Destined To Be Empress

Destined To Be Empress
Chapter 17 - Insist


__ADS_3

Sejak pukul tiga sore, aku melakukan gerakan pemanasan dihalaman belakang. Aku berlari dan melompat ditempat, melakukan gerakan memutar kepala dan gerakan memutar lengan atas.


Sekarang kedua tanganku kuletakkan diatas pinggulku, lalu aku gerakkan pinggang memutar dan mengikuti arah jam dan juga arah sebaliknya dengan menghitung sampai sepuluh. Setelah itu, aku melakukan gerakan squat sebanyak yang tubuhku mampu.


Baru sampai hitungan kelima, kakiku sudah terasa berat melakukan gerakan ini. Kupaksa untuk melanjutkan lagi gerakan squat ini, enam..tu..juh..de..la..pan.. dan aku jatuh terduduk.


Bagaimana ini? Dengan ngos-ngosan, kutatap langit sore hari. Aku benar-benar berada dalam masalah sekarang.


Sial! dengan tubuh anak berusia dua tahun ini, aku bahkan ga bisa lakuin squat hingga sepuluh kali. Cihh!!! seandainya olahraga semudah soal matematika.


Aku tidak bisa menyerah disini sekarang atau besok benar-benar tak ada kesempatan untukku. Aku lanjutkan beberapa kali gerakan squat lagi. Kulanjutkan dengan berlari keliling lapangan perlahan, belum sampai setengah putaran bahkan, rasanya jantungku sudah mau meledak.


“Kakak, boleh aku keluar?” tanya Adasha.


“Keluarlah Adasha,” ucapku padanya dalam kepalaku seraya tengah ngos-ngosan.


“Apa yang kakak lakukan? Aku merasakan jantungmu berdetak sangat cepat kak! aku mengira sedang terjadi sesuatu yang membahayakan nyawamu, apa kau baik-baik saja?” tanya Adasha khawatir.


“Aku.. aku.. aku hanya sedang berolahraga Adasha,” ucapku dengan nafas terengah-engah.


“Berolahraga? apa itu kak?” tanya Adasha.


“Melatih fisikku agar menjadi lebih kuat Adasha..hosh..hosh,” jawabku yang masih setengah ngos-ngosan ini.


Adasha melihatku dengan tatapan matanya yang tengah kebingungan.


“Adasha, kakak mau melanjutkan lari sedikit lagi ya. Adasha menunggu disini saja,” pintaku.


“Baik kakak, jangan terlalu memaksakan dirimu,” ujar Adasha.


Aku mengangguk kepala mengiyakan perkataan Adasha.


“Lari dan teruslah berlari Zwetta Ellaria Luksemburg!” ujarku dalam hati.


Belum sampai setengah lapangan, aku sudah jatuh terbaring di atas tanah lapangan halaman belakang. Aku sudah tidak sanggup lagi.


“Nona Ella!” teriak bibi Joy seraya berlari mendekatiku.


“Apa yang terjadi nona? sudah cukup nona berlari seperti ini. Bibi tidak pernah menemukan anak sekecil nona yang sudah bisa berlari sebagus ini, nona sudah sangat mengagumkan. Jadi sudah ya larinya nona,” ucap bibi Joy yang khawatir.


Halbert yang baru selesai berlatih pedang dimarkas pasukan ksatria hitam bersama Vince tengah berjalan menuju kediaman Luksemburg. Dari jauh, ia melihat Adasha dan bibi Joy tengah bersama denganku dihalaman belakang rumah. Bergegas ia menghampiri kami.


“Jewel! kau kenapa adikku? apa yang kau lakukan disini? Lihatlah kau jadi kotor begini” tanya Halbert penasaran seraya membantu membersihkan wajah dan bajuku yang kotor terkena tanah.

__ADS_1


Bibi Joy menceritakan pada Halbert tentang tes pelatihan bersama Goddard yang akan aku lakukan besok pagi. Ia juga menjelaskan apa yang tengah aku lakukan sekarang.


Halbert membelakangiku, kemudian ia berjongkok dengan tangannya yang diarahkannya ke belakang hendak menggendongku.


