
Dengan kesal sekali Aini masuk ke dapur. Tidak di sangkanya ternyata Furqan menyalahkan dirinya. Atas apa yang terjadi. Tidak melayani adek dan bapak suaminya. Padahal Furqan sendiri tau di dapur tidak ada yang akan di masak. Sudah seminggu Furqan tidak bekerja . Otomatis seminggu pula barang yang mau di masak habis.
"Aku tidak habis pikir. Kok aku di salahkan gumam Aini."
"Ami ji. Dada minta chae," ucap Akram.
"Mana ada dudh. Kalau mau chae belilah dudh. Baru dibuatkan," ucap Aini.
"Ami dada abu mau makan biskuit pakai chae," ucap Akram lagi.
"Akram kamu bilang ke Dada abu kamu kalau dudh tidak ada," jawab Aini.
"Baiklah." Setengah berlari Akram menghampiri dada abunya. "Dada abu, ami bilang dudh tidak ada," lapor Akram.
"Tapi tadi amimu buat chae saya lihat," celah Sana. Sambil mengomel sendiri. Pelit tidak mau bagi makan.
"Memang gila kalian. Furqan tidak ngasih cukup makan untuk saya dan anak saya. Tadi saya beli dengan uang saya sendiri. Kalau saya juga harus membiayai hidup kalian , buat apa aku jadi istri abangmu? Itu mantu asli Pakistan juga selalu mengelak bila kalian datang. Karena apa ? Dia juga susah," jawab Aini
sudah hampir tiga bulan bapak mertua dan Sana menumpang. Selama itu pula Tahrim dan Samer di rumah orang tua Tahrim. Dengan alasan Tahrim juga sakit.
Hari ini bapak mertuanya pulang sendiri ke kampung. Tanpa bicara dengan Furqan. Karena dia juga kesal dengan Furqan. Atas perlakuan Aini.
"Sana Abu ji mana? Kenapa tidak kelihatan?" tanya Furqan.
"Abu sudah pulang ke kampung," ucap Sana.
"Loh kenapa? Kenapa tidak bagi tau saya?" ucap Furqan.
"Bhai tadi abu ji minta chae. Tapi istrimu tidak ngasih. Padahal abu tau Aini buat chae. Lalu abu ji kecewa terus pulang," jawab Sana sambil mengomporin Furqan.
"Ainiii.... Sini," teriak Furqan.
"Apa benar yang di bilang Sana?" tanya Furqan lagi.
"Apa dia bilang," tanya Aini heran.
"Tadi abu saya minta chae kenapa kamu tidak ngasih? Kenapa kamu tega sekali sama ayah saya?" bentak Furqan.
"Memang dudh kamu yang beli? Saya tadi beli satu gelas saja. Itu pun saya tambah air satu gelas lagi. Saya buat untuk anak anakmu. Bukan saya yang minum," balas Aini.
"Kamu belilah sekilo. Buat semua sekali," ucap Sana.
"Ada otak nggak sih kamu? Memang kamu kalau jadi saya, mau beli dudh untuk semua sekali?" tanya Aini kesal. Dasar muka tembok. Yang lebih heran sekarang Furqan ikut ikutan menyalahkan Aini.
**********
"Assalamualaikum Mbak Aini," tanya Ratna teman Aini.
"Waalaikumussalam, baik mbak," jawab Aini.
"Ada berita gembira nih," jawab Ratna lagi.
"Apa itu mbak?" tanya Aini penasaran.
"Masih ingat kontrak kerja yang dulu? Sempat terhenti? Ternyata banyak peminat sejak di tutup kantor yang di Pakistan," terang Ratna lagi semangat. Karena dia akan beri kejutan untuk Aini.
"Oh ya. Trus sekarang bagaimana?" tanya Aini semakin bingung.
"Group yang kita buat dulu ternyata banyak yang gabung. Dan ternyata ada malah yang minat langsung. Jadi pimpinan kita meminta mbak kembali jadi admin di group itu. Untuk penterjemah. Bagaimana?" tanya Ratna lagi.
