Demi Sibuah Hati

Demi Sibuah Hati
Kuberi dikau kesempatan ke dua


__ADS_3

Hari ini Aini sudah berpikir matang matang. Bagaimana pun juga dia akan membantu suaminya bangkit. Demi masa depan anak anaknya.


Sekarang keegoisan dalam dirinya harus di tepis mentah mentah. Lebih baik menatap masa depan dengan penuh harapan. Mungkin ini taqdir yang harus di jalaninya.


Sebagai ibu dari anak anaknya mau tidak mau dia harus memikir kan masa depan mereka. Namun Aini harus ada kejelasan sikap suaminya. Tidak mau seperti dulu lagi.


Kringgg.....


"Assalamualaikum mbak." Suara khas di seberang sana mengingatkan Aini pada seseorang. Yang sangat di kenalnya. Sudah lama tidak ngobrol dengan temannya itu.


"Waalaikumussalam apa kabar?" tanya Aini senang. Karena dapat telpon dari sahabatnya.


"Baik diri mu bagaimana? Mbak?" tanya wanita itu.


"Yah masih sama seperti dulu, sudah punya anak berapa?" tanya Aini lagi.


"Aku belum hamil mbak?" jawab sobatnya sedih.


"Oh sudah periksa ke dokter?" tanya Aini berharap.


"Sudah mbak aku ada masalah dengan rahimku," jelas sobat Aini lirih.


"Oh yang sabar yah, tetap semangat. Semoga nanti di beri anak yang banyak," jawab Aini.


"Iya mbak ini aku ada sedikit rezki untuk anak anak, mbak? Harap jangan di tolak yah," jawab wanita itu lagi.


"Aduhh aku yah nggak nolak rezki, cuma aku nggak mau ngerepotin dirimu," jawab Aini terharu.


"Nggak kok mbak, aku cuma sangat berterimakasih atas bantuan mbak dulu. Sekarang kami menikah. Iya memang belum hamil. Tapi mudah mudahan Allah kasih nanti," jawab wanita itu penuh harap.


"Aku ikhlas kok mbak bantu," jawab Aini terharu.


"Dan aku juga ikhlas kok mbak membalas hehe, tolong di terima yah. Buat anak anak. Semoga aku juga di beri anak. Nanti kita bisa reunian," jawab wanita itu penuh harap.


"Oke deh semoga kamu cepat di beri keturunan," jawab Aini.


"Yah udah kirim nomor account yah."


"Sebentar, nanti kutanya suami dulu," jawab Aini.


Aini sering dapat kiriman uang dari teman baiknya yang mengerti dia kesulitannya. Temannya justru sangat terbantu oleh Aini oleh sebab itu mereka membalas kebaikan Aini.


Suaminya yang tau akan hal itu semakin sadar kalau ternyata orang orang Indonesia punya sikap peduli dengan teman. Padahal cuma temen bahkan tidak kenal muka. Tapi mereka malah saling bantu. Yah lebih baik di banding sistem adat pakistan sudah di bantu jangankan membalas berterimakasihpun tidak.


Yah tidak semua sih teman senegara baik. Tapi ada yang baik dan peduli. Artinya orang orang kita masih punya perasaan.


"Sayang, ini ada kiriman uang nih tolong ambil bagi sama saya dari temen di Indonesia. Tadi dia telpon bagi tau. Coba di cek account mu," tanya Aini.


"Temanmu? Yang mana satu? Kenapa dia ngirim uang?" tanya suami Aini heran.


"Iya emang kenapa?? Kenapa heran? Kami orang indonesia sangat suka membalas budi. Apa lagi kalau di bantu. Bahkan belum kenalpun. Apa lagi kalau sudah kenal. Tidak sama dengan kalian. Sudah kenal sering di bantu malah nggak berterimakasih," jawb Aini panjang lebar.


"Yah sudah nanti saya bagi," jawab suami Aini.


"Jemput anak anak sekalian nanti," ucap Aini mengingatkan suaminya.


