
Goddard sudah tiba dihalaman belakang pukul enam, dilihat olehnya aku yang tengah melakukan pemanasan.
“Selamat pagi nona Ella,“ sapa Goddard.
“Selamat pagi Goddard.”
“Apakah nona sudah siap?” tanyanya dengan raut wajah serius.
“Tentu, aku sudah siap Goddard.”
“Aku tahu nona memang putri tuan Ardolph yang jenius, tapi tak kusangka ia senekat ini. Pikirku nona atau salah satu dari tuan muda akan membatalkan tes hari ini.
Aku yakin tidak ada satupun dari tuan muda yang mendukungnya melakukan tes ini karena mereka tidak mau nona kesusahan ataupun sakit. Tapi ternyata nona justru ada disini dan ia juga terlihat bersemangat,” ujar Goddard dalam hati.
“Baiklah, saya akan memulai tes pelatihan fisik hari ini. Tantangan tes pelatihan fisik saya ini sederhana saja nona. Berlarilah satu kali putaran penuh halaman belakang ini,” ucap Goddard.
"Apa?! satu kali halaman belakang? hmmm..meskipun sulit, tapi sepertinya masih ada peluang aku bisa melakukannya,” ujarku dalam hati yang merasa sedikit percaya diri mendengar pernyataan Goddard akan tes yang diberikan olehnya.
“Baiklah akan kulakukan.”
“Tunggu nona! berlarilah mengenakan ini nona,” ujarnya seraya mengeluarkan dua buah kantung pasir kecil dan satu tas plastik kecil yang diisi air.
Waktu terasa berhenti saat ini, bola mataku seperti akan keluar dari kedua mataku menatap tiga benda yang tengah berada ditangan Goddard saat ini.
Bukankah ini berlebihan pikirku, keringat mulai bercucuran dikepalaku. Berlari tidak sampai setengah halaman saja kemarin sudah membuat aku merasa hampir mati.
Goddard menyerahkan dua kantung pasir dan tas plastik air padaku.
“God..dard.. ini sungguhan?” tanyaku serasa tak percaya.
“Ini sungguhan nona, saya sudah mengatakan pada nona kemarin lusa bukan bahwa pelatihan saya berat? Kalau nona mau berhenti sekarang, saya tidak keberatan,” ucap Goddard.
Dikehidupan lamaku sebagai Amber, optimisme dan kesukaanku menemukan hal baru adalah yang menyemangatiku melakukan penelitian sebagai seorang profesor. Meski gagal berapa kali pun aku tahu penelitianku akan berhasil suatu hari.
Dan hari ini untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku merasakan rasa pesimis lebih dominan dibandingkan rasa optimismeku. Bagaimana ini, secara logika saja ini sudah tidak memungkinkan bagiku untuk menyelesaikan tantangan tes pelatihan fisik dari Goddard.
Kukepalkan kedua tanganku, apakah ini akhirnya? Apa ini benar-benar tidak bisa dilakukan? Tidak! Aku tidak mau berhenti sampai disini, aku sudah bertekad untuk menjadi lebih kuat.
Kutarik nafas dalam-dalam, kukumpulkan tekad dan semangat dihatiku. Kuberanikan diriku untuk mencobanya.
“Baiklah, akan aku coba Goddard,” ucapku.
Bibi Joy menemaniku pagi ini, ia mendengar dan melihat apa yang hendak Goddard uji dariku. Ia sangat terkejut dan berusaha menghentikanku sekarang.
__ADS_1
“No..na.. ta..pi,”
“Tidak apa-apa bibi Joy, biarkan aku mencoba ini dulu,” ucapku seraya memegangi kedua tangan bibi Joy. Dibantu oleh bibi Joy, kedua kantung pasir telah terpasang dipergelangan kakiku dan juga kukenakan tas kecil plastik berisi air.
Aku pun mulai berlari, kakiku sekarang terasa tiga kali lebih berat dari kemarin. Keringat mulai membasahi pipiku, kufokuskan mataku hanya menatap kedepan. Aku terus berlari, meski saat ini kurasakan kakiku akan lepas rasanya. Ini bahkan belum mencapai seperempat halaman belakang.
Tanpa sengaja kakiku tersangkut kantung pasir dikakiku dan aku terjatuh tersungkur ke tanah. Lutut dan telapak tanganku terasa sakit, ini menyakitkan. Rasa perih yang kurasakan, membuatku serasa tak mau melanjutkan ini lagi.
"Zwetta kau sudah sampai dititik ini. Jangan sia-siakan perjuanganmu," ujarku dalam hati. Kukumpulkan tenagaku yang masih tersisa, kucoba untuk perlahan bangkit.
Aku sudah sampai ke titik ini dengan susah payah, mana boleh aku menyerah saat ini juga. Aku tak mengizinkannya! Kutahan rasa perih di telapak tangan dan lututku. Aku mulai berlari kembali dengan pelan.
