
P.o.v. Narator
Hari ini sudah genap Zwetta koma selama empat belas hari. Selama empat belas hari pula ia belum makan dan minum. Tubuh anak berusia dua tahun itu sudah sangat kurus menjauhi berat badan normalnya. Pagi itu, dokter Cliff datang hendak memeriksa keadaan Zwetta.
"Bagaimana kondisi putriku Cliff?" tanya Duke cemas.
Dokter Cliff menghela nafas panjang. "Tuan Duke, sudah dua minggu nona Zwetta belum menunjukkan tanda-tanda ia akan sadar. Maafkan saya, tapi saya harap tuan mempersiapkan untuk kemungkinan terburuknya" ungkap dokter Cliff.
Duke emosi, spontan ia mencengkram kuat kerah baju dokter Cliff. "Apa hanya ini yang bisa kau lakukan hah?!!!selama empat belas hari lamanya..empat belas hari! dan hanya ini yang bisa kau beritahukan padaku?!!!" geramnya.
Duchess berdiri dan memegangi tangan Duke. "Ardolph, lepaskanlah dokter Cliff, ia sudah mengusahakan yang terbaik untuk Ella," ucap Duchess. Duke pun melepaskan cengkramannya dan pergi dengan kesal.
****
Hari sudah menunjukkan sekitar pukul 3 sore dan sekarang Stanley sedang menjaga Zwetta.
Stanley duduk disebuah kursi kayu, menatap sendu adik perempuan kesayangannya.
"Jewel..kapan kau akan bangun? kakakmu ini merindukanmu kau tahu?" gumamnya sedih.
Tiba-tiba jemari tangan kiri Zwetta mulai terlihat sedikit bergerak. Melihat itu, Stanley spontan beranjak dari kursi dan berteriak memanggil pelayan. Kebetulan bibi Joy pas mau masuk ke kamar.
"Bibi Joy!!!!!!!" teriaknya.
"Ada apa tuan muda?" tanya bibi Joy menatap penuh tanya Stanley yang terlihat senang.
"Cepat panggilkan dokter Cliff!!! Aku melihat tangan Jewel bergerak. Cepatlah!!!" pinta Stanley. Bibi Joy tersentak kaget. Dan tanpa berlama-lama, ia langsung pergi memanggil dokter Cliff.
"Jewelll.. Jewell.. apakah kau bisa mendengar kakak? kakak disini.." ujar Stanley sambil memegang erat tangan Zwetta.
Dokter Cliff pun bergegas menuju kamar Zwetta. Ia berlari dan segera memeriksa kondisinya. Zwetta merasa sangat lemah. Ia sangat haus dan lapar sehingga badannya belum bisa digerakkan sepenuhnya.
Apa ini? aku merasakan besi dingin menyentuh dadaku, ermm.. aku familiar rasanya dengan benda ini. Setelah beberapa kali tersentuh olehnya, aku tahu kalau benda dingin ini
adalah stetoskop. Sepertinya ada dokter yang sedang memeriksa keadaanku.
"Nona, apa kau bisa mendengarku? kalau nona mendengar tolong anggukan kepalamu." Pinta dokter Cliff.
Zwetta menganggukan kepalanya pelan dan mencoba untuk membuka matanya. Terlihat sekilas olehnya Stanley yang tengah memegang kedua tangannya. Bibirnya memanggil Zwetta berulang-ulang kali.
"Jewel, Jewel, ini kak Stanley.." panggilnya. Dengan kondisi Zwetta yang masih lemah, ia berusaha untuk meresponi panggilan Stanley.
Mau balas memanggil aja kok jadi susah gini?
Zwetta mengumpulkan segenap kekuatannya yang masih ada untuk menjawab panggilan Stanley.
"Kakak.." Meski pelan, akhirnya Zwetta berhasil membalas panggilan Stanley. Mendengar adik bungsunya menjawab panggilannya, Stanley sangat bahagia. Rasa lega tak dapat dibendung lagi, hingga air mata mulai membasahi pipinya.
