
"Ibuuu...." teriak Busra. Sambil berlari memeluk ibunya. "Tidak mungkin Bu! Saya sulit percaya. Tapi ini kenyataan. Dia.... Dia yang membunuh ayah dan sekarang dia mengincar harta kita. Dan dia sudah terlebih dahulu mengancam saya dengan foto foto vulgar yang dia ambil paksa." Busra geram.
"Siapa makud kamu Nak? Jangan buat ibu jantungan. Ibu sudah tidak sanggup menanggung nya. Tolong bicara jelas jelas," pinta ibu Busra lemah. Karena memang kesenjangan selalu dia rasa sejak kematian suaminya.
"Kazem pelakunya. Dia yang mengatur siasat untuk membunuh ayah dan menguasai harta kita. Kita harus hati hati. Dia iblis berwujud manusia. Dia akan membuat hidup ku lebih dari neraka. Ibu, apa ibu tau dengan anak Furqan? Ternyata dia yang mengatur semua. Dan sekarang Akram yang memainkan peranan," ucap Busra.
"Ibu semakin tidak mengerti Nak? Apa pula hubungannya dengan Akram? Kita selama ini tidak pernah tau menau dengan mereka!" ucap ibunya lirih.
"Ibu bantu saya untuk membunuh Kazem. Kalau tidak kita yang akan di bunuh oleh nya. Bagaimana pun harta ini dan dendam kematian ayah akan saya balas," ucap Busra berapi api.
"Baik lah kita akan atur semua. Begitu Kazem datang dan kita atur agar dia sibuk. Supaya dia lengah akan bahaya," ucap wanita separo baya itu.
Di tempat lain. Kazem sangat kesal karena untuk kesekian kalinya usahanya gagal lagi. Mukanya memerah menahan amarah.
"Cepat cari. Siapa dia? Kalau perlu tanya Busra dia pasti tau. Kalau dia tidak mau buka mulut maka habisi saja dia," perintah Kazem pada anak buahnya.
"Siap tuan. Kami akan lakukan sesuai perintah tuan. Ayo berangkat," ucap pria kepercayaan Kazem.
Mobil segera beranjak dari tempat kejadian. Semua anak buah naik melompat. Dan trus melaju kencang menuju Kamalia.
bruuuummmmm......
Ciiiiit....
Brummmmm....
Cittt...
Suara mobil berputar putar sesampai di kediaman keluarga Jamal. Dan memang akan terjadi ketegangan hebat antara mantan kepercayaan mendiang Jamal dengan istri dan anaknya.
"Hei.. Siapa yang menyuruh kalian bersikap seperti ini? Apa kalian cari mati? Berhenti segera atau tidak?" ucap ibu Busra.
Seketika mobil berhenti. Dan Kazem keluar. "Atau tidak kenapa? Hahaha.. Kamu cuma seorang perempuan tua. Kamu bisa apa?" bentak Kazem.
"Saya sudah tau semua permainan busuk mu. Jadi mulai sekarang bersiap lah untuk membayar semua," jawab istri mendiang Jamal.
Plakkk.... Satu tamparan keras melayang ke pipi perempuan paroh baya itu. Kontan saja perempuan itu tersungkur. Melihat wanita itu terjatuh karena tamparannya Kazem tertawa puas.
"Hahaha....... Siapa yang akan menolong kamu, hei wanita tua? Jangan macam macam dengan saya atau tidak, saya tidak akan segan segan berbuat lebih dari ini," bentak Kazem tanpa ada rasa kasihan.
*********
Masa lalu Kazem.
"Siapa wanita itu? Mengapa masih di sini. Usir dia!" perintah istri tuan Jamal.
Wanita yang memegang tangan seorang anak kecil. Dia adalah Kazem kecil. Ayahnya di tangkap tuan Jamal dengan alasan mencuri. Padahal justru tuan Jamal ingin menguasai tanah milik keluarga Kazem dengan harga murah. Tentu saja keluarga Kazem tidak terima.
