
Jeritan kesakitan menggema diseluruh penjuru ruangan luas yang remang-remang. Suara cambukan demi cambukan tersisip di setiap jeritan yang memilukan hati bagi siapa saja yang mendengarnya. Tapi tidak untuk pria berambut hitam dengan retina semerah darah itu.
Jeritan memilukan itu justru terdengar seperti lantunan lagu yang sangat merdu ditelinganya. Pria itu menutup mata dan menggerakkan tangannya keatas dan kebawah layaknya seorang konduktor yang memimpin sebuah pertunjukan musik. "Ah, indahnya," gumamnya.
Namun suara jeritan itu tiba-tiba berhenti, membuat ia seketika membuka matanya dan menatap murka pengawal yang sedari tadi mencambuk seorang tawanan. "Apa aku menyuruhmu berhenti?" tanyanya dingin. Pertanyaan pria itu berhasil membuat si pengawal bergidik ngeri. "Am-ampuni hamba My Lord, sepertinya perempuan ini sudah mati," jawabnya takut-takut.
"Apa aku memerintahkanmu untuk berhenti?!" tanyanya lagi dengan nada suara yang lebih tinggi. Pengawal itu gemetaran di sekujur tubuhnya. Belum sempat ia menjawab, pria itu menatap tajam pengawal itu seraya bibirnya komat kamit merapalkan sesuatu.
Seketika pengawal itu menjambak rambutnya sendiri, ia menjerit jerit kesakitan seakan-akan isi kepalanya akan meletup keluar. "Ampun.. ampuni hamba My Lord!" pekiknya.
Namun, pria itu tak menggubris sama sekali teriakan dan jeritan yang memilukan dari pengawal itu. Dia hanya tersenyum menyeringai, sebelum akhirnya pengawal itu mati terkapar dengan bercucuran darah dari mata, hidung dan mulutnya.
Bersamaan dengan hembusan napas terakhir pengawal itu, masuk seorang pria berperawakan tinggi dengan mata dan rambut sehitam kegelapan malam. Ia berjalan menginjak jasad pengawal yang baru saja mati, seolah tak ada apapun yang menghalangi jalannya.
"Hamba menghadap My Lord, Leviathan Ifrid Demonic, Sang Penguasa Kegelapan," ujarnya seraya berlutut memberi hormat.
Pria berambut dengan retina semerah darah yang tengah duduk dengan elegan di singgasana menatapnya datar. Dialah Leviathan Ifrid Demonic, Kaisar Demonic IV. Sementara pria yang memberi hormat, ia bernama Agares, panglima kedua iblis dan tangan kanan Leviathan.
"Apa My Lord yakin akan mempercayakan penyerangan pada benua Roshar kepada Raja Feanor?"
Leviathan menyeringai mendengar pertanyaan yang dilontarkan Agares. "Kau meragukanku Agares?"
"Ti-ti-tidak My Lord! Mana mungkin hamba berani meragukan keputusan My Lord. Hanya saja dia manusia, kita tidak bisa mempercayainya begitu saja My Lord. Kenapa tidak kami saja yang menghabisi semua manusia lakn** itu My Lord?" tanyanya gugup. Meski ia gugup, namun sorot matanya terlihat penuh dengan amarah dan kebencian.
Agares tidak akan pernah lupa bagaimana dulu semua keluarga, teman, bahkan kekasihnya pun terbunuh ditangan manusia. Kehilangan yang berharga baginya, membuat ia bersumpah akan membalaskan dendam pada semua manusia. Tanpa terkecuali.
"Tidak! aku tidak mau kehilangan salah seorang dari kalian lagi! Ingat! Jangan remehkan manusia! manusia itu menjijikan. Demi kekuatan dan uang, apa saja mereka akan lakukan. Dan kita hanya perlu memanfaatkan Raja Feanor yang serakah itu untuk menghancurkan benua Roshar. Kita hanya akan memantau dari jauh, bertingkah seolah kita masih belum bergerak. Tapi kenyataannya, kita sudah beberapa langkah didepan mereka!" ujar Leviathan menyeringai.
Mata Agares berbinar, "Luar biasa My Lord! Sangat cemerlang!" gumamnya senang.
"Jika saatnya sudah tiba, keadaan sudah ada dalam genggaman kita Agares. Dan saat itulah, kita hancurkan mereka," ucapnya sebelum akhirnya tertawa dengan keras hingga suaranya menggelegar satu istana.
****
__ADS_1
Similir angin panas berhembus kala kereta kuda Zwetta telah memasuki perbatasan Basteria. Hawa yang semula sejuk kini tak ubahnya seperti panas di padang gurun.
Ini perasaanku saja atau memang suhu disini kian lama kian bertambah? beberapa tahun yang lalu saat aku mengunjungi kota Basteria, suhunya kan tidak sepanas ini....Dan perasaan tidak enak apa ini yang kurasakan?
Untungnya, aliran sihir air dalam tubuh Zwetta bisa meredakan panas yang ia rasakan. Tanpa ambil pusing dengan suhu panas ini, ia kembali membaca dan mempelajari rute-rute hutan flame oak.
