
"CEPAT PERGI EVAKUASI !!!!"
"CEPAT PADAMKAN APINYA!!!"
Seruan-seruan para kesatria dan penduduk mulai terdengar jelas oleh Zwetta.
Sepertinya kami sudah dekat dengan kota Basteria.
Dari dalam hutan, Zwetta bisa melihat Asap hitam mengepul tinggi kelangit dan mendengar teriakan kesatria dan penduduk yang memekakan pendengarannya.
Ia tidak menyangka, akan mendengar suara huru-hara dari kota setentram Basteria. Zwetta semakin terpacu untuk segera melihat kondisi kota
"Cepat! kita harus bergegas!" pinta Zwetta. Para pengawal bayangan pun mempercepat kecepatan lari mereka.
Untungnya mereka bisa berlari cepat karena mereka penyihir angin. Aku harus memuji kehebatan Arthur dalam melatih dan memperkerjakan mereka nanti.
Dengan kecepatan dan keakuratan para pengawal bayangan, mereka pun segera tiba di depan tembok kota. Zwetta memandang ke atas tembok batu bata itu lalu menyeringai.
Saatnya menguji kembali para kesatria bayangan.
"Jadi ada yang punya ide, bagaimana kita bisa ke atas sana?" tanya Zwetta sambil menunjuk ke atas tembok. Kesepuluh bayangan itu mengangguk sebelum mengeluarkan grappling hook lalu menembakkannya ke atas tembok.
*Dar Der Dor
Kail besi tergantung dengan kuat diatas tembok.
"Wow! aku berasa seperti dalam film mission impposible!" kata Zwetta yang sedang tertegun melihat aksi mereka. Sesaat perhatiannya pada kondisi kota teralihkan. Para pengawal bayangan menatapnya bingung.
Zwetta yang melihat tatapan kebingungan mereka pun terdiam. "Ekhem..Umm.. lupakan apa yang kuucapkan. Kita langsung naik keatas," perintahnya.
Mereka mengangguk, lalu satu per satu mulai memanjat ke atas. Pengawal bayangan perempuan yang membawanya tiba-tiba menarik pinggang Zwetta kedalam pelukannya. "Sudah siap Tuan Putri?" tanyanya.
__ADS_1
"Iya, aku siap." Jawab Zwetta yakin. Dalam satu kali tarikan, keduanya sampai keatas tembok. Setelah sampai diatas, ia memanjat sedikit ke dalam tembok dan turun dari panjatan mereka.
Sesampainya Zwetta diatas tembok, kekacauan luar biasa yang menyambut. Gelegak api dimana-mana, isakan tangisan ibu-ibu, bayi, dan anak-anak ditambah teriakan para penduduk pria yang putus asa berusaha memadamkan api yang membakar rumah mereka.
Sorot matanya bergetar, "Apa ini? bagaimana bisa?" monolognya seraya mengepal erat kedua tangannya.
Basteria lebih kacau dari yang kuduga. Apa naga odren yang melakukan semua ini? Tapi dimana para naga itu sekarang ?
Para penduduk tampak kocar kacir sana sini. Ada yang mengambil air disumur dan ada yang menyiramkannya untuk menghentikan kobaran api yang semakin membesar.
Apa mereka bodoh? kenapa tidak pergi mengevakuasi diri?
“Uhuk.. uhuk..” ia mulai terbatuk-batuk sebab menghirup asap dari kebakaran itu.
“Racj Water Wavee!” pekiknya. Zwetta merapalkan mantra sihir gelombang air yang dapat mengeluarkan air dengan kapasitas besar. Sihir gelombang air itu ia arahkan pada rumah-rumah yang terbakar. Sebagian penduduk yang melihat aksinya melebarkan mata menatap tak percaya ada sumber air sebanyak itu.
Kehadiran Zwetta pun menjadi pusat perhatian para kesatria dan penduduk. Semua mata tertuju pada perempuan kecil yang berdiri di atas tembok bersama dengan sepuluh orang berjubah hitam.
Kesepuluh bayangan tampak terkejut melihat Zwetta bisa turun dari tembok. 'kenapa bertanya pada kami cara menaiki tembok kalau ternyata Putri bisa naik sendiri' gerutu mereka sebelum mengikuti Zwetta turun.
“Disini ada penyihir air!” pekik salah seorang penduduk. Beberapa penduduk berlarian mendekatinya dan beringsut memohon agar membantu memadamkan api yang melahap hampir seisi desa ini.
“Penyihir Air! Tolonglah kami padamkan kebakaran ini. Kami mohon..” ucap mereka berulang-ulang.
“Ini sedang kulakukan, jangan menghimpit disini,” balasnya. Seketika mereka berkaca-kaca menatap Zwetta dengan penuh antusias.
“Pengawal Bayangan,” panggilnya.
Kesepuluh pengawal bayangan lalu bertekuk dihadapan Zwetta.
“Tolong arahkan para orang tua, wanita, dan anak-anak ini ke tempat yang aman, ” pinta Zwetta.
__ADS_1
“Tapi, Tuan Putri,”
"Tidak ada tapi-tapian. Prioritaskan keselamatan penduduk, aku baik-baik saja sekarang," ucapnya tegas.
"Baik, Tuan Putri," jawab mereka bersepuluh serempak. Kesepuluh pengawal bayangan menuntun para orang tua, wanita, dan anak-anak keluar kota. Karena keadaan sudah hektik, para kesatria tidak begitu mempedulikan siapa mereka. Yang terpenting mereka membantu para penduduk.
Bersama dengan kesatria dan penduduk penyihir air, Zwetta membantu meredakan kebakaran besar seisi kota itu. Ada sekitar lima jam non stop mereka bergelut dengan nyala kobaran api itu hingga akhirnya api berhasil di padamkan.
Zwetta menarik napas lega seraya menyeka keringat di pelipisnya. Wajah cantiknya sudah kusam dihiasi abu hitam.
Serasa menjadi pemadam kebakaran dadakan aku.
“Kak, kenapa tidak memanggilku keluar? aku bisa dua jam saja memadamkan semua ini? kakak dan para penduduk itu tidak perlu repot-repot berjam-jam memadamkannya,” celetuk Adasha.
Zwetta tersenyum tipis. “Aku ingin memadamkan api, bukan membekukan desa Adasha,” benaknya.
“Iihh.. kak Ella.. aku kan bisa mengatur kadar semburan es ku,” imbuh Adasha.
“Oh naga suci Adasha yang agung, aku punya banyak pertimbangan tidak memanggilmu. Kau tahu bukan hampir semua orang sudah menganggap ras naga suci punah. Kalau kau muncul disini, keberadaanmu akan diketahui dan kau akan membuat gempar satu dunia. Jika sudah begitu, kau tahu bukan para iblis akan memburumu lagi?” terangnya.
“Bukan mereka yang memburuku melainkan aku yang akan memburu dan menghabisi mereka!!!!Aku bukan naga kecil tak berdaya lagi, aku sudah tumbuh menjadi naga yang kuat!!!!!!” ketus Adasha.
“Ya sudah, kau masih mau keluar sekarang?”
“Sudah tidak mau, lebih baik aku lanjut tidur saja.”
Zwetta menarik nafas panjang, kalau sudah bicara soal ini pasti Adasha berujung pada merajuk.
“Nona Muda." seseorang memanggil Zwetta dari belakang. Ia pun menoleh dan betapa terkejutnya ia saat melihat Dandalion berdiri dengan wajahnya yang mengeras.
"Bisa jelaskan pada saya mengapa anda bisa ada disini?"
__ADS_1
- To be continued