ipar.


Namun lagi lagi tekanan suaminya yang mengatakan Aini cuma cari gara gara saja. Tidak mhu ikut ucapan suami. Gimana mhu ikut ucapan suami sementara setiap ada masalah malah suaminya bilang nggak masalah.


"Kamu yang bilang juga kalau cacu mu cuma ikut cakap istrinya saja tanpa peduli salah atau benar, kenapa kamu juga tidak ikut ucapan saya saja?" tanya Aini.


"Tapi saya tidak mahu kamu jadi seperti dia," jawab suaminya.


"Sayang ini rumah kita ada anak kita laki laki mesti la kita pandai pandai."


"Ini bukan pandai pandai namanya jadi bodoh namanya." Tak tahan dengan sikap mereka.


"Itu lah kamu yang tidak paham adat sini kalau kamu mau tinggal di sini ikut lah adat sini kalau tidak pulanglah bawa anak anak


"Caci mu pun juga orang sini tapi cacu mu tidak seperti kamu yang selalu mengalah."


Yah sudah tiap bertengkar Aini dan suami Aini minta di pulang kan saja ke negaranya. Capek dengan drama ini. Eh malah suaminya cari cari alasan kalau memang sudah tidak bisa bersama lagi yah pisah saja.


"Kalau kamu ikut ucapan saya trus tidak ada masalah."


"Apa ikut ucapan kamu? Y ang ada saya sama anak anak semakin susah."


"Kamu keras kepala dalam islam istri harus patuh sama suami," jawab suami Aini.


"Apa kamu lupa dalam islam pun suami bertanggung jawab melindungi istri, bukan menjadikan istri babu orang kalau dia memang ingin jadi kan saya babu ya gaji saya lah akan saya kerja kan semua perintah dia."


"Sama keluarga kenapa kamu bicara begitu?"


"Justru sesama keluarga harus ada rasa saling menghargai bukan semena mena satu sama lain."


"Yah kalau kamu tak mau pergi tolong dia, jangan pergi lah kenapa marah marah."


"Bukan masalah keluarga atau tolong menolong tapi masalahnya kamu justru membuat mereka semakin semena mena dengan ku."


"Iya saya sudah paham."


Aini sudah bertekad bulat kalau mau tinggal di sini dia akan berbuat hal yang sama dengan mereka. Kalau mereka baik dia baik kalau jahat lebih baik menghindar dari pada melayani.


Nah sudah lama Aini tidak pernah datang ke rumah cacinya pada hal sebelah rumahnya saja. Bukan Aini tak mau, tapi kalau main ke sana bukannya pergi main malah di suruh kerja ini itu. Lebih baik di rumah saja kalau sudah selesai pekerjaannya.


Hubungan Aini dan caci suami semakin memburuk. Memang cacinya semakin senang. Dan Aini semakin susah. Namun suami Aini masih sering menyalahkan Aini. Demi sibuah hati Aini tanggung semua dia tidak ingin anak anaknya tumbuh tanpa kasih sayang orang tua.

__ADS_1


Jadi apa pun itu perlakuan keluarga suaminya dia bersabar saja. Hari ini pun dia tetap di perlakukan tidak nyaman oleh keluarga suami hari ini justru oleh ipar sendiri.


"Aini kenapa kamu?"


"Nggak ada apa apa."


"Trus kenapa kamu melarang anak mu pergi kerumah caci?" tanya iparnya.


"Kamu sendiri tau caci mu seperti apa lebih baik anak saya tidak pernah main ke rumah nya," jawab Aini.


"Kamu ngajarin yang tidak baik sama keponakan ku nanti ku laporin sama suami mu," jawab iparnya tukang lapor.


"Itu kan kebiasaan kalian, tukang ngadu tukang fitnah dan apa lagi kerja kalian?" tanya Aini.


"Kau memang menyebal kan."


"Dan kau sendiri apa tidak lebih menyebal kan suka ikut campur urusan orang. Kalau urusan mu di campuri kau malah tidak suka, kau kan sudah menikah? Trus ngapain sering sering datang sini?"


"Oh jadi kau nggak suka aku trus trusan datang, itu bukan urusan mu ini rumah, saya juga berhak paham."