“Kemarilah! Jangan paksa dirimu terlalu keras Jewel. Kakak akan menggendongmu ke kamarmu,”ucapnya.


Aku sandarkan tubuhku ke punggungnya, kulipat kedua tanganku diantara leher dan dadanya, dan ia pun berdiri seraya menahan kedua kakiku dengan kedua telapak tangannya.


“Pegang kakak dengan erat ya,” ucap Halbert.


Kupeluk erat Halbert dan kusandarkan kepalaku dipundaknya. Selesai mandi, aku langsung terkapar diatas kasur. Rasa penat dan pegal disekujur tubuhku ini, membuatku merasa pesimis dengan hasil tes pelatihan besok.


Setelah melakukan pemanasan dan lari tadi, ternyata kemampuan fisikku belum mumpuni untuk berlatih bela diri. Tidak..tidak..tidak! aku tidak boleh pesimis, aku harus semangat dan optimis.


Baru kali ini, aku merasa kasur adalah surga bagiku. Tubuhku yang pegal seperti tengah dipijat oleh empuknya kasurku ini. Tak berapa lama, aku pun langsung tertidur dengan lelapnya.


Menjelang pukul empat subuh, aku merasakan badanku seperti ada yang memeluk. Perlahan aku membuka mataku, terlihat dua tangan tengah memeluk erat tubuhku. Kelopak mataku yang tadinya tertutup seketika terbuka dengan lebar menyadari Arthur dan Halbert yang tengah tertidur pulas di sisi samping kiri dan kananku.


Dengan perlahan aku menyingkirkan tangan mereka dari tubuhku, aku merangkak turun dari kasur. Ternyata Stanley juga tidur dikamarku, ia berbaring disebelah Halbert. Aku tertawa pelan melihat gaya tidur khas mereka bertiga yang menggemaskan, sejak kecil kami memang sering tidur bersama.


Kuperhatikan jam sudah menunjukkan pukul empat pagi. Lututku sakit akibat olahraga kemarin, Kupijat pelan lututku dengan menggunakan minyak herbal. Bergegas aku mengganti piyama tidurku dengan setelan baju untuk latihan. Aku pergi menuju dapur kediaman Luksemburg hendak mengambil sarapanku.


Kusantap sepotong roti yang kuambil dilemari dan ku isi botol airku penuh.


Saat aku keluar dari dapur, aku terkejut melihat ketiga kakakku yang tengah berdiri didepan pintu dapur.


“Ka..kak..!”


“Apa yang kau lakukan subuh-subuh begini didapur Jewel?” tanya Arthur.


“Aku pergi sarapan kak, kakak mau sarapan juga?”


“Setelah ini kau akan tidur lagi kan Jewel?” tanya Stanley.


“Tidak kak, aku akan pergi ke halaman belakang untuk pemanasan.”


Stanley, Arthur dan Halbert tiba-tiba menghela nafas panjang bersamaan.


“Kau benar-benar bodoh atau memang nekat adikku jewel? mana ada anak dua tahun dikerajaan ini bangun subuh-subuh dan mau melakukan kegiatan fisik yang berat seperti ini,” ujar Arthur.


“Benar Jewel, kakak sudah bilang kemarin saat membawamu agar kau jangan memaksakan diri, kau masih sangat kecil Jewel,” ucap Arthur.


“Tidurlah lagi Jewel, kami hanya takut kau jatuh sakit kalau kau memaksakan diri berlebihan seperti ini,” tambah Stanley.

__ADS_1


Kepalaku tertunduk mendengar mereka berbicara seperti itu padaku, baru kali ini rasanya aku merasa kesal pada sikap posesif mereka padaku.


“Kakak tidak perlu berlebihan mengkhawatirkanku, aku hanya pemanasan saja kak. Pagi ini pukul enam, aku sudah ada janji dengan Goddard akan mengikuti tes pelatihan darinya,” ucapku.


