
Mendengar perkataannya, darahku mendidih rasanya. Kepalaku tertunduk menahan amarahku padanya, kukepalkan kedua tanganku dengan erat. Biar bagaimana pun ini wasiat dari Lydia agar aku dan Adasha berguru padanya, takkan kubiarkan dia menolakku sebagai muridnya. Aku menghela nafas panjang.
“Nasib.. nasib... kenapa kedua guru yang kutemui mempersulit aku begini sih?! Guruku Ava Maddison, sepertinya hari ini aku telah bertemu dengan calon guru yang lebih menyebalkan darimu. Andaikan kalian seperti Goddard yang mengajariku bela diri langsung tanpa keribetan, pasti akan lebih mudah!” gumamku dalam hati.
Ya sudahlah kalau Jimbo berpikir aku lemah, aku cukup menunjukkan padanya kekuatanku saja. Terlihat dari tubuhku keluar gumpalan air perak, refleks Jimbo mundur ke belakang menghindari terkena gumpalan itu. Aku mengangkat tanganku dan beberapa pisau sihir airku terbang dengan kecepatan tinggi kearah Jimbo.
*Sssrrreeettttttt *Syuuuuuttttttt
Jimbo terlambat menyadari seranganku, namun ia berhasil menghindar. Pipinya tergores sedikit oleh pisau sihirku. Dengan cepat aku melesat ke arah Jimbo dan kuarahkan pisau sihir airku pada lehernya.
Perbedaan tinggi yang signifikan, tak menghalangiku untuk menikam lehernya kapanpun aku mau. Kugunakan sihir airku sebagai sandaran kaki yang membuatku dapat bergerak bebas dan cepat menyesuaikan keadaanku.
“Jadi Master, apa kau masih berpikir aku lemah?”
Kutatap ia dengan mata intimidasi. Mata Jimbo terbelalak kaget, tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa gadis bangsawan kecil ini adalah seorang penyihir sekaligus petarung berkemampuan tinggi dengan usianya yang masih begitu muda.
“Bagaimana mungkin dia sudah mencapai level sihir warrior dan bergerak secepat ini? refleksnya sangat bagus, aku bahkan terlambat menyadari pergerakannya.” Batin Jimbo.
Tiba-tiba Jimbo mengambil gerakan mundur lalu dengan telapak tangan kanannya ia menembakkan sihir angin emas miliknya ke arahku. Spontan aku menghindari serangannya itu.
Aku mengumpat kesal, baru saja berada diatas angin dan yakin bisa membuat Jimbo menarik kata-katanya tentangku namun situasi tiba-tiba berbalik.
Kelemahan dari sihir airku adalah sihir angin. Keadaan diperparah dengan sihirnya yang sudah berada ditingkatan legend. Sebagai seorang penyihir air, aku menyadari betapa keadaan tidak berpihak padaku sekarang.
Namun masih ada satu cara, sebaiknya kugunakan ini sekarang juga, “Querra Raveillona Adasha!” teriakku. Seketika hawa keberadaanku pun menghilang, aku berlari lebih cepat berniat melayangkan satu tendangan ke wajahnya.
Tiba-tiba..
*Grabbbbbb
Jimbo menahan tendanganku, di genggamnya kakiku sekarang hingga aku berada dalam posisi badan terbalik. Genggamannya begitu kuat, membuatku merintih kesakitan.
Anehnya, ia melepaskan genggamannya itu dan seketika aku terjatuh. Namun aku segera memutar balikkan posisi kepala dan kakiku ke posisi normal hingga aku mendarat dengan berdiri sempurna.
__ADS_1
“Release!”
Tiba-tiba Jimbo tertawa terbahak-bahak.
“Luar biasa! Kau lolos jadi muridku Zwetta.”
Aku terheran-heran dengan perubahan sikapnya yang drastis itu hingga mengangakan mulutku tak percaya mendengar kalau dia menerimaku menjadi muridnya.
“Apa kau terkejut Zwetta?!” tanya Jimbo.
“Avras kau lihat, kemampuan berlakonku sudah semakin bagus sampai-sampai aku berhasil menipu Zwetta.”
Bisa-bisanya dia bercanda disaat seharusnya ia menanggapi aku dengan serius. Lydia apa kau benar-benar memintaku harus berguru pada seseorang seperti ini?! Arghhh! Dia sangat menyebalkan..
“Saking terkejutnya, saya jadi dongkol sampai ke ubun-ubun. Lebih baik saya membekukan master saja dengan menggunakan sihir Adasha.” Ucapku sambil mengepalkan kedua tanganku erat menahan amukan amarah dalam hati yang berkecamuk.
