Destined To Be Empress

Destined To Be Empress
Chapter 10 - Misteri Kematian Morgan


__ADS_3

Notes: Penyebutan ayah dan ibu, mulai dari chapter ini akan berganti menjadi Duke dan Duchess. Saya lagi mager revisi banyak, jadi kalau sudah selesai baru saya revisi perlahan.


...****************...


Hari dimana Morgan akan terbunuh pun tiba. Sore itu Duke meminta Morgan untuk mengambil buku pembukuan keuangan dari Duchess sebagai kamuflase.


Saat Morgan kembali, Duke sudah tidak berada di ruangan kerjanya lagi. Ia sedang bersamaku sekarang bersembunyi di pojok ruangan kerjanya. Lima belas menit telah berlalu, tapi terlihat disana Morgan hanya merapikan dokumen dimeja ayah.


Kok belum terjadi apa-apa ya? apa kejadian jadi berubah karna kami udah mengetahui alurnya?


Tiba-tiba muncul seorang pria yang menggunakan pakaian serba hitam, ia juga menggunakan penutup muka berwarna hitam. Tidak salah lagi!!! pria ini adalah pria yang kulihat dimimpiku karena ia memiliki mata berwarna abu-abu.


"Untuk apa kau datang kesini ?" tanya Morgan dengan tatapan dingin.


"Apa kau sudah lupa dengan tugas yang diberikan oleh Duke Claighton?"


"Aku tidak lupa, tapi belum saatnya aku membunuh Duke Luksemburg," jawab Morgan datar.


"Aku tidak akan mengatakannya dua kali. Camkan baik-baik!!! kau harus membunuhnya sebelum keberangkatan Duke Luksemburg ke utara atau Duke Claighton akan menghabisi Glasya.." ancamnya dengan tatapan yang kejam.


"Aku tahu, kau tidak usah khawatir. Aku akan memastikan bahwa aku akan membunuh Duke Luksemburg," jawabnya dengan tatapan serius.


"Bagus! aku akan tunggu kabar baik darimu," ucap pria itu dan ia pun pergi. Saat pria misterius baru saja pergi, Morgan tiba-tiba terlihat sangat kesakitan. Ia memegang dada sebelah kirinya.


"Ssiiialllllll!" rintihnya. Ia memuntahkan darah dari mulutnya dan tidak berapa lama kemudian ia mati. Muncul sosok laki-laki berambut putih, dengan mata berwarna merah dan kedua tanduk di sebelah kiri dan kanan kepalanya berjalan masuk ke ruangan kerja ayah.


"Lemah dan Menjijikan!!!" ucapnya. Aku yang melihat itu seketika pucat, tangan dan kakiku mulai tak henti-hentinya bergetar. Duke yang melihatku gemetar langsung memelukku erat.


Duke terlihat seperti orang yang berbeda, matanya menatap tajam pria itu, matanya seperti mata yang mau membunuh.


Mengerikan! aku takut melihat ayah seperti ini..


"Aku tidak akan membiarkanmu menjadi penghalang untukku," ucap Mamon sembari berjalan keluar dari ruang kerja Duke.


Duke menggendongku dan berjalan perlahan keluar untuk memeriksa apakah kondisi sudah aman atau belum.

__ADS_1


"Ella, kau sudah bisa menghilangkan sihirnya. Ia sudah pergi," pinta Duke pelan.


"Baik ayah..Release!" ucapku.


"Ayah, apakah pria tadi membunuh Morgan dengan menggunakan sihir?" tanyaku penasaran.


"Iya Ella."


Duke memerintahkan mata-matanya untuk mengurus mayat Morgan. Setelah itu, ia membawaku menyusul Duchess dan ketiga kakakku yang berada di Burgundy Treasure. Saat kami tiba disana, ayah hanya diam dan duduk dikursi sebelah Duchess.


Aku pun menceritakan semua yang terjadi pada ibu dan ketiga kakak ku.


"Duke Claighton katamu Ella? Ella apa kau yakin?" tanya Duchess seolah tak percaya.


"Heh! sudah kuduga Morgan adalah seorang mata-mata. Tapi diluar dugaanku ternyata dia adalah mata-mata Duke Claighton. Benar-benar musuh dalam selimut," ujar Arthur.


"Morgan bisa-bisanya dia berbuat seperti itu." Duchess tak menyangka, asisten kepala rumah tangga yang sudah bekerja selama dua puluh tahun itu berniat membunuh suaminya.


"Tak kusangka dia hendak membunuh ayah setelah apa yang selama ini telah ayah lakukan untuknya," ucap Stanley seraya mengepal erat kedua tangannya.


"Siapakah Duke Claighton ini, ayah, ibu, kakak?" tanyaku penasaran.


"Perdana menteri? kenapa ia mau membunuh ayah?" tanyaku penasaran.


"Sudah terlihat jelas bukan Jewel, ia hendak menguasai pasukan kesatria keluarga kita. Seperti yang kita ketahui, di kerajaan ini terdapat white knight, black knight, blue knight, dan red knight.


