Destined To Be Empress

Destined To Be Empress
Chapter 50 - Di Balik Dinding


__ADS_3

Zwetta membuka laci pada kabinet besi di lantai paling atas kuil naga odren, lembar demi lembar ia perhatikan dengan seksama. Sayangnya dokumen-dokumen yang sedaritadi ia periksa, tak ada satupun yang berhubungan dengan sekte pemuja iblis ataupun kekaisaran demonic. Dokumen-dokumen tersebut hanya berisikan sejarah dan laporan harian pendeta naga dari generasi ke generasi.


“Sepertinya semua kuil naga sama saja, selalu dipenuhi laporan dan buku sejarah tebal,” gerutu Zwetta saat mengingat betapa banyak buku lembaran sejarah naga suci yang ia baca di kuil suci naga galaea.


Lelah mencari, ia pun mengambil botol air dan meneguknya dengan memburu hingga air dalam botol itu habis.


• Aku lapar kak.


Perkataan Adasha menyadarkan Zwetta bahwa ia belum memberi makan naga kecilnya itu lagi.


“Ya ampun, kakak macam apa aku sampai melupakan kalau adikku yang menggemaskan ini belum makan dari siang?! Duh duh duh.. kasihan sekali Adashaku..” gurau Zwetta.


• Hehehe.. ikan! Ikan!


Zwetta tertawa mendengar suara antusias Adasha.


“Semoga didekat sini ada sungai. Jika memang tidak ada, kita akan makan daging lain dulu malam ini.” Ucap Zwetta seraya menuruni tangga dengan cepat.


• Enn, aku suka apapun. Selama itu daging, kak..


“Ehh.. kau suka daging manusia juga? Sejak kapan kesukaan pada daging manusia tumbuh?!” tanya Zwetta panik, selama ini ia selalu memberi makan Adasha kebanyakan ikan. Tapi supaya Adasha tidak bosan, ia juga menyelinginya dengan daging hewan lain seperti ayam, atau sapi.


• TIDAK! Maksudku daging hewan kak!


Ia pun menghela nafas lalu tertawa.


“Kau ini, katakanlah lebih awal.”


Saat Zwetta keluar dari dalam kuil naga odren, tampak para pengawal bayangan bertekuk dihadapannya.


"Lapor Tuan Putri-"


“Eitss, tunggu. Simpan dulu laporan kalian, apa ada sungai yang dekat dengan kuil ini?” tanya Zwetta menyela salah seorang pengawal bayangan yang hendak memberikan laporan apa yang ditemukan mereka setelah seharian menyusuri area kuil.


“Ada Tuan Putri, sekitar beberapa kilo meter ke barat daya.”


“Bagus, kita bangun tenda disana. Tolong pandu jalan kesana ya,” ucap Zwetta yang direspon anggukan oleh pengawal bayangan itu.

__ADS_1


Mereka bersepuluh pun segera berlari cepat menggunakan sihir kesana. Tidak sampai lima belas menit, mereka sudah tiba di tepi sungai. Dan saat Zwetta hendak mengambil botol air untuk minum, ia tidak menemukan botol air dalam tasnya.


Ia menepuk jidatnya saat baru menyadari keteledorannya meninggalkan satu-satunya botol air yang ia bawa. Akhirnya dengan berat hati ia harus kembali lagi ke kuil naga odren untuk mengambil botol air itu.


“Umm..bisakah kau menemaniku kembali ke kuil naga odren untuk mengambil botol air minumku yang ketinggalan?” tanya Zwetta pada pengawal bayangan yang memandu perjalanan mereka tadi.


“Bisa, Tuan Putri.”


“Maaf merepotkanmu,” ucap Zwetta malu-malu. Tidak biasanya dia bisa ketinggalan atau melupakan sesuatu seperti ini.


“Anda tidak perlu sungkan, Tuan Putri..” balas pengawal bayangan pemandu itu.


“Hehe..”


“Umm..Kalian berdelapan, bagilah tugas untuk membangun tenda, mencari kayu bakar, menyalakan api unggun, dan menangkap ikan ataupun hewan berburu lainnya ya,” pinta Zwetta.


“Laksanakan, Tuan Putri.” Setelah menjawab Zwetta, delapan dari mereka pun pergi melaksanakan tugas yang diberikan.


Zwetta dan pengawal bayangan yang memandunya pun segera pergi kembali ke kuil naga odren. Sesampainya disana, keduanya langsung masuk ke dalam kuil naga odren dan menaiki tangga dengan cepat hingga sampai ke lantai paling atas.


