
"Mbak aku tadi bilang ama mertua kenapa dia sering datang kesini sementara dia sudah menikah? Ya sih bahasa urduku berantakan mbak tau dia marah marahlah aku salah apa?"
"Salahnya karena kamu bertanya? Kalau kamu diam saja baru benar," jawab Aini.
"Tapi mbak gimna ayo aku bilang sama suami juga, kok kamu nggak jelaskan ke mereka."
"Dengar baik baik ini adat mereka mau dijelaskan tetap salah yang ada kamu yang disudutkan, ya udah kamu ngurus anakmu aja lah ngapain kamu mikir mikir trus, ntar kamu kurus kering," jawab Aini. Sebenarnya bosan juga mendengar curhatan yang ceritanya itu itulagi. Coba deh belajar bagaimana bisa menjawab.
"Suami nggak mau pindah mbak kalau pindah nanti susah katanya," curhat teman baru Aini. Sepertinya Aini cocok buka jasa tempat curhat. Hehehe geli juga Aini membayangkan. Lumayan kan, kalau ada pulus.
"Ya nggak usah pindah kamu cukup urus anakmu aja. selesai masak kerja beres beres yang jadi tanggung jawabmu, selepas itu kamu masuk aja ke kamar, nggak usah nimbrung dengan mereka. Lagian kamu juga tidak paham bahasa mereka," saran Aini pada wanita itu.
"Iya mbak akukan masak di dapur tapi kompor gas bersama ya sering betengkar juga,pening aku mbak," keluh teman Aini.
"Kamu mintalah suami beli sendiri, asing masak bereskan? Dari pada ribut terus," jawab Aini.
"Suami nggak mau mbak, karena itu dulu suami yang beli saya baru tau," jawabnya lagi.
"Lah kalau begitu suruh suami kamu yang isi gas lalu kamu masaklah asing kan. Itu mah gampang lawan aja. Mereka kan memang begitu," jawab Aini.
"Iya mbak nanti aku akan lawan biar mertua sadar diri juga aku masak nggak bole, ini itu aku masak di suruh cepat cepat karena dia mau masak juga, edan itu orang. Kagak punya hati nurani. Aku inikan menantunya, kok aku di jahatin terus?" jawab wanita itu.
Tiba tiba......
"Hei kamu dari tadi nelpon trus. Kapan kamu kerja? Siapa yang kerjakan ini? Dengar tidak apa saya bilang?" bentak mertuanya.
"Suara siapa itu? Kasar kali mulutnya?" tanya Aini.
"Mertua saya, dia nyuruh saya lagi. Kayak babu tapi nggak bergaji," jawab teman Aini.
"Hahaha..memang kamu baru sadar yah? Makanya kalau nggak mau jadi babu lawan saja mereka! Nanti kamu ratunya," jawab Aini.
"Sudah mbak kerja aku pagi pagi, sudah kukerjakan, aku bangun lepas sholat subuh. Trus nyapu ngepel masak aku, karena aku tau nanti mereka bangun aku susah masak," jawab teman Aini serius.
"Trus? Sekarang apa masalah lagi?" tanya Aini.
"Yah sekarangkan mereka yang masak ngotorin dapur, selesai masak di suruhnya saya beres beres, gitu mbak," jawab teman Aini lagi.
"Aduhhh lawan aja kenapa sih kalau itu memang punya suami kamu, bilang aja jangan kalian pakai beli sendiri, mereka itu mulutnya aja nggak sekolah. Taunya adat mereka saja yang benar," jawab Aini.
Ternyata mertuanya masih teriak teriak. Setelah pamit sama Aini temannya itu segera menjawab mertuanya.
"Ada apa?",dengan bahasa urdu alakadar.
"Bereskan ini, nelpon aja kerjamu," hardik mertuanya.
"Siapa yang masak? tadi kaliankan trus kenapa saya yang beres beres?" jawab teman Aini pada mertuanya.
