
Keterlibatan Beatrice dengan sekte pemuja iblis merupakan pertanda bahwa iblis sudah bergerak dan menggunakan sesama manusia untuk menjalankan rencana mereka.
Dalam hati Zwetta bertanya-tanya heran.
Sepenting itu kah keinginan mereka sampai rela menjual jiwa pada iblis dan melakukan perbuatan sekeji ini?
Zwetta memandang kembali pemandangan mengerikan di sekelilingnya, dimana mayat-mayat manusia yang hangus terbakar itu terlihat sangat mengenaskan.
"Sungguh gila.." gumamnya seraya mengepalkan kedua tangannya erat. Adasha yang melihat semuanya daritadi juga sama marahnya.
Bedanya, Adasha memiliki pemikiran yang sederhana, sehingga dia hanya melihat bahwa penyebab kengerian ini adalah iblis. Maka dari itu, rasa kebenciannya pada iblis pun semakin mendalam.
Pikiran-pikiran menghabisi dan melampiaskan dendam dan amarahnya mulai bermunculan dalam benaknya. Hingga perlahan pupil matanya berubah menjadi merah gelap.
Namun sebelum itu terjadi, teriakan Zwetta menyadarkannya.
"ADASHA!!! tepis kebencian itu dari pikiranmu sekarang !!!
Seketika ia tersadarkan kembali dan hanya berdecih. Zwetta merasakan jantungnya yang tadi mulai membeku perlahan kembali menghangat.
"Kau tidak akan ku izinkan bertarung melawan iblis Adasha selama kau belum bisa tenang," ucap Zwetta tegas.
• KAKAK?!
Mendengar teriakan Zwetta, para pengawal bayangan bergegas berlari ke arahnya. Setibanya mereka, manik mereka dikejutkan dengan pakaian Zwetta yang berlumuran cairan ungu dan dua kepala bayi iblis yang telah terpisah dari tubuh mereka.
"Iblis?!" pekik mereka bersamaan.
Pandangan mereka lalu tertuju pada Zwetta. "Tuan Putri, anda baik-baik saja?!" tanya salah seorang pengawal bayangan seraya mengulurkan tangannya hendak membantu Zwetta berdiri.
"Enn.." ucapnya singkat seraya meraih tangan pengawal bayangan dan berdiri.
"Kalian sudah lihat sendiri kan? kemungkinan besar dalam perjalanan ke hutan flame oak dan pencarian naga odren nanti kita akan bertemu iblis. Dan kemungkinan besarnya lagi, kita akan bertarung melawan mereka. Persiapkan diri kalian," ujar Zwetta yang dijawab anggukan oleh para pengawal bayangan.
"Kembali lakukan tugas kalian, aku masih akan memeriksa tempat ini sedikit lagi."
"Baik, Tuan Putri."
Pengawal bayangan pun kembali menyusuri sekitar kuil naga odren. Setelah memastikan para pengawal bayangan pergi, Zwetta mengarahkan tangannya pada mayat ketiga wanita hamil beserta kepala bayi yang telah terpisah dari badan mereka. Lalu mengucapkan, "Ice Froze!"
Seketika mereka diselubungi oleh es.
"Adasha, tolong bukakan portal ke gua sihir," pinta Zwetta. Tak berapa lama kemudian muncul portal putih berbentuk salju yang cukup besar. Zwetta mengarahkan tangannya untuk memindahkan balok-balok es berisi mayat itu kedalamnya.
...****************...
Berita kebakaran kota Basteria telah tersebar luas. Ardolph yang baru mendapat laporan semalam, langsung memerintahkan Stanley beserta white dan black knight untuk berangkat ke Basteria. Halbert ikut dalam perjalanan ini, menemani sang kakak.
Sementara Arthur berada di kediaman Luksemburg membantu Duke menangani masalah bisnis dan penduduk di tengah bencana regional. Arthur telah menerima surat dari Zwetta tadi pagi dan langsung terperanjat melihat isinya.
Dalam surat itu, Zwetta memberitahu sekilas tentang sekte pemuja iblis dan dugaannya akan keterlibatan walikota Jeremy Claighton. Asumsinya ini ia dasarkan pada keluh kesah dari penduduk Basteria langsung. Dan ia meminta Arthur untuk menyelidiki dan mencari bukti tentang itu.
