Demi Sibuah Hati

Demi Sibuah Hati
Angkuhnya Bisma


__ADS_3

"Hei anakmu yang mulai duluan," bentak Bisma.


"Dia yang tadi menghalangi. Saya dan jatuh sendiri, saya tidak mendorongnya. Tadi waktu Abyan jatuh Huzel mana ada di situ," jawab Ali.


"Oh. Sudah dengar. Huzel kamu pembohong ya. Dan kamu Bisma sekarang baru rasa anak terluka, bagaimana tak tahankan dirimu. Dulu kamu sering menyuruh Huzel dan Rafi jahat sama anak anak saya. Dan sekarang bagaimana rasanya anakmu terluka?" jawab Aini.


"Hei sini kamu. Saya pukul kamu," bentak Bisma pada anak Aini.


"Apa kamu bilang coba kalau berani. Kamu pun akan saya hajar habis habisan," bentak Aini. "Suka suka sama anak orang anak sendiri yang salah, anak orang juga yang di salahkan."


"Sudah kamu jangan main dengan dia. Dia musuh kita. Kamu main sama huzel saja," ucap Bisma pada anaknya.


"Mama ji . Huzel tak mau main sama saya. Itu makanya saya main dekat Ali," jawab Abyan.


Aini mendengar dengan jelas ucapan Abyan. ''Apa???? Ternyata benarkan dia yang mendekat. Tetapi kamu malah menyalah anak saya. Dulu kamu sayang dengan anak anak Tahira. Sekarang anak anak Tahira main pun tidak mau sama anak anakmu. Seharusnya kamu malu. Anak anak saya juga keponakan kamu. Tapi kamu terlalu sayang sama anak anak Jafar karena dia abang kamu. Dan kamu benci sama anak anak Furqan karena Furqan bukan anak ibumu. Lalu sekarang. Justru mereka yang kamu sayang tidak sayang anakmu. Allah maha adil seharusnya kamu sadar," jawab Aini panjang lebar.


"Kamu iri sebenarnya itu sebabnya kamu bicara begitu dengan saya," jawab Bisma lagi.


"Apa?? Hahahaha iri kamu bilang? Tidak kamu lihat saya punya segalanya. Rumah, suami,anak saya dua laki laki malah. Trus apa tidak salah kamu mengatakan saya iri sama kamu? Dan ingat kamu itu kurang ajar dan berani sama saya karena kamu ada ibumu. Coba kalau kamu orang asing tak kan kamu bisa seperti sekarang. Oh ya ini anak gadismu. Nanti juga akan cari laki sendiri. Mana mau di jodohkan seperti kamu. Dan ingat kamu tidak suka sama Furqan tetapi terus terusan datang ke sini. Ada otak kamu?" tanya Aini.


"Semua sayang sama anak saya itulah sebabnya kamu bicara begitu. Karena tidak ada yang sayang sama anak kamu?" jawab Bisma.


"Hei dengar. Saya malah lebih suka kalian benci anak saya. Jadi anak saya akan tau sendirinya. Tidak perlu repot menjelaskan ke mereka siapa kalian. Dan nanti kalau ibumu mati baru rasa kamu. Sekarang ibumu masih hidup buat lah terus sesuka kamu. Nanti mati baru tidak ada orang yang membela kamu," jawab Aini semakin panas.


"Kamu bicara seperti itu karena memang kamu tidak peduli. Jadi wajar dia juga tidak peduli," jawab Bisma semakin tersudut.


"Haha buat apa saya repot repot memperdulikan ibumu. Memang dia dia selama ini peduli sama Furqan. Dia selalu menyusahkan Furqan sejak Furqan menikah. Ibu mu yang iri tidak tahan melihat saya. Sekarang kamu pula yang bilang saya iri. Hahaha kamu buat saya tertawa geli hari ini," jawab Aini masih tertawa.


Bisma menangis. "Memang dia ibu saya kenapa kamu. Dulu suami kamu ibu saya yang jaga. Sekarang suami kamu juga tidak peduli ibu saya," jawab Bisma merasa tersudut. Dan sedih dia menangis. Karena tidak menyangka Aini akan bicara begitu.


