Destined To Be Empress

Destined To Be Empress
Chapter 35 - Mengaitkan Umpan


__ADS_3

"Seandainya saat itu aku menolak mengawalnya, semua ini tidak akan pernah terjadi! bertemu wanita sialan itu benar-benar kemalangan terbesar bagiku!" gumam Halbert dalam hati sambil meninju kuat dinding Burgundy Treasure.


"Gara-gara dia ibu sakit! gara-gara dia ibu membentakku! gara-gara dia hidupku berantakan! akkghhhh.." pekik Halbert yang tengah meluapkan emosi dalam hatinya.


Suara teriakan Halbert benar-benar kencang hingga menggema hampir ke seluruh kediaman Luksemburg termasuk kedalam kamar Duchess.


Sepertinya sekarang waktunya aku memberitahu kecurigaanku. Batinku.


"Ayah, aku dan kakak akan membicarakan persoalan ini di Burgundy Treasure. Ayah temani saja ibu ya, nanti akan Ella minta kak Stanley untuk menceritakannya pada ayah. Mengenai ibu, ayah jangan khawatir ya. Selepas pembicaraan kami, aku akan memeriksa kondisinya dan menjelaskan situasi ini pada ibu," ucapku sambil mengenggam erat tangan Duke.


Duke tersenyum lebar padaku, "Baik sayang, ayah mengerti. Terima kasih nak," ujarnya.


Aku menganggukan kepala dan meninggalkan kamar Duchess bersama Arthur. Kami berdua segera menemui Stanley dan Halbert.


Saat kami berdua tiba, aku melihat Halbert benar-benar kacau sekarang. Aku menghela nafas panjang dan berjalan mendekati serta memeluknya.


Halbert membalas pelukanku erat, ia membenarmkan wajahnya dipundakku dan kurasakan tetesan-tetesan hangat air matanya.


"Kak Halbert, tenangkan dirimu kak," ucapku sambil menepuk dan mengelus punggungnya.


"Bagaimana kakak bisa tenang jewel? kau dengar sendiri bukan ibu menolakku, ia benci padaku sekarang. Apa yang harus kakak lakukan hah?! belum lagi harus menikahi wanita jala** itu, aku benar-benar sudah lelah jewel," ungkapnya.


"Tenanglah kak! kak Halbert tidak menghadapi semua ini sendiri, apa kakak lupa siapa kita? kita adalah Keluarga Luksemburg, bangsawan yang paling ditakuti dan dihormati di Kerajaan Magentia ini. Kalau kakak hancur dan rapuh begini, justru si putri halu itu akan senang dan merasa telah menang karna menghancurkan kakak, yang kuat kak Halbert!" ucapku menenangkan Halbert.


Lima belas menit telah berlalu dan Halbert sudah lebih tenang daripada sebelumnya. Selama waktu ini, Arthur menceritakan semuanya pada Stanley.


"Kenapa tidak kau diskusikan lebih dulu dengan kami keluargamu sebelum kau menerima permintaan Raja Feanor untuk menikahinya disana?" tanya Stanley dengan tatapan tajam melihat Halbert.


"............................................ aku hanya tidak mau mempermalukan keluarga kita," balasnya setelah beberapa saat terdiam.


Stanley menghela nafas panjang,"Kau ini idiot atau apa hah?! masalah sebesar ini tidak kau diskusikan dengan kami, main ambil keputusan sendiri, hingga sekarang kami semua terkena dampak dari kecerobohanmu??!!! Kalau sejak awal kau bilang kan, masalah bisa diselesaikan lebih cepat! sekarang dia sudah hamil begini, akan sangat sulit membatalkan pernikahan kalian Bodoh! lain kali masalah besar yang menyangkut keluarga besar jangan dipendam sendiri karna imbasnya kena semuanya!" bentak Stanley.


"Aku tidak bermaksud begitu kak, aku..."


Belum selesai ucapan Halbert, Arthur memotong ucapannya.


"Kau memang selalu begitu sejak kecil, emosi bergerak lebih cepat dari otakmu!" sindir Arthur.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan kak?" tanya Arthur.


"Apalagi selain menikahi wanita itu," ujar Stanley.


