Destined To Be Empress

Destined To Be Empress
Chapter 19 - Beast Man


__ADS_3


[Di ruang kerja Duke]


H-10 jelang pembunuhan Mamon pada keluarga kami, aku bersama dengan ketiga kakakku tengah menuju ruangan Duke untuk menanyakan tentang rencananya. Dalam perjalanan kami menuju kesana, ternyata kami berpapasan dengan Duke yang tengah bergegas menuju ruangannya juga.


Wajahnya memancarkan aura kegembiraan, dengan terburu-buru ia berjalan mendekati kami.


“Ada apa ayah? kenapa ayah terlihat terburu-buru?” tanya Arthur.


“Kalian bertiga bergegaslah kedalam ruangan kerja ayah, ada seseorang yang menantikan kehadiran kalian bertiga,” ujar Duke seraya diambilnya aku dari dalam pelukan Arthur.


“Ada apa sebenarnya ayah? tak biasanya ayah berlaku seperti ini?” tanya Halbert curiga.


Ketiga kakakku yang sangat penasaran tentang siapa yang dibicarakan oleh Duke itu, dengan cepat berlari menuju kedalam ruangan kerjanya.


“Pa.. man.. Ephraim, bagai..mana.. bisa pa..man ada di..sini?” tanya Stanley yang begitu terkejut.


“Hei Stanley! Kau sudah besar ya, perasaan saat bertemu denganmu terakhir, kau masih setinggi betis ayahmu. Hahahahaha..,” ucap pria itu seraya mengelus kepala Stanley.


“Lama tidak berjumpa paman Ephraim,” ucap Arthur seraya menundukkan kepala memberi hormat.


“Arthurr! ya ampun, kau juga sudah semakin bertambah tinggi!”


“Salam hormat paman Ephraim, apa kabar paman?” tanya Halbert.


“Halbert! kabar paman tentu saja sangat baik, apalagi setelah bertemu dengan kalian bertiga. Hahahahaha..” ujar pria itu seraya merangkul Halbert.


Dalam pelukan Duke, kulihat seorang pria dengan rambut warna putihnya yang indah. Wajahnya ditutupi bulu halus berwarna putih, mata kuningnya yang menawan bak cahaya bulan tengah berbincang-bincang akrab dengan Stanley, Arthur, dan Halbert.



Baru pertama kali aku lihat ketiga kakakku seakrab itu dengan seseorang selain Duke.


“Pangeran Ephraim, selamat datang dikediaman keluarga Luksemburg. Maafkan saya pangeran, seharusnya tadi saya yang mengantarkan pangeran kedalam ruangan kerja saya.


Tadi saya baru selesai menghadiri rapat militer untuk persiapan saya ke utara,” ucap Duke seraya menunduk memberikan hormat.


“Ardolph! tidak perlu seformal itu padaku, kau jadi membuatku canggung didepan ketiga anakmu,” ucap pria itu.


"Baiklah Ephraim, lama tidak berjumpa sobat!!bagaimana dengan hibernasimu?" tanya Duke.


"Sudah lama sekali aku tidak melihatmu, terakhir tiga tahun lalu aku mengunjungimu dan kak Sapphira yang tengah mengandung. Hibernasiku menyenangkan Ardolph, tubuhku sekarang penuh energi rasanya setelah tidur panjang," jawab pria itu seraya tertawa tergelak-gelak.


“Ehh, siapa gadis kecil ini Ardolph?” tanyanya penasaran.


“Dia putri bungsuku Ephraim, namanya Zwetta,” ucap Duke.


“Salam pangeran Ephraim, saya putri keluarga Luksemburg. Nama saya Zwetta Ellaria Luksemburg,” ucapku seraya menundukkan kepalaku memberi hormat.


“Zwetta ya? nama yang indah, sangat cocok untuk dirimu yang cantik ini.”


“Terima kasih atas pujiannya pangeran,” jawabku seraya tersenyum.