Sekarang sudah hampir memasuki seperempat halaman belakang. Aku merintih kesakitan, luka dan rasa lelah membuat air mata keluar membasahi pipiku. Aku sudah berhenti menghitung berapa langkah aku berlari dan hanya fokus berlari.. berlari dan terus berlari kedepan.
Aku hampir berhasil berlari melewati seperempat lapangan, rambut dan bajuku sudah dibasahi oleh keringat. Aku mulai kehabisan nafas. Pandanganku perlahan mulai kabur, kepalaku terasa pusing. Aku mencoba menggeleng-gelengkan kepalaku agar aku bisa melihat kedepan dengan jelas lagi.
Tapi pandanganku malah semakin kabur, hingga aku terjatuh kedua kalinya dan tak sadarkan diri.
Ketiga kakakku yang tengah mengintipku dari balik dedaunan semak-semak bergegas berlari mendekatiku. Goddard juga berlari mendekat dan menggendongku kebawah pepohonan yang rindang dihalaman belakang.
“Jewel! Jewel! Jewel!” panggil ketiga kakakku.
Goddard memeriksa denyut nadi dileherku. Ia memposisikan tubuhku secara terlentang dan dinaikkan kakiku lebih tinggi sekitar tiga puluh centimeter dari dada.
“Bibi Joy, tolong bawakan nona teh manis,” ucap Goddard.
“Baik Goddard,” ucap bibi seraya bergegas ke dapur membuatkan teh manis untukku.
Sekitar sepuluh menit aku pingsan, aku mulai tersadar oleh suara ketiga kakakku yang tengah memanggil-manggilku.
“Ka..kak.., God..dard..!” panggilku.
“Syukurlah kau sudah sadar Jewel,” ucap Arthur dengan mata berkaca-kaca.
“Kau membuat kami khawatir saja Jewel,” ucap Stanley seraya mengelus kepalaku.
“Anak bodoh! Sudah berapa kali kakak katakan padamu jangan terlalu memaksakan dirimu,” ujar Halbert dengan nada marah.
Bibi Joy telah kembali dari dapur membawakanku teh manis.
“Syukurlah nona sudah sadar,” ucap bibi sembari menghapuskan air mata dikedua pipinya.
Dibantunya aku meminum teh manis yang ia buatkan. Rasa pusing dan mual yang aku rasakan perlahan mulai berkurang. Kondisiku sudah membaik.
__ADS_1
“Kakak, kenapa kalian bertiga ada disini?”
"Kami melihatmu berlari tadi dari balik semak-semak dedaunan," ucap Arthur.
"Ppfftt...Hahahahahaha.." aku tertawa terbahak-bahak mendengar hal itu. Wajah mereka bertiga memerah karena malu.
"Lain kali tidak perlu sembunyi disemak-semak dedaunan kakak, datang dan lihatlah dari kursi disebelah teras halaman belakang," ucapku.
"Habisnya kami pikir kau akan mengusir kami jika kami terlihat sedang melihatmu," ujar Halbert.
Ternyata mereka masih merasa tidak enak atas apa yang terjadi tadi subuh.
“Maafkan perkataanku tadi subuh ya kak, hehe..kalian tahu bukan kalau aku tidak
benar-benar serius pada ucapanku yang tengah kesal tadi?” ucapku tersenyum ke arah mereka.
“Maafkan kakak juga Jewel, seharusnya kakak mendukungmu tapi malah sudah menyakitimu dengan perkataan kakak,” ujar Stanley.
“Iya, maafkan kakak Jewel, harusnya kami tak menghalangimu,” ucap Arthur.
Halbert diam tidak menjawabku. Tak berapa lama kemudian, ditatapnya wajahku dan diusapnya kepalaku.
“Maaf juga kakak telah meragukanmu,” ucapnya.
Aku tersenyum mendengar kata-kata mereka, mereka bertiga mendekatiku dan kami berempat pun berpelukan bersama.
****
[Beberapa saat kemudian]
“Goddard aku mengaku kalah, jadi akan kuurungkan niatku sekarang untuk berlatih gerakan bela diri, memanah dan berpedang darimu saat ini. Tapi kalau aku sudah berhasil mengelilingi halaman belakang ini satu kali putaran dengan mengenakan kedua beban pasir dan satu plastik air ini, apakah kau akan bersedia mengajariku?”
Goddard tersenyum, dipeganginya pundakku.
“Tentu saja nona, saya kagum akan semangat nona. Dengan senang hati saya akan mengajari nona beberapa gerakan bela diri, memanah, dan berpedang nanti.”
Perasaan berusaha dengan keras ini tidaklah seburuk yang kubayangkan. Meski tidak berhasil, aku merasa lega telah berjuang semaksimal yang aku bisa. Setidaknya aku tidak kalah sebelum berperang.
Dengan kemampuan photographic memory ku ini, Aku selalu mendapat kemudahan dalam belajar.
Sementara sekarang, secara fisik aku benar-benar payah. Ahh..benar-benar sebuah kontradiksi yang tak terpikirkan olehku.
Yah sudahlah, aku hanya perlu berusaha lebih keras lagi bukan?
__ADS_1
- To be continued