Destined To Be Empress

Destined To Be Empress
Chapter 57 - Flame Oak Fight (III)


__ADS_3


"Es?”! Telvon terperangah menatap setiap butir-butir es yang berjatuhan berisi potongan tubuh dan darah Mara. Mulutnya bahkan sedikit menganga. Sudah sepuluh tahun lebih sejak dia dan kedelapan panglima iblis membunuh sosok yang dapat mengeluarkan elemen sihir ini.


“Naga Galaea?!” gumam Telvon yang masih sukar mempercayainya. Dia sangat yakin, hari itu dia dan kedelapan panglima iblis telah membunuh semua naga Galaea.


‘Namun masakan..masakan Mara.. telah terbunuh oleh naga galaea?!’ benak Telvon.


Telvon tidak ingin mempercayai itu. Tapi hujan butiran es didepannya ini tidak dapat memungkiri jika naga galaea berada disini. 'Ini sungguh merepotkan," Telvon membatin. Jika dugaannya benar, maka keadaan justru tidak berpihak pada mereka.


Dulu para panglima iblis perlu menyiapkan strategi khusus untuk melenyapkan ras naga suci itu. Diantara semua ras naga, ras merekalah yang paling menyusahkan karena bisa menghilang. 'Dimana naga itu bersembunyi?!' benak Telvon.


Zwetta yang matanya masih mengamati Telvon segera memalingkan wajahnya dan kembali fokus mengobati. “Kembali ke gua sihirmu sekarang, Adasha.” Benak Zwetta. Adasha cemberut dan mendengus sebal.


• Owhh come on kak.. aku baru saja memulai kesenangan ini.


“Kita sudah janji tidak ada bantahan bukan? cepat kembali!” Tegas Zwetta.


“Enn..” Dengan wajah tak senang, Adasha pun kembali ke gua sihirnya. Zwetta melihat Telvon yang masih tenggelam dalam pikirannya pun menyeringai. Ia pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mengarahkan para pengawal bayangan tersisa. Bersamaan dengan Adasha kembali, Zwetta berseru. “Pengawal bayangan!”


Keenam pengawal bayangan tersisa (A1,A2,A3,A4,A6, dan A7) melesat kembali pada posisi Zwetta. Tanpa membuang-buang waktu, Zwetta memberi mereka instruksi, “A2, aku membutuhkanmu untuk memanggil bantuan pada ayahku di markas militer magentia di Basteria. Jika bukan ayah yang kesana, pastilah kakakku yang datang. Pokoknya, kau harus bertemu dengan anggota keluarga Luksemburg dan mengirim bala bantuan kemari. A3, kau juga ikut dengan A2 kembali ke Basteria. Bawa A5 ke rumah sakit disana untuk mendapat penanganan lebih lanjut.” Perintah Zwetta tanpa jeda, yang langsung direspon dengan anggukan oleh A2 dan A3. “Baik, Tuan Putri.”


“Sementara yang lain, tahanlah si iblis peledak itu sekitar 10 menit. Aku sudah akan selesai mengobati naga ini. Gunakanlah serangan sihir jarak jauh dan jaga jarak kalian. Bila salah satu dari kalian tertangkap, sesegera mungkin bergerak cepat untuk menyelamatkan. Disinilah kalian harus saling bahu membahu, saling menyelamatkan dan memback up satu sama lain.” Ujar Zwetta cepat yang tanpa ia sadari menyentuh hati para pengawal yang tersisa.


“Laksanakan, Tuan Putri.” Jawab mereka serempak.


“Jangan mati, kalian..” Ujar Zwetta tulus yang membuat para pengawal bayangan tersisa mengepal erat kedua tangan mereka dan lebih bertekad untuk terus hidup.

__ADS_1


Para pengawal bayangan memang dilatih untuk menyelesaikan misi apapun yang terjadi. Sejak awal mereka memutuskan menjadi pengawal bayangan, mereka sudah siap menghadapi resiko apapun, termasuk kematian.


Tidak diragukan lagi, mereka siap mati untuk melindungi Zwetta karena itu misi utama mereka. Tapi hati mereka menghangat usai mendengar perkataan Zwetta itu. Disaat seperti ini, Zwetta masih sempat-sempatnya memikirkan mereka.


“Tidak ada waktu lagi, cepat pergi A2, A3! Yang lain segera halangi musuh agar tidak menyerang A2 dan A3!” Perintah Zwetta terburu.


Telvon yang tersadarkan dari pemikirannya oleh suara keras Zwetta , langsung berbalik ke posisi Zwetta dan para pengawal bayangan yang tengah berkumpul. "Sial, aku lengah!" umpat Telvon kesal.


Tak berapa lama kemudian, Telvon melihat dua dari pengawal bayangan itu akan pergi dengan satu orang menggendong temannya yang sekarat terkena hisapan Mara.


Dari jarak jauh dia melancarkan serangan. “Fire Boma!” Telvon merapalkan mantra, seketika keluar batu-batu api berukuran sedang dalam jumlah yang banyak muncul dan melesat cepat ke arah A2 dan A3.