"Wajar saja kau sering sering datang karena kau pun di perlakukan tidak baik."


"Suami saya baik sama saya."


"Kalau dia baik trus kenapa kau sering mengadu sama popo mu kau nangis nangis, cerita keadaan mu di sana , saya bukan orang bodoh tanpa kau mau cerita saya sendiri tau."


"Ini adat kami saya tidak bisa membantah, saya terpaksa buat karena adat kami melarang membantah."


"Hahaha yah benar ini adat kalian ternyata dengan sesama kalian pun kalian berlaku zholim".


"Negara kami adat kami sangat bagus. Nggak sama negara kamu. Di sini perempuan tidak ada makai baju pendek di negara mu banyak perempuan seolah telanjang, coba kau lihat pernah perempuan di sini pakai baju pendek?"


"Oh ..jadi baju patokan nya ok kau benar, tetapi tidak seratus persen benar, buktinya saya tidak pernah pakai baju terbuka, kalau orang lain memakai nya mereka bukan saudara saya itu urusan mereka dan kami terbiasa bekerja tidak meminta minta."


"kami ada hak sama saudara laki laki."


"Oh untuk urusan hak lebih besar omongan kamu , saya istrinya saya lebih berhak kalau kamu setelah menikah masih minta minta trus ini yang kau bilang adat kalian bagus."


"Suka tidak suka kamu kamu tidak bisa melarang saya datang ke sini."


"Kapan saya melarang kamu datang, tetapi setiap kamu datang selalu bikin ulah dan menyusahkan saya dan anak saya."


Menyebal kan memuak kan akkkkkkkkkk cuma ingin menjerit sekuat tenaga Aini sudah tidak kuat lagi ingin dijawabnya dan Aini memang sudah tak tahan ingin membungkam mulut keluarga suaminya.


Dia sudah memikirkan apa yang akan dia lakukan. Sikap apa yang akan di lakukan untuk melawan perlakuan semena mena. Setiap ucapan yang di fitnahkan akan di jawab.


Selama ini cuma itu masalahnya misal mereka bangga adat mereka.


"Ini adat kita abang tertua bertanggung jawab sama adeknya."


"Trus yang muda makan tidur saja kerja nya."


"Kenapa kamu bicara begitu?"


"Kan kamu yang bilang yang tua bertanggung jawab trus yang lain makan tidur sekalipun sudah di nikah numpang terus."


"Kamu yang salah paham," bantah iparnya lagi tak mau kalah.


"Salah paham apa? Kan kamu yang bilang sendiri dan selama ini kalian memang begitu."


"Kau memang orang asing suka cari gara gara," bentak iparnya. Namun bukan Aini namanya kalau gara gara ini jadi takut memang dia tertekan mental dan fisiknya tetapi demi anaknya dia harus bangkit.


Dia tidak mahu kedepannya anak anaknya hidup di bawah bayang bayang adat mereka. Anaknya harus bebas memilih lagian anaknya juga sering di pukul kalau pun tidak terlalu salah.


Aini bertekad dia ingin membuat hidup dia dan anaknya lebih baik. Sebenarnya mereka semua cuma iri dengan Aini. Suaminya juga sering bilang kalau mereka iri dengan Aini. Aini orang asing hidup normal ada anak dan suami juga rumah sendiri di tambah anaknya laki laki.


Wajar kan mereka iri. Karena orang pakistan dengan sesama saudara memang begitu saling iri. Lebih lebih yang pemalas lebih banyak mahunya dari pada usahanya. Dan di tambah orang tua lebih membebankan kepada yang tua dengan alasan paling tua. Tetapi yang muda bukan di ajari ber usaha juga malah lebih dimanjakan.


Kalau tidak berusaha yang penting ada abang nah kalau tidak ada abang gimana ya sudah memelas pasang wajah sedih.


Pernah Aini jawab kalian tidak tau terima kasih. Pemalas makan tidur saja. Lepas makan tidur trus makan mahu enak tapi kerja nggak mahu menyebalkan. " Oh ada abang kalian. Jadi kalian makan tidur gratis, kerja nggak mau, dasar pemalas semua."

__ADS_1


__ADS_2