Destined To Be Empress

Destined To Be Empress
Chapter 41 - Elgant Hatred


__ADS_3

Sudah 10 hari semenjak kedatangan dan perjodohanku dengan Elgant ditetapkan. Selama itu pula, aku sibuk mempelajari penyakit parasit kematian yang belum ditemukan penawarnya ini. Ini penelitian dengan resiko cukup tinggi karena penyakit parasit kematian ternyata menular, tidak melalui udara ataupun sentuhan fisik melainkan melalui darah.


Aku mengetahuinya usai mengambil sampel darah Pangeran Elgant malam itu dan menyuntikkannya pada tikus, saat itu juga badan tikus itu kejang-kejang lalu mulai muncul benjolan-benjolan besar kecil keunguan dan sekitar 10 detik kemudian tikus itu mati.


Lembur sudah menjadi rutinitasku saat ini. Tanganku sedang berkutat membalikkan lembar demi lembar buku penyakit langka dan tanaman obat-obatan nan tebal di perpustakaan Kekaisaran Moncerrat, meramu gabungan tanaman obat yang sudah terserap sihir airku dan meneteskannya pada sampel darah Pangeran Elgant.


Aku menghela napas panjang dan menggaruk kepala yang tidak gatal setelah mendapati percobaan kelima puluh kaliku sekarang masih belum membuahkan hasil. "Fu*k!" pekikku. Umpatan pusing tujuh kelilingku pun sampai terucap kembali setelah sekian lama vakum.


Aku mendecih kesal. Masih tak percaya aku setelah mendapati semua jenis tanaman obat yang telah aku serap mulai dari yang umum sampai langka sekalipun tak ada satupun yang berhasil menetralisirnya.


Aku menengadahkan kepalaku ke langit-langit perpustakaan, memijit pelipis kepalaku yang sedang pusing sampai tiba-tiba terlintas dalam benakku sebuah tanaman obat yang punya kekuatan pemurnian.Ya! aku ingat sekarang! Tanaman itu adalah tanaman pureit. "Ya ampun, kenapa baru terpikir olehku sekarang?" gumamku sambil menepuk-nepuk jidatku.


Dulu saat masih berlatih di kuil suci naga Galaea, aku membaca sequel keajaiban naga suci di kitab naga Galaea, dalam buku itu disebutkan jika tanaman pureit adalah tanaman perwujudan ruh para naga Galaea yang sudah mati dan mampu memurnikan segala sesuatu yang kotor termasuk racun. Namun keberadaannya masih menjadi misteri hingga saat ini. "Lantas kemana aku harus mencarinya?" gumamku.


"Cari apa gadis kecil?" tanya Elgant yang entah sejak kapan sudah masuk kedalam perpustakaan.


"Sejak kapan Pangeran datang?" tanyaku.


"Sudah sekitar 10 menit yang lalu," jawab Pangeran Elgant singkat.


Seserius itukah dia, sampai-sampai aku masuk pun dia tidak sadar? benak Elgant.


"Lebih baik kau beristirahat sekarang, besok kan hari pernikahan kita, aku tidak mau kau kelelahan besok," pinta Elgant. Lalu ia berjalan mendekat padaku, mengelus kepala lalu berbisik, "Kalau kau kelelahan, bagaimana besok kita akan melalui malam pertama?"


Bisikan itu sontak membuat wajahku panas. "Bisa tidak jangan bercanda dulu sekarang Pangeran?" tanyaku. Elgant menyeringai, "Eh, aku tidak bercanda." Jawabnya santai. "Jangan macam-macam!" balasku.


"Hei! aku hanya bercanda baby!" ucapnya sambil mencubit pelan pipiku. "Bercanda atau kebelet pingin hah? lagian bercandanya itu mulu dari kapan hari." Ujarku seraya mencebikkan bibir. Elgant hanya tertawa dan menggusak kepalaku.


Aku pun beranjak pergi dari perpustakaan disusul oleh Elgant. Nantinya kaki tangan Elgant yang akan membersihkan percobaanku.


