Destined To Be Empress

Destined To Be Empress
Chapter 52 - Bloody Night


__ADS_3

Zwetta berhenti dan menatap Megion datar. "Aku sudah membebaskanmu, lalu kenapa kau masih disini?" Kepala Megion menunduk dan ia berbalik arah, lalu berjalan ke arah berlawanan dari Zwetta dan pengawal bayangan dengan kepala tertunduk.


Sepertinya Zwetta menolak kehadirannya. Zwetta menghela nafas panjang ketika melihat baper ala Megion yang menyedihkan selayaknya anak kecil. Padahal kata Megion sendiri, usianya sudah ratusan tahun.


“Ah sudahlah, lakukan sesukamu..” ucap Zwetta seraya berjalan kembali. Megion tersenyum lalu berbalik arah lagi dan berjalan disamping Zwetta. Mereka bertiga berjalan dalam diam hingga sampailah mereka di lokasi peristirahatan.


Tampak para pengawal bayangan sudah membangun tenda, membuat api unggun, dan membersihkan diri mereka. Saat ini mereka semua melepas pakaian hitam mereka sehingga diri mereka pun terekspos.


“Tuan Putri, anda sudah kembali. Kami sangat cemas, mengira terjadi sesuatu dengan anda.” Ucap seorang perempuan yang suaranya familiar ditelinga Zwetta. Dia pengawal perempuan bayangan yang pernah membawanya naik ke tembok kota.


Zwetta tersenyum ramah pada perempuan itu, “Maaf sudah membuat kalian cemas.” Ia pun segera teringat pada naga kecilnya yang belum makan dari siang dan sedari tadi hanya diam saja.


Pastilah ia sudah kelaparan sekali, sampai diam begini.


Mata Zwetta menangkap dua wadah yang berisi ikan segar dan daging rusa didekat api unggun. Ia berjalan dan mengambil salah satu wadah. “Wah, tangkapan yang sangat banyak. Kerja bagus..” Ujar Zwetta puas.


Para pengawal bayangan tampak salah tingkah, baru pertama kali mereka dipuji saat melakukan tugas yang tidak seberapa susah ini. Namun senyum mereka menghilang saat penglihatan mereka baru sadar jika ada sosok berjubah hitam berdiri di belakang mereka.


Sejak kapan sosok berjubah hitam itu sudah ada dibelakang mereka? Apa dia mengikuti Zwetta sampai ke tempat ini? dan bagaimana bisa mereka tidak menyadari hawa keberadaannya? Sederet pertanyaan itulah yang muncul dalam benak para pengawal bayangan.


Spontan, mereka pun langsung mengeluarkan senjata sihir masing-masing dan sudah bersiap-siap akan menyerang Megion.


“Windmillio!” teriak salah satu pengawal bayangan. Bilah-bilah angin melesat cepat ke arah Megion. Namun sebelum mengenainya, Megion juga telah merapalkan mantra untuk menangkis serangan pengawal bayangan itu, “Bone Shield!” serunya.


Muncul perisai yang terbuat dari tulang belulang manusia dan mengeluarkan sinar kegelapan ke arah bilah angin dan menghancurkannya. Pengawal bayangan bergidik ngeri melihat perisai tengkorak milik Megion.


“Lihat itu! Sudah pasti dia sekutu iblis!”


“Serang dia!”

__ADS_1


Kedelapan pengawal bayangan meluncurkan satu demi satu serangan sihir, namun Megion menghindari semua serangan mereka. Bahkan ia hanya menggunakan sihir perisai untuk melindungi dirinya agar tidak terkena serangan itu.


“Woi! Aku bukan musuh kalian!” pekiknya yang berusaha mengklarifikasi kesalahpahaman ini. Sementara Zwetta disana menyaksikan penuh takjub, baru pertama kali ia melihat pengguna sihir kegelapan.


“Kau! cepat bantu aku!” pekik Megion saat melihat Zwetta hanya diam dan melihat dengan santai. Zwetta tertawa kecil melihat Megion yang mulai kewalahan.


Bisa menghadapi delapan pengawal bayangan dengan sihir angin level warrior seorang diri hanya dengan menggunakan perisai tengkoraknya, sudah pasti kekuatan sihir Megion besar.


“Hentikan kalian.. dia bukan anggota sekte pemuja iblis. Nama bocah itu Megion..” ucap Zwetta sedikit berteriak agar suaranya terdengar.


“Siapa yang kau sebut bocah hah?!” pekik Megion tak suka. Zwetta menghiraukan ocehan Megion dan hanya tertawa lucu. Mendengar itu pun pengawal bayangan menghilangkan sihir ditangan mereka. Dan mereka segera kembali ke aktifitas mereka masing-masing.