"Ini kerja kamu," jawab mertuanya lagi.
"Dengar baik baik. Saya bukan babu kalian. Ini juga suami saya beli, suami saya kerja sekarang malah saya yang kalian jadikan babu, ada otak nggak sih?" jawab wanita itu lantang. Ngapain takut batinnya.
__ADS_1
"Kurang ajar kali kau yah, memang ini kau yang punya ini anakku yang beli, kamu bawa apa ke sini? Apa yang di beri orang tuamu?" tanya mertuanya lagi.
"Anak mu itu suami saya, kalau kamu mau di hormati hormati dulu orang lain," jawab wanita itu tegas.
"Awas kau yah nanti kulaporkan sama suami kamu," jawab mertua wanita itu.
"Laporkan saja itu memang sifat kalian," jawabnya tanpa takut lagi.
Tidak lama ternyata benar mertuanya melaporkan semua kepada suaminya dan suaminya diam saja. Melihat anaknya diam saja tidak menegur istrinya malah ibunya semakin menjadi jadi.
"Emang istri kamu mau ngusir saya. Saya ibumu apa kau lupa?" teriak wanita paroh baya itu pada anaknya.
"Ibu,sudah lah ibu, kenapa ibu terus cari gara gara," jawab anaknya.
"Kenapa kamu malah diam saja? Kenapa kamu tidak marah sama istrimu?" tanya ibunya lagi. Ibunya mau anaknya marah sama istrinya. Tetapi malah tidak.
"Trus saya buat apa ibu? Kenapa ibu menyusahkan saya," tanya anaknya.
"Suamiku, makan dulu ini sudah saya siapkan," ucap teman Aini pada suaminya.
"Yah kamu bawa ke kamar aja, saya makan di kamar saja," jawab suaminya.
"Baik lah," jawab istrinya.
"Hei orang asing orang tuamu tidak ngasih barang barangkan? Jadi mulai sekarang kamu jangan pakai barang barang di rumah ini paham?" teriak mertuanya.
"Ibu kamu bicara apa? Tolong jelaskan sama saya," tanya wanita itu pada suaminya.
"Saya mau jelas jelas paham? Saya tidak mau kamu diam saja. Dan ibumu semakin semena mena," jawab istrinya.
"Ok saya makan dulu nanti kita cerita," jawab pria itu.
"Baik lah," jawab istrinya curiga.
"Anak mana?" tanya pria itu lagi.
"Dia tidur," jawab istrinya.
Dari dalam kamar terdengar suara mertuanya ngomel ngomel trus. Dan ternyata ibu mertuanya mau mengusir dia keluar. Rupanya memang sudah di rencanakan oleh ibu mertua dan ipar, karena suami iparnya tidak kerja dan iparnya baru saja di usir oleh keluarga suaminya.
Nah maksud mereka cuma satu. Teman Aini ini keluar dari rumah. Nanti iparnya yang akan tinggal di sini.
"Sayang sekarang apa yang ibu bisingkan kamu diam sajalah," ucap pria itu pada istrinya.
"Apa maksud kamu diam," jawab istrinya curiga.
"Yah biarlah dia orang tua, tidak perlu di lawan."
"Justru sebagai orang tua seharusnya dia bijaksana, jangan begitu dong. Aku ini istri kamu. Kenapa dia jahat sama saya? Kalau dia tidak suka sama saya? Itu urusan kamu dan ibumu. Jadi saya tidak mau tau. Yang jadi urusan saya kalau mereka terus mengusik. Saya tidak bisa diam," jawab istri pria itu lagi.
Tok tok...pintu di ketuk kerass
__ADS_1
"Ada apa ibu," suaminya keluar.
"Istrimu suruh keluar dari sini, jangan pakai barang yang ada di rumah ini," bentak ibunya.
"Ibu kenapa? Ibu jadi seperti ini? Apa salah dia?" tanya anaknya bingung dengan sikap ibunya.