"Baik lah," jawab pria itu.


"Bagaimana hari ini kamu tidak kerja? apa cuti?"tanya Aini pada suaminya.

__ADS_1


"Saya sudah tanya hari esok mula kerja gaji dikit cuma," terang suami Aini pasrah.


"Yah yang penting ada gajinya cukup nggak cukup ya mau bagaimana lagi, kita terima saja. Allah yang atur. Bagaimana cara mencukupinya," jawab Aini.


"Sayang coba la kamu pinjamkan uang untuk visa ke Malaysia, mudah mudahan saya bisa pergi lagi," ucap suami Aini berharap.


"Mana cukup duit saya itu nanti buat dokument," jawab Aini.


"Nantikan saya kirim lagi dari sana," jawab pria itu.


"Asalkan kamu janji uang saya yang atur, selama ini kamu kan tidak percaya sama saya, itu makanya saya tidak mau kamu kerja jauh," jawab Aini.


"Iya sayang sekarang saya pergi untuk anak anak dan kamu saja," jawab suaminya penuh harap.


"Yah sudah nggak ada yang mau nolong kamu baru sekarang kamu sadar," balas Aini kesal. Bila ingat yang dulu.


"Yang lalu biarlah lupakan saja," jawab pria itu menghibur istrinya.


"Kamu yang enak aja bicara,dulu saya susah juga sama anak anak," jawab Aini.


Teringat yang dulu rasa kesal di hati Aini nggak bisa lupa. Kadang memang suaminya terlalu lemah. Padahal keluarganya cuma mau duit saja. Mereka bukannya peduli apa kesusahannya.


Biarlah kali ini diberi kesempatan untuk membuktikan ucapannya. Benar atau tidak. Kesempatan untuk saling percaya untuk kedua kalinya. Sekalipun Aini masih ada keraguan karena nanti kalau suaminya sudah berduit lagi maka semua pasti akan menjadi baik lagi jadi untuk apa percaya.


Harus ada kejelasan sikap suaminya tidak mahu di perdaya lagi oleh keluarga suaminya.


*********


Kebiasaan dari nenek diturunkan ke cucu cicit saling menikam sesama saudara.


Sebenarnya mereka cuma salah didik saja . Sering suami Aini bilang kalau nanti Aini tua baru Aini rasa bahwa apa yang sekarang membuat Aini benci justru nanti akan mengalami.


"Nanti kamu akan tau bila si sulung tidak membantu adeknya, kamu sebagai ibu akan kecewa," ucap suami Aini tempo hari.


"Kenapa saya harus kecewa? Kalau sebagai adek kerjanya makan tidur, trus kenapa saya nyuruh abangnya bantu dia?" balas Aini menolak mentah mentah ucapan suaminya.


Yang bungsu juga harus buktikan dong kalau dia berhak untuk di bantu. Kalau kerjanya cuma makan tidur jalan jalan yah biarkan saja jangan dibantu.


Sering ucapan seperti ini yang suaminya suka menyudutkan Aini. Namun Aini sudah buktikan dengan sibungsu kalau sibungsu salah yah tetap di marahi jadi nggak ada istilah yang bungsu bisa berbuat apa saja sementara yang sulung harus mengalah.


"Ami abang mengganggu saya," teriak anak bungsu Aini.


"Kamu yang mulai," jawab si sulung.


"Wee nggak kena hehe," sambil meledek abangnya lari trus ketawa ini perangai sibungsu.


"Awas kau yah tak ku lepas kalau dapat." Si sulung semakin jengkel oleh sikap adeknya. Sambil berlari mengejar adeknya dan terjatuh. Si adek lari menghindar kejaran abangnya.


"Huhuhuuuuuuu amiiiiiiii," si bungsu menangis kuat menjerit sampai Aini tergopoh gopoh mendatangi mereka.


"Ada apa ini ribut ribut?" tanya ibu mereka.


"Ami abang mendorong saya," ucap si bungsu.


"Bohong dia jatuh sendiri," jawab si abang.


