
Kaisar mendengus kesal mendengar penolakan dari Elgant. "Apa maksudmu Elgant?!" tanya Kaisar dengan nada mulai meninggi.
"Emang dasar anak tidak tahu diri kau ini El! udah dikasih yang pertama milih Permaisuri malah nolak. Mau ayah panggilkan tabib buat dilihatin lukamu juga nolak, lalu apa sih maumu? belum cukup apa kau mempermalukan ayahanda dan kami semua dengan kondisimu yang menjijikan ini?" celetuk Aldiant.
"Belum puas kali dia mencoreng nama keluarga Kekaisaran, " sambung Belthrove.
Elgant terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya dia buka suara. "Ayahanda, aku menolak bukan karena diriku. Tapi aku memikirkan nasib dari calon Permaisuriku. Ayahanda lihat sendiri kondisiku bukan, aku tidak tahu kapan penyakitku akan sembuh. Kalaupun sembuh, aku tidak yakin tubuhku akan kembali normal. Malah aku yakin tetap akan ada bekas dari penyakitku ini. Aku terima kasih sama kebaikan ayahanda, tapi permintaanku sebagai hadiah adalah tolong jangan paksa salah satu dari Permaisuri itu untuk menikahiku dan menderita seumur hidupnya. Aku mohon ayahanda," pinta Elgant.
Kaisar terdiam beberapa saat menatap sendu Elgant. "Malang sekali nasibmu El," batinnya.
"Tidak bisa El. A-yah sudah berjanji pada ibu kalian akan mencarikan kalian masing-masing pasangan yang tepat. Lagipula kalian berlima sudah kepala dua semua, mau sampai kapan nunda nikah terus? ayah juga mau menimang cucu dan belum ada satupun dari kalian berlima yang memiliki keturunan, mau tunggu aku mati dulu baru kalian punya anak?!" ungkap Kaisar dengan dramatis.
"Ayahanda!" teriak semua Pangeran.
Elgant menghela napas panjang dan terlihat berpikir beberapa saat, "Ayahanda bisa mendapat cucu dari keempat saudaraku yang lain, ayah tahu cara ini ga akan berhasil buat aku tunduk pada perintah ayah kan? begini saja, tanyakanlah kepada para calon Permaisuri disudut sana, apa ada yang bersedia menjadi istriku atau tidak. Kalau tidak ada yang bersedia, ayah harus mengikhlaskan aku tidak menikah. Bagaimana?"
Kaisar menghela napas kasar, "kau memang keras kepala Elgant! tapi ayah mengerti maksud baikmu. Berarti akan ada satu putri yang akan ayah kembalikan ke keluarganya jika memang tidak ada yang bersedia menikahimu dan kau tahu itu akan mempermalukan keluarganya bukan? Lantas apa yang akan kau lakukan untuk itu?" tanya Kaisar.
"Aku akan menemaninya kembali dan memperlihatkan kondisiku pada keluarganya, dengan begitu dia dan keluarganya tidak akan malu, malahan bersyukur kali karena anaknya tidak menikah dengan pria penyakitan seperti aku ini ayahanda," jawab Elgant.
__ADS_1
"Ayahanda, aku setuju dengan ucapannya. Kasihan Putri yang akan menikah dengan orang cacat ini," ungkap Caeson.
"Syukur tahu diri juga kau ya," gumam Derreck.
Sementara duo Aldiant dan Belthrove tersenyum mengejek dan menyeringai disaat yang bersamaan. Sekali lagi Elgant hanya diam seribu bahasa. Namun terlihat ia mengepal erat tangannya. Aku kesal! ya aku kesal dengan keempat Pangeran lain yang terus nyinyirin Pangeran Elgant, bacot banget tuh mulut udah kayak mulut cewek aja.
Kalau dipikir-pikir lagi, aku beruntung banget punya Stanley, Arthur dan Halbert sebagai kakak karena mereka bertiga sangat menyayangiku. Terbesit memori saat aku sakit-sakitan dulu. Itu adalah momen berat yang aku alami, tapi aku punya keluargaku yang merawat dan selalu bersamaku. Sementara Elgant malah mendapat perlakuan tak menyenangkan seperti ini dari saudara-saudaranya. Aku ga bisa ngebayangin jika aku jadi dia, udahlah sakit parah tapi masih dihina. Miris aja ngelihatnya. Rasanya aku ingin jawab balik para Pangeran itu, gatal juga mulutku ini lihat si Elgant itu diam aja.
"Ya sudahlah kalau itu mau mu, ayah akan mengabulkannya Elgant."