__ADS_1


“Berapa tahun usiamu Zwetta?”


“Saya berusia dua tahun lebih saat ini pangeran,” jawabku.


“Tunggu Zwetta, sebaiknya kau tidak memanggilku pangeran lagi. Panggil saja aku paman Ephraim seperti ketiga kakakmu,” ujar pria itu seraya tersenyum padaku.


“Baiklah kalau pangeran...eh, maksud saya paman Ephraim meminta demikian, saya akan melakukannya.”


“Hahahaha…kau gadis yang sangat pengertian dan sopan, apa boleh paman menggendongmu Zwetta?” tanyanya dengan membuka kedua tangannya ke arahku.


Duke langsung menepis kedua tangan paman Ephraim dengan kedua tangannya. Seketika sorot matanya berubah dari yang tadinya senang menjadi sorot mata terganggu.


“Ardolph, apa-apaan kau ini? Aku hanya mau menggendong Zwetta sebentar.”


“Tidak bisa pangeran, mohon pangeran tidak seenaknya menyentuh putriku ini,” jawab Duke.


“Hah! tak bisa kupercaya aku bisa melihat sisimu yang seperti ini Ardolph. Dulu kau tidak seperti ini pada ketiga putramu,” ucap paman Ephraim dengan raut wajah kesal.


“Zwetta, bagaimana kau bisa menaklukan si monster api ini? Beritahu rahasianya pada paman yah.. paman akan memberikanmu permen, gaun dan perhiasan yang sangat banyak apabila Zwetta memberitahukannya,” tanya paman Ephraim.


Ketiga kakakku lalu berdiri didepan Duke, tampak ketinganya melentangkan tangan mereka untuk menghadang paman Ephraim mendekat padaku.


“Ehem..ehem..paman Ephraim, mohon agar paman mengurungkan niat paman untuk menggendong Ella,” ucap Stanley.


“Untuk saat ini, hanya kami saja yang boleh menggendongnya,” ujar Arthur.


“Paman Ephraim, silahkan duduk disofa saja ya. Mari aku antarkan paman!” ucap Halbert seraya menarik tangan paman Ephraim dan membawanya duduk disofa ruang kerja Duke.


Seumur-umur Ephraim mengenal Ardolph dan ketiga anaknya, belum pernah ia melihat mereka berempat yang bertingkah protektif seperti ini. Perlakuan mereka ini malah semakin membuatnya penasaran dengan Zwetta.


“Ardolph, tadi kau bilang sedang rapat militer untuk pertempuranmu di utara. Pas sekali, aku juga berencana mengajakmu dan Raja Alphonso ke utara untuk reuni bersama Claimence.


Setelah lama aku berhibernasi, tentu saja aku merindukan sahabat-sahabat lamaku.


Bisa kau bayangkan perjalanan dari Beastera ke Magentia yang memakan waktu dua minggu itu Ardolph? Aku akan segera menemui raja Alphonso untuk mengajaknya ke utara juga.


Ini sudah kubawakan banyak oleh-oleh untuk kalian bertiga dan anak-anak kalian yang mana mereka sudah kuanggap seperti keponakan-keponakanku. Kau tidak usah khawatir, aku membawa kereta kudaku sendiri.Hahahahaha…” ungkapnya dengan bersemangat.


Ekspresi diwajah Duke yang tampak gembira tadi berubah menjadi sendu. Kepalanya tertunduk dan sepertinya ia tengah berpikir dalam.


“Eh Ardolph, kau kenapa? raut wajah yang seperti itu tidak asing bagiku tahu, katakan padaku apa yang menganggu pikiranmu,” tanya paman Ephraim.


Duke tidak memberikan jawaban sama sekali.


“Heii..Ada apa ini? katakanlah, jangan mengabaikanku Ardolph!”


Melihat muka Duke yang sepertinya tengah tenggelam dalam pikirannya, kuusap-usapkan tanganku kewajahnya.


