
*Kkkkkyyyyyaaaaaaa
Zwetta berteriak saat melihat seseorang dengan kain hitam yang menutupi separuh wajahnya. Ia mengira bahwa orang yang dilihatnya itu adalah hantu. Sontak Zwetta berteriak hingga menggema satu ruangan.
“Berisik..” ucap suara itu yang sepertinya terganggu. Dari responnya, Zwetta berpikir sepertinya suara itu adalah suara seorang anak laki-laki. Tiba-tiba, muncul dua lingkaran kecil sinar kuning mengarah pada Zwetta.
“Hoo..gadis kecil yang tidak biasa..” ucapnya lagi.
“Apa kau hantu anak kecil yang gentayangan disini?” tanya Zwetta polos. Tidak heran baginya jika disini terdapat hantu bergentayangan. Saking banyaknya mayat yang bergelimpangan di sekitar kuil naga odren ini.
“Berhenti menyebutku hantu! Aku bukan hantu!” celetuknya.
Zwetta pun menghela nafas lega mendengar ucapannya.
“Apa kau pengikut sekte terkutuk itu?” tanyanya dingin.
Zwetta menaikkan sebelah alisnya. “Kalau maksudmu sekte pemuja iblis, tentu saja bukan.”
“Bagus, cepat lepaskan aku!”
Mendengar ucapannya, Zwetta mendengus kesal.
“Kalau begitu caramu meminta tolong, takkan ada yang mau membantumu,” ketus Zwetta.
“……………………….”
Zwetta yang sudah mendapat jawaban kalau dia bukan hantu pun tidak begitu was-was lagi. Ia pun berjalan mendekat untuk melihat asal suara itu dari dekat.
Dan ia melihat seorang berjubah hitam dengan kain hitam yang menutupi wajahnya sebatas hidung saja. Diatas kepalanya berdiri seorang burung hantu yang memiliki manik berwarna kuning.
Ohh jadi lingkaran kecil sinar kuning itu berasal dari burung hantu ini?
Melihat penampilannya membuat Zwetta menatapnya tajam. Ia mengeluarkan water blade dan mendekatkannya pada leher orang itu.
“Kau bertanya padaku apakah aku bagian dari sekte pemuja iblis jahan** itu, tapi sepertinya kaulah bagian dari mereka,” ucap Zwetta menyeringai.
“Aku bukan bagian dari orang-orang bejat itu,” jawabnya sedikit berteriak.
“Dan darimana aku bisa yakin ucapanmu bukan suatu kebohongan?” tanya Zwetta lagi.
Sudut bibir orang itu terangkat mendengar pertanyaan Zwetta. “Hahahahaha.. justru karena aku menolak menjadi bagian dari mereka, makanya aku terpasung dan disiksa disini setiap hari!!!” ujarnya dengan nada penuh amarah.
Mata Zwetta terbelalak mendengar penuturannya, ia segera menghilangkan sihir water bladenya. Zwetta berjongkok lalu mengambil tangannya untuk memeriksa kondisinya. Ia ingin tahu apakah orang berjubah hitam ini berbohong padanya atau tidak.
“Euch..” rintihnya.
Zwetta membuka gulungan jubah hitamnya dan disana terdapat luka yang sudah bernanah bahkan ada belatungnya. Seketika bau busuk menyeruak dan Zwetta segera menutup hidungnya.
“Sial sekali kau,” ucap Zwetta prihatin.
“Sama halnya dirimu yang harus melihat dan mencium bau busuk dari luka mengerikan ini,” jawabnya menyeringai.
__ADS_1
“Helarenum Heal!” ucap Zwetta seraya mengarahkan tangannya pada luka mengaga lebar orang itu. Orang itu merintih kesakitan dan menggelepar berusaha menghindari sihir penyembuh Zwetta.
“Pengawal bayangan, bantu aku menahannya.”
“Baik, Tuan Putri.”
Satu jam berlalu dan perlahan luka itu mulai menutup dan setengah mengering.
“Tidak buruk, kau cukup hebat..” pujinya dengan keringat bercucuran dan nafas terengah-engah. Melihat orang ini masih bisa sadar setelah melalui proses pengobatan yang menyakitkan, Zwetta tahu dia bukan orang sembarangan.
