
P.o.v. Narator
Halbert terburu-buru berlari keluar kamar menuju kamar Duke dan Duchess. Zwetta masih mendengar suara teriakan Stanley dan Arthur. Namun, dia tak bisa menggerakkan badan sesuai dengan keinginannya.
Tak berapa lama setelah Halbert keluar kamar, Zwetta telah sepenuhnya tak sadarkan diri. Stanley dan Arthur terperanjat.
"Jewel..Jewel.." panggil Stanley sambil menepuk-nepuk pelan pipi adik bungsunya itu.
"Jewel..Jewel..ku mohon bangunlah..buka matamu," sambung Stanley yang tampak putus asa.
Arthur bergegas memeriksa hidung Zwetta apakah adik perempuannya itu masih bernafas atau tidak dengan menggunakan jarinya.
"Jewel ma-sih ber-na-pas kak," jawab Arthur dengan tangannya yang bergetar.
"Arthurr..cepat minta kepala butler Jeff panggilkan dokter!!!!" pekik Stanley.
Arthur masih ketakutan, tangannya tidak berhenti gemetar. Melihat tangan adik keduanya itu bergetar, Stanley menepuk keras kedua tangannya di pipi Arthur.
"Arthur..Arthur.. Hei Arthurrrr!!!! Hei! lihat aku.." pekik Stanley.
"Sekarang aku memintamu pergi panggilkan dokter keluarga kita, dokter Cliff. Minta kepala butler Jeff untuk memanggilkannya untukmu. Kau mengerti? aku juga sangat takut sepertimu, tapi demi Jewel, kita harus kuat," ujar Stanley sambil memegang pipi Arthur dengan tangannya yang berkeringat dingin.
Mendengar ucapan Stanley, Arthur seolah sadar bahwa yang terpenting sekarang bukanlah mengkhawatirkan hal-hal tidak berguna. Tapi segera panggilkan dokter agar adiknya dapat cepat sembuh.
Arthur mengangguk pelan, "Baik kak, akan ku bawakan dokter keluarga kita secepat mungkin," jawab Arthur. Tidak berapa lama setelah Arthur pergi, Duke, Duchess, dan Halbert datang ke kamar Zwetta.
"Apa yang terjadi Stanley?" tanya Duke pada Stanley dengan panik. Mereka berdua tampak bingung, pasalnya tadi mereka masih melihat putri bungsunya baik-baik saja. Stanley pun langsung menjelaskan semua kepada Duke dan Duchess.
Duke membawaku ke pangkuannya dan mengelus kepalaku. "Ella..putri ayah, bangunlah nak," ucapnya.
"Sayang, bangunlah nak. Ini ibu, buka matamu," ucap Duchess seraya memegangi tangan mungil anak bungsunya.
"Ardolph, berikan Ella ke pangkuanku," pinta Duchess. Duke perlahan memberikan tubuh Zwetta pada Ducheas. Ia menggendongnya dan mulai menangis melihat wajah anak perempuannya yang begitu pucat.
"Ella..Ella sayang, apa yang terjadi padamu nak? bangunlah..beritahu ibu apa yang Ella rasakan, kalau Ella tidak bangun, bagaimana ibu bisa megobati Ella?" tanya Duchess sambil terus membelai lembut pipiku.
"Stanley, cepat panggilkan dokter" perintah Duke.
Saat Stanley hendak menjawab, Arthur telah datang bersama dengan dokter keluarga Luksemburg yakni Cliff Lionel Fairclough. Dokter Cliff segera memeriksa keadaan Zwetta.
Ia meminta keluarga Luksemburg untuk menunggu dengan tenang. Duke dan Duchess beserta Stanley, Arthur, dan Halbert menepi membiarkan dokter Cliff memeriksa keadaan Zwetta.
"Kalian sudah menangani adik kalian dengan baik," puji Duke yang berusaha menghibur ketiga anak laki-lakinya.
__ADS_1
Dokter Cliff telah selesai memeriksa kondisi Zwetta secara keseluruhan. Setelah selesai memeriksa, ia menghampiri keluarga Luksemburg dan memberikan diagnosisnya.
"Duke Ardolph, putri anda sedang koma saat ini," ucap tabib Cliff.
Jederrrrrr....
Bagai tersambar petir, mereka terkesiap mendengar diagnosis Cliff.
"Apa maksudmu Cliff?" tanya Duchess panik.
"Ia mengalami penurunan kesadaran yang ditandai dengan kehilangan kemampuan berpikir serta tidak merespons lingkungan sekitarnya. Putri anda tidak dapat melakukan gerakan atau mengeluarkan suara, apalagi membuka mata. Saya tidak menemukan penyebab secara fisik dan jujur saja saya juga tidak mengetahui apa yang menyebabkan ia tiba-tiba menjadi koma seperti ini," ungkap dokter Cliff.
Mendengar penuturan dokter Cliff itu, seketika Duchess jatuh pingsan.
"Sapphiraaaa !!!!"
"Ibuuuuuuuuu !!!"
