Demi Sibuah Hati

Demi Sibuah Hati
Sana


__ADS_3

Sudah hampir lima tahun pernikahan Sana dan Samer. Ternyata mereka sama sama memiliki anak perempuan. Sana dan Tahrim hamil anak yang ke dua berbarengan. Melahirkan juga pada hari yang sama. Karena mereka operasi caesar.


Sana seperti biasa datang berkunjung ke rumah ayahnya di kampung. Serta membawa anak anaknya. Kebiasaan memang orang Pakistan sering datang ke rumah orang tuanya. Dan tentu memberatkan para menantu.


''Assalamuakaikum," ucap Sana terus masuk ke dalam.


"Waalaikumussalam," jawab ayah Sana.


"Apa kabar Abu ji? Dan kamu Tahrim anak anak sehat?" tanya Sana basa basi. Karena memang sudah kebiasaan orang sini. Manis manis di mulut pahit kenyataan.


"Sehat," jawab Tahrim datar. Sambil membawa anak anaknya ke dalam kamar. Lalu mengunci dari dalam. Hari ini Samer memang tidak jadi datang. Karena belum bisa ambil cuti. Diam diam Tahrim menelpon ibunya minta tolong abangnya menjemput dirinya dan anak anak.


"Sajad apa kerja sekarang?" tanya ayah Sana.


"Sekarang tidak ada kerja. Kerja yang lama mau pindah tempat. Lihatlah nanti di tempat baru bagaimana? Kalau jalan kerjanya di sana saja. Kalau tidak cari pekerjaan lain.


"Sekarang Samer juga tidak punya pekerjaan tetap. Untuk anak anaknya sulit membeli susu. Kamu datang sini nanti Tahrimpun pergi. Trus bagaimana kamu di sini?" tanya ayah Sana.


"Ayah apa yang harus saya lalukan. Di tempat mertua saya, mereka juga memperlakukan kami tidak baik. Salah saya apa? Saya menikah atas persetujuan dua belah pihak. Bukan saya yang mencari sendiri. Cobalah ayah bilang sama Furqan. Suruh dia bantu suami saya," jawab Sana lagi.


"Saya tidak mau lagi berurusan dengan Aini. Biar saja lupakan saja. Kamu urus sendirilah," jawab ayah Sana lagi.


*********


"Furqan. Bahan makanan sudah habis. Hari ini kamu pergi beli. Ini uang cukup lah untuk beli persediaan seminggu.


"Aini. Saya pening di sini. Kerja gaji dikit. Mau beli apapun tidak cukup. Bagaimana mau jalan hidup di sini?" ucap Furqan mengeluh.


"Trus berusahalah. Cobalah cari pekerjaan yang bisa mencukupi biaya kita. Ini negara kamu. Uang gaji kerja online saya tidak banyak. Untuk makan lebih dari cukup. Asalkan kamu tidak memaksa saya memberi makan keluarga kamu, kalau mereka datang," jawab Aini.


"Saya pun tau. Sekarang saya mau pergi luar negara lagi. Biar saya bisa cari uang lebih. Nanti kamu dan anak anak bisa makan cukup. Dan tentu kita akan senang," harap Furqan.


"Bagaimana urusan visa mu? Itu hari kamu bilang bulan depan. Sekarang tinggal seminggu lagi," tanya Aini.


"Sabar saja lah. kalau tuhan kasih rezki lebih. Pasti saya pergi," jawab Furqan kurang pasti.


Kringgggg...


"Halo," jawab Furqan rupanya telpon dari Sana.


"Bhai Furqan apa kabar," tanya Sana.


"Baik. Kamu bagaimana? Di mana sekarang?" tanya Furqan.


"Saya di kampung. Bhai saya mau ke rumah kamu jemput saya," jawab Sana.


"Saya tidak bisa. Saya tidak ada uang? Untuk minyak motor pergi kampung. Kenapa kamu tidak pulang ke rumah suamimu?" tanya Furqan.


"Saya baru datang. Kenapa di tanya pulang. Memang saya tidak boleh datang?" tanya Sana.