Sudut bibir Telvon terangkat, “Cepat juga mereka melesat. Tapi sayang, karena kalian tidak akan bisa menghindari bom-ku.” Kata Telvon menyeringai. A2 dan A3 yang fokus berlari, saat merasa ada batu-batu api yang mengarah ke arah mereka dengan jarak hanya beberapa jengkal dari muka. Semakin dekat..


Semakin dekat dan bboommm duarrrrrrrrrrrr…ledakan besar menghantam tempat posisi dimana A2 dan A3 berlari.


“Mara, kematianmu tidak akan sia-sia teman. Akan kuhabisi mereka semua disini.. HAHAHAHAHAHAHAHAHA.. HAHAHAHAHAHAHAHAHA…. HAHAHAHAHAHAHAHAHA.....


Ha… Ha… Ha?” Senyuman di wajah Telvon seketika menghilang saat melihat sebuah perisai air emas besar melindungi kedua orang berpakaian hitam yang hendak kabur dari lokasi pertarungan.


• Perisai stormie emas? Kakak, kau sudah bisa menguasainya?!


Jika kalian ada yang lupa, salah satu kemampuan Zwetta adalah water shield. Dia bisa mengeluarkan perisai air. Terakhir, dia baru hanya bisa mengeluarkan perisai air perak. Namun memang benar, efek kepepet bisa memunculkan kekuatan tak terduga. Kali ini, dia berhasil mengeluarkan perisai air emas dengan sempurna.


Terlihat Zwetta menurunkan tangan kirinya setelah ledakan itu berakhir. Dengan nafas tersengal-sengal dan peluh yang sudah membasahi wajah cantiknya, ia tersenyum lega karena bisa memunculkan perisai airnya tepat waktu. Zwetta bersyukur dalam hati, ia tidak terlambat mengeluarkan perisai airnya.


A2 dan A3 yang tidak terkena serangan, kembali melanjutkan berlari meninggalkan sarang naga odren. Melihat keduanya berhasil kabur, Zwetta menghela nafas lega. Mata Telvon langsung tertuju pada Zwetta. “Lagi-lagi kau!” ucap Telvon menatap nyalang Zwetta. “Memang seharusnya dari awal, kami membunuhmu lebih dulu!” geram Telvon.

__ADS_1


Zwetta tidak gentar, dia menatap langsung tatapan nyalang Telvon dengan tatapan sinis. Sebelum menurunkan tangan kiri dan memalingkan wajahnya dari Telvon.


“Kurang ajar! Beraninya kau mengacuhkanku?!” pekik Tevlon tak terima. Telvon yang mulai emosi, terlihat tubuhnya mengeras dan dia seperti mengejan sesuatu. Muncul empat tangan dari balik punggungnya dan seketika aura mencekam mengudara.



Zwetta yang merasakan perubahan tekanan yang sangat drastis, mengumpat dalam hatinya. Dengan perubahan ini, feelingnya mengatakan, rencananya untuk mengulur waktu tidak akan berhasil.


Terbukti dengan mendadak Telvon melesat secepat kilat ke arah Zwetta. Tentu saja pengawal bayangan langsung bergerak untuk menghalangi Telvon. Mereka melesat dengan senjata sihir ditangan masing-masing.


Saat serangan mereka jatuhkan pada Telvon, keempat tangan Telvon dengan sigap menghantam keempat pengawal bayangan keatas *Duakkk.. ke samping kiri *Bammmm.. ke samping kanan *Bammmm dan ke bawah *Duarrrrr.. membuat organ tubuh dalam mereka terluka parah hingga mereka memuntahkan darah dan mengalami patang tulang.


Telvon menyeringai, ia tidak sabar mencabik-cabik tubuh Zwetta yang sudah berjarak tidak jauh lagi darinya. “MATI KAU!!!!” pekik Telvon yang tinggal beberapa jengkal saja dari Zwetta. Namun bukan Zwetta namanya bila tidak mengantisipasi semua itu.


Zwetta melompat salto kebelakang lalu menendang wajah Telvon dengan kuat menggunakan kombinasi aliran sihirnya dan Adasha, membuat Telvon terpental menubruk dinding batu sangat dalam.


• WOWWW! KAKAK BAGAIMANA BISA KAKAK MELAKUKAN GERAKAN ITU?! KAKAK HARUS MENGAJARKANKU!!!


Pekikan antusias Adasha menggema dikepala Zwetta membuatnya meringis karena setiap Adasha berteriak pastilah kepala Zwetta berdenyut.


“Tanyakan nanti, saat pertarungan kita selesai. Alirkan sihir penyembuhku pada pengawal bayangan yang terluka.” Pinta Zwetta yang tangannya telah kembali merapalkan mantra penyembuh 'Helarenun Heal'.


"Selesaikan pengobatan ayahmu dengan mengalirkan sihir penyembuhku padanya Adasha. Aku tidak bisa mengobatinya lagi sekarang," pinta Zwetta.


"Karena aku akan menghajarnya." Ucap Zwetta dengan tatapan sedingin es kutub utara. Sementara Telvon meringis kesakitan. Cairan kental ungu mengalir dari kepalanya. Ia menyentuh cairan kental ungu yang tak lain tak bukan adalah darahnya sendiri dengan tangan gemetaran.


“Hahahaha! menarik! Gadis itu harus menjadi mainanku.” Kata Telvon menyeringai.

__ADS_1


- To be continued


__ADS_2