
"Zwetta seperti biasa, kau tak pernah berhenti mengejutkanku. Bisa-bisa aku mati lebih awal kalau kau membuatku terkejut terus begini." Jimbo tertawa terbahak-bahak sambil mengelus kepala Zwetta dengan lembut.
Dua tahun telah berlalu sejak aku menjadi murid Jimbo, kini usiaku 14 tahun. Sekarang sihir airku sudah berada di level legend. Benang aliran sihiku dan Adasha juga telah berhasil tergabung sehingga core sihirku dan Adasha telah berpusat pada satu titik yang sama.
Ternyata setelah belajar dari Jimbo, aku mengetahui jika sihir seseorang berada di level legend dengan core aliran sihir bewarna emas, dia bisa mengatur dengan bebas warna elemen yang dikeluarkannya. Sebagai penyihir naga, sekarang aku bebas memilih mau mengeluarkan sihirku, sihir Adasha, maupun sihir gabungan kami berdua.
Status kekuatanku dan Adasha sekarang.
Sihir air
Level legend
Beast master Adasha
Skill
• Pengobatan:
mantra aktivasi - Helarenum Heal
• Penyerangan
Kategori sihir air:
Water blade
[Memunculkan pisau-pisau sihir air]
Gold Chain
[Memunculkan rantai sihir air emas yang tak terpatahkan]
Poison Water
[Mengeluarkan sihir air beracun yang akan membunuh lawan sekali kena]
Water slash.
[Mengeluarkan pedang sihir air emas yang kunamakan pedang emas Viergo]
Water Shield
[Mengeluarkan perisai sihir air perak yang kunamakan perisai Stormie]
Kategori gabungan sihir air dan es:
Penyerangan
• Ice froze - Frein Upena Adasha
[Bisa membekukan apapun]
Special Skill Adasha:
__ADS_1
• Semburan Es
• Invisible - Quera Raveillona Adasha
[Kemampuan spesial Adasha untuk membuatku tak terlihat]
• Shadow Shield - Rach Tarh Adasha
[Melindungi dari terkena pengaruh sihir penidur dan pengendali pikiran]
Dalam dua tahun berlatih bersama dengan Jimbo, aku menemukan dan menyempurnakan setiap skill yang kumiliki. Hari ini aku telah menyempurnakan sihir gabunganku dan Adasha, Ice Froze.
Jimbo memegangi bahuku. "Zwetta, latihan kita sudah selesai. Sekarang kau bukan hanya muridku lagi. Tetapi kau sudah menjadi master penyihir naga suci sama sepertiku. Gunakanlah dengan bijak kekuatanmu dan kalian berdua harus saling melindungi."
Raut wajah Jimbo yang ceria seketika berubah menjadi sedih. Jimbo terdiam sejenak, ia berjalan mendekati sebuah kursi rotan dan duduk sambil menatap langit.
"Ada apa Master? Apa Master sedih akan berpisah denganku karna besok aku akan pulang?!" Tanyaku sedikit menggodanya.
Dia tertawa pelan. "Sedikit akan merindukanmu." Jawabnya.
Aku tersenyum melihatnya kembali tertawa. Jimbo menundukkan kepala dan terlihat muram lagi. "Jangan lepaskan Adasha, Zwetta!" Ucapnya sedih.
Aku mengerutkan dahi mendengar perkataannya itu. Aku menatap ke atas cakrawala biru dan tersenyum lebar. "Tentu Master, dia saudariku, aku akan selalu menemaninya."
Dalam kepalaku, aku mendengar suara tangisan Adasha. "Huhuhuhu aku juga akan selalu bersama kakak. Aku menyayangimu kak huhuhu..huhuhu," tangis Adasha.
"Aku menyayangimu juga Adasha, kita harus saling menjaga ya." Balasku.
"Melihat kalian berdua, aku jadi teringat akan penyesalan terbesar dalam hidupku. Seandainya aku bisa memutar waktu." Ucap Jimbo sedih.
Jimbo menganggukan kepala.
"Seandainya aku tidak melepaskan ikatanku dan Lydia."
"Apa maksud Master?"
Jimbo menghela napas panjang.
"Aku memerintahkannya untuk terus hidup menggunakan darahku yang ku oleskan di atas kepalanya."
Raut wajahku menjadi kesal. "Kenapa master memerintahkan itu?"
"Karena aku ingin dia bebas dan hidup tidak terikat denganku. Aku merasa seperti memenjarakan dia saja."
Kepalaku tertunduk. Aku tidak bisa menyalahkan Master, terkadang aku pun sangat ingin membebaskan Adasha agar tidak terkurung terus dalam gua sihirnya.