“Urungkan saja niatmu itu Jewel, kakak akan bilang pada Goddard kau tidak akan mengikuti pelatihannya. Kau belum tahu seberapa kejam dia dalam pelatihannya, setiap hari aku melihat ia melatih pasukannya saat aku berlatih bersama Vince di markas pasukan ksatria black knight. Mereka yang setiap hari berlatih bersamanya saja, terlihat seperti akan mati seusai pelatihan, bagaimana dengan dirimu?” ucap Halbert seraya memegang pundak sebelah kananku.


Kutepis tangan Halbert, aku berjalan pelan keluar meninggalkan dapur tanpa berbicara satu patah katapun. Saat ini aku tengah emosi, sebaiknya aku diam mendinginkan kepalaku dulu. Aku sangat menyayangi mereka bertiga, tak boleh aku membuat mereka kecewa padaku.


Meski aku mengerti maksud baik mereka padaku, namun kalau aku terlena dengan perhatian mereka, aku tidak akan bertambah kuat dan akan selalu menjadi adik perempuan mereka yang merepotkan.


Mereka bertiga berlari mengejarku, aku pun berhenti berjalan.


“Jewel, kau kenapa?” tanya Halbert dengan panik.


“Apa kau tidak mendengar apa yang kami katakan barusan Jewel?” tanya Stanley dengan suara yang tegas.


Aku tahu kalau suaranya sudah seperti itu berarti ia tengah serius. Aku menoleh ke belakang menatap mereka bertiga dengan beruaraikan air mata.


“Mau sampai kapan Ella berlindung dibalik punggung kalian kak? Ella tidak mau selalu dilindungi saja oleh ayah dan kakak saja. Apabila Ella terkena masalah seperti kemarin lusa dengan Oriel yang membuat ayah, ibu dan kakak khawatir, bagaimana Ella bisa tenang dan bersantai diatas kekhawatiran kalian pada Ella?


Ella tahu sekarang Ella masihlah seorang anak yang lemah, tapi ketahuilah Ella berjuang seperti ini agar suatu saat nanti, Ella tidak terus bersembunyi dibalik punggung kalian. Tapi Ella bisa berdiri tegak disamping kalian dan ikut melindungi keluarga kita juga,” ucapku.


Melihat air mata dikedua pipiku, raut wajah mereka berubah menjadi sedih bercampur rasa bersalah karena telah menyakiti perasaan adik kesayangan mereka.


Mereka tahu saat adiknya tidak menyebutkan kata “aku” saat berbicara dengan mereka, berarti ada sesuatu yang salah.


"Je..wel, ja..ngan menangis, ka..kak tidak bermaksud untuk..”


Belum selesai Halbert berbicara, aku memotong omongannya.


“Kumohon, kak Stanley, kak Arthur dan kak Halbert tidak menghalangi Ella hari ini untuk tes pelatihan. Kalau kakak sampai melakukan hal itu, Ella tidak mau lagi berbicara dengan kakak. Ella permisi dulu kak,” ucapku seraya menundukkan kepalaku memberi hormat pada mereka bertiga.


“Maafkan aku kak, kalau aku tidak bersikap seperti ini, aku yakin kakak akan berusaha menghalangiku mengikuti tes pelatihan ini. Nanti akan kubuatkan kalian sesuatu sebagai permintaan atas sikapku,” ujarku dalam hati.


Stanley, Arthur dan Halbert terdiam dan syok mendengar perkataanku, kepala mereka tertunduk. Mereka bertiga sangat takut kalau sampai adik perempuan semata wayang mereka yang sangat mereka sayangi tidak akan berbicara pada mereka lagi.


“Bagaimana ini kak Stanley? Sepertinya Jewel marah pada kita bertiga?” tanya Arthur dengan raut wajah panik.


“Sepertinya kita tadi sudah sedikit keterlaluan, apakah seharusnya tadi kita memberikan dukungan untuknya?” jawab Stanley dengan raut wajah sedih.


“Bagaimana ini kak Stanley, kak Arthur, aku tidak mau Jewel sampai tidak berbicara pada kita lagi?!” tanya Halbert dengan mata berkaca-kaca.


- To be continued

__ADS_1


__ADS_2