Elgant menggenggam pergelangan tanganku agar aku tidak berjalan jauh mendahuluinya. "Buru-buru amat," celetuknya. Aku mendengus kesal, "Ya aku mau cepat istirahat," ketusku. "Pelan-pelan saja jalannya, kita bicara dulu," pinta Elgant.


Aku pun menyesuaikan langkah kakiku dengannya. "Kau mau cari apa gadis kecil? katakan saja padaku jika kau perlu sesuatu." ungkapnya.


Aku menghela napas pelan, "Tanaman Pureit Pangeran."


Raut wajah Elgant yang sedang tersenyum tipis itu kini menjadi dingin, "kau perlu itu untuk mengobatiku?" tanyanya.


"Emm, iya. Semua tanaman yang sudah kuserap tidak berhasil menetralisir darahmu yang beracun. Jadi aku harus mencoba mencari tanaman itu dan menyerapnya untuk menyembuhkanmu Pangeran," terangku.

__ADS_1


"Lebih baik cari alternatif lain, jangan pakai tanaman itu," ucapnya dengan penuh penekanan.


"Kenapa memangnya? selama ada cara dan kemungkinan untuk menyembuhkan Pangeran, kenapa tidak boleh?" tanyaku penasaran.


"Pokoknya jangan pakai itu, kalaupun dapat aku tidak mau disembuhkan pakai tanaman itu," jawabnya setengah berteriak.


Aku melepaskan genggamannya, "Sebenarnya Pangeran itu mau sembuh atau engga sih?!" Tanpa kusadari, aku juga tersulut emosi sampai-sampai menjawab Elgant dengan setengah berteriak juga.


"Apapun yang kau gunakan untuk menyembuhkanku bisa kuterima dengan senang hati. Asal jangan tanaman itu!" ucapnya sambil menatapku tajam.


Aku menghela nafas panjang, berusaha mengontrol emosiku terhadap Elgant yang sedang resek.


"Tapi kenapa? Pangeran kan tahu setiap harinya aku sudah berusaha keras, lembur dan baca banyak buku, bahkan mempertaruhkan diriku sendiri yang salah-salah bisa tertular juga selama aku mencari penawar untuk racun dalam darahmu. Dan sekarang setelah aku menemukan tanaman yang kemungkinan besar bisa menyembuhkanmu, Pangeran tidak mau di obati dengan tanaman itu? Pangeran tega membiarkan usahaku sia-sia? Kumohon jangan begini, semua demi kesembuhanmu Pangeran. Tak usahlah Pangeran cari tanaman obat itu, aku akan mencarinya..." celotehanku terpotong oleh bentakan Elgant. "CUKUP!" bentaknya.


Aku terkejut mendengar teriakannya. Detik ini juga, air mata sudah jatuh membasahi kedua pipiku.


"Ma-maaf aku tidak bermaksud meneriakimu," ucap Elgant seraya menggerakkan tangannya berusaha mengelus kepalaku. Aku menepis tangannya. "Pangeran, Egois!" ucapku lalu berlari menuju kamarku.


"Zwetta!" panggilnya. Aku tak menghiraukan panggilannya dan terus berlari menuju kamarku. Kubuka pintu kamarku lalu kututup kembali dan kukunci dengan cepat. Aku berlari ke ranjangku dan menelusupkan wajahku ke atas bantal kemudian menangis terisak. Rasa letih, pusing, dan sedih tertumpah semua dalam buliran buliran air mataku malam ini.


POV 3 (Narator)


POV 1 (Zwetta Ellaria L)


Keesokan paginya, suara gedoran pintu dari para pelayan membangunkanku. Aku berusaha mengumpulkan kesadaran untuk membukakan pintu dari dalam dan saat pintu kubuka, kulihat wajah mereka terperangah. "Tu-tuan Putri, mata anda.." Aku yakin mereka melihat mataku yang sembab dan bengkak setelah menangis hampir satu jam lebih kemarin malam.


Aku hanya tersenyum tipis melihat reaksi mereka, "segera siapkan diriku," perintahku.


"Baik, Tuan Putri."


Para pelayan itu segera mempersiapkan aku untuk upacara pernikahanku dan Elgant.


Dengan cekatan para pelayan itu mempersiapkan air mandi, mendandani dan memakaikan aku gaun pengantin wanita.