__ADS_1
Surat yang kedua diperuntukkan untuk Pangeran Elgant dan surat yang ketiga diperuntukkan untuk Raja Alphonso. Ia sudah mengirimkannya pada mereka melalui pengawal bayangannya yang biasa menghantarkan surat pada kedua orang penting itu.
Disaat ia sedang sibuk dengan dokumen-dokumen di atas mejanya, tiba-tiba pintu ruang kerja Duke Luksemburg didobrak oleh Raja Alphonso dan Putra Mahkota Redgarh.
"ARDOLPH!!!"
"Salam Yang Mulia Raja Alp-..."
"Lupakan formalitas," ucap Raja Alphonso menyela salam hormat Duke.
"Belum pernah aku melihat Raja yang datang ke rumah bawahannya lalu mendobrak masuk ke ruang kerjanya seperti dirimu Alphonso," ucap Duke sembari menggelengkan kepalanya. Sahabatnya yang satu ini memang suka seenaknya.
"Apa kau sudah tahu apa yang putri kesayanganmu itu tuliskan padaku?!" tanyanya serius.
"Tentu saja tidak tahu. Memang apa yang Ella tuliskan disurat untukmu?"
"Ia memintaku mengumpulkan semua pengguna unique magic dan..."
"Dan..?"
Raja Alphonso tampak menimbang sebentar sebelum melanjutkan ucapannya.
"Di Moncerrat.."
Duke mengernyitkan dahinya, ia tidak menemukan ada yang salah dari permintaan Zwetta.
"Lalu apa masalahnya?"
"Apa dia ingin meluncurkan pemberontakan pada kerajaan Magentia?" tanya Alphonso serius.
Ardolph dan Arthur menatapnya bingung.
"Apa yang kau bicarakan ini Alphonso?" tanya Duke yang heran dengan pertanyaan Alphonso yang dirasanya sangat aneh.
"Tidak usah berpura-pura tidak tahu paman, aku sudah tahu kalian berpura-pura selama ini. Saat lengah, kalian akan menyerang Magentia bukan? apalagi sekarang Zwetta telah menjadi bagian dari Kekaisaran Moncerrat?!"
"Katakan padaku Ardolph, semua ini tidak benar. Semua yang dikatakan putraku tidak benar bukan?!" ujar Alphonso yang matanya bergetar menahan emosi.
"Kau mendapat informasi itu dari siapa?" tanya Arthur pada Redgarh.
"Kau tidak perlu tahu aku mendapat info itu dari siapa, tapi aku sudah tahu niat busuk keluarga kalian."
"Redgarh jaga ucapanmu!" pekik Alphonso.
"Ardolph! kau tidak mungkin menghianatiku bukan?!" tanya Alphonso pada Ardolph.
Ardolph tidak habis pikir, bisa-bisanya sahabat yang ia kenal hampir setengah abad itu bisa-bisanya meragukan dirinya. Belum lagi masalah bencana regional dan putrinya yang membuatnya sedang badmood saat ini.
Semua itu membuat Ardolph naik darah. Ia terdiam sejenak sebelum dirinya menggebrak meja kerjanya dalam sekali pukulan, melampiaskan segala emosi dalam pikiran dan hatinya. Meja itu seketika terbelah dua. Lalu Ardolph melesat ke Redgarh dan melayangkan satu tinjuan ke perutnya, membuat Redgarh seketika batuk darah.
"Ardolph! apa yang kau lakukan pada Redgarh?!" pekik Alphonso.
__ADS_1
"Jangan larang aku menghajar anakmu yang kurang ajar ini Alphonso, atau kau yang akan menerimanya." Ujarnya dengan tatapan penuh kemarahan.
"Sudah berapa lama kau mengenalku?" tanya Ardolph dengan nada rendah yang membuatnya justru terlihat semakin menakutkan.
Nafas Alphonso tercekat saat terkena aura membunuh dari Ardolph.
"SUDAH BERAPA LAMA?!" pekiknya yang membuat Alphonso mengepal erat kedua tangannya.
"Empat puluh tahun lebih," jawabnya pelan.
"KALAUPUN AKU HENDAK MEMBERONTAK, SUDAH AKU LAKUKAN DARI DULU BODOH!" pekiknya.
"Ayahanda jangg-....."
"TUTUP MULUTMU REDGARH!!!" pekik Alphonso menatap tajam putranya.