“Ini dia!” ucap Zwetta saat menemukan botol airnya diatas kabinet laci tempat ia terakhir kali memeriksa dokumen didalamnya.


“Baik, Tuan Putri.”


Namun tiba-tiba terdengar suara ketukan yang membuat Zwetta dan pengawal bayangan itu seketika berhenti melangkah.


*Tuk *Tuk *Tuk


Suara ketukan itu sangat kecil, malah hampir tidak terdengar. Tapi untuk Zwetta yang memiliki kemampuan sihir tinggi, suara itu tertangkap oleh telinganya.


“Kau mendengarnya?” tanya Zwetta pada pengawal bayangan dibelakangnya. Pengawal bayangan itu menganggukan kepalanya. Suara itu terbawa oleh angin, sehingga pengawal bayangan yang notabenenya seorang penyihir angin, dapat mendengar suara ketukan itu lebih jelas daripada Zwetta.


Pengawal bayangan berjalan mendekati asal suara itu, ia menunjuk dinding di pojok ruangan dan menoleh ke arah Zwetta yang masih berdiri dekat tangga. Zwetta segera mendekat dan memperhatikan dinding itu.


Ia tak menemukan ada sesuatu dari dinding polos itu. Kalaupun ada sesuatu, pastilah Adasha menyadarinya sejak tadi pagi mereka didalam sini.


“Adasha, apa ada sesuatu dibalik dinding ini?” tanya Zwetta dalam benaknya.

__ADS_1


• Ada suara ketukan, namun aku tak merasakan hawa kehadiran apapun. Ini sangat aneh kak..


Ucapan Adasha membuat Zwetta bergidik ngeri, “mungkinkah hantu?” ujar Zwetta yang membuat pengawal bayangan juga langsung membolakan matanya.


“Ayo segera pergi dari sini,” ucap Zwetta. Saat hendak melangkahkan kakinya berlari, tiba-tiba terdengar suara, “tolong.. tolong.. to-long..”. Suara itu berhasil membuat bulu roma Zwetta berdiri. Ia berbalik dan melihat pengawal bayangan itu mematung disebelahnya.


“Sepertinya aku harus menyanyikan lagu pengantar jiwa lebih dulu sebelum pergi. Supaya hantu itu tidak menggentayangi kita.” Kata Zwetta sambil mengatupkan kedua tangannya hendak menyanyi.


“Tolong aku, kumohon.. siapapun..” Saat Zwetta mendengar suara itu lagi, entah mengapa suara hatinya seolah mendorong Zwetta untuk menemukan asal suara itu.


“Sial! aku tak peduli lagi, mau kau hantu atau apapun dibalik dinding ini. Awas saja jika kau macam-macam denganku!” gumam Zwetta menguatkan hatinya yang sebenarnya sedikit was-was.


Ia pun berbalik arah dan berusaha secepat mungkin memindai dinding pojokan itu.


“Kemarikan lenteranya..” pinta Zwetta pada pengawal bayangan.


Ia mencoba menekan-nekan setiap bagian dinding itu, namun itu hanyalah dinding biasa. Ternyata tidak ada pilihan lain selain menghancurkannya.


Zwetta melapisi tangannya dengan sihir es milik Adasha.


“Hiyattt!!!” pekiknya saat memukul dinding itu dengan kuat hingga dinding itu pun hancur.


Gelap.


Itu yang pertama kali Zwetta dan pengawal bayangan lihat saat dinding itu hancur. Zwetta berjalan masuk kedalamnya dan merasa bahwa ruangan didalamnya ini sangat luas. Ia tak menyangka kalau dibalik dinding itu masih ada ruangan rahasia yang besar seperti ini.


“Tolong.. tolong..” suaranya yang Zwetta dengar kini semakin jelas.


Zwetta memegang lentera dan perlahan berjalan ke asal suara itu dan mengarah pada sebuah penjara. Zwetta mengernyitkan dahinya bingung, mengapa diruangan seluas ini hanya terdapat sebuah penjara.


"Kalau ini penjara, kenapa hanya dibangun satu buah?" ujarnya bingung.


Namun ia memfokuskan kembali pandangannya kedepan diikuti oleh pengawal bayangan berjalan disampingnya. Saat mereka berdua sudah berada tepat didepan penjara, dikarenakan terlalu gelap, apa yang didalam penjara itu pun tidak begitu kelihatan dari posisi berdiri keduanya.


Zwetta pun mendekat dan mengangkat lentera untuk bisa menerangi penglihatannya lebih jelas. Namun saat ia melihat apa yang didalamnya…


*Kkkkkyyyyyaaaaaaa

__ADS_1


- To be continued


__ADS_2