"Siapa yang telpon," tanya Aini.


"Sana. Dia mau ke sini. Minta di jemput. Saya tidak ada uang," jawab Furqan.


"Kenapa mau datang sini?" tanya Aini tidak suka.


Tahrim di kampung juga susah. Samer kerja cuma serabutan gaji tak menentu. Sebenarnya kalau mereka mau , bisa saja memelihara kerbau. Namun mereka tipe pemalas. Di kampung ada kandang kerbau. Dulu ayah Furqan yang pelihara. Namun Samer tidak suka beternak. Sementara istrinya pesolek. Suka dandan dan memakai baju bagus setiap bulan.


"Sana ini dudh anak saya jangan kamu kasih anakmu. Saya tidak ada uang beli untuk semua. Cukup untuk anak saya saja. Samer gaji tak banyak," ucap Tahrim.


"Tak apa saya beli sendiri. Nanti saya pergi ke rumah Furqan," jawab Sana.


"Bagus itu bawa anak anakmu sekalian," jawab Tahrim.

__ADS_1


Sudah seminggu di kampung akhirnya Sana minta di antar ke rumah popo orang tua angkat Yasmin. Kebetulan hari ini Samer datang. Menemui istri dan anak anaknya.


"Assalamualaikum," ucap Sana trus masuk ke dalam.


"Waalaikumussalam," jawab popo sebelah rumah Aini.


Memang setiap ke rumah Aini, Sana selalu ke tempat popo. Tidak masalah sebenarnya namun Furqan lagi lagi bikin kesal.


"Siapa datang Aini?" tanya Furqan.


"Sana sama anak anaknya. Tadi di antar Samer," jawab Aini.


"Oh.. Nanti kamu lebihkan masak. Kasih mereka juga," jawab Furqan.


"Mulai lagi. Saya pening ini macam. Baru beli persediaan untuk satu minggu datang adek mu," jawab Aini.


"Dia tidak lama di sini," jawab Furqan.


"Dia kan datang tidak di undang. Terserahlah mau makan di mana," jawab Aini.


"Kenapa kamu tidak paham. Apa salah nya kita bagi dia makan. Dia sebentar di sini trus pergi," jawab Furqan setengah memaksa.


Begitulah selalu begitu lagi lagi. Alasan nya tamu cuma sekali kali. Memang Aini dan anak anak pernah datang ke rumah dia? Nggak pernah.


"Bhai apa kabar, tadi Sajad belum dapat kerja. Dia cari kerja baru. Kalau sudah dapat saya pulang. Untuk sementara saya di sini," ucap Sana.


"Tak apa nanti kalau mau apa apa minta sama Aini," ucap Furqan.


"Yah bhai," jawab Sana senang. Artinya tinggal ambil sesuka hatinya. Nggak perlu minta ijin Aini lagi.


Sepulang sekolah anak anak minta nasi goreng. Dan Aini segera buat untuk mereka. Begitu di buka kulkas ternyata sayuran untuk stok seminggu tinggal untuk dua hari saja lagi.


"Akram sini. Tadi di kulkas banyak sayuran. Kenapa sekarang tinggal dikit? Siapa yang ambil?" tanya Aini.


"Apa??? Keterlaluan sekali," jawab Aini.


Aini menemui Furqan. "Furqan lihat adekmu beraninya mengambil barang saya tanpa ijin," ucap Aini.


"Barang apa?" tanya Furqan.


"Tadi kan saya kasih uang untuk persediaan seminggu. Sekarang cuma dua hari saja. Selebihnya kita makan apa?" tanya Aini kesal.


"Saya yang ijinkan dia ambil. Buat dia dan anak anak," jawab Furqan enteng.


"Apa apaan kamu ini. Uang saya yang kasih. Kenapa sekarang saya pula yang menanggung makan adekmu dan anaknya?" ucap Aini semakin kesal dengan sikap Furqan.


Tiba tiba Bisma datang. Melihat Aini dan Furqan bertengkar dia senang. Malah Bisma semakin baik sama Sana.


