Destined To Be Empress

Destined To Be Empress
Chapter 23 - The End Of Mamon


__ADS_3

Menjelang pukul sebelas malam, paman Ephraim, Stanley dan Arthur masih standby didepan layar sihir. Sementara Duchess, aku dan Halbert telah tertidur. Malam ini, ayah tidur di dalam kamarku beserta dengan ilusi Duchess dan kami berempat.


Beberapa saat kemudian, muncul di layar sihir bagian kamarku, sosok laki-laki berambut putih, dengan mata berwarna merah dan kedua tanduk disebelah kiri dan kanan kepalanya.


“Akhirnya muncul juga kau iblis jahan**!” ucap paman Ephraim seraya mengepalkan kedua tangannya erat.


“Stanley, Arthur, bangunkan ibu dan adik-adik kalian, kita semua harus bersiaga saat tengah diserang!”


Ketika aku bangun dan menatap layar sihir dibagian kamarku, mataku melebar melihat sosok iblis yang sudah tidak asing bagiku lagi.


“Mamon.”


Ia telah datang mengincar nyawa kami berenam.


______________________________________


[Dikamar Zwetta]


“Ardolph De Lukesemburg, tidurmu dan keluargamu pulas sekali ya!” ucapnya seraya tertawa terkekeh-kekeh.


“Tak kusangka kau bisa menyadari dan membunuh anak buahku yang menyamar menjadi pekerjamu, ternyata kau tak sebodoh si Claimence. Hahahaha.. biarpun budak-budak bodohku itu sudah gagal, aku tetap bisa membunuh dirimu dan keluargamu dengan mudahnya,” ucap Mamon seraya disentuhnya wajah Duke pelan.


“Sayang sekali, kau akan mati ditanganku sekarang, akan kuambil jantungmu dan kumakan untuk mendapatkan sihir unikmu,” ucap Mamon seraya menjilati pipi Duke.


Jari-jari tangannya sekejap berubah menjadi setajam pedang, diangkatnya tangannya bersiap menusukkan itu ke dada Duke.


“Pergilah ke neraka abadi Ardolph, hahahahahaha!!!”


Jari-jari tangan itu dengan cepat mengarah ke dada Duke, seketika mata Duke terbuka dan ditahannya tangan Mamon.


“Tidak hari ini!” ucap Duke seraya melayangkan pukulan kuat dengan cepat ke wajahnya. Ia terlempar beberapa meter oleh pukulan Duke hingga menghancurkan dinding kamarku.


*Aarrrgghhhhhh!


Dengan merintih kesakitan, ia bangkit dari jatuhnya.


Mata Mamon melebar dan menatap tidak percaya akan apa yang ia lihat saat ini, Duke yang terbangun dari pengaruh sihirnya. Mulutnya menganga melihat Duke ternyata bangun dan tidak sedang tertidur.


“Apa yang terjadi?! Bagaimana mungkin kau bangun dari pengaruh sihir tidurku?!!!”


“Kekuatan sihir pembuat tidurku bukanlah sihir biasa, sihir ini bisa merasuk hingga ke alam bawah sadar seseorang. Bagaimana mungkin Ardolph masih bisa terbangun dari pengaruh sihirku ini?” ujar Mamon dalam hati.


“Aku tak perlu menjawabmu, toh kau juga akan mati sebentar lagi.”


Keringat mulai bercucuran dari keningnya, ia mengepalkan kedua tangannya melihat situasi kini berbalik mengancam nyawanya. Ia sadar, seseorang yang bisa bangun dari kekuatan sihirnya berarti orang itu jauh lebih kuat darinya.

__ADS_1


Selama ia memburu manusia, belum pernah ia menjumpai satu orang pun yang bisa bangun dari pengaruh sihir tidurnya itu.


Dalam keadaan masih terperangah melihat Duke yang terbangun, ruangan kamarku yang tadinya ada ibu dan kami berempat seketika berubah menjadi ruangan kosong.


Melihat ini, wajahnya pun menjadi pucat pasi. Ia sudah terlalu meremehkan lawannya, hingga sekarang ajal sudah menanti di depannya.


“Bukan aku yang akan membunuhmu malam ini,” Ucap Duke dengan tatapan tajam.


Mendengar perkataan Duke, ia pun merasa sedikit lega. Seolah ada secerca harapan ia masih bisa selamat dari kematian.


“Tapi aku!” ucap paman Ephraim yang seketika berteleportasi dari Burgundy Treasure ke kamarku. Saat ini, ia sudah berdiri disebelah kanan Duke.


“Serahkan sisanya padaku Ardolph!”


“Ingat! Jangan berlebihan Ephraim, kalau kau mengamuk lebih dari batasnya untuk cecunguk ini, julukan terkuat keempatmu akan aku ajukan ke pengguna sihir unik lain untuk dicabut,” ucap Duke dengan tatapan datar.


“Hahahahaha.. disituasi seperti ini, kau masih bisa saja bercanda seperti itu Ardolph?”


