
Zwetta menelan salivanya susah payah saat melihat Dandalion berdiri didepannya dengan wajahnya yang mengeras.
"Umm..Tuan Dandalion, saya baru saja membantu penduduk dan kesatria memadamkan kebakaran kota.." jawabnya canggung.
Dandalion tidak membalas Zwetta langsung, raut wajahnya yang kesal karena telah dikelabui Zwetta terlihat sangat jelas.
"Begini Tuan Dandalion, saya tidak bermaksud mengelabui Tuan. Ada sesuatu hal yang saya harus pastikan dikota ini dan kalau saya mengatakannya, pastinya saya tidak di perbolehkan. Makanya saya terpaksa membohongi anda. Untuk itu saya minta maaf," ucap Zwetta dengan sedikit menundukkan kepalanya.
Zwetta melirik wajah Dandalion sekali lagi dan ia terkejut melihat ekspresi Dandelion yang sudah tidak lagi mengeras, sekarang ia malah sedang sedikit tersenyum.
"Baru pertama kali saya bertemu gadis bangsawan yang tak sungkan mengakui kesalahan dan meminta maaf pada seseorang yang statusnya lebih rendah. Nona muda sungguh bangsawan yang menarik."
Zwetta tersenyum lega mendengar penuturan Dendalion, "Sudah sepatutnya mengakui kesalahan dan meminta maaf jika memang salah. Tidak ada hubungannya dengan status."
Dandalion tertegun mendengar jawaban Zwetta, membuatnya mulai menaruh hormat pada nona muda dihadapannya ini.
"Apa pusat sudah mengetahui kejadian ini Tuan?" tanya Zwetta mengalihkan pembicaraan.
"Sudah Nona," jawabnya singkat.
Baguslah kalau begitu, ayah dan para kesatria pasti akan segera membereskan kekacauan ini.
Zwetta mengangguk pelan sebelum pamit undur diri, "Saya permisi dulu Tuan." Kata Zwetta setelah itu ia berjalan pergi.
"Tunggu Nona," cegat Dandalion. Zwetta menoleh dan mendongak melihatnya. "Ya?"
"Terima kasih."
"Terima kasih kembali. Kau dan pasukanmu juga sudah berusaha keras hari ini," ucap Zwetta tersenyum lalu melanjutkan jalannya. Ia hendak menemui pengawal bayangan di lokasi pengungsian penduduk Basteria.
Sesampainya ia disana, kesepuluh bayangan menghampirinya. "Kami menghadap Tuan Putri," ujar mereka bersepuluh bertekuk dihadapannya.
"Terima kasih atas kerja keras kalian, kalian memang yang terbaik," puji Zwetta dengan mengacungkan jempolnya. Para pengawal diam tak meresponinya.
*Krikk *Krikk *Krikk
Mereka ini memang orang-orang yang terlalu kaku.
__ADS_1
Mendengar perkataan Zwetta sebenarnya para pengawal bayangan merasa senang. Namun mereka bingung bagaimana meresponnya, sehingga mereka lebih memilih diam. Zwetta berdehem untuk memecah kecanggungan. "Ekhem.. ekhem.. sebaiknya sekarang kita pergi mencari tempat bermalam."
"Baik, Tuan Putri." Jawab mereka serempak.
Saat Zwetta dan kesepuluh pengawal bayangan hendak berjalan pergi, seorang wanita sepuh mendekati dan menepuk pundaknya. Reflek Zwetta berbalik dan melihat wanita sepuh itu berdiri dengan sekumpulan pria, wanita dan anak-anak dibelakangnya.
"Nona penyihir air, saya nenek Rami, mewakili para penduduk kota Basteria hendak mengucapkan terima kasih banyak atas bantuannya. Berkat Nona, kebakaran bisa cepat diatasi," ucap Nek Rami tulus diikuti dengan anggukan dari beberapa pria dan wanita dibelakangnya.
Zwetta mengenggam kedua tangan nenek Rami dan membalas senyumannya. "Sama-sama, nek.." jawabnya.
"Sebentar lagi malam tiba, apa tidak sebaiknya Nona menginap di tenda evakuasi malam ini? masih ada 2 tenda kosong yang bisa Nona dan pengawal Nona gunakan. Oh iya, kami baru saja memasak untuk makan malam. Ayo makan bersama-sama," ajak nenek Rami tersenyum ramah.
"Jika tidak keberatan, saya menerima ajakan nenek dengan senang hati. Terima kasih banyak," jawab Zwetta sopan.
"Tentu saja kami tidak keberatan, kalau boleh tahu siapakah nama Nona cantik ini?" tanya nenek Rami yang membuat Zwetta tersipu malu.
"Ya ampun, saya sampai lupa memperkenalkan diri. Nama saya Zwetta Ellaria Luksemburg nek," jawab Zwetta terkekeh. Jawabannya membuat para penduduk mengangap, menatapnya seakan menatap hantu.
"Ehh, kenapa?" tanya Zwetta bingung melihat reaksi mereka.
"Nona putri dari Duke Ardolph?!?! Sang jenderal militer kerajaan?!?!" tanya nenek Rami kaget. Seketika Zwetta merutuki kecerobohannya mengungkapkan nama lengkapnya, ia lupa kalau ia seorang bangsawan.
Para penduduk Basteria sebenarnya sudah mengira jika Zwetta adalah gadis bangsawan. Dilihat dari penampilannya yang sangat cantik dan elegan, serta kekuatan sihir airnya yang besar. