
Terdengar suara perut Stanley. Ia memegangi perutnya yang sudah lapar itu.
“Sepertinya putra ibu sedang kelaparan setelah melalui perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan. Ibu akan meminta Freya untuk membuatkan steak ayam favoritmu,” ucap ibu seraya mengelus kepala Stanley.
“Hehe..ibu memang yang paling mengerti aku,” ucap Stanley.
“Maafkan aku ibu, kakak, gara-gara Ella, kalian semua jadi terlambat makan malam,” ucapku sembari mengatupkan kedua tanganku.
Dirangkulnya pundakku oleh Arthur dan Halbert.
“Kau tidak perlu meminta maaf seperti itu, mari kita pergi makan sekarang. Malam ini kakak akan membuatmu makan banyak,” ucap Halbert.
“Tidak perlu kau pikirkan itu Jewel, sekarang yang terpenting kau sudah baik-baik saja,” ujar Arthur.
Terlintas dibenakku, Arthur, dan Halbert untuk mengusili kakak pertama kami. Kami menatap satu sama lain memberikan kode sepakat untuk melompat dan memeluknya bersamaan.
Halbert mengambil ancang-ancang, ia pun berlari mendekati Stanley dan memeluknya. Stanley spontan memegangi tubuh Halbert yang tengah melekat pada tubuhnya itu.
“Hei, apa-apaan ini Halbert? kau sudah besar, bukan anak kecil lagi! Bagaimana bisa kau melompat seperti ini memelukku?” tanyanya dengan kesal.
Dilanjutkan oleh Arthur yang segera menyusul Halbert.
*Hhuuuppppppp
“Arthur! ada apa dengan kalian berdua? kalian berdua berat, cepat turun sekarang!” rintih Stanley yang tengah menahan tubuh kedua adiknya itu.
“Wuhuu! kakak kami Stanley ternyata sudah sangat kuat sekarang, menggendong kedua adik laki-lakinya saja sudah bukan masalah,” ucap Halbert menggoda Stanley.
“Kalau menahan kami berdua saja kakak sanggup, berarti tidak masalah dong kalau dipeluk oleh satu orang lagi ?,”tanya Arthur dengan senyuman liciknya.
“Eh tunggu..jangan-jangan..,”
Arthur dan Halbert melirik ke arahku memberikan sinyal agar aku sudah boleh melompat. Aku pun berlari dan melompat setinggi yang kubisa ke tubuh Stanley, dirangkulnya punggungku oleh Arthur dan Halbert.
“Yeayyyyy!” teriakku.
Tak kuat menahan beban ketiga adiknya itu, Stanley pun jatuh terbaring diatas kasur.
“Kalian bertiga benar-benar bodoh!” ucap Stanley seraya ikut tertawa.
Melihat tingkah konyol kami, ibu juga ikut tertawa.
__ADS_1
“Ada apa ini?” tanya Duke yang baru saja masuk ke kamarku.
Arthur dan Halbert menceritakan apa yang kami bertiga lakukan pada Stanley seraya menyisipkan guyonan dalam cerita mereka, kami pun tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita jenaka mereka berdua. Setelah itu, kami berenam makan bersama di ruang makan keluarga sambil bercengkrama.
****
[Keesokan paginya]
Cahaya matahari pagi menyelip masuk dari jendela kamarku, silaunya matahari memaksaku bangun dari tidur lelapku.
"Selamat pagi nona Ella, kami sudah kembali," ucap bibi Joy, Nina, Risha, dan Sasha serempak.
Aku terperanjat melihat Nina, Risha, dan Sasha sudah berdiri disamping ranjangku.
"Bagaimana bisa kalian berempat sudah kembali? Ini belum genap satu bulan, kenapa sudah kembali?"
"Bibi tidak bisa bisa meninggalkan nona terlalu lama, bibi khawatir pada nona," ucap bibi Joy dengan berlinang air mata.
"Nona, saya sangat senang bisa kembali bekerja melayani nona. Saya, bibi Joy, Risha, dan Sasha dipanggil oleh nyonya Sapphira untuk kembali bekerja," ucap Nina.
"Hmm..jadi begitu..selamat datang kembali, aku rindu kalian semua!" ucapku dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar ucapanku, mata mereka mulai berkaca-kaca juga.
"Huaaa nona...Risha juga merindukan nona..hikss..hikss," ujar Risha.
"Nonaa..huhuhuhu..saya rindu nona juga," ucap Salsha.
"Saya juga merindukan nona...tapi sekarang saatnya kita semua kembali bekerja," ungkap Nina dengan semangat.