"Kami tidak bisa menerima begitu saja penghinaan Putra Mahkota pada keluarga kami Yang Mulia." Arthur yang sedari tadi diam pun angkat suara.
"Aku tidak sembarang bicara ayahanda, Rimmon mengatakan padaku rencana busuk mereka apalagi surat dari Zwetta yang hendak mengumpulkan 11 pengguna unique magic. Untuk apa coba ia mengumpulkan semua pengguna sihir terkuat kalau bukan untuk memberontak?!" ucap Redgarh membela diri.
"Ayah.." ucap Arthur yang melebar menatap tak percaya wajah ayahnya usai mendengar penuturan Redgarh.
"Zwetta dalam bahaya..." ucapnya seraya berjalan terburu-buru keluar ruangan.
Sementara Ardolph mengepalkan tangannya dengan erat, rusak sudah rencana Zwetta untuk mengumpulkan pengguna unique magic. Disuratnya pada Arthur, ia mengatakan hendak mengumpulkan mereka untuk membahas penyerangan pada iblis.
Namun siapa sangka, Rimmon telah menghasut Raja dan Putra Mahkota Magentia lebih dulu.
"Ardolph! apa maksud Arthur?!" tanyanya kaget.
"Baca ini," ucap Ardolph seraya melemparkan surat yang dikirim oleh Zwetta untuk Arthur.
"Sek-sekte pemuja iblis? Di-dia hendak mengumpulkan pengguna unique magic untuk membahas penyerangan pada iblis?!" mata Alphonso membulat.
"Kenapa ia tidak menuliskannya disuratku dan hanya mengatakan untuk mengumpulkan kesebelas pengguna unique magic?" tanya Alphonso bingung.
"Kalau ia memberitahumu secara jelas disurat, itu artinya dia mengambil sedikit resiko mengingat ia tidak tahu siapa saja yang akan melihat surat yang dia tulis untukmu. Putriku itu cerdas, ia tidak akan sebodoh itu menguraikan hal krusial secara detail di sepucuk surat pada raja..pastilah ia berencana memberitahukannya secara rinci pada kita semua saat kesebelas pengguna unique magic bertemu. Dan sekarang kau telah merusak rencananya. Rimmon sudah tahu isi surat itu dan dia pasti akan mengincar putriku sekarang.." terang Ardolph.
Lalu ia melihat ke arah Redgarh yang mematung dengan wajahnya yang seketika pucat pasi mendengar penjelasan Ardolph. "Kau sama sekali tidak pantas menjadi seorang Raja, keluargaku tidak akan sudi melayani calon Raja masa depan yang menusuk pedang pada bawahannya yang sudah setia berabad-abad."
"Paman aku.."
"Alphonso, kau membuatku sangat kecewa. Tindakanmu dan putramu telah membuat nyawa putriku dalam bahaya dan keluargaku yang sudah sangat lama mengabdi pada kerajaan telah terhina.
Selesai urusan Zwetta di Basteria, aku dan keluargaku akan meninggalkan Osgard. Lepaskan jabatan dan gelarku bila perlu. Generasi keluargaku berikutnya tidak akan melayani kerajaan lagi. Sebaiknya kau cepat cari pengganti." Ucap Duke seraya berjalan meninggalkan ruangan menyusul Arthur.
Sementara Alphonso dan Redgarh mematung dengan wajah yang sangat pucat dan tubuh yang bergetar mendengar ucapan Ardolph. Alphonso tahu jika Ardolph tidak pernah main-main dengan ucapannya. Hancur sudah hubungan persahabatannya dengan Ardolph hanya karena ucapan putranya yang tidak ia konfirmasi lebih dulu.
Alphonso jatuh terduduk dengan tangannya yang bergetar, sungguh ini kesalahan terbesar yang ia buat selama berkuasa. Kesalahan terbesarnya adalah telah mengacungkan tangan pada Zwetta, permata keluarga Luksemburg.
Ia sangat ketakutan sekarang membayangkan dirinya akan memerintah tanpa Ardolph dan anak-anaknya yang sangat berbakat dan jenius. Mereka telah banyak berkontribusi pada kerajaan dan pengaruh mereka sangat besar.
__ADS_1
Bila mereka pergi, maka bisa dipastikan Kerajaan Magentia berada di ambang kehancuran. Ia pun segera berlari keluar menyusul Ardolph dan Arthur.
- To be continued