Duke langsung mengangkat Duchess dan memindahkannya ke atas kasur. Dokter Cliff segera memeriksa kondisinya
"Nyonya tidak apa-apa Tuan, oleskan minyak herbal ini pada nyonya," pinta dokter Cliff sembari memberikan obat pada Duke.
Kejadian malam itu membuat kediaman Luksemburg berada dalam dilema atas jatuh sakitnya putri satu-satunya Keluarga Luksemburg.
Dokter Cliff memasangkan infus dan menyuntikkan vitamin pada infus untuk menjaga kondisi tubuh dan jantung Zwetta agar tetap terasup nutrisi ditengah dirinya yang tak sadarkan diri.
****
P.o.v Zwetta Ellaria L
Saat aku membuka mataku, aku berdiri ditengah hamparan salju yang luas. Disini sedang turun salju, membuat hawa dingin merasuk ke tubuh dan tulang-tulangku. Sementara aku hanya mengenakan piyama tidur yang tipis saja sekarang.
"Brrrrr...brrrrrr...dingin sekali, ada dimana aku ? apakah aku meninggal lagi?" tanyaku dalam hati. Saat aku sedang kebingungan, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita memanggilku.
"Zwetta.."
Datang darimana suara itu? aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku tapi tidak ada siapa-siapa.
"Zwetta, aku berbicara didalam kepalamu.."
"Siapa kau?! Bagaimana bisa kau mengetahui namaku?!" tanyaku waspada.
"Namaku Lydia, aku adalah makhluk yang membawamu kesini" jawabnya.
__ADS_1
Aku mengernyitkan dahiku mendengar jawabannya yang ambigu. "Makhluk apakah dirimu?" tanyaku.
"Aku tidak akan memberitahumu sekarang, tapi aku akan menuntunmu untuk menemuiku," balas Lydia.
"Baiklah..Apa tujuanmu membawaku kemari Lydia?" tanyaku penasaran.
"Sebelum aku menjelaskannya padamu, sebaiknya kau cari gua terdekat sebelum kau mati kedinginan," jawab Lydia.
Aku mengikuti tuntunan Lydia dan sampai ke sebuah gua. Tampak sebuah penghalang transparan dipintu gua itu. Melihat itu, aku ragu hendak masuk ke gua itu atau tidak.
"Masuklah," ucap Lydia.
Perlahan aku menyentuh pintu penghalang itu dan zlebbb..Aku berhasil masuk kedalamnya. Di dalam gua ini, tubuhku terasa begitu hangat. Bagaimana bisa?
"Kau memasuki gua sihir milikku sekarang, kau aman disini," ujar Lydia.
"Aku mau pulang Lydia, aku takut keluargaku mengkhawatirkanku," ungkapku sedih.
"Aku mengerti. Maka dari itu, aku akan segera menjelaskan sesuatu kepadamu," jawab Lydia.
"Zwetta, aku memanggilmu kemari karena aku hendak memberitahumu bahwa keluargamu akan mati terbunuh."
*DEG
Saat aku mendengar itu, langsung terpintas di benakku bahwa ternyata mimpi yang aku mimpikan itu bukanlah sebuah mimpi belaka.
"Kau benar Zwetta."
Hah?! apa dia bisa membaca pikiranku? "Tunggu, apakah kau mengetahui apa yang aku pikirkan Lydia?"
"Benar Zwetta, aku tahu apa yang kau pikirkan. Kau punya dua pilihan sekarang, menyelamatkan keluargamu dari tragedi kematian itu atau membiarkan itu terjadi?" tanya Lydia.
Tanpa pikir panjang, aku langsung menjawab Lydia, "tentu saja aku akan menyelamatkan keluargaku!" Jawabku dengan tatapan penuh keyakinan.
"Aku tahu kau akan menjawab seperti itu Zwetta. Sekarang aku akan menjelaskan apa yang terjadi dalam mimpimu.
Ketahuilah, bangsa iblis dari Kekaisaran Demonic tengah menjalankan rencana untuk melenyapkan manusia. Sudah dua ribu tahun lamanya sejak perang dunia ke II manusia melawan iblis, dendam akan kekalahan mereka saat itu masih tersimpan dan bahkan berakar kuat dalam hati mereka.
Saat itu manusia berpikir telah membunuh semua iblis dari Kekaisaran Demonic. Meskipun kaisar Demonic III telah terbunuh saat itu, tapi putra bungsunya, Leviathan Ifrid Demonic masih hidup. Ia adalah putra kesayangan kaisar dan ia menaruh dendam paling besar pada manusia.
Ia mengumpulkan semua pasukannya yang masih hidup dan menugaskan mereka untuk meniduri wanita-wanita manusia agar bisa memperoleh keturunan manusia - iblis yang akan dijadikan sebagai pasukannya.
Leviathan mengetahui bahwa ayahnya dibunuh oleh sebelas manusia yang memiliki unique magic. Oleh sebab itu, ia menyimpan dua belas iblis manusia-iblis yang memiliki dominansi darah iblis dalam tubuhnya..."
__ADS_1
-To be continued