Destined To Be Empress

Destined To Be Empress
Chapter 56 - Flame Oak Fight (II)


__ADS_3

Mara mendesis ketika merasakan nyeri disekujur tubuhnya. Tubuhnya meliuk-liuk hendak melepaskan diri dari sesuatu. Ia terlihat berada dalam kesulitan. Seolah terbelit namun dari sudut mata yang lain, tak ada satu apapun yang membelitnya.


Para pengawal bayangan di grup B pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyelamatkan A5. A2 segera membawa A5 menepi ke sisi dimana Zwetta berada. Sementara A3 dan A4 memanfaatkan keadaan Mara yang tidak bisa bergerak dengan menyerangnya beriringan menggunakan bilah-bilah angin.


Melihat bagaimana Mara menyerang A5, mereka memutuskan untuk menyerangnya dari jarak jauh. Tambah menjeritlah Mara. "Aaakkgghhhh.. sialann.. kubunuh kalian!!!!" pekik Mara dengan tatapan penuh kebencian.


Suara jeritan Mara mengalihkan sejenak atensi dari Telvon. Dari sudut mata Telvon, ia melihat Mara membiarkan dirinya diserang begitu saja oleh para pengawal bayangan. "Mara! apa yang sedang kau lakukan?! kenapa kau membiarkan dirimu diserang bodoh?!"


"Apa kau pikir aku sebodoh itu?! ada sesuatu yang melilitku sialan!" pekiknya. Tak berapa lama kemudian, tubuhnya dihantamkan ke sisi kiri dan kanan tanah berkali-kali dengan kuat. *Bbamm *Bbamm *Bbamm *Bbamm *Bbamn "Akkggghhh.. akghhh..uhuk" Mara memuncratkan darah ungu dari mulutnya.


Mara bisa merasakan setiap kesakitan dari tulang-tulangnya yang patah. Wajahnya sudah ditutupi oleh darah yang mengalir dari kepalanya. 'Siapa yang telah membuat dirinya sampai seperti ini?' pikiran Mara sudah diisi dengan pembalasan dari setiap rasa sakit yang ia rasakan pada seseorang yang membuat dia meregang nyawa.


Melihat Mara sekarat entah oleh apa, Telvon hendak menolongnya. Saat Telvon hendak pergi ke sisi Mara, A1 melancarkan bilah angin yang berhasil menggores lengan Telvon. "Tidak akan kami biarkan!" pekik A1. "Serang dia!" pekiknya lagi pada para pengawal bayangan di grup A.


Ketika Telvon merasa terhambat, wajahnya menggelap. Awalnya dia masih mau bermain lebih lama dengan para pengawal bayangan. Namun kondisi Mara yang sekarat, membuat kesenangannya hilang.


Kini ia pun menghadapi para pengawal bayangan dengan serius. Ia menghindari setiap sayatan dan tendangan yang dilancarkan padanya dari berbagai sisi. "Bersama!" pekik A1 mengarahkan teman-temannya untuk menyerang serentak. Kelima pengawal bayangan grup A berlari bersamaan bersiap melancarkan serangan.


Sesaat sebelum sihir mereka mengenai Telvon, Telvon mengulurkan tangan kanan dan kirinya kedepan, lalu melesat dengan kecepatan tinggi ke arah A8 dan A9, menyerkap wajah keduanya. Telvon mencengkram wajah A8 & A9 menggunakan kedua tangannya, yang dalam sekejap membuat kepala keduanya meledak.


Bboooommm...Ddduarrrrrr...A8 dan A9 mati ditempat dengan kepala yang hancur. Mata, hidung, bibir terbelah-belah jatuh ke tanah. 'Peledakan' adalah kekuatan khas dari seorang Telvon. Keempat pengawal bayangan membolakan mata mereka. "A EIGGHTTT, A NINEEEEE!!!!!" pekik A1, A6, dan A7.


Teriakan mereka membuat Zwetta yang sedang mengobati Nikolai dan A5 menoleh kebelakang lagi. Betapa terkejutnya dia saat mendapati tubuh salah dua dari pengawal bayangan Arthur telah kehilangan kepalanya. "Damn it!" ucapnya sambil menggertakkan giginya.


Kesedihan dan kemarahan bercampur menjadi satu dalam hati Zwetta sekarang. Tiada ampun dan tiada lagi penundaan. Para panglima iblis ini harus dihabisi secepatnya! "Adasha, lakukan sekarang!" perintah Zwetta dalam benaknya. Adasha yang masih melilit Mara dengan ekornya pun matanya berbinar.


Flashback start.