“Saat ini situasi dikediaman Luksemburg tengah bersiaga terhadap serangan iblis dan juga tengah mempersiapkan untuk melawan serangan itu. Nyawa kalian bisa hilang kapan saja kalau kalian tidak waspada, pulanglah lebih awal hingga hari kalian sudah bisa kembali bekerja tiba,” perintahku.
“Baik nona,” ucap mereka berempat serempak.
Perbuatan Oriel kemarin membuatku sadar jikalau aku memerlukan kemampuan membela diri untuk bisa bertahan hidup dikehidupan ini. Sihir saja tidak cukup untuk self defense. Belum lagi selama ini, aku hanya merapalkan mantra sihir Adasha dan bukan sihir alamiahku.
Di kerajaan Magentia ini, terdapat kantor administrasi kemampuan sihir, sebuah lembaga yang membantu penduduknya menemukan sihir natur dan mendatanya. Setiap anak berusia tiga tahun akan dibawa kesana untuk ditemukan sihir naturnya dan didata oleh mereka.
Aku lahir di tanggal tujuh musim dingin, masih tiga bulan lagi sebelum musim dingin tiba. Sebentar lagi juga sudah akan tiba hari dimana Mamon akan membunuh keluargaku, jadi aku tidak bisa berdiam diri saja seperti ini.
Akan kuasah kemampuan bela diriku! aku akan mulai belajar beberapa gerakan bela diri, memanah dan mungkin berpedang juga. Semakin banyak yang kubisa, semakin baik.
__ADS_1
Baiklah! sudah kuputuskan. Tapi siapa yang bisa kuminta untuk mengajariku?
"Ahaaa! Goddard, sang kapten pasukan ksatria black knight sekaligus pengawal pribadiku. Masalah kemampuan bela diri, memanah dan berpedangnya tak diragukan lagi, Perfecto! Aku sudah melihat sendiri dengan kedua mataku. Aku harus segera menemuinya," ucapku dalam hati seraya berjalan keluar kamar.
Baru saja aku membuka pintu, ternyata Goddard sudah berdiri didepan pintu.
“Selamat pagi nona,” sapa Goddard yang baru saja tiba didepan kamarku.
“Selamat pagi Goddard, pas sekali kau muncul didepanku sekarang. Ada yang hendak
kubicarakan padamu, masuklah cepat!” ujarku seraya menarik tangan kanannya.
“Ada apa nona? apa yang membuat nona terlihat buru-buru seperti ini?”
“Goddard, aku mau berguru padamu,” ucapku dengan tatapan serius.
“Apa maksud nona berguru?”
“Hmm..maksudku aku mau memintamu mengajariku beberapa gerakan bela diri, berpanah dan mungkin berpedang juga kedepannya. Bisakah Goddard?”
“Maaf, tapi saya tidak bisa nona.”
"Kenapa kau menolak permintaanku Goddard?"
tanyaku penasaran.
"Nona, bela diri bukan permainan anak-anak. Nona baru berusia dua tahun dan meminta saya mengajari nona gerakan bela diri dan berpanah. Saya dan Whitman saja baru mulai berlatih saat usia kami lima tahun.
Belum lagi nona harus berlatih setiap hari, nona pikir sampai hati saya membiarkan anak perempuan berusia dua tahun melalui semua itu," ucapnya seraya menatapku serius.
"Goddard, aku tidak sedang bercanda. Perbuatan Oriel padaku kemarin, membuatku sadar bahwa untuk bisa bertahan hidup, aku perlu kemampuan bela diri ini. Belum lagi ancaman dari kehadiran iblis, bagaimana bisa aku berdiam diri saja tanpa melakukan apa yang bisa aku lakukan?" ujarku dengan menatapnya serius juga.
"Hmm..pelatihan dari saya berat nona, apa nona masih mau belajar bela diri dan memanah dari saya?"
Aku terdiam sejenak. Dulu nilai olahragaku bukan yang paling tinggi, tapi setidaknya tidak begitu buruk. Seharusnya aku bisa mengatasi pelatihan berat dari Goddard.
"Tentu Goddard!" jawabku dengan tatapan mata penuh keyakinan.
Melihat aku yang tak menyerah memintanya mengajariku membuat Goddard menghela nafas panjang. Namun ia tak menyerah begitu saja untuk mengehentikanku.
"Begini saja nona, kalau nona bisa bertahan satu hari saja dengan tes pelatihan fisik saya tanpa jatuh pingsan, saya akan bersedia mengajari nona bela diri, memanah dan bahkan berpedang. Tapi sebaliknya, kalau nona jatuh pingsan, urungkan niat nona mempelajari semua itu diusia nona sekarang," ucap Goddard.
__ADS_1
"Baiklah, aku terima tantanganmu Goddard!"
- To be continued