Demi Sibuah Hati

Demi Sibuah Hati
Bertengkar dengan ipar


__ADS_3

"Umer sini jangan kesana."


"Mama mahu itu," rengek anak madu nya.


Aini perhatikan saja tingkah mereka. Kelihatan sekali iparnya kewalahan mengurus bocah itu.


Mending kalau anak sendiri ini mah anak madu. Aneh memang dulu betapa sering Aini nasehatin dia sebenarnya dia tidak sakit cuma stress gara gara adat sendiri. Eh malah ngatain Aini aneh lah nggak punya hatilah.


Capek memang ngomong dengan manusia yang bangga akan adat mereka. Benar di sini kebanyakan muslim tetapi justru ajaran shiah yang banyak berkembang.


Bahkan adat Hindu pun mereka masih pratekkan. Yah itu tadi perempuan kalau menikah maka dia harus membawa isi rumah ke rumah suami.


Coba kalau suami sendiri justru masih numpang dengan ortunya. Yah itu drama Pakistan sering berulah.


Nggak semua sih yang hidup enak malah mereka takut melawan adat. Sebenar nya adat itu justru berat sebelah. Namun lagi lagi mereka tetap berpegang teguh.


*****


"Akram mari sini."


Akram yang di panggil poponya nggak mau datang karena Aini yang larang siapa pun yang nyuruh kamu jangan dengar karena ami nyuruh kamu jaga Ali.


Nah Akram ingat ucapan ibunya dia pura pura tidak dengar. Ternyata itu bikin Yasmin kesal dalam hati.


"Akrammmm," teriak Yasmin lagi.


"Ada apa kenapa panggil dia?", Aini yang juga kesal.


"Dia kan keponakan saya kenapa saya tidak boleh nyuruh dia?"


"Hei kamu ada otak nggak kamu lihat nggak kerja saya, kalau kamu suruh Akram bantu kamu trus yang jaga Ali siapa?"


"Awas kau nanti ku bilangin sama suami mu."


"Itu kan sifat kamu suka ngadu."


Ternyata benar begitu suaminya pulang dilaporkan kejadian tadi siang sama iparnya.


Suaminya ternyata memarahi Akram karena tidak patuh pada poponya. Lalu Akram mengadu sama Aini. Wajar saja Aini tidak terima sikap suaminya.


"Yasmin kau bilang apa sama Furqan? Ku tonjok muka mu nanti baru rasa kau mentang mentang Furqan abang mu, kau seenaknya saja sama saya dan anak saya."


Bergetar tangan Aini menahan amarah mahu memukul muka iparnya. Melihat itu Yasmin lari keluar.


"Apa apaan kau ini perempuan gila", lerai Furqan melihat istrinya mau memukul saudarinya.


"Kau yang tidak paham dia cuma nyusahin saya sama anak", sanggah Aini.


"Apa yang susah, apa salah dia minta tolong."


"Yah dia minta tolong apa dia pernah nolong", jawab Aini.


Malam ini memang Aini bertengkar hebat dengan Yasmin lagi lagi suaminya malah membela saudarinya bagaimana tidak benci dia sama adat orang sini.


Dulu waktu melahirkan Ali satu pun tidak ada yang menolong. Ada yang datang tapi cuma lihat sebentar trus pergi. Dan Yasmin pun juga tidak datang membantu.


Aini memang terang terangan bilang ke Furqan jangan panggil siapa pun. Karena Aini tidak mahu makan budi. Sifat orang sini kalau sudah menolong lepas itu diomongkan terus.


Lagian kalau mereka datang menginap bukannya mengurus Aini dan anak anaknya. Mereka cuma fanshion saja di sini. Makan makan cerita ketawa ketawa. Kalau Aini mau sesuatu tetap sendiri buat.


Itu yang Aini sudah katakan namun Yasmin memang tak punya malu. Lagi lagi cari masalah.