"Sini kalian berdua sekarang ceritakan apa yang terjadi," tanya Aini. Sambil menyimak dengan seksama.


"Tadi ami abang sedang buat pr trus adek ngusilin terus ,abang jadi kesal ngejar adek bukannya adek jadi sadar eh malah meledek abang," jawab si abang.

__ADS_1


"Adek apa benar begitu?" tanya Aini penuh selidik.


"Iya ami," jawab Si bungsu.


"Kalian ini kenapa? Berapa kali ami katakan jangan bertengkar," jawab Aini mencoba menasehati anak anaknya.


"Tapi ami," sanggah mereka.


"Stop ami belum selesai bicara jangan di potong," ucap Aini tegas.


"Baik lah ami maaf," serempak mereka menjawab.


"Dengar ami tidak mau mendengar pergaduhan lagi, kalau ami lihat sendiri siapa yang salah? Maka ami tak akan segan segan mukul kalian paham," jawab Aini lagi.


"Iya ami," jawab mereka.


"Dan ingat ami cuma akan menghukum siapa yang salah, tidak peduli siapa abang atau ade. Ingat ami tidak sama dengan orang sini, adek selalu dibela. Kamu Dek, kalau ami tau kamu salah maka ami tidak segan segan menghukum kamu, dan abang jangan mentang mentang kamu yang lebih tua, jangan sekali kali sesuka hati menjahilin adekmu kalau ami tau, maka ami tidak segan segan juga memarahi kamu, bagi ami kalian sama tidak ada yang lebih sayang sama di mata ami.


"Iya Ami kami paham," jawab mereka serempak.


"Ya sudah, pergi mandi sana. Sudah bau , ganti baju jangan lupa gosok gigi," perintah Aini pada dua jagoannya.


Begitulah Aini mengajarkan anak anaknya. Tidak membedakan kasih sayang. Tidak sama dengan wanita sini yang bungsu malah di bela sekalipun salah, dan yang tua malah di salahkan trus.


Si sulung sering komplain sama Aini karena selalu membela si bungsu. Namun justru Aini berusaha mengajarkan mana yang baik dan buruk. Kalau kesalahan yang dilakukan sibungsu tanpa dia mengerti kenapa harus di marahi.


"Ami lebih sayang adek. Apa apa adek di bela ," ucap si abang tempo hari.


"Ami sudah jelaskan, kamu abang seharusnya mengerti adekmu. Bukan malah menjahilin terus.


"Adekmu masih kecil dan dia belum paham. Kamu berusaha memahaminya. Dengan sendirinya adek nanti akan patuh padamu," jelas Aini pada si abang. Namun itu kejadian di waktu dulu. Sering komplain. Sekarang tidak. Karena anak anak siapa yang salah maka dia yang di hukum. Tidak peduli si abang atau si adek.


***********


"Amiiii ," teriak si sulung mengagetkan ibunya.


"Ada apa?" tanya Aini menghampiri anaknya.


"Adek tidak mau dengar saya, saya suruh pulang," jawab si sulung .


"Adekmu di mana?" tanya Aini.


"Di rumah orang, itu sebelah rumah kita," jawab si sulung.


"Adeeeeeekkk pulangggg," panggil Aini.


Ternyata rupanya di suruh beli barang ke warung. Lalu main di situ. Padahal Aini sudah melarang, tidak boleh main di rumah orang.


"Ya ami," jawab adek.


"Kenapa kamu tidak dengar, tadi abangmu manggil?" tanya Aini.


"Tadi saya di kasih makan biskuit, selepas dari warung. Tadi di suruh beli sesuatu," jawab bocah itu.


"Dengar. Ami tidak mau tau. Biar saja dia suruh anaknya. Kenapa suruh kamu. Memang mereka pernah bantu kita. Sekali lagi ikut ucapan abangmu. Dia lebih berhak kau patuhi. Paham?" bentak Aini.


"Baik ami," jawabnya.


"Sudah , sekarang masuk ke dalam."

__ADS_1


__ADS_2