Destined To Be Empress

Destined To Be Empress
Chapter 13 - Oriel True Self II


__ADS_3

"Apa kau sudah gila Oriel? hanya karena perintah sesederhana itu kau memperlakukanku seperti ini?" tanyaku seraya menoleh kebelakang menatap tajam matanya.


"Gila nona? aku hanya tidak mau nona menjauhkanku dari orang yang ku cintai," ujarnya dengan tatapan dingin.


Aku berusaha menenangkan diriku. Dilihat dari segi posisi saat ini, aku tidak sedang berada dalam posisi yang menguntungkanku. Aku harus mencoba mengulur waktu hingga Goddard datang.


"Apa maksudmu? orang yang kau cintai? Goddard kah maksudmu?" tanyaku.


"Siapa lagi nona? tidak ada orang yang pantas menjadi rekannya untuk mengawalmu selain aku nona. Aku mau selalu bersama dia," ucapnya seraya menatapku dengan tatapan tajam.


"Itu masalahmu, jangan libatkan aku! Cepat lepaskan aku sekarang juga dasar kau psikopat gila!" teriakku.


“Apa maksudmu dengan psikopat gila nona? apa nona mau mati ditanganku sekarang juga?” tanya Oriel dengan tatapan mengintimidasi.


Oriel melepaskan sihir tanahnya dari kakiku dan ia mau membalikkan badanku menghadapnya. Ini kesempatan!


"Quera..." belum selesai kuucapkan mantra sihir Adasha yang membuatku tak terlihat, leherku dicengkramnya kuat.


“Apa yang mau nona lakukan? aku baru tahu nona bisa sedikit sihir ternyata. Tidak heran waktu itu nona bisa menemukan iblis-iblis yang menyamar menjadi pekerja dikediaman ini. Sungguh bakat yang luar biasa. Jadi sepertinya aku tidak bisa membiarkan nona membuka mulut lagi,” ucap Oriel seraya mengencangkan cengkramannya.


"Sakit sekaliii.. le..pas..kan.. aku..,"ujarku seraya berusaha melepaskan cengkramannya. Tapi usahaku tak membuahkan hasil. Dari segi kekuatan, ia jauh lebih kuat dariku.


Aku tak bisa bernapas, dadaku terasa sakit. Adasha segera keluar dari gua sihir miliknya dan langsung menggigit tangan Oriel dengan kencang.


Disaat yang bersamaan, Goddard masuk dan melihat dari arah pintu bahwa Oriel sedang mencekikku dan seekor naga kecil sedang menggigit tangannya. Dihempaskannya Adasha ke dinding.


Bergegas Goddard berlari mendekatiku, ia melihat bekas cekikan dileherku. Dihunuskannya pedang ke leher Oriel.


"Apa yang sudah kau lakukan hah?! apa kau sudah gila Oriel?!!!" tanya Goddard dengan raut wajah marah.


“Kapten, ini tidak seperti yang terlihat!” ujar Oriel seraya menggenggam lengan Goddard.


Goddard melepaskan tangan Oriel, tapi Oriel tetap berusaha mendekatinya untuk menjelaskan. Merasa terganggu, Goddard pun menghempaskan Oriel menggunakan sihir anginnya. Oriel terpental ke dinding sangat keras. Seketika itu juga Oriel pingsan.


Mendengar keributan dari kamarku, Duchess, Arthur, dan Halbert yang tengah berada di ruang makan segera bergegas menuju kamarku.


Saat mereka sampai, mereka sangat syok melihat aku tergeletak dilantai tak sadarkan diri.


"Elllllaaaaa!!!!" teriak Duchess.


"Aku akan segera panggilkan dokter Cliff kak Arthur," ucap Halbert sambil buru-buru berlari.


Adasha yang punggungnya terluka berusaha mendekati aku dan menjilat-jilati pipiku berharap aku untuk sadar. Duchess menggendongku dan Arthur menggendong Adasha yang terluka ke atas kasur. Arthur melihat bekas cekikan di leherku, darahnya mendidih. Ia mengepalkan dengan kuat kedua tangannya.


"Goddardd!!! siapa yang melakukan ini pada adikku?! apakah Oriel?! teriak Arthur dengan sangat keras senbari menunjuk Oriel yang tengah pingsan.

__ADS_1


Goddard menganggukkan kepala. Ia merasa sangat bersalah karena telah lalai menjagaku.


"Perempuan Jala**!!!!!" teriak Arthur.


"Grandy, bawa tali, cambuk dan air dingin ke ruang bawah tanah sekarang!!!" ucap Arthur dengan tatapan penuh amarah.


"Baik Tuan Muda Arthur," jawab Grandy.


"Ibu aku akan membawa Oriel ke ruang bawah tanah. Halbert akan segera datang bersama dengan dokter Cliff," ucap Arthur.


"Sial! kakakmu ini terlambat datang untuk melindungimu Jewel," sambung Arthur sambil mengepalkan kedua tangannya.


Duchess yang tengah menangis terisak hanya bisa menganggukan kepalanya.


