
"Apa kamu tidak bergurau? Pagi pagi menghilang, datang datang bilang mau pergi?" tanya Aini tak habis pikir. Sambil menatap Furqan dari ujung kaki ke ujung rambut.
"Kenapa memandang saya begitu? Apa kamu baru sadar kalau saya ganteng?" tanya Furqan jenaka masih berusaha meluluhkan hati istrinya.
"Idih ganteng buat apa kalau kantong kosong! Perut lapar hilang bukan nengo muka tapi nengo makanan trus dimakan. Memang muka bisa dimakan? Kagak, tetap lapar," jawab Aini lagi. Sambil tertawa geli dalam hati. Dulu sih iya gara gara hidung mancung badan tinggi kulit hitam manis.
Semua itu buat Aini cinta. Sekarang sudah tidak mempan lagi tuh syarat jatuh cinta. Yang berlaku syarat berlangsung hidup. Intinya mereka sudah sampai pada fase ke dua dalam berumah tangga. Orang orang bilang puber ke dua. Bahaya sangat mudah untuk bercerai. Bahkan yang dulunya hidup berkecukupan di fase ke dua ini juga banyak cerai. Apa lagi alasannya ekonomi.
"Saya serius. Kamu berdoa saja semoga kita di beri rezki lebih. Dan kita bisa hidup lebih baik. Hari ini saya akan menemui seseorang. Semoga urusan lancar," jawab Furqan sambil menyeruput chae.
"Apa kamu serius?" tanya Aini masih tidak percaya. Dalam hati justru Aini berharap memang kenyataan. Tidak bohong dan benar benar pergi. Sekalipun harus di tinggal lagi. Sudah biasa. "Tapi bagaimana keuangan? Apa nanti kamu kirim ke tangan orang?" tanya Aini waspada. Karena inilah penyebab malapetaka. Di tinggal suami uang malah di pegang orang.
"Saya kan sudah bilang. Kalau jadi saya pergi lagi uang kamu yang pegang. Saya akan kasih ATM saya juga paswod. Nanti kamu tinggal ambil sendiri," jawab Furqan serius.
"Entah lah. Saya harus senang atau sedih. Saya jadi bingung sendiri. Saya kadang juga susah percaya," jawab Aini mengambang. Karena memang pengalaman yang sudah sudah. Kepergian Furqan ke Dubai dulu. Dan betapa sulit untuk percaya lagi.
"Nanti kamu lihat sendiri. Sekarang Akram sudah besar. Tahun depan dia bisa bawa motor sendiri. Jadi bisa mengantar kamu kemana saja," jawab Furqan meyakinkan Aini.
Aini termenung membayangkan. Kalau benar Furqan pergi lagi otomatis dia akan di tinggal untuk sekian kalinya. "Yah bagaimana ini. Kok aku jadi ragu dan bimbang. Bukankah selama ini itu yang direncanakan. Lalu kenapa sekarang jadi ragu," gumam Aini dalam hati. Seketika seperti di putar kemasa lalu ingatannya. Banyak kejadian miris di tinggal suami. Dan kembali di masa ini yang harus siap di tinggal lagi.
"Sudahlah kenapa kamu berpikir terlalu jauh. Nanti kita juga yang senang. Untuk kamu dan anak anak. Saya pergi untuk kalian. Sebentar lagi biaya semakin besar. Dan kamu juga akan susah terus bila saya tidak punya uang lebih. Belum lagi kebutuhan anak anak. Biaya tak terduga," ucap Furqan menenangkan istrinya yang masih ragu ragu.
"Yah kalau memang kamu mau pergi trus apa lagi saya buat. Memang Akram dan Ali sudah mulai besar. Butuh biaya lebih. Kalau mau sekolah tinggi juga biaya tak sedikit," jawab Aini Pasrah.
"Nah gitu dong sayang. Cobalah untuk melihat ke depan. Yang di belakang biar berlalu. Saya ayah mereka dan tidak mau hidup anak saya susah terus ke depan. Masa depan kalau kita tidak rencanakan dengan baik sekarang, nanti tentu akan sama," ucap Furqan memberi semangat istrinya.
