
Sebuah perpisahan dramatis terjadi di kediaman Luksemburg kala melepas pergi putri kesayangan dan kecintaan semua penghuninya.
Kepergianku diiringi isak tangis keluarga, para pelayan dan para pekerja. "Mereka pikir aku mau mati apa sampai ditangisi begitu!” gumamku dalam hati padahal sendirinya juga menangis semakin terisak ketika kereta kuda Kekaisaran membawaku pergi semakin jauh hingga pagar besar rumahku sudah tidak terlihat lagi. “Aku.. aku tidak mau pergi hiks hiks.. aku mau dirumah saja.. aku mau kembali hiks.. ayah, ibu, kakak, bibi, hiks.. hiks..”
Aku memeluk lututku erat dan menangis cukup lama, pasti aku akan kesepian tanpa kalian semua. Saat aku masih bergelut dengan kesedihanku, tiba-tiba kereta kudanya berhenti, ini belum sampai setengah jam sejak keberangkatanku.
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. “Nona, kita sudah tiba di istana Kekaisaran.” Ucap Ryan.
Ehhhh! cepat juga.. Ini pastilah berkat sihir teleportasi Yang Mulia Kaisar.
“Beri aku 10 menit, aku akan keluar sebentar lagi,” pintaku.
“Baik Tuan Putri,” sahut Ryan.
Aku segera mengambil kotak rias dan bergegas mengambil cermin. Aku lihat mataku yang sembab dan memerah karna menangis cukup lama. Aku menghela nafas panjang, "Padahal tadi sudah susah-susah di dandani Nina, sekarang dandananku malah luntur kena air mata. Bagaimana mungkin aku menemui Kaisar, para putri dan pangeran dengan tampang menyedihkan begini? bisa buat malu keluargaku nih," ujarku.
Aku segera me-retouch make up ku lagi, make up sederhana saja dengan sedikit tap-tap-an bedak. Sebagai sentuhan akhir, aku menggunakan tipis saja pemerah bibir warna red rose dibibir belahku dan kuoleskan sedikit di kedua pipiku sebagai perona alami.
Setelah kupastikan riasan dan penampilanku sudah rapi, aku pun keluar dari kereta kuda. Ryan sudah berada dihadapanku. Ia menuntunku berjalan masuk kedalam Istana Kekaisaran Moncerrat. Aku benar-benar dibuat takjub saat menginjakkan kakiku didalam istana ini. Dengan arsitektur megah yang menjulang tinggi ke angkasa dan disinari oleh terang cahaya matahari sore yang mulai meredup. "Wow!" ucapku sambil memandangi istana itu.
"Tuan Putri, mari ikuti saya ke aula istana. Kaisar, dan keempat calon Permaisuri sudah berada disana," ucap Ryan sopan.
“Baiklah Ryan, tolong antarkan aku kesana,” pintaku sopan.
Ryan tersenyum tipis, “Baik, Tuan Putri."
Sesampainya aku dan Ryan dalam aula istana, salah seorang kesatria mengumumkan kedatanganku, “Tuan Putri Zwetta Ellaria Luksemburg telah tiba!” pekiknya. Semua yang berada dalam ruangan itu memandang ke arahku. Wajah-wajah asing itu menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
__ADS_1
*Gulp
Aku menelan liurku dan menarik nafas pelan, meskipun gugup aku tetap berjalan dengan kepala tegak dan anggun mendekati tahta. Langkah demi langkah mendekati kursi takhta Kaisar yang besar dengan ukiran matahari ditepiannya.
“Salam Yang Mulia Kaisar Moncerrat IV, Sang Matahari Benua Roshar. Saya putri dari keluarga Luksemburg, Zwetta Ellaria Luksemburg datang memenuhi tihta Yang Mulia,” ucapku sopan sambil memberikan hormat ala putri bangsawan.
“Salam mu kuterima, aku senang putri Ardolph akan menjadi menantuku.” ucap Kaisar tersenyum ramah.
Kesenanganmu itu kesedihanku Yang Mulia.
“Suatu kehormatan bagi saya dan keluarga saya dapat menyenangkan hati Yang Mulia Kaisar :"),” balasku sopan.
Kaisar tersenyum lebar, "senang mendengarnya, aku tahu tidak mudah bagi dirimu berpisah dari keluargamu. Tapi kuatkanlah hatimu dan buatlah dirimu senyaman mungkin disini," ucapnya.
Belum sempat aku menjawab Kaisar, kesatria mengumumkan lagi kedatangan kelima pangeran. "Yang Mulia Pangeran Aldiant, Pangeran Berthove, Pangeran Caeson, Pangeran Derreck, dan Pangeran Elgant telah tiba."