Ketika pertarungan antara tiga panglima iblis bersama dengan sembilan pengawal bayangan dan Megion dimulai, Zwetta fokus mengobati Nikolai. Dengan bantuan aliran sihir milik Adasha, kecepatan sihir penyembuh menjadi dua kali lebih cepat dan kondisi Nikolai sudah melewati masa-masa kritis.


Nikolai tak sadarkan diri setelah Zwetta memberinya anestesi yang terkandung dalam sihirnya. Namun tangisan Adasha masih belum berhenti. Adasha masih terus menangis mengkhawatirkan Nikolai.


• Hiks hiks hiks..


• Hiks hiks hiks..


• Hiks hiks hiks..


"Adasha, sudah cukup menangisnya. Raja naga odren sudah melewati masa kritis, aku sudah menghentikan pendarahan di titik vitalnya. Sekarang tinggal pendarahan di beberapa bagian lagi.."


• Hiks hiks hiks..

__ADS_1


"Adasha, kuatkan hatimu. Ini saatnya kau membalas dendam, kau tidak lupa bukan? ketiga panglima iblis itulah yang membunuh Lydia dan ras naga Galaea. Termasuk membuat ayahmu sekarat. Bagaimana kau akan membalas dendam kalau cengeng begini hnn?" ujar Zwetta berusaha menghentikan tangisan Adasha yang membuat kepalanya berdenyut-denyut nyeri.


Seketika tangisan Adasha berhenti mendengar penuturan Zwetta. Tangisannya mendadak berubah menjadi satu tekad kuat untuk membalas dendam. "Keluarkan aku, Kak. akan kubunuh mereka sekarang!" geram Adasha.


Zwetta menghela nafas pelan. "Ini yang membuatku ragu untuk mengeluarkanmu menghadapi mereka Adasha. Kau masih sangat labil. Kau tahu bukan, itu akan membahayakan dirimu?" tanya Zwetta lembut.


• Ya, aku tahu kak. Aku akan baik-baik saja, kakak konsentrasi saja disini mengobati ayah. Dalam sekejap mata, mereka bertiga akan aku selesaikan!


"ADASHA LUKSEMBURG!!! Kau merasa sudah lebih kuat dari mereka?! Apa kau tahu, saat kau terlalu meremehkan lawanmu, disaat itulah kau kalah! Kau mau menghantar nyawa begitu saja hahh?!" bentak Zwetta.


Adasha tidak bisa menjawab Zwetta, ia sudah hampir menangis lagi mendengar Zwetta membentaknya. Tapi dia tahu, Zwetta memarahinya untuk kebaikan dirinya.


Zwetta yang sadar telah terbawa emosi, segera menenangkan dirinya. "Aku sekarang tak dalam kondisi bisa kapanpun menahan dan melihatmu. Aku sedang mengobati ayahmu. Kalau sampai terjadi sesuatu denganmu, kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku?!" tembak Zwetta lagi.


• Maafkan aku kak


Zwetta bisa membayangkan Adasha pasti sedang tertunduk saat meminta maaf padanya. Dia pun merasa lega karena Adasha memahami maksud dari marahnya.


"Kau berjanji akan menjaga tidak terbawa emosi dan mengikuti semua arahanku?"


"......................................."


"Kalau tidak bisa, lu-..


"Sial! aku harus menyelamatkan dia!" umpat Zwetta kesal. Zwetta yang masih harus mengobati pendarahan Nikolai dibagian lain mengumpat dalam hati. "Biarkan aku keluar menyelamatkannya kak!" pekik Adasha.


"Tapi.."


• Aku janji akan mengikuti arahanmu dan tak terbawa emosi. Perintahkan padaku apa yang harus kulakukan sekarang.


Zwetta tampak menimbang sejenak, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Adasha dari gua sihirnya. Sekarang tidak ada waktu untuk ragu!


"Baik, ingat janjimu padaku Adasha. Jangan gegabah nanti." Pesan Zwetta.


• Iya kak, cepatlah. Kita tidak punya banyak waktu kak!


"Sebelum aku mengeluarkanmu, gunakanlah sihir menghilangkan diri dan lilit iblis wanita itu menggunakan ekormu begitu kau keluar. Mengerti?"


• Mengerti.


"Sudah menghilang?" tanya Zwetta terburu.

__ADS_1


• Sudah kak.


"Oke. Adasha, keluarlah!" ucap Zwetta pelan.


Ketika Adasha keluar, tanpa berlama-lama dia terbang cepat ke arah Mara dan melilit tubuh Mara menggunakan ekornya dengan erat. Bukan tanpa alasan Zwetta meminta Adasha melilit Mara. Selama pelatihan bersamanya, Adasha paling suka menyerang fisik menggunakan ekornya daripada sihir.