"Itu kan salah ibumu sendiri. Yang suka ngatur hidup orang. Buktinya kamu dengan abangmu pun tidak mau di atur ibumu. Kalau sekarang ibumu tidak tenang hatinya, itu karena salah dia sendiri. Apa kurang Furqan balas budi selama ini. Furqan bukan di anggap anak tapi pembantu. Kalau memang pembantu dari kecil sudah pasti gajinya pun melimpah bisa bikin rumah. Ini sepuluh tahun kerja di malaysia , dia cuma ngirim duit untuk keluarga kamu saja. Dan itu hari kamu bilang dia tidak pernah kirim uang. Dasar ketahuan hati busuk ibumu. Kalau tidak ikhlas sama Furqan selama ini," jawab Aini bertubi tubi.


"Popo dia keterlaluan sekali bicara ibu saya. Apa kurang ibu saya sama Furqan. Kalau pun ibu sekarang tidak baik sama Furqan itukan wajar. Karena dia ibu saya yang besarkan ini istrinya selalu menyudutkan saya," jawab Bisma pada orang tua angkat Yasmin.


"Sudahlah kamu diam saja. Biarkan saja dia. Hak dia di rumahnya. Ini di sini bukan rumah kamu. Jadi kamu diam saja pulang saja," ucap orang tua angkat Yasmin.


"Saya tidak akan diam. Saya tunggu suaminya pulang. Saya akan bicara dengan suaminya," jawab Bisma.


"Apa yang kamu mau? Jangan cari gara gara? Yang ada nanti kamu malu sendiri. Lebih baik kamu pulang ke rumah ibumu.


"Tidak. Saya tidak puas kalau belum bicara. Nah itu dia suaminya," jawab Bisma senang.


Furan masuk ke dalam. Dan di sambut oleh Ali. Tiba tiba Bisma mulai angkat bicara.


"Kamu ajar kan istri kamu bagaimana mau hidup di sini. Kalau tidak mau silahkan bawa dia ke mana saja. Tadi dia banyak bicara buruk tentang ibu saya. Anak mu yang mula jahat sama anak saya. Tapi dia yang nyalahkan saya terus," ucap Bisma.


"Apa kamu bilang. Apa masih ada malu kamu. Saya memang melarang anak saya main dengan anakmu. Tadi itu kamu sendiri dengar anakmu yang bilang dia yang mendekat ke sepeda anak saya. Dan Huzel keponakan mu sendiri tidak mau main dengan anakmu. Itu lah sebabnya anak mu iri kalau melihat anak anak saya bermain bersama abangnya, seharusnya kamu malu bicarakan ini sama Furqan. Dulu kamu mana mau dengan Furqan. Sekarang setiap hari datang ke rumah Furqan. Menikah dengan Furqan tidak mau tapi selalu datang ke sini. Ini sebelah rumah popo kalau dia meninggal, juga akan menjadi hak Furqan. Itu lah yang membuat ibumu semakin tidak tahan. Coba kalau kamu menikah dengan Furqan tentu semua jadi punya kamu," jawab Aini panjang lebar.

__ADS_1


"Kamu orang asing tidak bersukur. Sukurlah kamu dapat semua," jawab Bisma.


"Saya memang bersukur. Itu sebabnya saya tidak pernah mengganggu rumah orang. Emang saya pernah datang ke rumah kamu? Kamu saja yang sering datang ke sini. Dasar muka tembok?," jawab Aini.


"Kenapa kamu tidak larang istrimu. Kamu lupa semua kebaikan ibu saya sama kamu," jawab Bisma pada Furqan. Karena memang dia lihat Furqan diam saja. Tidak menghentikan Aini.


"Kamu yang bikin masalah sendiri sekarang kamu pula yang menyalahkan saya," jawab Furqan kesal.


"Kamu seperti kacang lupa kulit. Kalau bukan ibuku yang merawatmu dulu tentu kamu tidak beda dengan adek adekmu," jawab Bisma.