Anehnya orang sini kalau sudah bikin salah nggak pernah minta maaf. Malah nambah masalah.


Contohnya saja waktu Aini bilang emang kamu pernah nolong saya. Eh malah laporin ke Furqan dan Furqan malah bela dia. Di pikir pikir kadang Aini stress juga dengan sikap suaminya. Bagaimana mungkin masalah ini justru suaminya menganggap saudarinya tidak bersalah.


*********


Akhirnya Yasmin pulang juga kerumah suaminya. Dan Furqan malah menganggap tidak terjadi apa apa. Namun kadang Furqan sering bilang menyesal menikah dengan kamu. Gara gara kamu saya susah di sini.


Kadang Aini betul muak juga dengan sifat Furqan kalau memang menyesal ya sudah pisah saja.

__ADS_1


Sering Aini bilang kalau memang dia bukan istri ibu yang baik tinggalkan saja. Siapa juga mahu hidup di sini.


Sudah di tantang begitu bahkan suaminya juga sudah bilang saya akan beli tiket pulanglah. Bukannya pulang tiga hari paling lama suaminya malah minta jatah lagi.


Apa nggak kesel itu. Sering Aini bilang katanya kamu benci nyuruh pulang beli tiket trus baru tiga hari kamu sudah mahu minta jatah. Masih punya malu nggak, yang ada suaminya ketawa.


Jujur saja bukan karena mereka saling cinta. Kebersamaan mereka sering karena anak anak. Furqan sering bilang dulu saya di besarkan kalla dan saya tidak mahu anak anak saya punya nasib macam saya.


Artinya Furqan tidak tega anak anaknya dibawah asuhan orang lain. Dan itu Aini paham sekali. Namun yang buat bertengkar sikap keluarga suami yang sering nyuruh nyuruh.


Kadang Akram di jahilin anak anak di luar bukannya membela Akram justru ipar atau cacu caci suami malah ikut ikutan nyalahin anaknya. Kata mereka anakmu yang jahat duluan. Apa nggak kesal dengan sikap mereka.


Trus buat apa nyuruh anaknya kalau mereka saudara sendiri justru tidak melindungi.


Sering juga Aini bilang ke Furqan eh malah Aini di salahkan. Benci kadang lihat sikap Furqan yang nggak peduli kalau keluarganya justru bikin susah anak bini.


Sekarang Aini sering bertengkar dengan suami ipar mertua popo cacu pokok semua keluarga suaminya. Mahu ngalah pun bukannya mereka kasihan malah mereka ngelunjak. Lebih baik berantam aja.


*****


"Saya mhu tanya sama kamu?",Aini ingin tau maksud ucapan Furqan tempo hari.


"Tanya apa?"


"Kamu bilang anak kamu urus sendiri lah ,itu kalau saya bilang mereka juga nggak ngurus anak saya jadi kalau anak saya mereka nggak ngurusin apa hak nya mereka nyuruh anak saya?"


"Kenapa kamu jadi seperti ini?"


"Kamu juga bilang kamu tidak mahu anak mu orang lain yang ngurus tetapi kamu malah ngajarin anak saya tolong mereka."


"Kita orang islam bagi belajar betul lah sama anak. Dia memang anak kamu tapi kenapa kamu bagi belajar sama orang jangan tolong?"


"Oh siapa yang orang islam di sini, kalau islam itu ada sikap tegang rasa menghormati hak orang dan saya tanya kapan keluarga kamu menghormati saya dan sayang anak saya?"


"Itu kamu saja yang pikir sendiri"


"Dan asal kamu tau saya dari dulu tidak pernah minta tolong sama yang lain semua kerja saya kerjakan sendiri, trus kenapa kau suruh saya bahkan anak saya jadi babu keluarga kamu?"


"Sekarang urus saja anak kamu."


Kesal tak habis setiap pertengkaran selalu pemicu kalau bukan ipar mertua trus cacu caci .