White dan black knight merupakan ksatria terkuat di kerajaan Magentia. Mereka berada dibawah komando ayah langsung dan telah disumpah agar selalu setia pada keluarga Luksemburg. Mereka adalah para ksatria kebanggaan kita dan juga kerajaan Magentia. Para pasukan ksatria white dan black knight ini menjadi garda terdepan pada saat kerajaan berperang.


Sementara Blue dan red knight merupakan kesatria yang berada di bawah komando Duke Augustine. Blue dan red knight menyebar diseluruh wilayah kerajaan Magentia, mereka bertugas untuk menjaga ketertiban dan keamanan rakyat di kerajaan Magentia ini," jawab Stanley.


"Dengan dibunuhnya ayah, para kesatria itu tidak lagi memiliki seorang pemimpin yang cakap seperti ayah saat ini. Apabila ayah terbunuh, ibu yang akan mengambil alih menjadi kepala keluarga sementara Duke Luksemburg sampai kak Stanley berusia tujuh belas tahun dan menggantikan ayah," tambah Halbert.


"Saat itulah Duke Claighton akan meminta yang mulia raja untuk membatalkan sumpah ksatria white dan black knight pada keluarga Duke Luksemburg dan mengalihkan sumpah itu pada dirinya.


Aku tak meragukan sedikitpun kesetiaan para ksatria white dan black knight pada keluarga kita. Tapi untuk mendapatkan kesetiaan ksatria kita, dia pasti akan menggunakan cara licik.

__ADS_1


Mungkin saja ia akan mengancam para ksatria kita, jika mereka tidak mau tunduk dan bersumpah setia padanya, maka Keluarga Luksemburg akan dianggap berkhianat pada kerajaan dan ada kemungkinan ibu beserta seluruh penghuni keluarga Luksemburg akan dieksekusi.


Tapi aku yakin para kesatria tidak akan mau hal itu terjadi, sehingga meski terpaksa mereka akan tetap bersumpah setia kepada Duke Claighton," ucap Stanley.


"Tidak akan semudah itu Benton! aku sependapat dengan kak Stanley bahwa ia ingin menguasai pasukan militer kita. Tapi Kak Stanley, Halbert, kalian lupa kalau ayah kita bersahabat dengan Raja Alphonso? Heh! dia sudah salah memilih musuh," ujar Arthur seraya menyeringai.


"Bukankah begitu ayah?" tanya Arthur.


Ayah menganggukan kepalanya, raut wajah ayah yang semulanya penuh amarah, kini sudah berubah menjadi lebih rileks..


"Jadi apa rencana kita sekarang ayah?" tanya Arthur.


"Ayah akan menyelesaikan urusan dengan Mamon terlebih dulu. Saat urusan dengannya dan perang di utara telah usai. Ayah sendiri yang akan menghabisinya," ucap Duke dengan tatapan yang penuh dengan aura kemarahan.


"Aku sudah merekam kejadian tadi dengan menggunakan bola kristal memori. Jadi ayah bisa dengan tenang jikalau ayah mau menghabisinya," ucap Arthur.


"Hahh?! sejak kapan kau merekam percakapan Morgan dan pria berjubah hitam itu Arthur?" tanya Stanley bingung.


"Tentu saja sejak awal ia muncul dan berbicara dengan Morgan kakak..," jawab Arthur dengan tatapan liciknya.


"Bagaimana bisa kak?! aku yakin daritadi kau hanya membaca buku diruangan ini," tanya Halbert penasaran.


"Ini bagian dari rencana yang telah aku buat. Bola itu sudah sejak awal aku taruh tepat diatas meja ayah seminggu sebelum hari ini. Aku meminta Jewel untuk mengunakan sihir Adasha pada bola tersebut agar tidak terlihat oleh musuh.


Awalnya aku tidak yakin bola itu akan terlihat atau tidak karena Jewel mengatakan bahwa sihir Adasha hanya bisa membuat dua orang tidak terlihat.


Tapi ternyata tidak berlaku untuk benda sihir. Jadi ayah dapat menghabisi Duke Claighton kapanpun ayah mau karena aku sudah mendapatkan bukti kejahatannya yang setimpal dengan eksekusi mati," jawab Arthur.


"Kau..kau..kau benar-benar mengerikan Arthur," ucap Stanley.


"Heh?! aku akui itu," jawab Arthur percaya diri.


Tiba-tiba Duke tertawa dengan keras.


"Sapphira, aku adalah ayah yang paling beruntung di kerajaan ini. Terima kasih sudah melahirkan anak-anak yang tampan, cantik, berbakat dan cerdas seperti mereka" ucap Duke seraya mencium kening Duchess.

__ADS_1


Mendengar ucapan Duke membuat Duchess jadi tersipu malu dan kami berenam pun tertawa melihatnya. Kebahagiaan keluarga kami, siapapun yang mengusiknya, tidak akan kubiarkan!!!


- To be continued


__ADS_2