
Sepulangnya Duke dan ketiga kakakku dari istana kerajaan Magentia, dengan terburu-buru aku pergi ke ruang kerja Duke bersama bibi Joy, Oriel dan Goddard untuk menemuinya.
Saking berlari dengan terburu-burunya, tanpa kusadari aku terjatuh tersandung batu kerikil.
“Nona Ella!!!” teriak Oriel dan bibi Joy yang tengah bersamaku.
“Sudah bibi katakan nona, jangan suka berlari-lari seperti itu!!! bagaimana kalau nona terluka parah?” tanya bibi Joy yang kesal dan khawatir padaku seraya membersihkan debu dari tanah yang melekat di telapak tangan dan gaunku.
“Bibi, maafkan aku..Ini sangat penting dan aku harus segera menemui ayah,” ucapku.
“Kalau nona sedang terburu-buru, apa nona mau saya menggendong dan membawa nona pergi ke ruangan tuan Duke?” tanya Oriel.
“Baiklah Oriel, bawa aku kesana segera!” perintahku.
Setibanya aku diruangan kerja Duke, tampak ia tengah berbincang-bincang didalam ruangan dengan paman Ephraim.
“Ayah!” Dengan senyum merekah aku memanggil Duke dan berlari pelan mendekatinya.
“Ella putriku sayang! ayah sudah pulang nak.” Ucap Duke seraya berjalan mendekati dan memelukku.
“Selamat datang kembali ayah. Oh iya, aku punya permintaaan ayah, apa ayah akan mengabulkannya?” tanyaku.
“Apa yang putri kecil ayah ini inginkan? Beritahu ayah! ayah akan langsung membelikannya untukmu.” Dengan semangat Duke menjawab.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Tidak ada yang mau aku beli ayah, keinginanku ialah aku harus pergi ke utara untuk menyelamatkan Lydia,” jawabku.
“Mengapa harus Ella yang pergi menyelamatkannya? biarkan ayah saja yang pergi menyelamatkan Lydia.”
“Aku dan Adasha akan membantu ayah agar bisa lebih cepat menemukan Lydia karena Adasha bisa merasakan aura kehidupan dari ibunya ayah,” ujarku.
“Tidak bisa Ella! paman Ephraim punya kemampuan penciuman yang tajam. Ia bisa melacak keberadaan Lydia dengan cepat nanti.
Ayah tidak akan membawamu dan Adasha kesana, disana sangat berbahaya. Ayah dan paman Ephraim akan pergi kesana untuk berperang melawan pasukan iblis kekaisaran Demonic yang ternyata secara diam-diam telah meneror masyarakat kerajaan kita untuk menguasai Northdic.
Dengan kondisi seperti ini, ayah mana yang akan membawa ataupun mengizinkan putrinya untuk ikut pergi ke tempat seperti itu?” tanya Duke dengan raut wajah serius.
“Tapi aku sudah berjanji pada Lydia akan membawah ayah kesana dan membujuk ayah juga untuk membawaku agar aku bisa mempertemukan kembali Adasha bersama ibu dan teman-temannya ayah,” ujarku dengan memelas.
“Bukankah dengan ini kau sudah menepati janjimu itu Ella? ayah akan pergi ke hutan utara Galaea untuk menyelamatkan Lydia. Ella tunggu saja dirumah bersama dengan Adasha. Saat nanti perang telah usai, ayah akan mengizinkanmu untuk ke utara menemui Lydia dan mempertemukannya kembali dengan Adasha,” ujar Duke.
“Oriel, bawa Ella kembali ke kamarnya sekarang!” perintah Duke.
__ADS_1
“Baik tuan.” Ucap Oriel seraya mengambilku dari gendongan Duke dan berjalan keluar ruangan.
“Ayah kumohon bawalah aku, bawalah akuuu..kumohon ayahh..”
Untuk pertama kalinya, aku melihat Duke mengabaikanku. Seketika air mata mulai mengalir di kedua pipiku dan aku pun menangis tersedu-sedu.
______________________________________
Hari keberangkatan Duke ke utara pun tiba. Aku, Duchess, dan ketiga kakakku tengah berdiri di teras rumah kami untuk mengantar kepergiannya.
Semalaman aku menangis karena rasa bersalahku pada Lydia yang telah gagal membujuk Duke membawaku ikut. Melihat mataku yang sembab dan bengkak, ayah mengambilku dari pelukan Duchess dan digendongnya aku.