Sementara Duke, Duchess, Arthur dan Halbert yang mendengar suara gaduh dari kamar Zwetta, berlari terburu-buru masuk kedalam kamar. Setiba mereka dipintu kamarnya, mereka melihat Stanley dan para pelayan sedang menangis.
__ADS_1
Karena keempatnya sudah stress mengkhawatirkan Zwetta, melihat Stanley dan para pelayan menangis terisak, mereka langsung mengira bahwa Zwetta telah meninggal. Duchess seketika berteriak histeris. "Tidakkk !!! ini tidak mungkin..putriku Ellaa.." Tak berapa lama ia jatuh terduduk dan menangis.
"Ibuuuuuuuu..!!!!" teriak Arthur dan Halbert.
Duke mengangkat Duchess dan membawanya ke atas kasur. "Joy, tolong ambilkan air hangat untuk nyonya," pinta Duke.
Arthur dan Albert menangis sesenggukan seolah tak percaya, adik kesayangan mereka telah tiada. Sementara Duke dengan langkah sedikit terlunglai mendekati Zwetta dan mengelus kepalanya. Zwetta bisa merasakan tetesan air mata yang hangat terjatuh di atas wajahnya.
Wait wait wait! kenapa semuanya pada nangis terisak begini, kayak nangisin orang mati aja. Aku masih hidup nih!!!
Zwetta mencoba untuk membuka kembali matanya, meski kepalanya pusingnya minta ampun. Akhirnya ia pun berhasil membuka matanya.
Sementara Duke yang tengah menggendongnya berkata, "Ella putriku, ayah tahu ini tidak benar. Bangunlah nak." Ia tampak berusaha tegar.
"A...ya..h..," Zwetta berusaha mengeluarkan tenaga untuk berbicara.
Duke tersentak kaget. Ia mendengar suara putrinya yang familiar baginya, sekarang ia sudah melihat mata putri tercintanya terbuka. Raut wajahnya yang sedih terlihat berubah seketika menjadi berseri-seri. "Ellaaa!!! syukurlah kau sudah sadar sayang!!!" ungkapnya sambil memeluk Zwetta erat. Stanley kebingungan melihat reaksi ayah, ibu dan kedua adiknya.
TUNGGU DULU! apa jangan-jangan mereka kira Jewel sudah mati ? batin Stanley.
Stanley menelan salivanya gugup. "Kalian sudah salah paham ayah. Aku dan para pelayan menangis bukan karena Ella telah tiada, tapi karena ia sudah sadar," terang Stanley. Mendengar ucapan Stanley, Arthur dan Halbert tertegun.
"Astagaa! kenapa tidak kakak katakan daritadi sihhhh?" keluh Arthur kesal. Keduanya langsung mengusap-ngusap wajah mereka dari tangisan air mata.
Stanley mengelus kedua kepala adiknya itu. "Maaf..maaf, kakak juga tengah menangis bahagia melihatnya sudah sadar," ujar Stanley terkekeh.
Duke yang mendengar hal itu, ia memeluk Zwetta dengan erat sambil mengelus-elus kepala dan mencium-cium pipinya. Betapa leganya ia saat tahu bahwa putri semata wayangnya masih hidup.
"E..lla..!" panggilnya.
"I...bu" jawab Zwetta pelan sedikit tersenyum. Duke memberikan Zwetta pada Duchess dan disanalah Duchess menangis dengan emosional. Zwetta mengusap aair mata dari pipinya. "Jangan menangis lagi ibu, Ella sudah baik-baik saja."
Lima belas menit kemudian, suasana sudah menjadi lebih tenang.
"Air..air" pinta Zwetta.
Ia tak pernah merasakan dirinya selapar dan sehaus ini. Rasanya tenggorokannya sekering gurun pasir yang tandus.
"Ini nak, minumlah," jawab Duchess seraya perlahan membantu Zwetta meminum segelas air. Ia pun merasa hidup lagi sekarang.
Duke mengelus kepala Zwetta pelan."Kami bahagia sayang melihatmu sudah bangun dari tidurmu yang panjang" ucapnya tersenyum senang.
