
Dikamar tamu, Halbert hanya duduk membungkam usai melihat dan mendengar dengan mata kepalanya sendiri perangai asli Beatrice yang membuatnya tambah muak.
“Suamiku, kenapa kau diam saja?” tanya Beatrice.
“Kau terlalu banyak bicara dan bertingkah, dan aku tidak menyukainya!” seru Halbert.
“Halbert, sebenarnya aku harus bersikap bagaimana supaya kau bisa menerimaku? Aku sungguh sudah Lelah! Aku benar-benar tidak tahu harus menyikapimu seperti apa lagi.. huhuhuhuhuhu.” Seru Beatrice sambil terisak menangis.
“Jadi caramu untuk membuatku menerimamu adalah dengan hendak menampar adikku? Dengar! sedikit saja adikku terluka karna tamparanmu tadi, kau mati!”seru Halbert dengan menatap tajam Beatrice. Ia beranjak dari duduknya pergi meninggalkan ruangan.
Tangisan Beatrice semakin kencang mendengar kata-kata Halbert yang menusuk hatinya itu.
“Apa kau tidak peduli dengan anak dalam kandunganku? Jika aku mati maka dia juga akan mati?!” pekik Beatrice.
Mendengar perkataannya itu, langkah kaki Halbert terhenti sejenak, pertanyaan Beatrice menyadarkan dia kalau kata-katanya memang sudah keterlaluan. Jauh dalam lubuk hatinya, Halbert menyayangi calon bayinya itu.
“Berisitirahatlah!” ucap Halbert singkat, setelah itu ia berjalan pergi meninggalkan kamar tamu
Beberapa saat kemudian, setelah Beatrice memastikan Halbert telah pergi. Ia berhenti menangis.
Awas saja kalian! Terutama kau Halbert! akan kubuat kau menyesal telah memperlakukanku seperti ini, kau akan kubuat tak berkutik di hadapan ayah dan ibumu! Ucap Beatrice dalam hati seraya menyeringai.
Halbert keluar dari kamar itu dengan perasaan begitu kesal, ia bingung. Demi Dewa Agung Yeshua, rasanya Halbert sudah sangat tidak betah bersama Beatrice. Halbert kembali pergi ke halaman belakang kuil untuk mendinginkan kepalanya.
______________________________________
Pagi ini, aku, Arthur dan Halbert berpamitan kepada Jimbo beserta seluruh pendeta suci kuil naga Galaea. Kini kami sudah berada dalam kereta kuda menuju ke kediaman Luksemburg.
Sepanjang perjalanan suasana amatlah canggung bagi Beatrice ditengah kami bertiga, dia lebih banyak diam mendengar obrolanku bersama Arthur dan Halbert.
Malamnya, kereta kuda memasuki pintu gerbang utama keluarga Luksemburg yang sangat besar. Aku melihat sekeliling. Taman yang kulewati terang berpendar, terkena lampu-lampu taman.
Aku bisa melihat para pelayan, kesatria dan pengawal keluarga kami berdiri siaga. Namun pandanganku tertuju pada ketiga orang yang paling aku rindukan tengah berdiri di depan pintu masuk rumahku, aku tersenyum lebar melihat mereka dari dalam.
Ketika pintu kereta kuda, aku langsung turun dan berlari memeluk ayah dan ibuku dengan erat secara bersamaan. “Ayah! Ibu! Aku pulang!” ucapku.
“Ella anakku sayang, selamat datang kembali!” ucap Duke sambil memeluk erat putri semata wayangnya.
“Selamat datang kembali sayang, ibu merindukanmu!” kata Duchess yang sudah terisak menangis menyambut pelukanku.
Aku melepas pelukanku dan kutatap wajah mereka yang paling kusayangi didunia ini, aku mengecup pipi keduanya. “Aku sangat rindu kalian ayah, ibu!” balasku seraya tersenyum lebar.
Setelah itu, pandanganku tertuju pada Stanley yang menatapku dengan mata berkaca-kaca, “Jewel!” panggilnya. Dia berjalan mendekati dan langsung memelukku erat, aku membalas pelukannya, “kak Stanley!” panggilku senang.
__ADS_1
Sebuah pertemuan haru biru terjadi selama beberapa saat sampai ayah, ibu dan Stanley melihat seorang gadis berbadan dua keluar dari kereta kuda. Mata mereka bertiga terbelalak kaget, “Siapa dia?” tanya Duchess spontan.
“Salam Tuan dan Nyonya Luksemburg, saya Putri Ketiga Kerajaan Feanor, Beatrice Hillary, istrinya Halbert, suatu kehormatan bagi saya dapat berjumpa dengan anda,” Ucap Beatrice sopan.
“APA?!” teriak Duke, Duchess, dan Stanley bersamaan. Duchess menatap Halbert dan kemudian memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri lalu tiba-tiba ia jatuh pingsan.
“Sapphira!”
“IBU!!!” teriak kami berempat.
