
Anak anak Aini semakin tumbuh besar. Keperluan mereka juga semakin meningkat. Biaya sekolah dan keperluan tak terduga itu sering merepot kan. Kalau dulu Aini bingung kemana mahu meminta sedang suami sendiri pun sering mengeluh.
Namun sejak dia punya pekerjaan sekarang dia bisa membantu suami untuk keperluan anak anak. Kalau keperluan keluarga suami memang Aini tidak mahu.
"Ami ji , mau beli sepatu baru ini sudah rusak," ucap anak sulung Aini. Sambil menyodorkan sepatu sekolahnya. Memang sudah tidak layak lagi di pakai. Kalau hujan air masuk kedalam sepatu. Dan tentu sepatu tidak bisa melindungi kaki si pemakai.
"Baiklah sayang, nanti ami suruh papa mu yang antar kamu beli sepatu," jawab Aini sambil membelai kepala anaknya. Miris rasanya melihat anak anaknya, kalau keperluan sekolah juga susah bagi suaminya membelikan. Ada uangnya kalaupun tidak banyak. Tapi demi anaknya terpaksa dia pakai.
Suami Aini baru saja datang. " Papa saya mau beli sepatu," ujar anaknya. Sambil menyodorkan sepatu lama yang sudah tidak layak pakai.
"Tapi papa belum ada uang sayang," jawab papanya. Sambil menunduk lesu. Karena miris juga hatinya melihat anaknya kekurangan perlengkapan sekolah.
"Kamu bawa dia ke pasar , ini uang cukup untuk beli sepatu baru," ucap Aini. Sambil menyodorkan lembaran lima ribu rupe.
"Uang dari mana?" tanya suaminya.
"Gajiku masih ada," jawab Aini.
Dulu sewaktu suaminya bekerja di luar negri pun Aini dan anak anak juga sering kurang makanan pakaian. Nah mereka semua puas makan beli baju sementara suami Aini yang bekerja. Jadi bukan tidak mahu menolong itu memang adat mereka yang suka minta minta. Cobalah mereka pikir juga kerja cari uang eh ini malah malas makan tidur kerjanya trus numpang ber hari hari.
*********
"Ami popo datang," teriak anak Aini dari kejauhan. Sambil berlari kecil menghampiri ibunya.
"Oh ya sudah kamu makan dulu nanti pergi tuition jangan lupa buat home work," jawab Aini tak suka dengan kedatangan iparnya.
"Ok ami," jawab anak Aini patuh. Lalu kedalam cuci tangan dan makan hidangan yang sudah di sediakan.
"Ingat kata kata ami kamu harus belajar yang benar sholat jangan lupa dan adek mu ini di jaga jangan di usilin terus paham?" nasehat Aini pada anaknya.
"Iya ami," jawab anak sulung Aini patuh.
"Adek mari makan dulu sama abang mu," ucap Aini pada sibungsu.
Tidak berapa lama sedang asik makan iparnya datang. Sambil menyelonong masuk tanpa basa basi.
"Oh kalian di sini rupanya," ucapnya ketus sekali.
"Iyaa ada apa?" tanya Aini ketus pula.
"Kami datang bertamu kok kalian tidak sambut?" jawab iparnya.
"Lah kami tidak ngundang kalian jadi buat apa kami sambut," jawab Aini ketus pula. Dalam hati dongkol sekali Aini. Datang sendiri minta di layan pula.
"Kok kamu bicara seperti itu?" tanya iparnya.
__ADS_1
"Lah memang kenyataan saya tidak ngundang kamu?" jawab Aini lagi.
"Tapi inikan rumah abang saya," jawab iparnya tak kalah ketus.
"Saya tidak melarang kamu datang, tetapi saya tidak mengundang kamu artinya saya juga tidak berkewajiban melayani kamu, kamu itu tamu tak di undang paham punya rasa malu nddak?" cerocos Aini panjang lebar.
"Kau memang pelit setidaknya kamu tawarin kami makan kau dan anak anak makan tamu nggak di kasih," balas iparnya.
"Hei dengar ini makanan bukan duit abang mu tau," jawab Aini.
"Saya tidak percaya, kalau bukan duit abangku duit siapa?" tanya iparnya lagi.
"Itulah kamu yang tidak tau malu. Abangmu miskin dan untuk maka anak sama bininya tidak cukup ,dan kamu sering datang bertamu," jawab Aini.
Semakin kesel di buat sama iparnya. Memang mereka muka tembok semua. Kalau duit abangnya trus Aini tidak melayani wajar mereka bicara begitu. Ini duit makan untuk anak anak Aini kerja shukurlah dia ada tawaran pekerjaan. Ngapain juga gajinya di buat jamuan keluarga suami.
Pernah waktu itu beras tak ada keluarga suaminya tau karena mereka sudah berhari hari numpang. Trus Aini minjam ke tetangga dan masak buat anak anaknya. Itu pun iparnya minta juga apa masih ada malu mereka.
"Masak apa? Kok tadi katanya nggak ada yang bisa di masak? Sekarang masak diam diam pelit sekali," ujar iparnya melihat Aini masak di dapur.
"Apa kamu tidak malu bertanya? Ini minjam tetangga dan ini demi anak saya. Kalau untuk kalian buat apa saya pinjam. Setelah masak ini cuma anak saya yang saya kasih," jawab Aini lagi.
Bangga sekali dengan adat minta minta. Padahal sudah berkeluarga. Ini yang bikin Aini muak. Sering bertengkar dengan suami gara gara ini. Sekarang Aini nggak mahu lagi berbaik baik dengan ipar karena mereka itu parasit hidup. Mahu numpang enak sementara yang punya rumah susah.