“Ella sayang, maaf kali ini ayah tidak bisa memenuhi permintaanmu ya. Ayah mana yang akan membawa putrinya yang baru berusia dua tahun untuk pergi ke utara dalam situasi berbahaya seeperti sekarang ini? ayah janji akan langsung menyusuri hutan utara Galaea setiba kami disana.
Setelah ayah menemukannya, ayah akan segera mengabarimu.”
Aku mengangguk pelan.
“Berhati-hatilah ayah, Leviathan tengah memburu para monster disana.”
“Zwetta, kau tidak perlu cemas. Ada paman Ephraim yang akan menemani dan bertarung bersama ayahmu,” ucap paman Ephraim seraya mengelus kepalaku.
Mendengar perkataan paman Ephraim, hatiku menjadi sedikit lebih tenang melepas kepergian Duke.
“Terima kasih paman Ephraim, paman juga hati-hati dijalan ya.”
****
[Di kamar Zwetta]
Aku memerintahkan Oriel untuk mengambilkan kain dan es batu. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Oriel membawakan kain dan es batu itu, bergegas aku mengompres mataku yang bengkak.
Tiba-tiba Goddard mengetuk pintu kamarku dan mengumumkan kedatangan ketiga kakakku
“Nona, tuan muda Stanley, Arthur, dan Halbert datang mengunjungi anda.”
Mereka bertiga masuk ke kamarku dan terlihat bermasam muka karena sedih melihat kondisiku,
“Jewel, sini biar kakak yang mengompresi matamu,” ucap Stanley.
Aku mengangguk pelan.
“Sudahlah Jewel, kita doakan saja agar Lydia dan ras naga Galaea berada dalam kondisi yang baik sampai ayah tiba disana.” Ucap Arthur menepuk pundakku pelan.
__ADS_1
“Semua karena para iblis jahan** itu!” Ucap Halbert seraya mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
“Ini makanlah jewel, kami membawakanmu permen lingkar yang banyak. Jangan bersedih lagi ya,” ujar Stanley.
“Terima kasih kak,” balasku pelan.
“Oh iya Jewel, panggil lah Adasha keluar, kami juga membawakan susu dan ikan untuk menghiburnya,” pinta Halbert.
“Adasha, Keluarlah!”
Lima menit telah berlalu dan Adasha masih belum muncul.
“Adasha, keluarlah..ketiga kakakku membawakanmu susu dan ikan kesukaanmu, semalam kau belum makan juga bukan?” tanyaku.
Sepuluh menit kemudian, ia masih belum muncul juga. Rasa bingung, cemas dan panik menyelemuti perasaanku saat ini. Kupanggil ia berkali-kali namun ia tak kunjung keluar dari gua sihirnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi Jewel? Apa mungkin telah terjadi sesuatu pada Adasha?” tanya Arthur bingung.
Terperangah aku, Stanley dan Halbert mendengar pertanyaan Arthur itu. Aku memutar ingatanku mengenang momen terakhir kali aku bertemu Adasha. Semalam kami menangis bersama, ia mungkin masih bersedih karena mengkhawatirkan ibu dan teman-temannya.
Tadi pagi saat aku membuka kedua kelopak mataku, ia sudah tidak ada disampingku. Kupikir ia telah kembali ke gua sihirnya.
“Adasha apa telah terjadi sesuatu padamu? Jangan membuatku cemas dengan keonaranmu Adasha! aku dan ketiga kakakku mengkhawatirkanmu, cepatlah muncul kembali naga kecilku,” ucapku dalam kepala.
Tidak ada respon dari Adasha.
“Adasha kalau ada sesuatu yang terjadi, katakanlah padaku. Kalau kau diam dan tidak muncul seperti ini, bagaimana kakak bisa menolongmu?” tanyaku padanya lagi.
Tetap tidak ada respon darinya.
“Adasha Luksemburg! cepat keluar sekarang juga atau kakak tidak akan berhenti mengelus dan menciumi kepalamu! Awas saja nanti kalau kau memohon-mohon untuk menghentikanku ya!!! cepat muncul lah!!! ” teriakku.
Pada akhirnya, respon itu tak kunjung kuterima.
Aku menarik nafas dalam-dalam, kucoba
menenangkan diriku.
Tanpa terasa air mata mulai mengalir lagi dari kedua mataku. Bingung dan cemas hatiku kalau-kalau sesuatu sampai terjadi padamu Adasha.
Kusandarkan kepalaku ke pundak Stanley
“Sebenarnya apa yang sedang terjadi lagi sih kak?!”
__ADS_1
Dipeluknya aku oleh Stanley dengan erat.
- To be continued