"Yah mau aja. karena aku butuh uang," jawab Aini lagi.
"Dan kabar baiknya. pimpinan kita akan bayar gaji mbak. Selama vakum tetap di bayar. Karena banyak yang minat gabung di group sangat terbantu oleh terjemahan mbak," terang Ratna lagi.
"Ah yang benar mbak?" tanya Aini tak percaya.
"Iya. Kalau mau hari ini akan saya kirim uangnya. Minta nomor account. Segera," jawab Ratna serius.
"Tapi aku masih numpang sama suami ku mbak," ucap Aini lirih.
"Kenapa kamu tidak buka account sendiri. Jadi langsung kamu yang ambil," saran Ratna pada Aini. buat apa repot repot buat sendiri ajalah. Nanti suami malah minta untuk bantu adek dan bapaknya.
"Iya mungkin sebaiknya begitu," jawab Aini.
"Yah sudah hari ini ku kirim gaji yang lalu semua, ku tunggu accountnya," jawab Ratna lagi.
__ADS_1
Alhamdulillah ya Allah ternyata aku bisa dapat gaji lagi. Kebetulan kerja ku yang sekarang tidak banyak uangnya. Tapi lumayan juga.
***********
tercium aroma masakan dari arah dapur. Tentu saja buat perut lapar. Dan Aini sedang menanti kedatangan anak anaknya. Jam sudah menunjukkan pukul dua. Sebentar lagi Akram dan Ali akan pulang.
Bbbruuummm......
Suara riksaw berhenti di depan rumah. Tidak lama pintu di buka. Ternyata sudah sampai anak anak Aini.
"Assalamualaikum," ucap mereka barengan.
"Waalaikumussalam," ucap Aini. Sambil mencium kening kedua anaknya. "Ayo kita makan, ganti baju cuci tangan dan terus ke dapur," perintah Aini.
"Siap komandan," ucap mereka serempak. Sambil tertawa.
"Mmmhh aromanya wangi sekali, masak apa ami?" tanya Akram. Sambil mengendus ngendus.
"Makanan kesukaanmu, ayo cepat. Ami juga lapar," ucap Aini lagi. Memang sengaja menunggu anak anaknya pulang. Baru makan bersama sama.
"Ini untuk Abang. Dan ini untuk si bungsu. Jangan lupa baca bismillah," ucap Aini.
"Bismillah," ucap mereka serempak.
"Bagaimana sekolah hari ini," tanya Aini.
"Biasa saja Ami," jawab mereka serempak.
"Bagaimana masakan hari ini, kalian suka?" tanya Aini lagi.
"Suka sekali Ami. Ini sangat sedap," ucap Akram.
"Ami ji. Kenapa kita jarang makan seperti ini ? Saya mau setiap hari makan yang enak enak?" ucap Ali berharap.
"Mulai hari ini ami akan selalu menyediakan untukmu. Apa saja yang kamu mau. Tapi janji kamu harus belajar yang rajin. Dan jangan lupa mengaji. Oh ya hapalan surah mu sampai di mana? Hari ini ami tidak mendengar kamu menghapal?" tanya Aini pada si Ali. Aini sangat berharap si Ali Hafiz qur'an.
*********
Sejak hamil muda sampai melahirkan dan selesai masa 40 hari, baru sana kembali ke rumah suaminya.
Suami Sana dapat gratislah. Jehez dapat istri dapat, begitu istrinya hamil tinggal suruh abang Sana yang ngurus.
"Bhai. Suami saya tidak ada uang lagi. Dia tidak ada kerja dua bulan ini. Kalau saya pulang makan apa di sana. Antar saya ke kampung saja. Ada abu juga Samer. Kalau nanti Tahrim pergi lagi tidak apa, ada abu kita. Saya di kampung saja.
"Suami kamu kenapa tidak datang. Suruh dia datang jemput kamu. Kamu pulanglah ke rumah suami kamu dulu," jawab Furqan.
"Semalam dia bilang tidak ada waktu," jawab Sana berbohong. Padahal memang Sana sendiri yang tidak mau pulang. Dia milih ke kampung tempat orang tuanya.