Sabar Aini kamu ada anak anak mereka masih butuh ibu bapak. Kasihan anak anak kalau orang tua harus berpisah.


Tetapi kalau melihat sikap suaminya Aini kadang mikir lebih baik pisah saja. Seandainya waktu suaminya bilang pulang lah ini tiket di jamin Aini sudah pulang.


Kadang Aini juga heran dengan suaminya. Kalau memang mereka tidak bisa bersama lagi kenapa tidak tinggalkan saja. Habis perkara kalau mahu bersama suaminya sadar juga lah.


*****


Aini tidak pernah menangis selama tinggal di Pakistan. Bahkan sekejam apa pun perlakuan keluarga suaminya seolah air mata sudah kering tak berair lagi.


Sebaliknya dengan Yasmin kalau mengadukan masalah rumah tangganya menangis tersedu sedu. Di sini memang perempuan jago akting.


Sering di perhatikan Aini iparnya ini sakit itu cuma drama saja supaya dia bisa jalan jalan dan belanja. Itu hari katanya sakit di jemput Furqan tiba di tempat popo dia malah jalan jalan kepasar.


Pernah Aini bilang kamu katanya sakit loh kok jalan jalan belanja sakit apaan itu. Ya ampun bukan malu iparnya malah bilangin Aini iri sama dia karena dia jalan jalan belanja.


Yah terserah elo deh capek ngomongin diri mu. Keluar dah bahasa lu lu gue gue.


Sudah lama Aini tidak makan nasi putih pakai sambal cabe di tambah lalap pare atau terung. Cuma itu yang mudah di dapat di sini.


Jangan mimpi makan tempe tahu. Harga tempe sebatang sama dengan sekilo ayam. Mending beli ayam sekalian. Tahu juga ada tuh temen wni yang jual.


Boro boro makan tempe tahu sukur aja dah, sudah dapat makan nasi dengan bebas.


Hari ini Aini nggak mahu pening stress gara gara ipar. Anak sulungnya sangat pengertian dengan ibunya.


Sering bantu ibunya menjaga Ali si bungsu. Dan mereka juga sering berantam bikin kepala Aini pecah.


Namun kehidupan tidak harus berhenti hanya gara gara kelakuan orang ketiga. Jujur yah sebenarnya mereka yang iri dengan kehidupan Aini.

__ADS_1


Bayang kan orang asing tinggal di Pakistan sementara hidupnya normal. Banyak wanita Pakistan sendiri tidak kawin numpang punya anak cewek semua.


Nah kalau mereka lihat Aini bagai mana nggak iri. Punya rumah sendiri asing masak, anak laki laki semua.


Itu pun yang di katakan suaminya. Sebenarnya orang orang yang mengganggu Aini cuma karena iri. Di sini wanita kawin bawa barang isi rumah nah Aini malah cuma bawa baju saja.


Pelan pelan bikin rumah punya anak lagi apa nggak sewot perempuan perempuan Pakistan. Tapi mereka beraninya di belakang. Nggak berani di hadapan.


*****


"Ami saya lapar ", anak Aini sudah pulang sekolah.


"Yah kamu tukar baju dulu ami buat kan roti prata."


"Ami nasi nggak ada yah?"


"Nggak ada sayang."


"Ya sudah aku mahu makan dua."


Dengan sigap Aini buat makanan siang untuk anak anaknya. Dan mereka makan dengan lahapnya .


Aini selalu mengajarkan kepada anak anaknya makan apa yang ada jangan minta apa yang tidak ada.


Belajar memahami keadaan orang tua. Ibu bapak kalian orang biasa saja. Dan pelan tapi pasti anak anaknya tumbuh menjadi anak anak yang nurut ucapan Aini.


Sekalipun begitu keluarga suaminya tetap menganggap Aini mengajarin kurang ajar sama mereka. Padahal mereka juga sama mengajarin anak anak mereka jahat sama Aini dan anaknya.


