Destined To Be Empress

Destined To Be Empress
Chapter 28 - Sang Naga Suci


__ADS_3

“Jewel.. jewel.. bangunlah! kita sudah sampai..” Ucap Arthur.


*Mmmmmm *Ermmmm *Hoammmm


Mendengar Arthur memanggilku, aku pun segera bangun dan melihat Arthur sedang menggerak-gerakan bahunya.


“Apa kau pegal setelah aku menyender lama di bahumu kak?”


“Yaa sedikit.. tapi tenang, kakakmu ini tidak selemah itu Jewel.” Ucap Arthur.


“Hahahaha.. tenang saja, nanti malam aku akan memijat bahumu kak.”


“Bagus.. bagus.. bagus.. aku menantikannya! Mari kita turun sekarang..” Ucap Arthur seraya tersenyum.


Saat aku turun dari kereta kuda, mataku mengamati sekeliling dan sejauh mata memandang hanya terlihat hamparan salju yang begitu luas serta pohon-pohon yang diselimuti salju. Tak ada kuil disini, apa kami berdua sedang tersesat?!


Tapi sepertinya tidak mungkin karna kami dibawa langsung oleh kusir dari kuil naga Galaea. Tiba-tiba muncul seorang pria berkepala calang mengenakan pakaian ala biksu warna biru mendekati kami berdua.


“Salam Tuan Muda Arthur dan Nona Zwetta, saya Ren yang diutus oleh kepala kuil untuk menjemput kalian berdua. Mari ikuti saya.”


“Salam Ren, baiklah. Tolong pandu kami berdua ya.” Ucapku tersenyum ramah.


Ren menuntun aku dan Arthur berjalan masuk kedalam hutan yang dikelilingi oleh pohon-pohon musim dingin hingga kami bertiga berhenti di sebuah batu polos biasa berukuran sedang di tengah-tengah hutan ini. Ren menumpangkan tangannya diatas batu itu dan menyebut “Aglohora!”


Seketika batu itu mengeluarkan kilatan cahaya putih yang menarik masuk kami bertiga kedalam batu itu.


“Woo wooo woooo wooaaaaaaaahhh”


*Duggggggg


Aku jatuh terduduk diatas tumpukan salju, Arthur mendekat dan memberikan tangannya untuk mengangkatku berdiri.


"Apa ada yang terluka Jewel?" tanya Arthur panik.


"Tidak kak, aku tidak terluka. Kakak bagaimana?"


"Kakak juga tidak terluka Jewel.."


"Maafkan saya tidak memberikan aba-aba pada Tuan dan Nona tadi. Saya terburu-buru karena sepertinya ada yang mengikuti kita dari belakang. Apa Tuan Muda dan Nona terluka?" Tanya Ren khawatir.


"Oh iya kau tidak usah khawatir dengan orang-orang itu. Mereka pengawal bayanganku," Ucap Arthur.


"Jangan khawatir Ren, kami berdua tidak apa-apa.." Ucapku seraya tersenyum.


“Ternyata begitu Tuan Muda, syukurlah anda berdua baik-baik saja. Sekarang, kita sudah tiba di wilayah kuil Naga Galaea Tuan, Nona..” Ungkap Ren.


Betapa takjubnya aku saat melihat kuil yang menjulang tinggi ke langit.


“Wow……kak Arthur, pemandangan disini menakjubkan bukan?"


"Kau benar Jewel."


Kalian tahu kuil udara di series The Legend Of Aang? seperti itulah kuil yang kami lihat di ujung hamparan salju ini.


“Oh iya Ren, kita akan menggunakan apa untuk naik ke atas kuil?" tanyaku penasaran.


“Berjalan kaki, Nona..” jawab Ren.

__ADS_1


“Apa?!” pekikku yang tak percaya dengan apa yang kudengar ini. Benar saja kami harus menaiki jalan yang berkelak-kelok berlapis-lapis hingga keatas kuil itu?!


“Adasha, keluarlah!”


Seketika Adasha muncul dari cahaya berbentuk salju dari atas kepalaku, kini ukuran cahaya tersebut membesar menyesuaikan dengan ukuran tubuhnya yang sudah sepuluh kali lebih besar dariku sekarang.


Adasha langsung terbang dengan bebasnya ke atas langit. Pandangan kami bertiga tertuju pada keindahan dari sisik putih Adasha yang mengeluarkan pantulan warna keunguan saat terkena sinar matahari.


Aku jadi teringat saat melihatnya menetas di pergelangan tanganku sepuluh tahun silam dan sekarang melihatnya sudah besar seperti ini aku jadi terharu.


“Lydia, apa kau melihatnya? Adasha sudah tumbuh menjadi naga besar yang cantik loh..” batinku.


Beberapa saat kemudian Adasha turun dan menghampiriku. Ia mengelus-elus pipiku dengan wajahnya.


“Kau bersenang-senang?” tanyaku.


“Emm iya kakk.." jawab Adasha senang.


Seketika Ren bersujud dihadapan Adasha.


“Terimalah salam hamba Sang Naga Suci."


Ren mengangkat kepalanya, dilihatnya Adasha mengangguk pelan menerima salam darinya, air mata Ren tanpa sadar menetes.


“Ehh Ren, kenapa menangis?” tanyaku khawatir.


“Saya senang masih bisa melihat Sang Naga Suci, Nona..”


Mendengar ucapannya, aku jadi teringat pada tragedi kematian Lydia dan ras naga Galaea lainnya. Kepalaku tertunduk sedih dan aku bermuram muka seketika. Arthur berjalan mendekatiku, ia merengkuh aku dalam pelukannya dan mengelus pelan kepalaku.