Dilihatnya wajahku yang tengah tersenyum padanya, wajahnya yang muram tadi pun sedikit tersenyum melihatku.


“Biar aku saja yang mengatakannya pada paman Ephraim ayah,” ucap Stanley.


“Tidak Stanley, biar ayah saja. Terima kasih nak..”

__ADS_1


Duke menatap mata paman Ephraim yang tengah penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi.


“Claimence telah tewas.”


“Hahahahaha..kau ini jangan bercanda berlebihan! apa maksudmu kau ingin melihat apa Claimence baik-baik saja menjaga hutan utara Galaea?” tanya paman Ephraim.


Tak satupun kata terucap dari mulut ayahku.


“Ardolph, benar bukan?”


“Claimence telah tewas.”


"Apa maksudmu? jadi ini bukan candaan?"


Paman Ephraim terlihat sangat syok, kepalanya langsung tertunduk. Keadaan menjadi sangat hening, tiba-tiba ruangan kerja Duke bergetar kuat, semua benda-benda dalam ruangan satu per satu berjatuhan.


“Katakan padaku, siapa yang membunuhnya?” tanya paman Ephraim dengan tatapan seperti hewan buas yang tengah kelaparan. Pupil matanya berubah menjadi warna merah darah.


Seketika berdiri bulu romaku menatap wajahnya. Mata kuning bak bulan yang menawan tadi telah berubah menjadi mata yang haus darah. Ku genggam baju Duke dengan erat.


“Cukup Ephraim, kau membuat putriku ketakutan.”


Seketika getaran tadi berhenti dan matanya yang ganas itu kembali normal.


“Ayah, lebih baik kita menceritakan semuanya pada paman Ephraim,” ucap Arthur.


“Biarkan aku saja kakak yang menggantikan ayah menceritakannya pada paman Ephraim,” ucapku.


“Baiklah Jewel,” ucap Arthur.


[Selesai aku bercerita]


“Mungkin sulit bagi paman untuk mempercayai ucapanku ini, aku akan memperlihatkan pada paman naga kecilku. Adasha, keluarlah!”


Muncul Adasha dari cahaya berbentuk salju dari atas kepalaku.Terperangah paman Ephraim melihatnya.


“Na..ga su..ci.. Ga..la..ea,” ujarnya dengan terbata-bata.


“Paman Ephraim, perkenalkan ini Adasha."


“Zwe..tta.., kau pengguna sihir naga?” tanya paman Ephraim yang tengah terperangah..


“Sejak dulu, pengguna sihir naga yang terpilih memiliki sebuah syarat yang menjadikannya seorang beast master dari monster naga itu. Kau dipilih tetua naga Gale untuk menjadi manusia yang terikat dengan naga Galaea, naga suci.


Itu artinya kau harus memiliki kemurnian hati untuk terikat padanya. Tidak ada alasan bagiku meragukan ceritamu Zwetta. Tapi sekali lagi paman tanya, benarkah Claimence te..lah.. tewas se..perti yang naga itu bilang padamu?”


Kuanggukan kepalaku mengiyakan pertanyaannya. Paman diam seribu bahasa, pikirannya seolah teralihkan oleh sesuatu.


“Clai..mence, da..sar bo..doh! apa saja yang kau lakukan saat aku berhibernasi..hah?!sekarang..tiba-tiba saat aku telah membuat rencana reuni, aku mendengar dari Zwetta yang mengatakan kau sudah tewas..Ha..ha..”


“Ti..ti..tidak mung..kin.. Clai..men..ce..,” ucapnya dengam kedua mata yang ia tutupi dengan telapak tangan kanannya. Air mata jatuh perlahan dari kedua bola matanya, membuat kami yang diruangan ikut bersedih melihat kepiluan yang ia tengah rasakan saat ini.


Melihat diri paman Ephraim yang tengah merasa terpukul, Duke pergi membawanya ke kamar tamu untuk beristirahat.

__ADS_1


- To be continued


__ADS_2