"Diakan tidak di kasih barang sama keluarganya jadi suruhlah keluarganya kasih peralatannya," jawab ibunya tanpa malu malu.
"Ibu , kenapa ibu cari gara gara? Kenapa ibu tidak pikir baik baik ucapan ibu? Kalau dia tau maksud ibu, maka ibu yang susah nanti," jawab anaknya.
Akhirnya sejak dari tadi di perhatikan terus temannya Aini muak sekali. Dengan tegas dia bilang ke suami dan semua yang hadir saking gusarnya akhirnya suaminya cuma manut saja karena memang ibu dan saudarinya sudah keterlaluan.
"Suamiku apa apa saja barang yang kamu beli tolong tunjukkan dan saya tidak akan pakai barang dari ibu mu?"
"Istri ku tolonglah jangan begini."
"Apa kamu mau saya mati di siksa begini, bilang itu sama ibu kamu selama kamu kerja dulu, siapa yang sering ngeluarkan uang biaya pernikahan adekmu. Siapa yang ngasih? capek saya diginikan terus ternyata memang adat kalian yah yang suka mengintimidasi orang seenakmya, mentang mentang saya orang asing kalian suka suka menghina saya, semua rata rata orang Pakistan seperti ini apakah kalian tidak malu?" hardik wanita itu lagi.
"Kalian sudah dengar semua sekarang terserah kalian mau apa, ini yang kalian mau seharusnya kalian bershukur, selama saya kerja bantu keuangan keluarga,itu juga bantuan istri saya, sekali lagi saya bilang jangan ganggu dia , rumah ini banyak uang dia yang saya pakai paham?" ucap pria itu pada keluarganya.
Dengan kesal campur malu pada istrinya akhirnya pria itu bilang juga ke ibu bapaknya.
*********
Kringggggg......
"Mbak lagi apa mbak?"
"Oh kamu ada apa?"
"Bertengkar hebat mbak," jawab wanita itu.
"Sama siapa?" tanya Aini.
"Siapa lagi ibu mertua dia mau usir saya trus anak perempuannya masuk tinggal di kamar saya," jawab wanita itu.
"Loh kok bisa?" tanya Aini penasaran.
"Tapi sekarang aku sudah muak, kalau suami nggak juga berubah aku akan marah terus , tapi shukur deh suami terus terang bilang kekeluarganya kalau dulu keuangan suami saya yang bantu, pernikahan adeknya saya ikut bantu eh sekarang malah mertua ngusir saya, saya bilang kalian yang akan keluar," jawab wanita itu gusar.
"Plok plok tepuk tangan akhirnya kamu bisa menjawab, emang mereka paham ucapanmu kamukan belum lancar urdu?"tanya Aini bingung.
"Lah saya kumpulkan barang barang yang dibeli suami trus saya ambil pembatas rumah saya bilang dapur wc kamar yang bagian samping kanan itu punya saya awas kalian pakai. Trus ibunya protes ke suami. Suami bilang biarkan saja apa maunya," jawab wanita itu puas.
"Wah salut saya sama kamu. Berani. Tapi apa bener dulu kamu sering bantu suami kamu?" tanya Aini.
" Iya. Padahal cuma temanan. Malah temanku yang nikah duluan ama temannya. Tapi sekarang mereka di Indonesia mbak, aku nggak ada niat nikah ama dia. Aku bilang soal bantuan biar saja. Dia malah nangis nangis nggak mau kehilangan aku. Sekarang aku sudah di sini seenak perutnya ibunya mau ngusir. Mereka yang akan aku usir ntar," jawab wanita itu kesal.
"Yah sekarang kamu sudah asing. Kamu bisa bebas. Bilang ke suami kamu jangan sampai ibumu ngusir saya lagi. Kalau tidak nanti saya akan usir benaran ibumu," jawab Aini.
"Sudah mbak. Dan ku bilang coba sekali lagi usir saya. Kalian yang keluar nanti.
__ADS_1