"Ok saya paham. Cuma saya tidak mau kamu ngasih uang ke tangan orang. Kenapa bukan saya yang atur. Biar saya sendiri yang ngambil di Bank. Itu yang membuat saya benci kamu malah percaya sama orang," ucap Aini nampak kesal.
"Berapa kali saya bilang nanti saya kirim langsung ke kamu," ucap Furqan.
"Nanti baru terbukti benar atau tidak?" jawab Aini.
*************
"Mbak kenapa tugas kemaren kok belum di selesaikan?" tanya Ratna . Hari ini Aini dapat teguran dari atasannya.
"Yang mana mbak? Sepertinya sudah semua! Aku sudah berkali kali periksa," jawab Aini.
"Aduh mbak yang aku kirim semalam. aku kan kirim ke nomor mbak nggak di group. Coba deh di periksa lagi," jawab Ratna lagi.
"Oh..tapi belum terkirim penuh mbak! Karena hp ku sudah penuh memorinya. Nanti ku coba hapus dulu beberapa fail. Biar bisa terkirim. Maaf ya mbak," jawab Aini sungkan. Karena semalam dia sudah janji akan di selesaikan.
"Tapi tolong hari ini di kerjakan yah! aku nunggu sampai siang jam 11. Kalau tidak aku bisa di marahi loh sama bos," jawab Ratna setengah protes dengan kelalaian Aini.
"Iya mbak hari ini. Sebelum jam 11 saya usahakan selesai. Ini tinggal dikit lagi terkirim," jawab Aini. Berharap bisa clear.
__ADS_1
"Baik lah kutunggu," jawab Ratna.
Tiba tiba ada telpon masuk dari Furqan. Mengatakan kalau seminggu lagi dia akan pergi ke malaysia. Antara senang dan sedih Aini termenung.
"Sayang. Saya sudah dapat tiket. Minggu depan saya berangkat. Kamu nanti tolong siapkan pakaian saya. Karena saya masih sibuk. Saya harus menemui seseorang. Untuk urusan pemberangkatan. Sekaligus jemput anak pulang sekolah," ucap Furqan.
"Sayang memang kamu banyak bawa baju. Semua sudah di simpan dalam Almari. Tinggal masukkan ke koper saja lagi. Oh ya selamat yah. Rencana kembali ke malaysia. Hati hati di sana jangan lupa sudah punya tiga anak. Kalau lupa sama bini tak apa. Jangan sampai lupa sama anak," ucap Aini. Yang di sambut tawa oleh Furqan.
"Hahaha kamu ada ada saja. Kamu istri saya mana bisa saya lupa. Kamu sudah bagi anak anak untuk saya. Cukup lah satu istri saja. Buat apa cari lagi," jawab Furqan serius.
"Ah seperti tak percaya saya malah. Nanti kamu lupa saya juga sudah ada cewek baru," jawab Aini terus menggoda.
"Cewek baru buat kepala pening. Cukuplah pening gara gara kamu saja. Buat apa cari pening lagi," jawab Furqan meyakinkan istrinya.
"Hahaha." Akhir nya Aini yang tertawa. "Yah sudah pokoknya hati hati jaga diri baik baik," ucap Aini lagi.
Aini baru saja menyelesaikan pekerjaan yang di beri Ratna. Sekarang semua sudah di copy paste. Tinggal print saja dan itu tugas Ratna. Yang menjadi tugasnya adalah menyusun setiap kata kata dan arti dalam bahasa Urdu. Yah sebenarnya kalau untuk formal tulisan Urdunya masih belum tepat. Namun bisa di mengerti. Karena Aini cuma penterjemah lepas. Dan kalau tidak paham bisa di tanya. Namun rata rata mereka paham.