"Bergabunglah dengan para putri lain disana," perintah Kaisar.
"Baik Yang Mulia Kaisar, saya permisi dulu," ucapku.
Ini aneh! bau Beatrice tak bisa dicium oleh orang lain selain aku dan Adasha. Tapi bau busuk ini bisa dicium oleh semua orang dalam ruangan ini.
"Kakak," panggil Adasha dalam benakku.
"Adasha, apa kau tak nyaman mencium bau ini?" tanyaku.
"Ukhh.. iya, bau ini lebih busuk daripada bau Tuan Putri Beatrice kak," ujarnya.
"Iya, sepertinya begitu. Kau baik-baik saja Adasha?"
"Aku tidak apa-apa kak."
__ADS_1
"Baiklah, jika sudah benar-benar tak nyaman, katakanlah padaku ya."
"Tentu kak."
Dulu saat masih menjadi mahasiswa kedokteran, aku sudah cukup terbiasa mencium bau busuk karna kami cukup sering praktikum bedah mayat. Jadi meski aku tak nyaman, aku bisa menahan ini. Setelah itu kami para puteri tetap berdiri, namun keempat putri lainnya mengibas-ngibaskan tangannya kehidup dan ada juga yang sudah menutup hidungnya sesekali.
"Salam ayahanda, kami berlima memenuhi panggilanmu sore ini," ucap Aldiant mewakili kelima saudaranya. Mereka berlutut ala kesatria didepan Kaisar.
"Berdirilah putra-putraku," pinta Kaisar.
Mereka berlima pun berdiri, pandangan aku dan keempat putri lainnya langsung tertuju pada sumber bau busuk ini yang berasal dari tubuh seorang pangeran dengan kulit yang banyak bentol-bentol besar dan kecil berwarna keunguan dan mengeluarkan nanah disekujur tubuhnya. Mendadak keempat putri lainnya langsung muntah ditempat dan bahkan ada dua diantara empat putri yang pingsan. Bukan bermaksud menghina, tapi orang awam takkan ada yang sanggup melihat sosoknya yang buruk rupa dan menjijikan.
"Bawa para putri yang pingsan ke kamar tamu, yang masih sanggup berdiri bawa mereka menepi," perintah Kaisar.
"Pelayan, tolong berikan air hangat untuk mereka minum," ucapku yang masih mengelus-elus punggung kedua putri yang masih sadar. "Baik, Tuan Putri."
Tak berapa lama kemudian, pelayan membawakan dua gelas air dan kami berdua membantu kedua putri lain meminum air hangat.
"Ayo kita menepi," ujarku seraya membantu mereka bangkit berdiri.
"Elgant, sepertinya penyakitmu semakin parah nak. Terakhir ayah melihat bentolan ditubuhmu tidak keunguan seperti ini dan tidak ada nanah juga. Ayah akan panggilkan lagi tabib istana untuk memeriksa lukamu ya," ucap Kaisar sedih sambil menutup hidungnya.
"Sepertinya begitu ayahanda, terima kasih atas perhatiannya tapi tidak perlu memanggil tabib lagi. Mereka juga sudah menyerah mengobati penyakitku." Jawab Elgant sopan dengan suara huskynya. Terlepas dari penampilannya, aku benar-benar suka suara yang keren dan macho seperti punya pangeran itu.
Kaisar menghela nafas panjang, "Ya sudah Elgant, ayah mengharapkan kau bisa segera sembuh. Ayah langsung ke intinya saja, hari ini ayah telah memilih lima orang calon Permaisuri untuk kalian sebagai hadiah atas keberhasilan kalian mencari dan membunuh langsung para panglima iblis dan kalian bebas memilih satu diantara kelima putri itu untuk menjadi Permaisuri kalian."
"Kaisar Sialan! dikira kami barang apa dijadiin hadiah begitu dan bisa main bebas pilih aja lagi! coba aja bukan Kaisar, udah kugiling dirimu!" gerutuku dalam hati.
"Urutan siapa yang duluan memilih akan dimulai dari yang paling banyak membunuh panglima iblis yaitu Elgant karna ia telah membunuh dua panglima iblis sekaligus. Disusul oleh Aldiant, Caeson, Berthove, dan Derreck," terang Kaisar.
Wait! berarti di-di-dia pangeran yang ramai diperbincangkan itu. Jadi itu bukan rumor semata ternyata..
__ADS_1
"Terima kasih atas perhatian ayahanda, tapi mohon maaf sepertinya aku harus menolak." Ucap Elgant.
- To be continued