Zwetta menekan sedikit lukanya yang baru saja mengering karena kesal mendengar ucapannya, membuat orang itu sedikit menjerit.
“Kau..”
“Apa?!”
“Cih! Kekanakan sekali kau ini..”
Zwetta mengoyak bajunya dan mengikatnya pada luka-luka ditubuhnya yang masih setengah mengering dengan kencang.
“Awwww.. kau.. bisa-bisanya melakukan ini pada orang yang sedang terluka?” protesnya.
“Aku hanya melakukannya pada orang terluka yang banyak bicara. Lagian katamu sendiri aku kekanakan!” jawab Zwetta dengan tersenyum paksa.
Orang itu tertawa mendengar perkataan Zwetta.
“Umm.. apa kepalamu juga terluka?”
Tawanya pun berhenti dan ia langsung memasang wajah datar lagi.
“Bisa tolong lepaskan aku?”
Mendengar pertanyaannya, Zwetta tampak menimbang-nimbang beberapa hal sebelum menganggukan kepalanya.
“Ya, aku akan membebaskanmu dengan satu syarat.”
Orang itu langsung menundukkan kepalanya, ia mulai berpikir pastilah Zwetta sama seperti orang-orang lain yang mendekatinya hanya untuk memanfaatkan dirinya.
Zwetta memang belum tahu kekuatan yang ia miliki. Tapi saat ia sudah tahu, ia pasti akan menjadi pesuruhnya. Saat ia masih tenggelam dalam pikirannya, Zwetta kembali melanjutkan pembicaraannya.
“Lakukan magic swear denganku dan bersumpahlah kalau kau tidak berpihak dan tidak akan pernah berpihak pada iblis kekaisaran demonic, sekte pemuja iblis dan rencana mereka untuk membinasakan manusia sampai kapanpun,” pinta Zwetta.
Magic Swear adalah sumpah yang terjalin antara dua pengguna sihir, dimana pihak yang membuat sumpah akan mati oleh racun jika kedapatan melanggar sumpah yang dibuatnya pada seseorang.
Mata orang itu membola mendengar syarat yang diajukan Zwetta.
“Ha-hanya itu? kau-kau tidak memintaku untuk menjadi budak atau pengikutmu?” tanyanya tak percaya.
“Tidak, memangnya kenapa?” tanya balik Zwetta. Orang itu terdiam sejenak sebelum tiba-tiba tersenyum lebar.
“Baik, ayo lakukan magic swear.” Ucapnya yakin.
“Langsung mulai saja.”
“Umm.. siapa namamu?” tanya orang itu penasaran.
__ADS_1
“Namaku, Zwetta Ellaria Luksemburg..”
Didalam penutup wajahnya, mata orang itu terbelalak kaget saat mendengar nama Zwetta.
Ia sedikit tersenyum saat berseru, “Magic Swear!!! Atas nama Dewa Agung Yeshua, aku, Megion Pernomacia bersumpah pada Zwetta Ellaria Luksemburg, bahwa aku tidak berpihak dan tidak akan pernah berpihak pada iblis kekaisaran demonic, sekte pemuja iblis dan rencana mereka untuk membinasakan manusia sampai kapanpun. SEALED!!!”
Terbentuklah lingkaran magis berwarna ungu tua yang bersinar dibawah dudukan orang yang bernama Megion Pernomacia itu. Zwetta menatap lebar tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
“Kau..”
“Tidak mungkin..”
“Tidak mungkin kau satu dari Necromancer bersaudara yang telah menghilang dari irefria saat perang antar kerajaan dulu bukan?” tanya Zwetta dengan mata bergemetar.
Sudut bibir Megion terangkat setelah melihat reaksi Zwetta. Necromancer merupakan penyihir yang memiliki berbagai mantera untuk menghidupkan kembali tubuh dan jiwa yang sudah mati hingga mengontrol pasukan kematian tersebut untuk menyerang para musuhnya.
Bahkan seorang Necromancer kerap dihubung-hubungkan dengan mayat, kematian, dan ritual gelap. Di antara para penyihir, sihir Necromancer dianggap sebagai yang paling terlarang untuk dipelajari.