"Kamu yang mulai dengan Aini kenapa sekarang saya kamu salahkan. Diakan sekarang di rumahnya. Dan kamu sendiri rumah siapa?" jawab Furqan.


"Bisma sudahlah. Kamu pulang saja," ucap orang tua angkat Yasmin.


"Dasar manusia tak tau terimakasih," kesal Bisma belum habis. Sambil mengomel pergi.


"Nah lihat tu perempuan. Masih ada malu kah dia? Apa kurang saya selama ini. Kalau dia tau sebenarnya seharusnya dia sadar dirilah. Mengapa terus cari gara gara," jawab Furqan.


"Biarkan sajalah dia. Sekarang dia kan sudah rasa. Punya anak sendiri. Yang lain tentu membela anak masing masing. Antara Akram ,Ali dan Rafi juga Huzel, Bisma memang selalu membela anak Jafar. Saya juga tau itu. Tapi sekarang dia sudah rasa kalau rasa sayang pada Anak Jafar tidak berguna," jawab ibu angkat Yasmin.


"Ya itu urusan dia. Saya tidak peduli. Lebih baik anak saya dan anak anak mereka tidak berteman. Saya lebih suka Aini saja yang jaga. Sekalipun anak anak tidak bebas keluar. Anak anak kami tidak kurang apa pun. Dan kami tidak perlu orang lain untuk menjaga anak anak kami," jawab Furqan


*********&


"Bhai," Ali memanggil Akram.


"Ayo main lagi. Saya bosan nonton terus. Ayolah ," pinta Ali sama Akram.


"Ayo," jawab Akram.


Seperti biasa dua abang adek itu main pedang pedangan. Seolah pendekar yang sedang bertempur. Lalu lari ke sana ke sini. Kadang lari ke luar rumah. Tidak ada anak anak yang bermain pedang pedangan. Selain Akram dan Ali. Anak anak tetangga kadang ingin ikut serta tetapi Akram cuma mau main dengan Ali.


Keakraban dua saudara itu membuat orang orang iri melihatnya. Apa lagi kalau yang punya anak laki laki satu orang saja. Atau punya anak laki laki lebih dari satu tapi mereka tidak seakrab anak anak Aini.


"Mama ji lihat Ali senang yah main dengan abang," ucap Abyan sama Bisma.


"Apa itu main! Nanti kena kayu di pukul. Itu bodoh namanya . Main game saja. Ini hp mama," bantah Bisma. Padahal dalam Hati Bisma juga iri. Tetapi di tutupinya sama Abyan. Dia tetap memberi nasehat kalau apa yang di lakukan anak anak Aini adalah bodoh.


"Hahaha."Abyan tertawa terbahak. Karena dia merasa lucu melihat Akram main sama Ali. Kadang saking lucunya, begitu Akram ngerjai Ali , Abyan tak tahan mau ketawa.


"Hei kenapa lihat mereka, tengo sini,"ucap Bisma sambil menarik kepala anaknya. "Jangan lihat sama mereka," saya tidak suka. Abyan cemberut. Dan menunduk.


"Hiaaattt ciatt. Hahaha." Mereka abang adek tertawa terbahak bahak. Tak henti henti mereka bercanda.


"Akram Ali ayo makan dulu," ucap Aini.


"Siap komandan," jawab bocah bocah itu sama ibu mereka. Yang di sambut lagi dengan tawa berderai.

__ADS_1


Abyan tetap mencuri curi pandang kepada abang adek itu. Sekalipun dia takut juga kalau ibunya nanti marah. Abyan sangat ingin bermain bersama anak anak Aini. Tetapi hubungan Aini dan Bisma membuat anak anak juga terbawa imbas. Sementara Aini malah bersukur. Tidak mengapa semua benci anak anaknya, artinya anak anak Aini lebih baik main bersama saudara saja. Mau ketawa, main bersama, atau bertengkar. Dan baikkan lagi. Itu kerja mereka.