"Terima kasih banyak ayahanda."
"Jika kedua putri yang pingsan tadi sudah sadar, bawa mereka kemari sekarang juga Ryan," perintah Kaisar.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Ryan pun masuk kembali kedalam aula istana dengan membawa kedua putri yang pingsan tadi. Kondisi mereka terlihat tidak baik, wajah mereka pucat pasi. "Para Putri, maafkan atas ketidaknyamanan ini. Kalian boleh menutup hidung jika tidak sanggup mencium bau busuk," ucap Kaisar dan kami berlima pun mengangguk.
Tak berapa lama kemudian, ia langsung bertanya padaku dan keempat putri lainnya, "Apa dari kalian berlima ada yang bersedia menikah dengan putra bungsuku, Pangeran Elgant Gakerley Chevalier?" tanya Kaisar.
Apa lebih baik aku diam saja karna mungkin ini kesempatanku untuk bisa pulang? Tapi tidak.. tidak.. tidak.. masih ada kemungkinan aku dipilih oleh para Pangeran lain dan menurutku mereka tidak lebih baik dari Pangeran Elgant. Dari cara mereka bicara saja sudah kelihatan karakter mereka seperti apa. Posisi para Pangeran sekarang memunggungi kami jauh didepan takhta Kaisar. Sementara kami para putri ada dipojokan kanan dekat vas bunga.
__ADS_1
Aku tatap punggung Elgant yang lebar dan bidang. Ia sangat tinggi, perkiraanku tingginya sekitar 180-an cm. Aku akui badannya bagus seperti aktor ataupun model. Kupikir ia punya pesonanya sendiri.
Shit! Sebenarnya apa yang terjadi dengan diriku? kok bisa-bisanya malah keterusan ngelihatin si Elgant terus daritadi. Baru aku sadari kalau daritadi isi otakku cuma mikirin nasib lelaki bernama Elgant ini. Aku ragu dan gelisah memikirkannya. Aku merutuki diri sendiri saat menyadari itu, "Kenapa kau begini Zwetta Ellaria Luksemburg? tak bisakah biasa saja melihatnya?"
Dan sialnya aku tak bisa berhenti memikirkan nasibnya. Aku tahu, mungkin aku iba dengan Pangeran Elgant. Iya, sebatas itu kupikir.
Lima belas menit berlalu namun belum ada satupun Putri yang menjawab bersedia. Raja menarik napas panjang sambil memijit-mijit pelipisnya.
Menurutku Kaisar adalah seorang ayah yang baik, kalau tidak ada yang bersedia menikahi Pangeran Elgant berarti pinangan Kekaisaran tidak ada yang menerima dan itu bisa saja dianggap sebagai penghinaan pada Kekaisaran.
Namun, Kaisar lebih memilih memenuhi permintaan Elgant yang memikirkan kedua belah pihak baik pihak Kekaisaran Moncerrat maupun pihak keluarga Putri yang tak jadi dipinang. Pusing juga jadi Kaisar, banyak hal yang mesti ia pikirkan disaat yang bersamaan.
Setelah cukup lama suasana hening dalam aula istana Kekaisaran, Kaisar mulai berbicara. "Baiklah kalau tidak ada, aku akan melanjutkannya ke.."
"Saya bersedia." Ucapku spontan. Semua pasang mata menatapku terkejut. "Apa putri ini gila?" aku yakin itu yang ada dalam benak mereka dan mungkin juga kalian sekarang. Tapi atas nama kemanusiaan, aku tidak bisa melihat dan membiarkan Pangeran Elgant seorang diri melewati hari-hari yang sulit dan lagipun jiwaku sebagai seorang profesor dokter kecantikan merasa tertantang untuk meneliti dan mencari penyembuh sakitnya.
Aku menarik napas dalam dan berjalan mendekati Elgant, entah apa yang ada dalam otakku, aku langsung memegang tangan kirinya dan semua yang berada dalam ruangan itu mengangakan mulut mereka.
Setelah kulihat dari dekat wajahnya yang penuh bentolan-bentolan ungu bernanah itu memang menjijikan, aku perhatikan lebih rinci lagi wajahnya yang memiliki rahang yang keras itu. Dan aku terkejut, kurasa kalau kulitnya mulus Pangeran Elgant akan terlihat guanteng banget harusnya. Hihihihi.. aku semakin yakin dengan keputusanku untuk bersama dengannya dan mengobati dia.
__ADS_1
Ada beberapa saat mereka semua termangu, sebelum tiba-tiba Aldiant menarik tanganku. "Tidak bisa, aku telah memilihmu," ucapnya.
- To be continued