"Kapan datang?" tanya Bisma.


"Sudah seminggu," jawab Sana.


"Itu kenapa ribut dua laki bini?" tanya Bisma.


"Memang dia dasar pelit. Tadi abang saya sendiri yang suruh saya ambil. Sekarang istrinya komplain," jawab Sana.


"Hahaha baru tau dia adat sini. Hak kamu juga di rumah abangmu. Kamu tidak perlu minta ijin sama dia," ujar Bisma semakin mengkomporin Sana. Dalam hati Bisma berkata bagus Sana . Terus lakukan habiskan Aini. Hahaha. Batinnya tersenyum senang.


"Kamu ada apa ke sini?" tanya Sana.


"Biasa mau ambil dudh," jawab Bisma sambil berlalu.


Aini dan Furqan masih ribut. "Kamu tau saya abangnya. Kalau saya tak bagi kamu lah yang bagi dia makan. Tidak baik begitu," terang Furqan.

__ADS_1


"Kamu ini memang tak peduli saya sama anak. Kalau dia susah ada suaminya. Oh. Mentang mentang kamu abangnya , sekalipun kamu tidak ada uang dan saya harus bagi dia makan," jawan Aini semakin kesal.


"Jangan membuat saya benci sama kamu. Kamu membuat hidup saya susah. Lama lama saya betul mau lari dari kamu. Kalau dia datang cuma sebentar kenapa kamu malah marah marah, dengan siapa siapa keluarga saya kamu bertengkar," jawab Furqan


Kontan saja Aini meradang melihat sikap suaminya."Apa kamu bilang? Kalau kamu banyak uang silahkan dia numpang , ini untuk saya dan anak saja, saya yang beli.Sekarang kamu malah berkata kata saya mau lari. Yang ada saya yang bosan sama kamu," jawab Aini lagi.


Ternyata benar bukan beberapa hari. Malah hampir tiga bulan Sana di rumah poponya. Dan selama itu pula Sana di kasih makan minum gratis. Suaminya belum juga kerja.


Aini dan Furqan semakin jauh. Sana tetap tidak bergeming. Malah dia cuek saja melihat pertengkaran Furqan dan Aini. Dan Bisma malah semakin baik baik dengan Sana. Ketawa ketawa kadang makan bersama. Tetapi itu bukan uang Bisma atau Sana. Semua memakai uang popo. Karena popo di sebelah rumah Aini suaminya ada pensiun. Nah itu juga yang membuat keluarga Jafar dan ibunya sering datang. Karena di rumah popo semua makan gratis. Tidak peduli popo janda sudah tua. Sakit sakitan tetap melayani para parasit hidup. Padahal mereka semua punya suami dan anak anak. Dan popo jadi pembantu untuk mereka semua. Sengaja mereka datang dan membuat Aini tidak tenang.


"Ini bukan hak Aini saja. Kita semua ada hak di sini. Ngapain juga kita takut. Biar saja dia tidak suka," jawab Bisma pada Sana.


"Iya heran saya. Saya adek Furqan dia juga tidak suka saya datang. Ini kan adat kita. Dia harus terima," jawab Sana semakin angkuh. Menganggap dirinya benar. Padahal justru ini lah yang membuat dia datang ke sini. Karena mertua serta ipar tidak memberi makan. Sekalipun Sajjad suami Sana tidak bekerja. Mereka tidak peduli sekalipun ada cucu mereka. Nah cucu perempuan membuat mereka semakin tidak suka sama Sana.


"Ami. Saya mau pergi tuition," ucap Akram.


"Ali mana? Kenapa tidak pergi?" tanya Aini.


"Dia main sama Salu. Tadi saya panggil tidak mau," jawab Akram.


Aini bergegas mencari Ali." Ali kenapa tidak mau pergi tuition?" tanya Aini.


"Saya mau main sama Salu," jawab Ali lagi.


"Dengar sini. Salu orang tuanya tidak menyekolahkan dia. Jadi dia cuma main saja trus numpang sana sini. Kamu harus sekolah ami tidak mau kamu main sama dia," bentak Aini pada Ali.