“Hahaha.. maaf ya Zwetta. Kalau tidak begini aku tidak bisa melihat kau orangnya seperti apa. Selain itu aku harus mengukur kemampuan sihir dan bela dirimu. Ternyata kemampuanmu melebihi harapanku,” terang Jimbo.
Aku memalingkan wajahku dari Jimbo, rasa kesalku tidak bisa hilang semudah kata maaf yang terucap dari mulutnya itu. Sudahlah aku tak mau menghabiskan waktuku berkutat seputar sikap kekanakan guruku yang satu ini. Sekarang aku harus fokus untuk cepat-cepat menjadi penyihir naga.
"Terima kasih sudah menerima saya menjadi murid Master, mohon bantuan untuk kedepannya." Ucapku seraya menundukkan kepalaku memberi hormat.
Jimbo tersenyum lebar sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Jadi kapan kita akan mulai latihan Master?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Kita berdua akan berlatih mulai besok.” Jawab Jimbo.
“Baiklah Master, kalau begitu saya harus mengabari kakak saya dulu.” Ucapku.
“Selama kau berlatih bersamaku, aku tidak memperbolehkan kau diganggu oleh siapapun termasuk keluargamu Zwetta. Kakakmu harus pergi dari kuil naga Galaea hari ini juga karena besok kita akan mulai latihan,” perintahnya.
“Tapi kenapa Master? Kakakku tidak akan menganggu latihan kita, ia juga sibuk dengan pekerjaannya.”
__ADS_1
“Sudah ketentuannya seperti itu. Pelatihan kita akan sangat berat, kau yakin kakakmu itu akan tinggal diam saja melihat kau akan ditempa habis-habisan disini?” tanya Jimbo.
“Kalau kau tidak sanggup melakukannya, sebaiknya kau urungkan saja niatmu untuk berlatih menjadi penyihir naga,” tambahnya lagi.
Setelah itu, Jimbo pergi meninggalkan aula kuil.
"Nona, jangan ambil hati perkataan Master Jimbo. Beliau hanya memikirkan yang terbaik untuk anda kedepannya." Ucap Avras.
Aku menganggukkan kepalaku dan berjalan pergi menemui Arthur. Kusampaikan mandat Jimbo padanya. Sesuai dugaanku, Arthur tidak bisa menerimanya. Ia bahkan berniat untuk bertemu Jimbo membicarakan hal ini.
Aku berusaha meyakinkannya berjam-jam bahwa aku akan baik-baik saja. Adasha juga membantuku meyakinkan Arthur dengan mengatakan bahwa ia akan menjagaku.
Pada akhirnya dengan berat hati, Arthur pun mengizinkan aku fokus berlatih sendirian di kuil naga Galaea dengan catatan aku wajib mengirimkan surat setiap hari ke kediaman Luksemburg.
Sehari saja aku tidak mengirimkan, ia mengatakan akan datang bersama ayah entah diizinkan oleh Jimbo atau tidak. Bila perlu mereka akan mendobrak masuk jika sampai dihalangi. Aku pun menyetujui persyaratan dari Arthur.
Sebelum Arthur pulang kami berpelukan lama, tentu aku menangis dalam pelukannya. Momen ini sama dengan saat-saat dimana aku harus mengantar kepergian ketiga kakakku bersekolah jauh. Sejak mereka sudah sangat jarang dirumah, kami akan saling berkirim surat menggunakan merpati teleportasi.
"Jewel, simpan ini baik-baik. Ayah berpesan padaku bila akhirnya aku tak bisa menemanimu berlatih disini, aku harus memberikan kalung permata Emerald ini padamu. Mantra aktivasinya Luksemburg. Pastikan kau menyimpannya baik-baik ya," Ucap Arthur.
Ia memelukku dengan erat dan menciumi keningku terakhir sebelum akhirnya ia pergi diantar oleh Ren.
"Aku akan sangat merindukanmu kak! sampaikan salamku pada ayah, ibu dan kak Stanley dirumah kak Arthur," pintaku.
"Akan kakak sampaikan salam mu. Rumah akan sangat sepi tanpamu, kakak akan selalu merindukanmu. Tolong jaga dirimu baik-baik, Kakak menyayangimu."
"Aku juga sayang kakak..huhuhuhu.." tangisku.
"Senang mendengarnya, kakak pergi dulu ya Jewel."
Arthur pun pergi diantar oleh Ren, dari sini tampak kereta kuda yang mereka gunakan semakin bergerak cepat hingga mulai tak terlihat.
"Till we meet again brother.."
__ADS_1
- To Be Continued