Aini menelpon Ratna minta di periksa pekerjaannya. " Mbak Ratna ini sudah kelaar, tepat sebelum jam 11. Ini saya sudah buat satu persatu. Ada dua macam. Mana yang suka dan yang lebih mudah di pahami. Atau nanti di gabung saja. Mohon sarannya," ucap Aini.
"Sebentar saya bagi tau rekan saya dulu. Biar dia yang putuskan. Saya masih sibuk nih. Tunggu saja berita dari saya nanti," jawab Ratna.
"Baik mbak saya tunggu. Kalau ada yang harus di perbaiki bagi tau," jawab Aini.
**********
"Ami ji, papa akan pergi jauh ya? Trus kita di sini bagaiman?"tanya Ali.
"Iya sayang," jawab Aini sambil membelai kepala Ali. Di tatapnya kedua mata anak bungsunya ,sambil berkata. "Papa pergi cari uang untuk kita. Kalaupun papa pergi jauh tetapi, kita bisa telpon setiap hari.
"Tapi Ami ji . Siapa yang antar sekolah?" tanya Ali bingung. Karena selama ini yang ngantar papanya.
"Abang mu kan ada! Dia yang ngantar kamu. Pulang pergi sekolah bersama abang. Kenapa bingung?"tanya Aini. Karena dia tidak mau Ali jadi cengeng. Harus kuat.
Dari tadi Furqan mendengar ucapan Ali. Dia mengerti kenapa Ali bicara begitu. Rasa kehilangan itu ada dalam diri Ali. Kalau Akram dia sudah besar. Bisa memahami kepergian ayah mereka. Sementara Ali masih belum
"Sayang anakku. Mari sini! Ada apa? Kenapa bingung? Ada mama ada bhai yang akan jaga kamu," ucap Furqan sambil memeluk Ali.
"Tapi papa. Kadang bhai Akram suka jahilin saya. Saya tidak suka," jawab Ali setengah protes.
"Sekalipun begitu tapi nanti bhai juga akan antar jemput kamu sekolah. Jadi tidak apa apa, kalau kadang kadang jahil. Dia Abangmu pasti akan menjaga kamu," ucap Furqan memberi nasehat si bungsu.
"Papa jangan kuatir saya akan menjaga Ali. Dia Adik saya kenapa saya tidak menjaganya?"ucap Furqan.
"Nah sekarang kamu sudah dengar. Abangmu pasti akan menjaga kamu. Ok papa mau siap siap tukar baju dulu," jawab Furqan.
__ADS_1
"Ayo anak anak makan malam dulu. Biar kan papa mu bersiap siap dulu. Nanti ada kelupaan susah. Biar papa mu mengatur barang bawaannya dulu. Ayo anak anak pintar makan dulu," ucap Aini.
"Baik la ami. Ini makan malam terakhir bersama papa. Ayo papa mari makan sama sama," pinta Akram.
"Iya papa datang. Tinggal pakai sepatu saja. Mulai lah makan," jawab Furqan
Malam itu terasa lain dari biasanya. Namun itu cuma perasaan saja. Karena jam minit detik tetap berputar seperti biasa. Aini memperhatikan Furqan. Dan sudah siap siap mau makan bersama. Aini menyodorkan nasi bryani makanan khas pakistan di tambah dengan chiken pokore. Ayam goreng yang di bumbui. Enak sekali .
"Ayo semua satu persatu pelukan sama papa. Papa mau berangkat taxi sudah menunggu di luar," ucap Furqan sambil memeluk anak anaknya bergantian. Sambil tidak lupa memberi nasehat untuk jadi anak yang baik selalu nurut perintah ibu.
"Papa hati hati di jalan ," ucap Furqan sambil mencium tangan Furqan. Aini memang mengajari anak anak dengan mencium tangan orang tua. Tidak seperti adat sini menyodorkan kepala. Lalu yang lebih tua menarok tangan di kepala yang muda.
"Sayang jaga anak anak. Kamu juga jaga diri baik baik. Jangan terlalu banyak pikir," ucap Furqan. Seakan paham apa yang ada di benak Aini.