"Berhenti!"
Baru saja Zwetta mau melanjutkan membaca, tiba-tiba kereta kudanya diberhentikan saat terdengar teriakan seorang pria depan kereta kudanya.
Penasaran dengan keributan itu, Zwetta menutup buku yang dipegangnya lalu membuka jendela kecil antara bangku utama dan bangku kusir. “Ada apa Ben?” Tanyanya seraya menatap wajah Ben yang nampak panik. Ben ialah kusir muda keluarga Luksemburg yang diminta Stanley mengantarkan dirinya.
"Salam Nona Muda, saya Dandelion, wakil komandan pasukan Royal Knights. Maaf atas ketidaknyamanan perjalanan anda. Namun, perjalanan anda tidak dapat diteruskan karena baru saja kami akan menutup jalur masuk ke kota Basteria," terangnya.
Zwetta mengernyitkan dahinya, "ditutup? apa yang terjadi Tuan Dandalion?" tanyanya penasaran.
"Para naga Odren sedang mengamuk dihutan flame oak dan saat ini kami baru mengevakuasi penduduk. Maka dari itu, Nona Muda harus kembali ke ibu kota," jelasnya. Zwetta mengedarkan pandangannya dan memang ia melihat para pasukan Royal Knights sedang mengarahkan penduduk Basteria yang berjalan ke arah Osgard.
Pantas saja firasatku tidak enak sejak tadi. Apa yang sebenarnya sedang terjadi dikota ini?
Ben membolakan matanya mendengar perintah Zwetta. “Ta-ta-tapi Nona, itu….disana ber-”
“Ssssstttt… aku akan baik-baik saja Ben,” ucapnya menyela perkataan Ben. Ben masih terlihat panik panik cemas sementara Dandalion yang melihat gelagat aneh Zwetta dan Ben mulai menaruh curiga.
"Nona Muda, saya harap anda bisa bekerja sama untuk segera kembali ke ibu kota," ucap Dandalion tegas.
Zwetta tersenyum ramah padanya, "Tentu saja, Tuan Dandalion, terima kasih himbauannya. Kami akan segera kembali ke ibukota sekarang," jawab nya. Zwetta pun seolah berjalan masuk kembali kedalam kereta kuda.
Tepat saat ia sampai dipintu, Zwetta membuka pintu dan menutupnya agar terkesan ia sudah masuk kedalam kereta kudanya. Padahal ia masih diluar. Setelah itu dengan mengendap-endap ia masuk kedalam hutan tepi jalan dan merapalkan mantra penghilang diri. Lalu ia melihat Dandalion dan pasukannya kembali melanjutkan evakuasi.
Maaf Tuan Dandalion, aku terpaksa mengelabuimu karena firasatku mengatakan aku harus pergi kesana.
Zwetta pun masuk kedalam tepian hutan. Ia berjalan dan terus berjalan hingga tiba di tepian sungai. Ia mengedarkan pandangannya untuk memastikan keadaan sudah aman. Setelah itu ia melepaskan sihir naga penghilang dirinya.
__ADS_1
"Pengawal bayangan!" panggilnya. Ia ingin memastikan apakah para pengawal bayangan yang diutus Arthur masih mengikutinya atau tidak. Namun tak berapa lama kemudian, munculah 10 orang pengawal bayangan bertekuk lutut dihadapannya.
"Kami menghadap Tuan Putri."
Heh?! pengawal bayangan Arthur memang hebat. Setelah aku menggunakan sihir penghilang pun, mereka masih bisa mengikutiku. Tapi bagaimana bisa?
Mata Zwetta lalu melihat ke jejak kakinya ditanah.
Oops! kurasa mereka melihat ini. Hahahaha..
Baguslah!
“Aku hendak memeriksa keadaan para naga Odren di Basteria. Dengan kemampuan menyusup kalian, pandu aku kesana tanpa ketahuan," perintah Zwetta.
“Baik, Tuan Putri,” jawab mereka bersepuluh serempak.
Dengan dipandu oleh kesepuluh pengawal bayangan, Zwetta bergegas masuk kedalam ibu kota melalui hutan perbatasan Basteria dan Osgard.
- To be continued
______________________________________
Hai gengs! 🙋🏻
Maapin baru update lagi ya, baru selesai sidang dan beberapa waktu lalu sempet merasakan writer block juga. Untung ini udah dapat lagi sih idenya, semoga bisa membuat ceritanya tambah seru! 😍
Ga tahu masih ada yang baca atau enggak. Tapi buat yang masih nungguin, author ucapin terima kasih banyak 🤗. Kalian memang yang terbaik! 👊
Anw, jadwal update TDE zuzur ga pasti geng! soalnya saia ga bisa selalu dapat ide cerita dan mood nulisnya 😢. Untuk hal ini, saya minta maaf sebesar-besarnya.
Tapi saya akan sangat usahakan untuk tetap tetap update yaw. Trims all!
Salam Hangat,
__ADS_1
KT 💙