Tidak berapa lama Sajad datang. Dengan membawa mobil sewa. Untuk membawa anak istrinya pulang.
"Assalamuakaikum," ucapnya sebelum masuk.
"Waalaikumussalam. Oh kamu datang? Tadi istrimu bilang kamu tak ada waktu?" tanya Furqan.
"Sudah lama istri saya di sini. Kenapa saya tak ada waktu untuk jemput dia. lagi pula ibu saya juga kangen cucunya. Nanti kita di sana ada ibu yang jaga," ucap Sajad.
"Saya tidak percaya. Ibu kamu jaga saya. Selama ini ibu kamu selalu benci saya," jawab Sana.
"Suka atau tidak kamu tetap harus pulang. Kalau ibu saya tidak menjaga kamu? Selama ini kamu juga tidak pernah bantu ibu," ucap Sajad.
"Kenapa kamu bicara seperti itu. Kamu juga tau kita susah. Uang gaji kamu tak cukup. Trus apa salah saya," Sana membela diri.
"Sudahlah ayo pulang," bentak Sajad lagi. Dengan menggerutu Sana ikut perintah suaminya.
Aini tersenyum lihat Sana mengomel sendiri. Sambil berkemas dia tetap saja mengomel.
"Kenapa dengan dirimu? Di jemput suami kok tidak senang? Atau jangan jangan gara gara itu kamu datang ke sini? Mertua kamu jahat sama kamu?" tanya Aini.
"Bukan urusan kamu. Urus saja diri kamu sendiri. Saya akan selalu datang ke sini. Karena ini rumah abang saya. Dan kamu tidak ada hak melarang. Suka atau tidak,"jawab Sana.
"Saya tidak larang kamu. Kalau datang. Tapi saya tidak ijinkan kamu semena mena di sini. Masuk rumah saya dapur saya kamar mandi saya. Ini di sebelah, terserah kalau mau apa pun di situ. Karena itu rumah popo kamu. Lagian kamu juga tidak punya malu. Popomu sudah tua janda nggak ada anak. Itu pun kamu nyusahin dia," jawab Aini.
"Ini adat kami. Saya tidak salah. Kami berhak di sini," jawab Sana lagi.
"Iya adat kalian makan minum gratis. Tidak peduli yang punya rumah ada uang atau tidak. Dalam islam pun kalau mau datang. Minta ijin dulu pada tuan rumah. Dan itu kalau sudah sampai, sebelum di ijinkan masuk jangan masuk dulu. Sedangkan kalian seperti hewan. Datang suka suka pergi suka suka. Kalau datang minta di layani dengan mewah. Memang adat tak punya malu," jawab Aini.
__ADS_1
"Sanaaaaa." Ternyata Sajad sudah lama menunggu. Sudah siap siap mau berangkat.
"Tuh suamimu sudah manggil. Cepat pergi ke rumah suamimu. Menyampah kamu di sini. Jadi orang tak pernah malu. Selalu adat yang di jadikan alasan," omel Aini. Heran betul sudah menikah hamil masih juga menyusahkan saya. Saya hamil melahirkan tidak ada yang bantu. Saya sendiri lebih suka mereka jangan bantu. Kalau mereka datang bukannya bantuin. Malah makan minum gratis saja. Jadi buat apa.
*********
Setelah Sana pergi terasa dunia aman dari parasit. Memang begitu kebiasaan mereka. Furqan yang tau semuapun malah menyalahkan Aini. Mengatakan Aini tidak sopan sebagai tuan rumah.
"Sekarang dia sudah pergi," ucap Furqan.
"Baguslah pergi ngapain dia di sini. Tak punya malu. Mulai dari hamil sampai 40 hari. Memang kalian tak punya malu," jawab Aini.
"Kamu kenapa bicara begitu. Apa salah dia kalau ke sini," tanya Furqan.