"Baiklah kamu juga hati hati di sana. Jangan lupa jaga kesehatan mu!" ucap Aini pasrah. Dalam hati ada rasa tidak rela untuk melepaskan kepergian Furqan. Namun bila ingat begitu sulitnya mencari uang lebih di sini, terpaksa dia lepas kepergian Furqan.
Furqan menarik koper keluar rumah. Cuma Anak anak dan istri yang melepas kepergiannya. Setelah sebelum beberapa hari yang lalu pamit pada semua keluarga di kampung. Aini tak kuasa membendung air mata yang mulai jatuh di pipi. Melihat Furqan mulai memasukkan koper ke bagasi taxi. Begitu Furqan berbalik ingin berpelukkan sekali lagi. Aini cepat cepat menghapus air matanya. Tidak ingin Furqan tau dia menangis.
"Ok semua. Mari sini Akram Ali peluk papa," ucap Furqan sambil memeluk erat anak anaknya bergantian. "Sayang saya berangkat. Kamu jaga diri," ucap Furqan menatap Aini. Sambil memeluk erat istrinya. Dan mencium kening Aini.
"Hati hati," jawab Aini.
Furqan masuk ke dalam taxi. Dan melambaikan tangan ke arah anak anak dan istrinya. Perasaannya gundah gulana. Namun demi merubah nasib nasib dia akan pergi. Dengan satu tujuan merubah nasib.
Taxi meluncur di jalan by pas, dengan kecepatan yang sudah di perkirakan. Supaya tepat waktu sampai di bandara. Dengan hembusan angin dari jendela taxi , membuat hawa dingin merasuk tulang. Furqan menutup jendela taxi.
Di rumah tempat Aini dan anak anak. Ini adalah malam pertama mereka tidur tanpa Furqan . Suami dan ayah bagi mereka. Ada rasa canggung. Namun akan terbiasa nantinya.
"Ami ji. Kapan papa akan pulang kembali?" tanya Ali polos.
"Sayang setelah kontrak kerja habis. Tetapi nanti kalau uang cukup maka kita yang akan pergi bertemu papa? Bagaimana?" tanya Aini lagi memberi harapan pada Ali.
"kemana Ami?" tanya Ali lagi. Sambil memeluk bantal guling kesayangannya. Aini sengaja buat dua bantal guling. Satu untuk Ali dan satu lagi untuk Akram.
"Ya ke malaysia," jawab Aini. Sambil menyelimutkan Ali. "Sudah kamu sekarang tidurlah. Besok mau sekolah. Jangan lupa berdoa sebelum tidur. Doakan juga papa selamat sampai tujuan dan mendapat rezki lebih di sana," ucap Aini sambil mencium kepala Ali. Dibelai kepala buah hatinya. "Bukan cuma kamu nak yang canggung dengan kepergian papamu, mama juga," bisik Aini lirih.
Aini berjalan keluar kamar. Di ruang tengah Aini melihat Akram. "Buat apa kamu Nak? Sudah malam tidurlah! Besok mau sekolah. Nanti lambat," ucap Aini.
"Iya Ami ji. Ini tinggal sedikit lagi home work saya. Dan besok teacher marah kalau tidak selesai. Malam ini harus selesai. Ali mana?" tanya Akram.
"Sudah tidur," jawab Aini. "Baiklah setelah selesai pergi tidur, Ami mau sholat dulu. Lalu tidur," jawab Aini.
"Baiklah Ami. Saya segera selesaikan," jawab Akram.
Aini berlalu menuju kran air berwudu. Terus sholat isya. Dalam sujud di panjatkan doa pada yang maha kuasa. Semoga kedepan kehidupan mereka lebih baik.
__ADS_1
Ya Allah Ya Robb mudahkanlah segala urusan kami. Limpahkanlah rezki kami dan ijinkan kami memberikan kehidupan yang layak kepada anak anak kami. Kami sebagai orang tua mereka tentu ingin mereka mendapatkan segalanya dari hasil kerja kami. Amiin.