“Aku baik-baik saja kak Arthur,” ucapku tersenyum sedih.


Mendengar itu, aku membalas pelukannya dan menenangkan diriku sejenak. Beberapa saat kemudian..


“Adasha, tolong bawa kami ke atas kuil ya,” pintaku.


“Tentu kak, naiklah..” balas Adasha.


Kami bertiga telah menaiki punggung Adasha sekarang.


*WOOSHHHH


Adasha membawa kami terbang melintasi hamparan awan-awan putih. Dua puluh menit kemudian, Adasha mulai bergerak menurun. Dari atas sini, tampak sekitar dua puluh pria berpenampilan seperti Ren tengah berdiri di halaman depan kuil naga Galaea.


Mereka yang melihat Adasha dari atas awan, langsung bersujud memberi hormat pada Adasha. Kami bertiga pun telah tiba di halaman depan kuil naga Galaea sekarang.


Seorang penatua berdiri dan mendekati kami bertiga.


“Selamat datang kembali ke kuil naga Galaea, Sang Naga Suci. Terimalah salam dari hamba.” Ucapnya seraya bersujud.


Adasha menganggukkan kepalanya.


"Wahh, Adasha begitu di puja disini," batinku.


Kemudian ia berdiri kembali dan menyambut kedatangan kami.


“Salam Nona Zwetta dan Tuan Muda Arthur, selamat datang di kuil naga Galaea. Perkenalkan, saya Avras ketua pendeta suci kuil ini."

__ADS_1


“Salam Avras, terima kasih sudah menyambut kedatangan kami.”


“Mari saya antarkan ke dalam Nona untuk bertemu Master Jimbo.”


Aku menganggukan kepalaku.


“Adasha terima kasih sudah mengantar kami ya.. sekarang kembalilah!”


Adasha pun kembali ke dalam gua sihirnya.


Aku, kak Arthur, dan Ren berjalan masuk kedalam kuil. Tiba-tiba Avras berhenti dan menoleh kebelakang.


“Maaf Tuan Muda Arthur, harap Tuan berkenan untuk menunggu Nona Zwetta disini. Master Jimbo memerintahkan agar saya hanya membawa Nona Zwetta seorang diri..” Ucap Avras.


"Apa kau meminta aku membiarkan adikku masuk ke dalam dengan pria asing?! tentu kau tidak berpikir aku akan mengizinkan itu bukan Avras?" tanya Arthur dengan tatapan intimidasinya yang menakutkan.


"Maaf Tuan Muda Arthur. Saya hanya melaksanakan perintah Master Jimbo," jawab Avras gemetaran.


Aku mengambil dan memegangi kedua tangan Arthur.


“Kak Arthur, aku tidak apa-apa. Aku sekarang kan sudah bisa melindungi diriku juga kak, aku akan baik-baik saja. Kakak tunggulah Ella di sini ya..” Pintaku padanya.


Arthur menghela nafas panjang, ia terlihat tidak rela membiarkan adik perempuannya masuk kedalam seorang diri.


“Baiklah, berhati-hatilah Jewel! kalau ada apa-apa, panggil kakak ya. Kakak akan langsung mendatangimu!" Ucapnya sambil memegangi kedua pundakku.


“Tentu saja kak..hehehe..!”


Aku pun masuk kedalam bersama Avras dan Ren. Hawa dalam kuil ini terasa begitu mencekam sampai-sampai bernafas pun berat. Tak berapa lama kemudian, kami bertiga masuk ke aula kuil dan dari pintu masuk aku melihat seorang pria bertubuh kekar dengan rambut sepanjang bahu berdiri ditengah aula.


Ia langsung menoleh ke arah kedatangan kami bertiga.


“Salam Master Jimbo, saya Zwetta Ellaria Luksemburg.” Ucapku seraya memberi hormat ala gadis bangsawan.


Jimbo menatapku dari atas sampai ke bawah, tatapannya benar-benar membuatku risih. Seolah ada sesuatu yang salah denganku.


“Avras, kau yakin tidak salah membawa orang?” tanyanya datar.


“Master Jimbo, dihadapan Master sekarang adalah Nona Zwetta, Beast Master dari Sang Naga Suci terakhir. Nona ini tadi diantarkan kemari oleh Sang Naga Suci langsung,” terang Avras.


“Grrrr...Grrrrr... Apa-apaan sih dia ini? kenapa sepertinya dia meremehkanku?!” ucapku dalam hati geram.


“Aku tidak menyangka yang terpilih menjadi beast master sekaligus penyihir naga Galaea selanjutnya hanyalah seorang gadis kecil.”


“Ohh.. jadi yang harusnya pantas terpilih menjadi Beast Master naga Galaea adalah seorang dengan badan yang tinggi dan kekar seperti anda Master?” sindirku.


“Heh?! Kau tidak takut akan kuhabisi sekarang juga!?"


"Lah kenapa harus takut?! memangnya saya salah apa?” balasku.


"Wah! nyalimu besar juga ternyata gadis kecil?!


Jimbo berjalan mendekatiku dan ia menunduk ke bawah melihatku dengan tatapan dingin.


“Biar kuberitahu, salahmu hanyalah terpilih menjadi Beast Master dari Sang Naga Suci. Dengan menjadi seorang Beast Master, kau juga adalah penyihir naga. Dan penyihir naga tidak diperuntukkan untuk seseorang yang lemah.”


__ADS_1


- To Be Continued


__ADS_2