"Nyonya mohon lepaskan suami saya. Saya mohon nyonya. Demi anak saya ini. Siapa yang akan membiayai kami kelak? Mohon nyonya bilang ke suami nyonya," isak ibu Kazem kecil. Memohon supaya ayah Kazem di bebaskan. Tetapi dengan pongahnya sang nyonya kaya mengusir perempuan dan anaknya yaitu Kazem kecil.
"Pergi kalian dari sini! Jangan menginjakkan kaki lagi ke rumah saya," usir nyonya Jamal dengan kasar.
Tiba tiba sebuah mobil masuk dengan kencang. Memang kebiasaan di kediaman tuan Jamal semasa hidup semua seperti tak beraturan. Mobil masuk dengan kencang ke dalam rumah. Hampir hampir sering menabrak pelayan.
Brummm ..... Ciiiiitttt...
Brakkk....
Menabrak wanita dengan anak kecil tadi. Tiba tiba semua kaget lebih lebih nyonya Jamal.
"Hei apa kalian tidak punya aturan. Lihat apa yang kalian lakukan," ucap wanita itu.
"Hei bangun cepat bangun. Nyonya dia pingsan," ucap pelayan rumah itu. Setelah memeriksa keadaan si korban.
"Yah sudah bawa masuk ke belakang. Setelah sadar suruh pergi," ucap nyonya Jamal tanpa perasaaan.
"Baik nyonya," ucap pelayan tersebut. Sambil memanggil teman pelayan yang lain untuk mengangkat wanita dan anak nya.
__ADS_1
Beberapa minit kemudian. Perempuan itu sadar. " Ah. Di mana aku? Kenapa ada di sini. Kazem anakku bangun. Cepat kita pulang," ucap wanita itu sambil membangunkan anaknya. Tiba tiba. Akhh... Jerit wanita itu. Ternyata perutnya nyeri. Mendengar itu pelayan nyonya Jamal datang.
"Ada apa? Kamu- . Belum sampai bicara pelayan itu melihat darah di mana mana. "Kamu kenapa? Nyonya cepat ke mari," ucap pelayan itu.
Mendengar teriakan itu. Nyonya Jamal datang segera melihat apa yang terjadi. "Ada apa ini?" tanya nya.
"Entah lah nyonya. Wanita ini pendarahan hebat sekarang tidak sadar diri lagi. Tadi dia berusaha membangun kan anaknya. Dan sudah berceceran darah di mana mana," ucap pelayan itu.
"Bikin repot saja. Cepat bawa ke rumah sakit," perintah nyonya Jamal.
Segera ibu Kazem kecil di bawa ke rumah sakit. Sementara Kazem masih tertidur. Setelah sampai di rumah sakit dan di rawat ternyata wanita itu meninggal kehabisan darah.
"Nyonya wanita itu meninggal," lapor pelayan.
"Apa???? Musibah apa lagi ini. Sudah lah anaknya pun ada di sini! Siapa yang menjaga anaknya," ucap wanita kaya itu.
Nasib lah Kazem. Dari kecil di buat sengsara oleh tuan Jamal. Namun cerita Kazem justru menjadi bencana bagi keluarga Jamal sendiri. Setelah Jamal di bunuh sekarang giliran istri dan anak perempuannya.
*******
Pagi yang cerah. Kazem duduk di taman sambil memperhatikan ke adaan rumah besar milik mendiang Jamal.
Tiba tiba. "Bagaimana rasanya semalam? Tidak dapat menangkap pelakunya?" sindir Busra.
Di lirik Kazem perempuan itu. "Saya tau kamu sudah tau siapa pemegang laptop itu. Tetapi kamu tidak mau bekerja sama. Kamu mau menguasai sendiri. Itu berati kamu harus lenyap," ucap Kazem tajam.
"Wah wah... Manusia yang tidak tau malu. Sekarang ingin saya lenyap. Hahaha... Bagaimana kalau kamu sendiri yang akan lenyap?" tanya Busra.
Dari kejauhan seperti biasa dari rumah tuan Jamal bisa melihat orang orang mengambil air. Air minum filter. Busra dengan seksama memperhatikan Akram. Karena dia sedang mengambil air untuk keluarganya.
Dalam hati Busra membatin. Saya harus selidiki anak itu. Semua mengarah padanya. Kalau benar maka dia jangan sampai tau oleh bajingan Kazem ini. Bisa bahaya. Dan akan membuat uang melayang.