*********


"Akram Ali ayo bangun, sudah azan subuh," ucap Aini sambil menggoyang badan Akram dan Ali bergantian. Mmmmhhh. Mereka cuma menggeliat. Malas bangun." Bangun tidak. Kalau tidak mau mama akan siram kalian," gertak Aini lagi. Serempak mereka bangun. Karena kalau tidak, ibu mereka benar benar akan menyiram air kepada mereka.


"Iya Ami. Sudah bangun," jawab Akram.


"Cepat ke kamar mandi. Pergi kencing dulu. papa kalian sudah bangun dari tadi," ucap Aini lagi.


"Akram cepat ambil wuduk. Nanti telat sholat berjamaah," perintah Furqan pada anaknya.


"Baik papa," jawab Akram.


"Ali mana? Kenapa tak kelihatan?" tanya Furqan.


"Saya sudah siap ambil wuduk. Tunggu bhai saja lagi," jawab Ali.


"Maa sha Allah Ali paling duluan siap, ayo kita berangkat,"ucap Furqan.


"Papa tunggu," pinta Akram.


"Kamu kenapa lambat? Ikut saja di belakang," ucap Furqan.


Mereka ayah dan anak anak memang terbiasa pagi pagi sholat berjamaah. Selepas sholat biasanya Furqan akan jalan kaki , olah raga pagi. Sementara anak anak akan di ajarin ngaji oleh ibu mereka.


"Ami ji baju seragam sudah di setrika belum," tanya Akram.


"Belum nanti ami kerjakan, sekarang kalian ngaji dulu. cepat sana!" perintah Aini pada anak anaknya.


Mereka patuh kalau terkadang malah malas juga. Tapi pagi ini mereka sangat . manis. Ikut saja tanpa membantah.


"Baca dan hapal surah yang kemaren. Hapalan surah kalian sudah lama tidak ami simak. Hari ini akan ami simak," ucap Aini.


"Ami hari ini saya mau beli pencil baru penghapus juga. Punya saya sudah habis. Sangat pendek dan kecil. Susah untuk nulis," lapor Ali pada Aini.


"Ya sudah bilang sama papa kalian. Ami tidak megang uang," jawab Aini.


Selesai mengajarin anak anak ngaji. Aini bergegas ke dapur menyiapkan sarapan pagi. Seperti biasa roti ala Pakistan. Aini sudah sangat terampil buat ata adonan roti. Awal awal datang sangat susah. Bagaimana cara buatnya.


"Ini roti apaan?" cela Furqan. Waktu awal awal datang dulu. Buat roti tidak bisa. kadang hangus kadang tebal.


"Bersukurlah saya yang buat. Makan saja. Saya dari kecil mana pernah buat roti. Baru datang ke sini saya belajar. Lagi pula saya tidak makan roti. Jadi kamu jangan banyak omong," jawab Aini. Bagaimana tidak kesal. Buat roti selalu di ejek sama suaminya. Saking kesal malah Aini bilang begini, "Ibu saya tidak pernah ngajarin buat roti. Jadi suka atau tidak enak atau tidak kamu makan saja. Jangan banyak bicara. Kalau tidak buat sendiri. Saya cuma makan nasi. Ngapain repot repot buat roti," jawab Aini menumpahkan kekesalannya karena setiap buat roti suami selalu komplain.


Hehehe Furqan garuk garuk kepala dibuat Aini."Ya kamu belajar lah cara bikin roti. Bagaimana baiknya supaya enak di makan," bela Furqan.


"Tidak mau malas. Mau makan roti buatan saya silahkan kalau tidak juga nggak apa apa," jawab Aini cuek. Habis kesal juga capek capek bikin roti untuk suami malah di bilang kacca. Kacca dalam bahasa urdu artinya belum masak.

__ADS_1


"Roti sudah terbakar masak di bilang kacca. Sakit perut nanti. Selama ini saya bikin roti kacca saya makan, kok saya baik baik saja. Kamu memang dasar suka komplain," jawab Aini.


__ADS_2