"Goddard, Grandy, ikat dan bawa wanita itu ke ruang bawah tanah sekarang juga," perintah Arthur.


Goddard dan Grandy mengangkat Oriel ke ruang bawah tanah kediaman Luksemburg dan ia telah diikat dengan erat dikursi kayu.


"Bangunkan dia!" ucap Arthur pada Goddard.


Goddard menyiram Oriel dengan air yang sangat dingin.


“Kenapa kau melakukan hal itu pada Jewel?” tanya Arthur dengan tatapan sinis.


Oriel diam tak mengatakan satu patah kata pun.


****


Dokter Cliff dan Halbert berlari terburu-buru dan akhirnya tiba dikamarku.


"Cliff, cepat..cepat lihat kondisi anakku!" ujar Duchess sambil menarik tangan dokter Cliff.


"Baik nyonya, saya akan berusaha. Saya harus mengecek dulu keadaan nona," ujarnya.


Dokter Cliff memeriksaku, nafasku melemah. Ia segera memberikan kompresi pada jantungku. Setelah sepuluh menit memberikan kompresi pada dadaku. Nafasku mulai kembali menguat dan teratur.


"Nyonya, cepat bawakan teh hangat manis untuk nona," pinta dokter Cliff pada Duchess.


"Freya, cepat buatkan teh hangat manis untuk Ella," perintah Duchess.


"Baik nyonya, akan segera saya buatkan,"ucap Freya.


"Nafas nona sudah kembali teratur, sebentar lagi nona akan sadar. Nyonya tidak perlu khawatir," ucap dokter Cliff.


Mendengar perkataan dokter Cliff membuat Duchess dapat bernafas lega.

__ADS_1


"Terima kasih Cliff, terima kasih banyak," ucap Duchess seraya mengenggam tangan dokter Cliff dengan mata berkaca-kaca.


"Cliff, obati juga luka di punggung Adasha," sambung Duchess.


"I..ni.. na..ga nyonya?" tanya dokter Cliff dengan wajah terkejut seolah tidak percaya apa yang dilihatnya.


"Iya, ini Adasha, naga putriku. Hanya kami berlima, beberapa pasukan ksatria dan kau yang tahu tentang hal ini sekarang. Jangan disebarluaskan, atau kau akan menanggung akibatnya," ucap Duchess.


"Baik nyonya, saya hanya terkejut melihat naga Galaea bisa ada di kerajaan ini. Saya pikir mereka hanya sebuah legenda," ucap dokter Cliff.


****


Ayah, Stanley, Whitman beserta kelima belas pasukan white knight telah tiba. Tapi tidak ada yang menyambut kepulangan mereka.


"Selamat datang kembali tuan Duke dan tuan muda Stanley," ucap kesatria yang tengah berjaga didepan pintu utama seraya menundukkan kepala memberi hormat.


"Apa yang terjadi? dimana istri dan anak-anakku?" tanya Duke khawatir.


"Tidak mungkin ibu dan adik-adikku tak menyambut kami didepan, pasti ada sesuatu yang terjadi!" ucap Stanley dalam hati.


Stanley segera berlari ke arah kamar Zwetta. Setibanya ia disana, betapa terkejutnya ia melihat adik kecilnya itu tengah tak sadarkan diri. Ia berlari mendekati Duchess.


"Ibu, aku sudah pulang. Apa yang terjadi pada Ella dan kenapa Adasha juga terluka ibu? apa yang sebenarnya terjadi disini?" tanya Stanley bingung.


"Selamat datang kembali putraku," ucap Duchess sambil memeluk Stanley erat. Stanley tahu ibunya sedang menahan tangis.


"Tuan muda Stanley, biar saya saja yang menjelaskan apa yang terjadi pada nona Zwetta dan Adasha," ucap Fiona.


Fiona menceritakan apa yang terjadi pada Stanley. Setelah mendengar apa yang terjadi pada adiknya, ia tak percaya adik perempuannya itu harus mengalami perlakuan tak manusiawi seperti ini.


"Apa katamu Fiona? Oriel mencengkram leher Jewel?” tanya Stanley dengan raut wajah tak percaya.


“Benar tuan muda Stanley,” ujar Fiona.


“Beraninya dia berbuat seperti itu pada Jewel!" Ucap Stanley dengan tatapan penuh kemarahan seraya mengepalkan kedua tangannya.


"Dimana wanita itu sekarang? katakan padaku dimana dia?!" tanya Stanley dengan tatapan tajam.


"Ia berada diruang bawah tanah tuan muda Stanley. Tuan muda Arthur membawanya kesana," jawab Fiona.


“Aku sungguh tak menyangka dia akan melakukan hal sekejam ini pada Jewel, aku penasaran apa alasannya. Kalau ia tak bisa menjawab, biar kupotong tangannya!!!” ucap Stanley.


Stanley berjalan mendekat ke arahku, ia mengelus kepalaku dan memberikan kecupan pada keningku.


"Jewel, ini kak Stanley. Kakak sudah pulang, maaf kakak tidak ada disini untuk mencegah hal ini terjadi padamu tadi. Cepatlah sadar ya," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


- To be continued


__ADS_2