Setelahnya aku berjalan menuju aula istana Kekaisaran, tampak disana sudah ramai sekali dengan para tamu undangan yang datang. Semua tamu undangan yang hadir adalah para pejabat dan bangsawan Kekaisaran Moncerrat.


Semestinya hari ini adalah hari bahagia. Tapi aku justru tidak bersemangat sama sekali dan masih bete banget dengan Pangeran menyebalkan itu.


Aku pun berjalan masuk kedalam aula istana berusaha seanggun mungkin menuju Elgant yang sudah berdiri didepan dengan setelan formal Pangeran Kekaisaran Moncerrat berwarna hitam. Upacara pernikahan pun dimulai dan ikrar dari bibir kami berdua pun telah terucap.

__ADS_1


"Dengan ini, saya menyatakan kalian berdua telah resmi menjadi sepasang suami istri di hadapan Dewa Agung Yeshua dan Kekaisaran Moncerrat." Ucap pejabat istana Kekaisaran yang menikahkan kami berdua. Elgant membuka selubung putih lalu mencium pucuk kepalaku.


Tepuk tangan dan sorakan dari para tamu undangan mengakhiri upacara pernikahan kami. Kemudian acara dilanjutkan dengan pesta dansa dan jamuan makan di aula istana. Aku dan Elgant sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan yang hadir hingga tak terasa hari sudah malam.


Tibalah malam yang dinantikan setiap insan yang budiman, apalagi kalau bukan malam pertama. Malam dimana pasangan pengantin untuk pertama kalinya secara sah tidur seranjang. Malam dimana katanya pengantin baru akan bercinta dan memadu kasih penuh hasrat memiliki satu sama lain. Sepertinya semua itu tidak akan terjadi dimalam pertamaku dan Elgant.


Aku berbaring di kasur dan menutupkan mataku berusaha untuk tertidur, sementara Elgant masih mandi. Elgant keluar dari kamar mandi dan mendapatiku terlihat seperti sudah tertidur. Setelah memakai pakaian tidurnya, ia ikut berbaring diatas ranjang lalu perlahan ia mendekati dan memelukku dari belakang. "Kau masih marah padaku gadis kecil?" tanyanya lembut.


"...................................."


"Ayolah Zwetta, jangan diamkan aku seperti ini," pintanya memelas.


"...................................."


"Aku punya alasan sendiri, kumohon mengertilah."


Aku melepaskan pelukannya dan bangkit dari ranjang kami. "Lantas apa yang harus kumengerti? menerima saja permintaan konyolmu untuk mencari alternatif tanaman obat lain selain tanaman pureit Pangeran? maaf saja tapi aku tidak bisa karna tanaman pureit itu kesempatan besar untukmu sembuh. Aku tetap akan mencarinya, semua agar Pangeran bisa cepat sembuh," ujarku cukup panjang.


Elgant mendecih kesal. "Tidak perlu kau cari, aku tahu dimana tanaman itu berada." Ungkap Elgant dingin.


Mataku membola mendengar ucapannya.


"Tanaman itu ada di tengah hutan flame oak."


"Apa itu benar?" tanyaku ragu karna tanaman pureit itu kan lekat dengan naga suci Galaea, jadi kupikir lokasinya antara di kuil naga suci atau hutan utara Galaea. Tapi ini di hutan flame oak?


Pangeran Elgant mengangguk. "Keajaiban naga suci itu, dilindungi oleh Raja Naga Odren." Aku terkesiap mendengar penuturan Elgant. Keringat bercucuran dari pelipisku.


Raja Naga Odren katanya? Ayahnya Adasha?!


"Aku bisa saja menghadapi Raja Naga Odren untuk mendapatkan tanaman itu sejak lama tapi aku tidak mau," cicitnya lagi.


Sejujurnya, aku semakin bingung dengan jalan pikiran Elgant. "Kenapa Pangeran tidak mau? kesembuhan sudah menanti didepanmu Pangeran."


Ia melihatku dengan tatapan tajam.


"Karena aku sangat benci naga."


- To be continued

__ADS_1


__ADS_2