Arthur menghela napas panjang, "Jujur saja aku tidak sudi menerima laja** itu menjadi bagian keluarga kita. Tapi sepertinya tidak ada pilihan lain."


"Tidak perlu," ucapku.


Mereka bertiga langsung menoleh ke arahku.

__ADS_1


"Apa maksudmu Jewel?" tanya Stanley.


"Itu akan lebih memalukan jika Halbert tidak menikahinya setelah kehamilan Beatrice," sambung Stanley lagi.


"Kakak benci mengakuinya Jewel, tapi benar apa kata kak Stanley," ucap Arthur.


"Orang dia tidak hamil, mengapa harus dinikahi?" celetukku dengan santainya.


Mata mereka melebar dan bahkan membatu beberapa saat. Sampai akhirnya Halbert mendekatiku, ia mengambil kursi disebelahku, dan memegangi kedua bahuku dengan erat.


Dengan tersendat-sendat Halbert bertanya, "A-a-apa mak-maksudmu jewel?"


Tak berapa Arthur dan Stanley pun ikut menarik kursi dan mereka bertiga duduk berhadapan denganku sekarang.


"Katakan pada kakak apa maksud perkataanmu itu jewel," pinta Stanley.


"Iya, kau tidak sedang bercanda kan? jelas-jelas perutnya Beatrice besar begitu," sambung Arthur.


Aku menghela nafas panjang, "Dua hal yang membuat aku tahu dia tidak hamil. Waktu itu saat dia sedikit beradu mulut denganku, aku takut aura nagaku berdampak pada bayinya, jadi aku pikir mau memeriksanya sebentar perutnya. Tapi dia bersikeras tidak mau aku periksa meski hanya sesaat.


Ya saat itu aku hanya berpikir apa dia sebenci itu padaku sampai-sampai aku tidak boleh menyentuh perutnya untuk hanya sekedar memeriksa kondisi jabang bayinya?


Dalam perjalanan kerumah, ia sempat terlihat kesakitan memegang perutnya. Tapi lagi-lagi ia tidak mau aku menyentuhnya.


Disitulah aku mulai curiga, masakan saat bayinya sakit, dirinya sebagai ibu tidak mau diperiksa bahkan disentuh sedikitpun?


Dari sanalah aku mulai menduga, si rubah betina itu tidak hamil dan dia hanya menjeratmu saja Kak Halbert. Aku yakin itu, tapi sayangnya aku belum ada bukti untuk membenarkan dugaanku," terangku panjang x lebar x tinggi.


Halbert pucat pasi, terbesit dalam pikirannya hingga saat ini ia juga belum pernah sama sekali menyentuh perut Beatrice karna memang dia tidak mau bersentuhan dengan Beatrice dan Beatrice tidak pernah menawarkan Halbert juga untuk mengelusnya.


"Ha.. ha.. haha..," Halbert mulai tertawa sendiri dengan keras. Namun tak berapa lama ia bangkit berdiri dengan emosi. "Akan kubunuh wanita itu sekarang juga!!!!! kita cukup keluarkan isi perutnya saja untuk dijadikan bukti kalau dia tidak hamil!!!" Ucapnya dengan bola mata melotot dan mengepalkan kedua tangannya erat. Urat-urat matanya keluar dan bahkan sampai membuat matanya kemerahan, ia benar-benar marah sekarang.


"Tahan emosimu Kak Halbert!" pintaku padanya.


"Tenanglah Halbert! kau pikir bisa semudah itu membunuhnya hah?! dia itu masih putri Kerajaan Feanor?! kau mau gara-gara dia seorang, pertempuran antara 2 kerajaan terjadi?" ucap Stanley dengan nada tinggi.


"Kita perlu bukti Halbert, bukti!" sambung Arthur.


Aku tersenyum sarkas, "Mati terlalu mudah untuk membalas perbuatannya padamu kak, lagipula aku penasaran juga dengan isi perutnya juga. Mana bisa aku biarkan dia mati sebelum aku tahu isi perutnya kak, " celetukku.


Halbert mendecih kesal, "Sialann!!" ucapnya dengan mengepalkan kedua tangannya erat.