Entahlah katanya lebih seru daripada langsung membekukan. Semenjak saat itu, Adasha banyak melatih menyerang menggunakan ekor. Mulai dari melilit, menghantam, menghempas, mencengkram, dan yang paling istimewa adalah ekornya bisa ikut tembus pandang dan benda saat dia menggunakan sihir penghilangnya.


Hanya ekornya saja yang memiliki efek itu. Bagian selain ekor akan terluka ketika terkena serangan dan senjata apapun saat ia menggunakan sihir penghilangnya. Dan kini ekor itu telah menjadi kebanggaan Adasha.


Maka dari itu, Zwetta tanpa ragu memintanya melilit Mara. Sekuat apapun sihir Mara, dia takkan punya kesempatan lepas dari lilitan Adasha. Tak berapa lama, ia telah mendengar Mara menjerit kesakitan. Dan Mara melepas genggamannya dari A5.


A2 membawa A5 untuk segera diobati Zwetta. Zwetta membagi kedua tangannya, sebelah kiri, mengobati A5. Dan sebelah kanan mengobati Nikolai. Keringat bercucuran dari pelipisnya. Ia mulai merasa efek lelah dari penggunaan aliran sihir yang banyak disaat yang bersamaan.


Untung saja ia juga menggunakan aliran sihir Adasha yang jauh berkali-kali lipat lebih besar darinya. Kalau tidak, bisa dipastikan nyawanya sendiri juga akan terancam karena terlalu memeras menggunakan aliran sihir dijantung yang bisa menyebabkan jantung meledak.


"Lakukan sesukamu. Kalau sudah puas, katakan padaku." Ucap Zwetta dalam benaknya. Dia mau memberi waktu Adasha untuk melampiaskan amarahnya. Naga kecilnya selama ini sudah sangat menanti saat-saat ini.


• Akhirnya..


Adasha menyeringai dan melilit dengan semakin lama semakin kencang. Ia bahkan membanting-banting Mara berkali-kali ketika ia selesai menjawab Telvon. Jika penyihir biasa yang terkena ini, tubuh mereka pasti sudah hancur, dipatahkan dalam sekali lilitan dan hempasan saja.


Namun yang ia lilit dan hempaskan ini adalah panglima iblis keenam, yang memiliki kekuatan fisik jauh lebih kuat. Apalagi dia sudah banyak menyerap aliran sihir dan energi kehidupan dari banyak makhluk. Sialnya, panglima kelima Telvon menyadari kesulitan temannya dan sepertinya hendak menolong panglima iblis itu.


"Adasha jika temannya hendak mendekatimu, langsung bunuh panglima iblis wanita itu. Bekukan dengan Ice Froze, lalu hancurkan dia!"


• Baiklah kak. Aku tak pernah sesemangat ini, hahaha.. akhirnya aku bisa membalaskan dendamku!


Pertarungan kembali berlanjut. Zwetta sangat berusaha keras mempercepat pengobatan Nikolai dan A5 agar bisa ikut bertarung. Tapi memang sangat sulit mengobati di saat-saat pertarungan seperti ini, selalu saja ada yang membuyarkan konsentrasinya.


Kali ini, teriakan para pengawal bayangan Grup A yang membuatnya kembali menolehkan kepala melirik apa yang sedang terjadi. Betapa terkejutnya dia saat mendapati tubuh salah dua dari pengawal bayangan Arthur telah kehilangan kepalanya. "Damn it!" ucapnya sambil menggertakkan giginya.


Kesedihan dan kemarahan bercampur menjadi satu dalam hati Zwetta sekarang. Tiada ampun dan tiada lagi penundaan. Para panglima iblis ini harus dihabisi secepatnya! "Adasha, lakukan sekarang!" perintah Zwetta dalam benaknya. Adasha yang masih melilit Mara dengan ekornya pun matanya berbinar.


Flashback end.


"Ice froze!" pekik Adasha. Seketika tubuh Mara semuanya membeku. Dari luar hingga dalam. Sebelum membeku, ia menjerit. "TELVON, TOL-!!! akkgghhhh..." Telvon yang masih menelaah apa yang sedang terjadi, seketika tercengang melihat tibuh Mara yang membeku.


"MARA!!" pekiknya yang baru sadar harus cepat menyelamatkan rekannya. Namun sebelum dia tiba, Mara telah membeku seutuhnya dan Adasha menghempaskan ekornya dengan kuat pada Mara yang membeku, menghancurkan tubuhnya berkeping-keping.


Udara sekitar yang panas pun dihujani butiran-butiran es bercampur darah Mara.

__ADS_1


- To be continued


__ADS_2