Dalam sebulan di keluarga mendiang tuan Jamal banyak kejadian mencengkam. Kazem merencanakan pembunuhan.
Kazem menatap foto mendiang ayah ibunya. Dan mendekap dalam dada. "Ibu," bisik Kazem terisak menahan tangis. "Aku tidak akan biar mereka hidup tenang. Nyawa di balas nyawa. Dan aku bersumpah akan menghabisi istri dan anaknya. Ibu tolong aku membalas dendam ini."
Kazem kecil menyimpan dendam yang membara. Dia tidak bisa melupakan apa yang di alaminya sejak kecil. Perlakuan keluarga tuan Jamal bak bom waktu yang siap meledak kapan saja.
"Tuan Kazem," ucapnya sambil memberi isyarat dengan mata. Dan terus berlalu. Kazem mengikuti laki laki itu.
"Ya ada apa," tanya tuan Kazem.
"Tuan saya dapat informasi, kalau orang yang kita cari ada di Kamalia. Dan itu info yang sangat akurat. Setelah kami periksa ternyata bukti bukti semua menuju kepada Busra bibi," ucap pelayan itu.
"Tidak mungkin. Kalau memang wanita itu sudah pasti dia sudah kabur dengan sisa uang itu. Kamu ikuti trus Busra. Ke mana dia pergi," jawab Kazem.
Di persembunyian Busra manggut manggut mendengar percakapan dua orang pria itu. "Mmhh ternyata dugaan ku benar. Anak itu benar jenius. Pandai bermain. Membuat musuh saling membunuh. Tapi aku kesulitan menyelidikinya. Harus cari tau tentang keluarganya," bisik Busra pelan.
*******
Rencana Busra sangat sulit di lakukan, karena selama ini Akram memang terbilang tidak dekat dengan keluarga dari pihak papanya. Namun Busra sudah bertekad apapun itu sekalipun masih terbilang remaja jenius pasti punya kelemahan.
"Maaf apa anda kenal remaja itu," tanya Busra pada seorang wanita paruh baya. Busra melihat Akram lalu.
"Yang mana?" tanya wanita itu.
"Itu remaja yang barusan lewat. Dia sangat sopan dan inteligent. Saya belum pernah melihat anak seperti dia di kampung ini. Dia sangat berbeda," ucap Busra penuh selidik.
"Oh itu anak Furqan. Ibunya orang asing. Tinggal di sebelah rumah baba haji. Masih ada hubungan dengan baba haji," ucap wanita itu.
"Oh.. Terimakasih," ucap Busra langsung dapat idea. Yap saya akan menuju rumah baba haji. Dia harus di selidiki. Pikir Busra.
Sambil terus menyelusuri jalan ke arah rumah baba haji. Dan Busra memihat Inza. "Ah bukankah itu pacarnya anak buah Kazem," pekik Busra dalam hati.
Inza menoleh ke arah Busra sambil tersenyum. "Apa kabar kak? Sedang mencari siapa?" tanya Inza sopan.
Tiba tiba pacar Inza keluar dari rumah baba haji. Karena memang sekarang mereka sudah tunangan.
__ADS_1
"Oh mencari dia?" spontan Busra dapat idea melihat kaki tangan Kazem. Dengan isyarat kepada pria itu dan pria itu mengangguk.
"Oh," ucap Inza.
"Maaf Busra bibi ada apa mencari saya?" tanya Asnen. Asnen nama tunangan Inza. Masih sepupu sama Inza.
"Apa kamu bisa membantu saya? Saya tau kamu bekerja untuk Kazem. Tapi kalau kamu mau bekerja untuk saya maka saya akan membayar kamu dengan lebih tinggi dari pemberian Kazem kepada mu, bagaimana?" tanya Busra.
"Maaf saya tidak paham?" ucap Asnen.
"Saya mau kamu jadi orang kepercayaan saya. Dan bekerja sepenuhnya untuk saya," ucap Busra bibi sedikit menekan. "Kalau tidak kamu akan jadi musuh saya. Lebih baik kita bekerja sama. Dan menikmati hasil kerja keras kita. Kamu tau kan, masih ada dua kali kode pengiriman. Kalau satu saja kita bisa ambil, bayangkan berapa uang yang kita miliki," jawab Busra bibi.
