Destined To Be Empress

Destined To Be Empress
Chapter 27 - Sepuluh Tahun


__ADS_3

Kematian seluruh ras naga Galaea tercatat dalam sejarah sebagai tragedi kebinasaan paling mencengangkan di benua Roshar. Kehilangan satu ras naga suci, sama saja dengan kehilangan tumpuan kerajaan.


Berita ini membuat Raja Alphonso sangat murka, ia memerintahkan agar Duke Luksemburg memimpin pembersihan iblis masal ke setiap seluk beluk wilayah Kerajaan Magentia.


Pembersihan pertama yang dilakukan oleh Duke Luksemburg dari Northeria, Bastera, Osgard, Easteria, dan Southeria menyingkap terdapat dua puluh lima ribu penyamaran iblis menjadi manusia. Semua iblis yang diketahui langsung dibunuh ditempat.


Semenjak saat itu, Kerajaan Magentia bekerja sama dengan Kerajaan Beastera dalam bidang keamanan wilayah dengan mengeluarkan Pakta Kerjasama Keamanan Beastera & Magentia yang mana berisi ketentuan sebagai berikut:


√ Terbentuknya pasukan Beast Knights, yang berada dibawah komando Pangeran Ephraim langsung. Pasukan ini merupakan pasukan khusus yang terdiri dari ksatria dengan kemampuan pelacak terbaik dari kerajaan Beastera.


√ Terbentuknya pasukan Royal Knights yang berada dibawah komando Raja Alphonso langsung, pasukan khusus yang terdiri dari ksatria penyihir bertalenta dengan level sihir minimal warrior.


Para ksatria Beast & Royal Knights tersebar kesetiap penjuru perbatasan wilayah Kerajaan Magentia dan Beastera.


√ Setiap keluar masuk wilayah baik dalam maupun luar kota, masyarakat harus melewati pemeriksaan oleh ksatria kerajaan Beastera dan Royal Knights.


_____________________________________


Tanpa terasa, sepuluh tahun telah berlalu semenjak kematian Lydia, kini aku memasuki usia yang kedua belas tahun. Jika kalian berfikir gadis imut yang sering menangis karena takut dan lemah sepuluh tahun lalu itu masih ada, maka kalian keliru. Sekarang ia sudah tumbuh menjadi remaja cantik yang kuat dan ganas.


Kalau aku mengenang kembali perjalanan usahaku untuk menjadi kuat, hanya kelegaan yang terasa dalam hatiku. Wasiat dari Lydia yang memintaku untuk meningkatkan level sihir naturku hingga ke level fighter berhasil aku wujudkan dan saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju kuil naga Galaea untuk menemui Jimbo.


Ketika usiaku tiga tahun, aku pergi ke kantor administrasi sihir ditemani oleh ketiga kakakku. Benang takdir menentukan kalau aku memiliki sihir natur air, tidak heran bagiku mendapat sihir natur ini sebab elemen air adalah bagian dari sihir es milik Adasha juga.


Meski disisi lain ketiga kakakku sedikit kecewa lantaran sihir natur mereka berbeda denganku sehingga mereka tak bisa membantuku menguasai sihir ini, namun mereka tak mempermasalahkannya.


Disela-sela kesibukan ketiganya, mereka masih menyempatkan waktu bergiliran untuk menemaniku berlatih dengan guru privat sihir airku Countess Maddison.


Beliau adalah seorang penyihir air level legend yang bisa mengeluarkan sihir air bewarna emas yang indah dengan kapasitas besar dan kuat. Semudah itukah bagiku untuk memintanya menjadi guru privatku? Tentu saja tidak. Aku perlu melewati ujian percobaan darinya, kalau berhasil ia baru akan menjadi guruku.


Dimintanya aku untuk memindahkan air antar kolam ikan menggunakan sihir air, menyerap air sebanyak-banyaknya, mengeluarkan sihir air dari telapak tangan, membuat air menjadi senjata, menggunakan air sebagai penyembuh luka, dan masih banyak lagi.


Serangkaian pelatihan mulai dari yang termudah hingga tersulit telah aku lalui untuk mencapai sihir natur air level fighter. Namun tanpa kusadari seiring berjalannya pelatihan, tahu-tahu aku sudah bisa mengeluarkan air warna perak yang menandakan aku seorang penyihir air level warrior.


Setelah dikeluarkannya pakta keamanan Kerajaan Beastera dan Magentia, keadaan di Magentia berangsur-angsur membaik. Aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk berlatih, belajar, dan menghadiri pesta teh ala bangsawan yang membosankan itu.

__ADS_1


Aku lebih sering bersama-sama dengan Arthur dan Halbert semenjak Stanley pergi bersekolah ke royal akademi. Mereka bertiga sekarang telah menjadi idola di Kerajaan Magentia karena ketampanan, kecerdasan, pekerjaan dan status keluarga kami.


Puluhan surat permintaan lamaran setiap hari selalu memenuhi meja ibu. Surat itu mulai banyak berdatangan saat Stanley, Arthur, dan Halbert memasuki usia kedewasaannya.


Namun tidak ada satupun dari mereka bertiga yang menerima surat itu. Setiap aku datang ke pesta teh, aku selalu di perlakukan istimewa oleh putri-putri bangsawan lainnya dan selalu pulang membawa banyak barang yang harus aku berikan untuk ketiga kakakku.


Sial! mereka hanya memanfaatkanku untuk mendapatkan hati ketiga kakakku!


Tidak semudah itu wahai putri-putri bangsawan!