Zwetta tersenyum sedikit melihat mereka berlima. "Maafkan aku yang telah membuat kalian khawatir ayah, ibu, kakak. Aku sudah baik-baik saja," jawabnya pelan. Kami berenam pun saling berpelukan. Kini aura kecemasan mulai sirna dari kediaman Luksemburg dengan tersadarnya kembali Sang Permata keluarga.
...****************...
Satu jam setelah sadar, Zwetta makan sangat banyak, seolah ia sudah tidak makan selama satu tahun. Dokter Cliff menyuruhnya makan secara perlahan agar tubuhnya tidak kaget.
Tapi mohon maaf nih dok, kayaknya ga bisa soalnya udah 14 hari aku ga rasain nikmatnya lauk pauk, kue coklat, dan permen lingkarku.
__ADS_1
Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?!
Setelah makan, Zwetta meminta bibi Joy untuk mengambilkan susu dan ikan segar. Mau ia berikan pada Adasha. Ia meminta Joy untuk menaruhnya di dalam kamar mandi.
Sembari mandi, Zwetta memanggil Adasha keluar, "Adasha, keluarlah" .
• Kakak memanggilku?
"Makanlah ini," ujarnya seraya menggendong Adasha mendekat ke gelas dan piring yang berisikan susu dan ikan mentah. Tanpa basa-basi, Ia langsung melahapnya sampai keselek lagi.
Zwetta mengangkat dan menepuk-nepuk pelan punggungnya. "Makannya pelan-pelan aja Adasha, tidak lari kemana-mana juga kok ini." Gumamnya. Kepalanya menurun sambil mengangguk.
"Good girl! nih makan lagi yang banyak ya!"
Setelah selesai makan, Zwetta membersihkan mulut Adasha dari lumuran darah. Lalu ia membawa Adasha mandi bersamanya.
"Kembalilah bersembunyi Adasha, aku akan segera mengenalkanmu pada keluargaku besok.." perintahnya sambil mengelus kepala mungil naga kecil itu.
• Baik, kak..
Sebelum kembali ke gua sihirnya, ia mengelus-elus pipi Zwetta dengan kepalanya lalu pergi. Selepas mandi, Zwetra melihat ketiga kakaknya dan juga Duchess tengah duduk di kasurnya.
"Jewel, kau sudah selesai mandi?" tanya Halbert
"Sudah kak Halbert.."
Besok pagi, ya besok pagi aku akan memberitahukan semuanya pada keluargaku. Siapa yang tahu kapan para iblis itu akan bergerak.
Malam ini biarlah semua bisa tidur dengan lelap dulu. Zwetta mendengar cerita dari Joy dan para pelayan bahwa semua tidak bisa tidur nyenyak saat ia koma.
Sebelum tidur, Zwetta pergi ke ruangan kerja Duke ditemani oleh Arthur dan bibi Joy. Bibi Joy mengetuk pintu ruangan kerja Duke. Seperti biasa, Morganlah yang membukakan pintu.
"Selamat malam Morgan, nona ingin bertemu dengan tuan Duke sebentar. Persilahkanlah dia" ucap bibi Joy.
"Ayahhh !!!" teriak Zwetta seraya berlari pelan menuju Duke. Duke beranjak dari kursinya, lalu menghampiri dan menggendong putri menggemaskannya itu.
"Ada apa Ella? apa kau kesulitan tidur?" tanya Duke seraya bersender pada dada Duke.
"Ayah, besok pagi, apakah aku bisa berbicara dengan ayah, ibu, kak Stanley, kak Arthur, dan kak Halbert?" tanyanya.
"Kau dengar itu Morgan? kosongkan jadwalku dipagi hari," ujar Duke dengan tatapan serius. Kali ini, ia akan berusaha selalu ada untuk putrinya.
"Baik Tuan, akan saya kosongkan jadwal tuan besok pagi," ucap Morgan sopan.
"Besok kita akan berbicara, sekarang pergilah tidur ya," pinta Duke seraya mencium kening Zwetta.
Zwetta juga mengecup pipi kanan Duke dan tersenyum ceria. "Terima kasih ayah.."
Merekalah keluargaku yang berharga, untuk itu aku telah memutuskan akan melindungi keluarga ini apapun yang terjadi!!!
__ADS_1
- To be continued