"Mhhh. Baik lah saya sepakat," ucap Asnen.
"Tapi saya mau tunangan mu terlibat," ucap Busra bibi setengah memaksa.
"Loh apa hubungan dengan tunangan ku. Maaf tidak bisa," jawab Asnen tegas.
"Dengar kalau saya datang ke sini dengan alasan bertemu dia! Orang tidak curiga! Kalau bertemu kamu pasti curiga," jawab Busra tersenyum menang.
"Mhh baik lah. Tapi jangan libatkan dia dengan pekerjaan kita, karena saya akan segera menikah dengannya minggu ini," jawab Asnen.
Seperti mendapat idea Busra tersenyum. " Kapan? Langkah kita semakin lancar. Undang aku ke acara pernikahan mu," ucap Busra tersenyum. Sepertinya rencananya akan berjalan mulus.
"Baik lah. Dengan separo hasil aku terima kerja sama kita," ucap Asnen.
"Besok kirim undangan untuk saya. Suruh orang lain yang mengantar langsung ke tangan saya. Jangan kamu kirim atas nama kamu. Kirim atas nama Inza, nanti Kazem curiga?" ucap Busra.
*******
Pagi yang cerah di kediaman mendiang tuan Jamal. Istri dan anak sang tuan tanah hidup bagai di medan perang. Selalu penuh ranjau yang siap membunuh.
Pagi ini Busra sudah membuat program khusus. Supaya bisa beralasan bertemu Inza.
"Busra bibi," ucap seorang wanita suruhan Asnen. Di depan pintu gerbang sambil teriak nama Busra. Karena tidak di ijinkan masuk oleh penjaga gerbang.
"Iya. Suruh dia masuk. Penjaga ijinkan perempuan itu masuk," teriak Busra pada penjaga.
"Maaf Busra bibi tuan Kazem melarang, siapapun masuk tanpa ijin beliau," ucap penjaga itu tegas.
"Dia mengantar undangan untuk saya. Kenapa tidak boleh bertemu saya?" tanya Busra.
"Bagi undangan ke saya. Biar saya yang ngasih ke Busra bibi," ucap penjaga curiga. Sambil membolak balik undangan.
Dengan kesal Busra menghampiri penjaga itu. Dan merampas undangan tersebut dari tangan pria itu. " Hei ini undangan dari teman saya dia mau menikah. Dan saya akan pergi ke pesta pernikahannya dan semua itu tidak perlu ijin dari Kazem. Paham?" bentak Busra kesal.
Sambil melotot pada penjaga itu Busra berlalu. Pria itu memberi kode pada teman nya untuk mengabari tuan Kazem yang kebetulan tidak di tempat pada saat kejadian.
"Ibu. Saya punya rencana. Kalau ini berhasil kita kabur dari sini," bisik Busra pada ibunya setelah buru masuk ke dalam kamar.
"Rencana apa?" tanya wanita tua itu.
"Ibu jangan sampai Kazem iblis itu tau. Saya tidak ingin rencana kita gagal. Kita harus keluar dari perangkap dia. Dan saya akan datang minggu ini di acara pernikahan Inza. Ini rencana saya sebenarnya ingin bekerja sama dengan Asnen. Calon suami Inza yang mana kaki tangan Kazem," ucap Busra hati hati.
Tiba tiba pintu di buka paksa.
Brakkkk....
"Hei kamu. Kurang ajar kenapa bersikap seperti ini?" bentak Busra.
Ternyata Kazem datang. Dengan tatapan nanar penuh amarah dia berkata.
"Hei wanita murahan. Awas kalau kamu saya ketahui memiliki rencana busuk," ucap Kazem sambil mencekik Busra. Sampai Busra menggap menggap kesulitan bernafas.
"Iblis lepas kan anakku," teriak ibu Busra.
"Akkkkhh le lepas kan," ucap Busra terputus putus.
__ADS_1
Lalu Kazem melepas tangannya setelah puas melihat Busra kehabisan nafas.
"Kurung mereka," perintah tuan Kazem.