"Salahnya kalau kamu tak mau tau kita juga kurang makan. Tapi untuk adekmu Satu tahun sanggup mengalah, dan lebih memalukan saya makan pakai uang saya sendiri. Trus harus pula saya ngasih adekmu. Itupun kamu anggap saya tidak baik. Baik atau jahat sama keluarga kamu tidak ada bedanya," jawab Aini.
"Ami ji. Mau biskuit," ucap Ali.
"Minta sama papamu uang," jawab Aini kesal. Sambil berlalu pergi.
Sudah nyata nyata adatnya merepotkan saja. Tetapi malah nyalahkan orang. Kalau dia kaya silahkan. Dia sendiripun miskin. Tapi malah sok bertanggung jawab.
**********
"Assalamualaikum, Mbak apa kabar?" tanya suara di seberang sana.
"Waalaikumussalam," jawab Aini.
"Bagaimana uang sudah di terima," tanya wanita itu yang tidak lain Ratna. Dulu yang menawarkan kerja ke Aini.
"Alhamdulillah sudah, saya sudah buat account sendiri,"jawab Aini.
"Ini nanti mbak lebih mudah kerjanya. Nanti tolong di copy paste aja sambil lengkapi bagian yang kosong. Nanti biar saya tinggal print aja. Lumayan banyak ini. Tapi semua sudah di bagi bagi sesuai kebutuhan masing masing," jawab Ratna.
"Mbak sekarang di mana?" tanya Aini.
"Saya di tanah air mbak, kenapa?" tanya Ratna.
"Saya ingat mbak sudah kembali, sewaktu mbak bilang banyak yang minat tempo hari," jawab Aini.
"Nggak mbak. Kita kerja online saja. Karena lebih besar peluang kalau online. Dan lagi pula kalau kembali ke sana. Mbak tau sendiri di sana bagaimana. pokoknya di sana susah berkembang. Bukan karena tidak ada peminat. Justru ada peminat di karenakan adat tadi mereka susah bergerak. Apa lagi kita?"terang Ratna.
"Memang sih mbak. Di sini itu tekanan adat sangat kuat. Dan yang ada adat yang manis di telan sendiri yang pahit di suruh orang makan," jawab Aini.
"Tapi mbak baik baik sajakan?" tanya Ratna.
"Ya biasa saja. Tapi tetap mau pulang. Aku cuma nunggu anak besar tamat sekolah. Kalau sudah tamat baru pulang," jawab Aini.
"Ya mudah mudahan mbak bisa pulang. Di sini mungkin anak anak jauh lebih suka. Memang di sana ada keluarga bapaknya. Tapi kalau bisa pulang pergi Indonesia Pakistan, tentu lebih baik" saran Ratna.
"Mbak aku pamit dulu. Mau selesaikan ini. Nanti aku juga mau ngurus anak anak," jawab Aini.
"Baiklah tetap semangat kerja," jawab Ratna.
Aini membuka group. Di sana sudah terpampang apa yang akan di kerjakan. Dengan teliti satu persatu Aini mengerjakan pekerjaannya. Dan menyalin ulang berkali kali. Karena ada kesalahan salah ketik.
Tiba tiba......"Ami...saya mau makan lapar," ucap Ali.
Aini menoleh. "Oh anakku lapar. Baiklah ayo kita ke dapur kita makan sama sama. kebetulan ami juga lapar. Abangmu mana? Kenapa belum pulang?" tanya Aini.
"Tadi dia bilang mau ambil buku. Tertinggal di tuition," jawab Ali.
"Loh kok bisa sayang. Kenapa tidak di periksa sebelum pulang?" tanya Aini.
"Entahlah ami. Kadang saya juga lupa," jawab Ali polos
"Yah sudah lain kali kalau mau pulang periksa dulu buku atau pencil dan buku buku," nasehat Aini.
"Assalamualaikum," ucap Akram.
"Waalaikumussalam," jawab Aini dan Ali serempak.
"Ayo sini kita makan sama sama. Kita sedang makan juga. Nanti ami mau kerja lagi," jawab Aini pada Akram.
Mereka makan dengan lahap, sekali kali mereka bergurau. Ibu dan anak anak bahagia bersama.
__ADS_1