"Saat terakhir kali Lydia dan aku bertemu, dia bercerita kalau ketika ikatannya denganku lepas, dia banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman satu rasnya.
Hingga suatu hari ia mengikuti pertemuan seluruh ras naga di Lembah Lamana dan bertemu seorang naga perkasa. Dia adalah Raja Naga Odren. Mereka berdua saling jatuh cinta hingga akhirnya memutuskan untuk kawin."
*Gulp
Aku menelan liurku.
__ADS_1
"Master tidak salah, jangan menyesali keputusan Master." Tampikku.
"Aku pun akan melakukan hal yang sama bila kondisi aman seperti dulu. Tidak ada satupun dari kita yang menyangka iblis masih hidup dan berusaha memusnahkan manusia dengan cara apapun termasuk membunuh dan memakan daging monster dengan cara keji. Master melakukan itu untuk kebahagiaan Lydia dan aku yakin dia bahagia.." sambungku.
"Terim kasih Zwetta...."
"Aku benar-benar menyesal tak bisa melindungi Lydia sebagai beast masternya." Bibir Jimbo bergetar menahan tangis.
Aku mengelus punggung Jimbo yang tengah bersedih. Beberapa saat kemudian, Jimbo sudah lebih tenang. Terbesit dikepalaku untuk menanyakan sesuatu yang menurutku janggal.
"Master, apa Raja Naga Odren tidak tahu Lydia sedang dalam bahaya waktu itu?"
"Sepertinya Lydia tidak memberitahunya, kudengar dia masih depresi sampai sekarang karna kematian Lydia dan anak bungsu yang sedang dikandungnya."
"Benarkah begitu?! hanya keluargaku, pendeta suci kuil, dan master saja yang mengetahui hal ini. Aku ingin Adasha sebagai satu-satunya naga Galaea yang masih hidup itu dirahasiakan, aku tak mau dia di incar bahaya bila diketahui masih hidup," ujarku.
"Tidak Zwetta, kau benar. Lebih baik berita masih ada naga Galaea yang hidup menjadi rahasia dulu sekarang."
Tiba-tiba Ren datang menemui aku dan Master.
"Nona, Tuan Arthur sudah tiba dan menunggu anda di kamar Nona."
"Woahhh benarkah?! aku harus segera menemuinya. Master aku pergi menemui kakakku dulu yaa.."
Jimbo menganggukkan kepalanya. Aku pun berlari terburu-buru ke kamar. Aku buka pintu kamarku dan kulihat Arthur tengah duduk sambil menyesap secangkir teh.
"KAK ARTHURRRR!!!!" teriakku. Aku berlari dan memeluknya dengan erat. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Ia membalas pelukanku erat.
"Akhirnya kakak bisa melihatmu lagi Jewel, kakak merindukanmu. Rumah sepi sekali tanpa kau." Ucap Arthur. Air mata bahagia mengalir dari kedua mataku.
Lydia, aku sudah menepati janjiku padamu. Aku sudah jadi penyihir naga suci. Aku tak akan membiarkan baik aku dan Adasha kehilangan seseorang ataupun sesuatu yang penting bagi kami berdua. Lihatlah kami dari sana ya.
Arthur mengelus kepalaku. "Kita akan pulang besok pagi-pagi ya Jewel, ayah dan ibu sudah mendesak-desakku terus agar membawamu cepat pulang saat mereka membaca suratmu yang mengatakan latihanmu sudah selesai."
"Ehhh..tunggu kak.. kita harus menunggu Kak Halbert jugaa. Dia kan juga akan pulang besok melewati Northeria, kukatakan padanya disurat agar kita pulang bersama-sama saja.
Aku sudah meminta Ren untuk menjemput Kak Halbert besok di titik pertemuan kuil seperti kita berdua waktu itu."
Arthur terperangah. "Loh kenapa dia tidak memberitahuku kalau dia akan pulang juga besok? tidak ada yang tahu kalau studinya sudah selesai dan besok dia akan pulang juga kerumah. Berarti cuma kau yang tahu Jewel.."
- To Be Continued
______________________________________
Hai Sobat DTBE 👋,
Pie kabare semua? semoga baik-baik saja dan selalu sehat-sehat ya 😊. Semangat puasanya buat sobat2 yang tengah menjalankan ibadah puasa 💪.
Author cuma mau mengingatkan agar sobat2 kasih likes (👍🏻), tinggalkan jejak comment (✍🏻) dan vote (💕) terus DTBE yaa.
Terima kasih banyak semua 💙✨
Salam Hangat,
__ADS_1
Author
KT