Mereka suka nyuruh nyuruh Aini dan Anaknya sementara kalau anak mereka di mintai tolong mereka tidak suka.


Ini lah yang Aini muak di sini. Kalau seandainya punya uang untuk pulang sudah dari dulu Aini lakukan.


Ini suami nya sendiri masih plin plan. Kadang bilang mau bersama tidak bisa berpisah tapi tetap maksa istri dan anaknya patuh sama adat mereka.


Yah mana bisa rugi la enak di mereka. Buktinya mereka suka suka nyuruh giliran kita minta tolong banyak alasannya.


Masih terngiang ucapan suaminya ke anaknya, yang anaknya lapor kan ke ibunya.


"Ami, papa bilang kalau cacu papa minta tolong harus di tolong jangan nolak."


"Kalau kamu nggak sibuk silah kan."


"Tapi nggak boleh bilang ami katanya."


Ajaran apaan itu nyuruh anak sendiri bohong sama ibunya demi jadi pembantu tak ber gaji.


Ini yang sering bikin Aini marah sama suami. Tetapi lagi lagi suaminya bilang Aini yang ngajarin anak tidak sopan.


Memang dapat apa nolong mereka, apa mereka ngasih uang tidak, terimakasih pun tidak malah suka bentak bentak.


Pokoknya kalau mahu anak anaknya ibunya yang jaga seharusnya suami nggak boleh nyuruh nyuruh anaknya jadi pembantu tak bergaji.


Ternyata pembantu tak bergaji ini adat yang di pertahankan rupanya. Buktinya iparnya juga di perlakukan sama oleh keluarga suami.


Nah kenapa nggak kerja kan kerja masing masing. Ngapain nyuruh nyuruh orang.


*****


Ayo kenalan lagi cacu sama caci mengadopsi anak dari adek caci. Karena mereka nggak punya anak. Anak anaknya meninggal sewaktu bayi. Nama anak adopsi Inza. Setelah Inza umur 10 tahun ternyata caci hamil anak cewek di beri nama Mehek.


Dulu cacu mahu adopsi Samer adek kandung Furqan tetapi caci selalu perlakukan Samer dengan buruk tidak di kasih makan bahkan di pukul. Kalau ada cacu di sayang kalau cacu nggak ada di pukul bahkan tidak di kasih makan.


Berbeda perlakuan caci dengan Inza ini. Anak saudari dari caci makanya dia sayang. Kalau dari cacu anak saudara dia benci. Semua keluarga besar tau sifat caci mereka juga tidak suka, namun mereka tidak bisa berbuat seenaknya sama caci karena keluarga caci pasti tidak akan terima.


Nah caci ini sejak melahir kan Mehek sering nyusahin Aini. Nyuruh nyuruh kerja. Ini pun dulu Aini sering komplain sama suaminya, apa yang terjadi malah membuat Aini geram, suaminya malah tidak memahami perasaan istri.


Dulu Furqan sering berkata kalau caci itu perempuan berhati busuk. Tetapi masih juga dibantu.


Seiring waktu ternyata Mehek cacat fisik tidak bisa jalan makan ke wc sendiri. Mehek tidak lebih seperti bayi kalau pun umurnya sekarang sudah lebih 6 tahun 5 bulan.


Teringat oleh Aini perlakuan caci dan cacu dulu yang sering mukul kepala belakang Akram. Sementara dokter bilang otak belakang Mehek lumpuh.

__ADS_1


Sejak tau anaknya lumpuh caci bukannya sadar malah mengatakan Aini kasih guna guna ke anaknya. Padahal yang sering ke dukun minta tawiz itu justru caci sama cacu. Kemana saja dukun dia pergi membawa Anaknya.


Bila di nasehatin malah bilangin orang iri dengannya. Dukun bukannya mengobatin penyakit malah merogotin uang malah mereka percaya saja, tidak percaya Tuhan.


__ADS_2