"sayang ada makanan keluarga ku mahu makan ?" tanya suami Aini. Soalnya dia lihat keluarganya datang tidak makan apa apa.
"Tapi saya tidak punya uang," jawab suaminya.
"Nah tinggal bilangkan kemereka kamu nggak ada duit buat beli makanan," jawab Aini.
"Ini bikin malu," jawab suaminya lagi.
"Mereka datang tak punya malu trus kenapa bicara begitu bikin malu," jawab Aini.
"Kami datang istri mu nggak melayani kami, istri macam apa itu?" ujar iparnya ketus.
"Dia makan dengan uang dia, bukan uang saya,gaji saya mana cukup untuk biaya semua," jawab suami Aini.
Diam diam Aini mendengar ucapan suami dan iparnya.
"Tapikan dia ada uang," jawab saudari suaminya.
"Oh.. Jadi duit sayapun mahu kalian makan masih ada otak nggak abang mu aja miskin kalian sudah menikah eh...masih juga bangga dengan adat adat apaan ini adat tak punya malu, kami juga wanita jangankan minta sama abang yang sudah bekeluarga dengan orang tuapun tidak pernah berarti masih bagus adat kami," jawab Aini.
"Ini Pakistan ini adat kami," jawab iparnya tak mau kalah.
__ADS_1
"Masih tak punya malu bangga adat kamu,negara kamu, pengemis pemalas mahu makan enak tapi nggak mahu usaha," jawab Aini lantang.
"Sudahlah kalian pergi saja dari sini", sanggah suami Aini.
Karena memang suaminya tau mereka yang tidak mampu dari segi materi. Tapi demi adat malah hilang rasa malu mereka. Muka tembok semua.
"Saya kalau nggak ada anak buat apa saya masih bertahan, kamu pun tau sendiri tak ada uang ngapain juga dia sering datang," ucap Aini.
"Trus apa saya buat saya abangnya?" jawab suaminya.
"Tapi dia taukan kamu miskin anak bini aja tak makan?" tukas Aini.
"Tapi kenapa kamu tidak paham di sini tamu datang harus di layan," jawab suaminya.
"Saya juga tau kalau ada tamu sebagai tuan rumah kita melayani tetapi yang bertamu mikir juga apa keperluannya datang apa kedatangannya tidak menyusahkan?" jawab Aini.
"Dalam islam kalau bagaimana pun tamu tetap harus di layani," terang suaminya.
"Saya juga muslim dan dalam Alqur an kalau mahu bertamu minta ijin dulu sama yang punya rumah karena bisa jadi yang punya rumah susah tidak bisa menerima tamu," balas Aini tak mahu kalah.
"Kau ini lama lama bikin hidup saya susah," jawab suaminya.
"Apa tidak salah kau yang menyusahkan diri sendiri gara gara menjalankan adat makan lah itu adat kalian, kalau kau orang kaya silahkan buat adat ini kau miskin eh berkoar koar soal adat gila kalian," ledek Aini kesal.
"Kalau kita nggak ada anak sudah dari dulu saya lari ," ujar suaminya.
"Sekarang.lah kau lari saya bisa cari uang untuk anak anak saya, dan kamu masih bangga adat mu," tantang Aini semakin berani.
Sudah seminggu suami Aini diam tak bicara lebih dengan Aini. Cuma sesekali anaknya bilang papa mhu ini itu. Trus di jawab Aini mintalah sama adeknya . Bapak kalian nggak ngasih uang belanja yang mahu di masak tidak ada trus apa yang mahu di bagi.
Aini memang sudah kuat tekat nya mudah mudahan gajinya cukup untuk ngurus semua dokument dan dia akan pulang ke tanah air bawa anak anaknya.
Hari hari kehidupan Aini terasa hambar. Namun dia sedikit kuat dengan penghasilan yang di terima. Memang suaminya kerja tapi bila pertengahan bulan sudah tidak mencukupi lagi makanan untuk di masak.
Itulah penyebab pertengkaran yang sering terjadi karena keluarganya cuma tau adat mereka. kalau pun suaminya susah mereka nggak mahu tau. Suaminya sebenarnya tau siapa yang salah dan yang benar. Tetapi dia tak kuasa melawan adat.
Dan Aini tidak peduli lagi nasib pernikahannya sama suami. Kalau suaminya tidak sadar juga dan tidak mahu berubah lebih baik mereka ber pisah. Bukan Aini tidak bershukur memiliki suami dan anak anak. Tetapi rumah tangga mereka itu akan selalu rusuh dengan alasan adat lebih baik berpisah atau pindah.
"Saya mau pulang saja. Dari pada kita terus begini. Buat apa hidup bersama. Tidak saling memahami," ucap Aini pada suaninya.
"Kalau pulang bawalah anak anak semua. Sayapun mau pergi juga. Terserah ke mana saja. Saya juga tidak mau menetap di sini," jawab suami Aini.
"Emang kamu ingat saya bodoh. Kalau saya pulang saya satu orang saja. Buat apa saya bawa anak anak. Kamu juga tidak kasih uang biaya hidup. Mending saya sendirian. Anak anak urusan kamulah. Kan kamu bapaknya," jawab Aini tegas.
"Bagaimana saya bisa menjaga saya juga kerja," jawab suaminya.
__ADS_1
"Terserah kamu bagaimana caranya," jawab Aini tidak peduli.
Buat apa peduli kalau bapak anak anak sendiri yang tidak peduli. Sebenarnya ini cuma taktik Aini saja. Dalam hati mana tega meninggalkan anak anak di sini. Dia bukan ibu yang sanggup meninggalkan anak anak demi kepentingan pribadi. Semoga suami sadar.