“Apa-apaan dia ini? berani sekali dia meremehkanku yang merupakan panglima kedua belas kekaisaran Demonic!” gumam Mamon dalam hati.


Ia melototi Duke dan paman Ephraim, seketika ia melesat cepat ke arah Duke dan paman Ephraim. Diangkat kaki kanannya bersiap menendang wajah Duke. Sejengkal sebelum mengenai wajahnya, tangan paman Ephraim sudah menarik kaki Mamon. Langsung saja, dihempaskan kakinya oleh paman Ephraim ke lantai kamarku dengan kuat.


*Aarrrgghhhhhh!


Seperti hewan herbivora yang bisa merasakan aura hewan karnivora sedang mengincarnya, Mamon segera mundur menjauh dari paman Ephraim.


Terlihat otot-otot tubuh paman Ephraim membesar, dengan menggunakan sihir uniknya beast man, ia mengalirkan aliran sihir monster manusia ke penjuru tubuhnya.


Badannya membesar, kuku-kukunya berubah menjadi panjang dan lancip bagaikan pedang. Mata kuningnya berubah menjadi warna merah darah dan muncul taring besar dari mulutnya.


“Akan kukabulkan kemauanmu!”


Dengan cepat paman Ephraim melesat ke arah Mamon. Belum sempat Mamon menghindar, jantung Mamon sudah berada ditangannya.


“Kukatakan padamu, sebelum kuhancurkan jantungmu sekarang. Kau menjijikan! Berani sekali kau menantang kami para pengguna unique magic! Akan kuhancurkan jantungmu sebagai ganti nyawa sahabatku Claimence yang telah kau bunuh dengan trik murahan!”


Seketika itu juga jantung Mamon dihancurkan oleh paman Ephraim dalam satu kali kepalan.


“Kalau bukan karena kami butuh tubuhmu untuk penyelidikan dan ditunjukkan pada raja Alphonso, sudah pasti kau sudah ku cincang-cincang malam ini Mamon!” ujar paman dengan tatapan ganas.


Aku dan ketiga kakakku menatap layar sihir tak berkedip, semuanya terjadi secepat kilat. Bahkan belum sempat kami terkejut dan tahu tahu Mamon sudah dibunuh oleh paman Ephraim. Termenung-menung aku melihat aksi Duke dan paman Ephraim.


Inikah kekuatan pengguna unique magic?


“Awesome!” ucapku dalam hati dengan mata berbinar-binar.

__ADS_1


Duchess dan ketiga kakakku yang melihatku seharusnya menangis ketakutan, tetapi malah tersenyum dengan mata berbinar menatapku terheran-heran.


“Suatu hari, aku harus sekuat ini! apa aku tambah lagi saja ya jamku lari keliling halaman belakang?” pikirku.


_____________________________________


“Ardolph, sekarang saja kita bawa mayatnya ke depan muka Alphonso!” ucap paman Ephraim.


“Besok pagi saja, istri dan anak-anakku harus beristirahat sekarang. Akan kutaruh jasadnya dalam ilusi neraka bayanganku. Aku akan mengajak ketiga putraku besok ke istana. Ada hal yang harus aku harus selesaikan juga disana.” Ucap Duke.


Duke kembali ke Burgundy Treasure, ketika Duke sampai Duchess berlari memeluknya dengan erat. Duke pun membalas mendekap dan diciuminya kening Duchess bertubi-tubi seraya mengelus kepalanya pelan.


“Aahhh..romantis sekali ayah dan ibuku ini,” ujarku dalam hati.


“Suatu hari, aku pasti akan menemukan seseorang seperti ibu yang akan kucintai seperti ayah mencintai ibu sekarang,” ucap Halbert dengan sorot mata kagum.


“Hahahahaha..bukankah kak Stanley yang seharusnya berharap seperti itu Halbert? tak terasa sebentar lagi kakak kita ini sudah akan memasuki usia remaja yang mencari pujaan hati loh!” ujar Arthur seraya tertawa.


*Takkkk *Takkkk


“Ouchhh! Kenapa kau memukul kepalaku kak Stanley?” tanya Arthur.


“Ouchhh! Benar kak, apa-apaan ini?! apa salah kami berdua?” tanya Halbert.


Duke dan Duchess mendekati kami berempat, digendongnya aku oleh Duke.


“Ayah, akhirnya selesai juga! Ella senang dan lega karna kita semua selamat ayah,” ucapku seraya memeluk erat Duke.


“Selamat datang kembali ayah, aku benar-benar harus banyak belajar darimu,” ucap Stanley.


“Ayah keren!” ucap Arthur.


“Aku benar-benar kagum pada kekuatan ayah, sepertinya besok aku harus menambah porsi latihanku!” ucap Halbert dengan bersemangat.


Kami berenam berpelukan erat berbagi rasa yang sama, yap rasa lega karena telah lolos dari tragedi kematian keluarga Luksemburg.


Sekarang, hilang sudah satu beban dalam hatiku.


- To be continued


______________________________________


Halo sobat DTBE! Jangan lupa like yah 👍🏻


• Happy Reading 💙✨•

__ADS_1


__ADS_2