Necromancer biasanya menghidupkan kembali mayat-mayat yang sudah membusuk untuk melindungi dirinya. Tak hanya manusia, Necromancer level tinggi juga bisa mengontrol mayat dari berbagai moster kuat seperti Naga dan Hydra.
"Menurutmu?" tanya Megion menyeringai. Mata Zwetta masih bergemetar memandangnya, bahkan mulutnya sedikit menganga. Diceritakan dalam buku sejarah Kerajaan Magentia, bahwa necromancer bersaudara adalah yang tersisa dari Kerajaan Demovilish di benua Pern.
Kerajaan itu sudah runtuh akibat diserang oleh Kekaisaran Demonic sebelum perang manusia dan iblis dua ribu tahun lalu. Dan manusia bisa menang adalah berkat necromancer bersaudara yang menggunakan sihir mereka membentuk pasukan dari mayat, tulang belulang monster dan manusia.
Namun setelah perang selesai, necromancer bersaudara menghilang tanpa jejak. "Mau sampai kapan kau mengangakan mulutmu itu?" ucap Megion yang memecah lamunan Zwetta.
"Tapi bagaimana bisa?" tanya Zwetta yang masih linglung. Semua ini terlalu sulit untuk dipercaya. Megion menghiraukan pertanyaan Zwetta dengan menjawab, "Cepat lepaskan aku! Aku sudah melakukan magic swear sesuai permintaanmu."
Zwetta meminta pengawal bayangan untuk melepaskan rantai yang membelunggu tangan dan kaki Megion. Megion menggerakkan pergelangan tangan dan kakinya yang kaku setelah lama di pasung dalam penjara.
Kemudian Megion merapalkan mantra kuno yang asing bagi Zwetta. Dari bawah kakinya muncul sinar hijau tua yang menyilaukan.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Zwetta penasaran.
"Apalagi? tentu saja menyembuhkan diriku sepenuhnya," ujarnya santai.
"Huh? bukankah hanya penyihir air yang bisa melakukan sihir penyembuh?" tanya Zwetta penasaran.
"Ohh ini sihir penyembuh adikku.."
"Necromancer Staricht maksudmu?"
"Apa dunia mencatatnya sebagai necromancer?!ckckckckck.. sungguh penghinaan terbesar bagi Staricht. Dia adalah penyihir cahaya tingkat sage."
"Ting-tingkat sage katamu? bukannya sihir paling kuat hanya sampai level legend?" ucap Zwetta yang serasa hampir terkena serangan jantung mendengar penuturannya. Jadi ilmu yang selama ini ia serap, tidak sepenuhnya benar?!
"Wajar bila level diatas legend itu dirahasiakan. Kekuatan seorang penyihir sage bisa menghancurkan kerajaan seorang diri. Terlalu menakutkan bila banyak yang menjadi sage. Dan bila kemampuan itu disalahgunakan, dunia ini bisa tenggelam dalam perang tak berkesudahan bahkan hancur. Jalan menjadi sage pun sangat sulit, adikku saja harus meregang nyawa berkali-kali untuk mencapai tingkat itu. Makanya para kaisar dan raja terdahulu kemungkinan hanya mengungkapkan standar kemampuan sihir seseorang hanya mencapai tingkat legend saja. Tunggu dulu, kenapa aku jadi menjelaskan panjang lebar padamu?!"
Zwetta sungguh tak bisa berbicara apa-apa, semua penjelasan ini terlalu rumit baginya untuk bisa memprosesnya dalam waktu bersamaan. Ia terdiam dan melangkah keluar menuju tangga. Pengawal bayangan dan Megion menyusulnya di belakang. Zwetta pun keluar dari kuil naga odren dan berjalan menuju lokasi peristirahatan mereka.
"Hei! ucapkan sesuatu! kenapa kau diam saja?" tanya Megion yang bingung melihat Zwetta yang mendadak diam, padahal tadi ia masih banyak berbicara.
Zwetta berhenti dan menatap Megion datar. "Aku sudah membebaskanmu, lalu kenapa kau masih disini?"
- To be continued
__ADS_1