"Iya ami. Saya paham," jawab Ali patuh.


"Sudah kamu cepat pergi," perintah Aini.


Lalu Ali dan Akram pergi tuition. Rupanya Salu menangis pergi ke tempat Sana. "Ada apa Salu? Siapa yang marah?" tanya Sana.


"Mama ji tadi saya main sama Ali , trus ami ali marah marah. Dia bilang jangan main dengan saya," jawab Salu terisak isak.


Sambil menghampiri Aini, Sana bicara apa tujuan Aini marah sama anaknya. "Kenapa kamu marah sama anak saya? Kalau kamu tidak suka jangan kamu marah," jawab Sana kesal.


"Heehh.. Apa kau bilang? Siapa yang marah marah sama anakmu?" tanya Aini balik.


"Anak saya yang bilang," jawab Sana.


"Hei sini kau! Kapan aku marah sama kamu. Tadi saya bilang sama Ali. Jangan main sama anakmu. Dia tidak sekolah jadi tidak perlu pergi tuition. Sementara anak saya harus sekolah. Kecil kecil tukang bohong. Dan kamu anak di manja , kalau ngadu langsung percaya, awas kalau kau main dengan Ali. Jaga anakmu. Anakku tidak perlu main dengan anakmu," jawab Aini kesal.


Furqan yang tau justru menyalahkan Aini. Aini sangat bingung dengan sikap Furqan. Dari pada begini terus bertengkar gara gara adeknya. Lebih baik pisah saja. Mungkin benar orang bilang Fase ke dua dalam rumah tangga mereka.


"Saya capek kamu begini terus Furqan. Kalau kamu mau pisah ya sudah. Anak anak kamu yang tanggung biaya. Dan saya selagi anak anak belum dewasa maka saya akan menjaga. Dan kita hanya sebatas orang tua mereka. Artinya tidak ada hubungan suami istri lagi," ucap Aini tegas.


"Saya pun muak dengan sikap kamu yang tidak patuh sama suami. Saya sudah bilang kita tinggal di sini. Ikuti adat sini. Tetapi kamu malah membantah terus. saya tidak ada hal kalau kita pisah. Saya bisa hidup sendiri," jawab Furqan.


"Patuh apaan suami istri itu haknya sama. Kalau kamu berhak saya pun juga. Dan kamu tidak ada hak menyuruh saya membiayai adek mu.Paham?" jawb Aini lagi.


"Itu lah kamu tidak paham juga. Sudah kamu urus aja anakmu. Makan minum mereka saya yang tanggung. Dan kamu kalau mau pergi silahkan," ucap Furqan.


''Saya tidak akan pergi kamu saja pergi. Kamu kirim duit untuk anak anak. Kalau kita pisah tetap juga kan kamu membiayai mereka? Anggap saja saya pengasuh mereka. Tapi bukan istrimu," jawab Aini tak kalah sengit.


Sudah berlangsung pertengkaran sengit antara Furqan dan Aini. Lagi lagi masalah Sana. Ini hari ke dua sejak bertengkar. Seperti biasa Aini tetap menjakankan rutinitas sebagai ibu rumah tangga. Menyediakan sarapan, menyapu , mengepel, mencuci. Cuma melayani suami tidak. Dalam hati Aini betul betul ingin berpisah. Andai kata di beri tiket untuk dirinya dan anak anak sudah pasti dia keluar dari rumah ini.


"Aini tolong urut saya. Saya capek," ucap Furqan pada hari ke tiga. Ah jangan jangan alasan saja. Pikir Aini namun tetap di lakukan juga. Di urut kepala, badan dan kaki.


"Nah sudah selesai saya mau tidur," ucap Aini ketus. Dengan cepat Furqan menahan tangan Aini. "Ada apa? Kan sudah selesai di urut!" ucap Aini masih dengan ketus.


"Sinilah," jawab Furqan. Aini tau maksud Furqan


"Tidak mau, saya mau tidur capek," ucap Aini mengelak. Dan segera bangkit sambil menarik paksa tangannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2