Perempuan sialan! kesehatan ibu sedang menurun akhir-akhir ini tapi dia malah...cihh! batin Arthur.
“Stephen, cepat panggilkan dokter Cliff!” perintah ayah. Stephen adalah asisten kepala kediaman Luksemburg yang baru pengganti Morgan.
“Baik, Tuan.”
Stanley segera menggendong Duchess ke kamar. Duke beserta ketiga putranya segera menuju ke kamar Duchess. Sementara aku mendekati Beatrice dan kutatap tajam dirinya.
“Kenapa kau menatapku begitu?” tanyanya sinis.
Aku tahu dia sengaja mengucapkan kata ‘istri Halbert’ untuk mengklaim dirinya sejak awal dihadapan kedua orangtuaku.
“Bukankah sudah kami bilang tadi agar anda memperkenalkan diri biasa saja dulu didepan ayah dan ibu?” tanyaku seraya menatap tajam dirinya.
Oh my God, shameless woman! hinaku dalam hati.
Aku tersenyum tipis melihat Beatrice dan berjalan mendekatinya. “Apabila sampai terjadi sesuatu pada ibuku, aku sendiri yang akan menghabisi nyawamu dengan kedua tanganku. Lagipula sebentar lagi kau bukanlah lagi istri Halbert,” bisikku.
Mata Beatrice melotot mendengar perkataanku.
“Apa maksud dia? apa yang dia rencanakan?” batin Beatrice.
“Nina, bawa Tuan Putri Beatrice ke kamar tamu,” perintahku.
“Baik, Nona.”
Aku bergegas berlari menuju kamar Duchess dan kulihat disana ayah dan ketiga saudaraku sedang berada di tepi ranjang bersama dokter Cliff menantinya membuka kedua kelopak matanya dengan cemas.
“Dokter Cliff, bagaimana kondisi ibu?” tanyaku cemas.
“Duchess terkena serangan jantung ringan Nona, beliau harus dirawat intensif selama beberapa hari,” terangnya.
Aku mendekati Duchess dan kuarahkan tanganku ke dadanya. “Helarenum Heal!”
__ADS_1
Sihir air berwarna hijau terbentuk di kedua telapak tanganku dan meresap masuk kedalam jantung Duchess membuat ia sedikit mengerang kesakitan. Duke, Dokter Cliff, dan ketiga saudaraku tampak terkejut melihat ini.
“Jewel, apa yang kau lakukan pada ibu?” tanya Stanley yang kaget melihat aku melakukan sihir pada Duchess.
Sihir pengobatan aku dapatkan saat aku sudah berada di level sihir legend, jadi Duke dan ketiga saudaraku tidak tahu jika aku bisa sihir pengobatan.
“Aku mengobati ibu kak Stanley,” jawabku dengan peluh yang mulai bercucuran dari pelipisku. Sihir ini memakan banyak energi aliran sihir di jantungku.
Tak berapa lama kemudian, Duchess mulai tersadarkan.
“Ella,” panggilnya.
“Iya ibu, aku disini. Ibu sudah baik-baik saja sekarang,” jawabku sambil mengenggam erat tangannya.
Duchess mengenggam erat tanganku, kulihat air mata mengalir dari pelupuknya.
“Ibu! Syukurlah ibu sudah baik-baik saja,” ucap Halbert sambil memengangi tangan ibu. Tapi Ibu memalingkan wajahnya dari Halbert dan menepis tangannya. “Jangan temui ibu!” ucapnya.
"Ibuu.. maafkan aku.. aku bisa jelaskan ibu,"
"Keluarlah, ibu tidak mau melihatmu," pintanya dengan bergetar.
"Ibu, aku...."
"KELUAR!!!" teriak Duchess.
Kami semua bagai tersambar petir mendengar teriakan Duchess, seumur hidup kami empat bersaudara belum pernah melihat ibu kami berteriak seperti ini. Semarah apapun dia pada kami, tak pernah sekalipun ia meneriaki kami.
"Cliff, kau boleh pergi sekarang. Stephen akan mengantarmu pulang!" perintah ayah.
"Baik, Tuan Duke."
Halbert tersungkur ditepi ranjang, ia menangis tersedu-sedu dan berusaha mengambil kembali tangan ibu. "Ibu kumohon maafkan aku, tolong dengarkan penjelasanku, ini tidak seperti yang ibu kira.."
"Ardolph.." panggil Duchess. Duke mendekatinya, "Iya Sapphira, aku disini," sahutnya. Seketika Duchess menangis terisak dalam pelukan ayah.
Duke memeluknya erat dan mengelus punggung Duchess untuk menghiburnya.
Stanley berjalan mendekati Halbert, "Halbert kita keluar dulu sekarang. Biarkan ibu menenangkan diri terlebih dahulu," ucapnya sambil menepuk pundak Halbert.
Dengan sempoyongan Halbert berjalan keluar kamar dibopong Stanley. Sementara aku dan Arthur tetap dikamar ikut menemani dan menghiburnya.
- To be continued
__ADS_1