“Release!” ucap Megion menghilangkan sihir perisai tengkoraknya. "Sialan!" umpat Megion melihat dirinya malah diacuhkan setelah diserang secara sepihak.


“Adasha, portal gua sihir,” ucap Zwetta seraya membawa satu wadah ikan dan daging rusa yang telah ditangkap dan dibersihkan oleh para pengawal bayangan. Adasha membuka portal ke gua sihirnya dan Zwetta masuk kedalamnya.


“Ternyata kau seorang penyihir naga suci, ini pertama kalinya aku masuk kedalam gua naga galaea.” Ucap Megion pada Zwetta yang berjalan masuk ke gua sihir Adasha lebih dalam. Disana terlihat Adasha yang sedang berbaring memejamkan matanya.


Ketika Adasha merasakan langkah kaki Zwetta mendekat, ia pun membuka kedua matanya.


“Kak Ella! lama sekali! Aku sudah hampir mati menahan lapar..” protesnya.


“Jangan salahkan aku, salahkan saja bocah tua dibelakangku,” ucap Zwetta acuh. Adasha melihat Megion dengan tatapan tak senang. Megion menghela nafas berat.


“Sepertinya aku benar-benar tak diterima disini, kau, nagamu, dan bahkan para pengawal itu tidak suka denganku,” ujar Megion sedih.


Zwetta menggeleng sembari tersenyum kecil melihat Megion, “Jangan terlalu mengambil hati. Selama kau tidak jahat, kurasa perlahan semua akan menerimamu.”


“Adasha hanya sedang lapar makanya menatapmu tak senang.” Terang Zwetta yang membuat Megion lega dan sedikit tersentuh.

__ADS_1


Sementara Adasha hanya berfokus pada melahap ikan dan daging rusa dihadapannya.


****


Di suatu ruang bawah tanah, lokasi berkumpulnya anggota sekte pemuja iblis yang berhasil selamat dari serangan naga odren. Rimmon masuk kedalam ruangan dan matanya segera mencari-cari satu sosok yang penting, Namun ia tak menemukannya diantara para orang berjubah hitam itu.


“Tuan Rimmon, anda sudah datang..” Sambut pengurus sekte pemuja iblis.


“Dimana pria berjubah hitam itu?!” tanya Rimmon tanpa berbasa-basi.


“Penyerangannya begitu cepat terjadi, kami tidak sempat membawanya,” jawabnya takut-takut. Selama ini Rimmon tidak pernah memberitahu mereka identitas asli dari pria berjubah hitam itu dan hanya memerintahkan mereka membuatnya agar mau mendukung mereka. Apapun caranya. Menggunaan siksaan dan kekerasan pun tidak apa.


Ketika mendengar jawaban pengurus sekte itu, wajah Rimmon menggelap. “Gergon!” ucapnya memanggil pedang ular kegelapan miliknya. Sebuah pedang dengan pangkal berwarna hitam dengan ukiran ular ungu tua muncul ditangan kanannya.


Tanpa ba bi bu be bo, Rimmon menebas kepala sekte pemuja iblis yang membuat semua diruangan bergidik ngeri. Rimmon menjilati darah kepala sekte di mata pedangnya dengan mata masih menatap tajam anggota sekte yang lain.


“Nyawa kalian semua tidak sebanding dengan nyawa pria jubah hitam itu..” ujar Rimmon penuh penekanan.


“Dasar iblis!” pekik salah seorang anggota yang adalah bangsawan di Basteria. Sebelum ia menarik nafas lagi, pedang Gergon sudah membelah tubuhnya menjadi dua bagian.


“Memang.” Jawabnya seraya tertawa terbahak-bahak.


Beberapa anggota sekte berusaha keluar dari ruang bawah tanah, sungguh mereka masih ingin hidup. Naas, pedang Gergon menebas setiap kepala mereka yang hendak kabur. Dari awalnya terdapat 50 orang dalam ruangan itu, hanya tersisa satu anggota yang sekujur tubuhnya bergemetar menatap kepala dan mayat yang bergelimpangan di sekitarnya.


Rimmon berjalan mendekatinya dan menatap wajahnya face to face.


“Karena kau tidak kabur, aku akan bermurah hati membiarkanmu hidup. Jadi kau akan kembali ke sana untuk membawa pria berubah hitam itu kemari bukan?” ujarnya menyeringai. Tanpa berpikir dua kali, yang ditanya pun mengangguk dengan cepat.


- To be continued

__ADS_1


__ADS_2