Aku sudah hafal diluar kepala sikap-sikap mereka dan aku tahu hati mereka tidak akan mudah untuk ditaklukan. Meski sulit ditaklukan, tapi aku yakin istri mereka bertiga di masa depan pasti akan menjadi wanita paling beruntung se Irefria. Ketulusan cinta mereka pada ibu dan aku itulah jaminannya.


Sekarang Stanley telah berusia 22 tahun, ayah berencana untuk segera menjadikannya kepala keluarga Luksemburg menggantikannya setelah ia menikah. Banyak bangsawan yang memburunya untuk dinikahkan dengan putri mereka, tapi kakakku sudah punya tambatan hatinya sendiri. Aku belum pernah bertemu dengan pujaan hatinya itu sih karna ia berada di Kekaisaran Moncerrat.


Sambil menunggu waktu yang pas untuk menikah, Stanley kini bekerja sebagai kepala administrasi militer Kerajaan Magentia yang setiap hari disibukkan dengan pelbagai laporan permasalahan masyarakat.


Sementara Arthur telah berusia 20 tahun, semua bisnis keluarga Luksemburg telah telah dipegang olehnya. Sudah sering ia membujukku untuk berbisnis karna ia tahu aku sangat ahli dalam menciptakan barang-barang yang belum pernah ada di Irefria.


Aku tidak keberatan sebenarnya, malahan aku senang bisa menghasilkan uang dengan hasil kerja keras sendiri, namun kukatakan padanya bahwa tidak sekarang aku akan terjun dalam bisnis. Ia pun tidak memaksaku juga dan tetap fokus pada bisnis keluarga kami.


Kakak ketigaku Halbert saat ini berusia 18 tahun dan tengah bersekolah di Akademi Pedang Naga di Kerajaan Feanor yang terkenal dengan akademi paling ketat, disiplin, dan berat dalam pelatihan berpedang.


Pada surat yang ia kirimkan padaku, ia selalu menceritakan betapa beratnya pelatihan disana dan betapa rindunya ia pada kami semua. Ia sangat jarang pulang juga, bisa satu tahun dua kali atau bahkan tidak pulang sama sekali.


Terakhir ia pulang pun untuk merayakan pesta kedewasaannya. Empat tahun sudah ia bersekolah disana, seharusnya tinggal dua tahun lagi sebelum ia dinyatakan lulus sebagai ksatria pedang. Aku sangat merindukannya!


Sekarang sudah saatnya aku berlatih menjadi penyihir naga bersama Adasha, agar suatu hari bisa membalaskan kematian tragis dari Lydia dan para ras naga Galaea. Tapi sepertinya sudah ada yang mendahului kami.


Belakangan ini katanya ada sebuah rumor. Dengar-dengar saat ini panglima iblis yang tersisa tinggal enam orang. Kaisar Moncerrat mengutus sepuluh orang putranya untuk mencari dan membunuh langsung kedua belas panglima iblis yang telah berbuat onar di wilayah lainnya.


Dari sepuluh orang putranya yang diutus, tersisa lima pangeran yang selamat dan berhasil membunuh enam dari dua belas panglima iblis Kekaisaran Demonic dan katanya seorang pangeran berhasil membunuh dua panglima iblis sendirian.


Awalnya semua orang mengagumi kehebatannya, bahkan banyak yang menggadang-gadang ia akan menjadi penerus Kaisar berikutnya.


Tapi setelah mengalahkan dua panglima iblis itu, katanya dikulitnya mulai timbul bentolan-bentolan berukuran kecil dan besar yang menjijikan.

__ADS_1


Kabarnya sekarang ia memutuskan untuk pergi dari kekaisaran Moncerrat dan hidup mengembara mencari panglima iblis yang tersisa.


Hmm.. Seharusnya mereka tidak body shaming seperti itu padanya. Kasihan sekali pangeran itu..


“Jewel, daritadi kau memikirkan apa sih sampai termenung lama begitu?” tanya Arthur penasaran.


Pikiranku langsung terbuyarkan oleh pertanyaan Arthur.


“Aku hanya memikirkan kehidupanku selama sepuluh tahun terakhir kak Arthur.”


"Ohh begitu, sepertinya kita akan tiba dalam dua jam lagi adikku," ucap Arthur.


"Ermm.. masih lama sekali ya kak, kalau begitu aku mau istirahat sebentar." Ucapku seraya meletakkan kepalaku di bahu Arthur.


"Tentu Jewel."


*Hoammmmmm


Arthur tertawa pelan melihat aku yang sedang menguap, lalu diusapnya kepalaku dengan lembut.


“Beristirahatlah Jewel, akan kakak bangunkan saat kita sudah sampai nanti.”


“Baik kak Arthur.”


*Zzzzzzzzzzzzzzz


“Jewel, sejak kecil kau sudah mengalami kejadian-kejadian yang mengancam nyawamu. Apalagi kejadian kematian Lydia dan para ras naga Galaea yang membuat kau dan Adasha sempat depresi beberapa lama saat itu.


Kalau tidak setiap waktu kami ajak ngobrol, kau pasti akan terbengong saja menatap jendela kamarmu tak bersuara. Kami bertiga takut kau kehilangan senyumanmu yang cantik itu..


Syukurlah kau tahu cara untuk meluapkan rasa frustasimu saat itu ya, Jewel..


Tidak ada hari yang tidak kau isi dengan belajar dan berlatih, aku tidak heran bila sekarang kau tumbuh menjadi gadis yang kuat dan tangguh.


Sekarang, beristirahatlah sejenak ya Jewel.., ” batin Arthur.

__ADS_1


- To Be Continued.


__ADS_2