"Jadi apa kau punya rencana jewel?" tanya Arthur penasaran.


"Pura-pura saja atur pernikahan kak Halbert dengan dia," jawabku.


Arthur menyeringai, "Bukan ide yang buruk, kita kasih umpan lezat untuknya dulu," ucap Arthur.

__ADS_1


"Hehe.. kak Arthur memang selalu bisa membaca pikiranku," gumamku.


"AKU TIDAK MAU!" pekik Halbert. "Kenapa tidak sekarang saja kita bunuh dia dan keluarkan isi perutnya untuk melihat apa isinya?" tanyanya.


"Halbert, kau tidak dengar tadi kakak bilang apa? kita perlu bukti!" ujar Stanley.


Arthur berdiri dari duduknya dan ia berjalan mendekati Halbert,"ikuti saja permainannya dulu, kita selesaikan diakhir. Akan kubuat dia menyesal telah membohongimu dan membuat ibu sakit. Aku akan urus perceraianmu diam-diam di Feanor," ujar Arthur.


"Bersabarlah Halbert, posisinya sebagai Tuan Putri tidak bisa membuat kita gegabah. Masa gara-gara dia seorang, dua kerajaan harus bertarung dan akan ada banyak nyawa yang melayang?" ucap Stanley.


"Kau masih punya kami dan kami tidak akan membiarkan kau menikahinya," ucap Arthur.


"Terima kasih, kak Stanley, kak Arthur!" ucap Halbert yang sudah sedikit lega.


Beruntung ketiga saudaraku mempercayaiku, aku tidak perlu menjelaskan sedemikian rupa untuk membuat mereka percaya.


Halbert mendekati dan mengusap kepalaku, lalu ia memelukku amat erat. "Adikku, terima kasih banyak sudah mengatakannya pada kakak. Kakak tidak tahu harus berbuat apalagi jika harus terpaksa menikahinya. Terima kasih adikku, terima kasih jewel," ucap Halbert.


"Simpan dulu terima kasih kak Halbert sampai kita bisa membuktikan dugaanku ini. Mau seberapa yakin diriku pun, tanpa adanya bukti semua ini baru hanya akan jadi dugaan sementara kak," balasku seraya tersenyum tipis.


"Iya kakak tahu Jewel, meskipun begitu, tetap terima kasih!" ucapnya.


"Jewel! jewel! emang adikku yang gila! sukanya buat orang lain terkejut! untung saja kami sudah biasa dengan ini sejak kecil!" ujar Arthur sambil mengacak-acak rambutku.


"Ihhhh! kak Arthurr hentikan!!!!" pekikku risih.


Aku segera berlari berlindung di belakang Stanley. "Kak Stanley, lihat kak Arthur mengusiliku!" aduku.


Stanley berbalik dan tersenyum padaku.


Aku tahu dia memang kakakku yang paling baik, yang akan melindungiku. batinku.


Sebelum akhirnya ia sendiri tambah mengacak-acak rambutku dan bahkan mencubit pipiku. "Heh! kalian sama saja! aku pergi saja dari sini!"


"Sudahlah jangan marah-marah lagi jewel! ntar jadi jelek loh," goda Arthur.


"Berisik!" teriakku. Mereka bertiga pun tertawa bersamaan melihat tingkahku, kekesalanku pun berubah menjadi tawa bersama ketiga kakak tercintaku ini.


Kami pun memutuskan untuk membiarkannya sementara waktu seraya mengamati gerak-gerik Beatrice, mencari dan mengumpulkan buktilah prioritas kami sekarang.


Beruntungnya pernikahan di Kerajaan Magentia sangatlah sakral bahkan tidak menerima kata perceraian. Jadi banyak tahapan dan persiapan yang harus dilakukan dalam kurun waktu kurang lebih setahun.


Setelah Duke dan Duchess mengetahui kebenarannya, Duchess dan Halbert saling berpelukan dan terisak bersama saling meminta maaf.


Sejak saat itu, hari-hari normalku pun kembali seperti sedia kala sampai semuanya berakhir ketika Duke menerima sepucuk surat dari Kekaisaran Moncerrat.


- To be continued

__ADS_1


__ADS_2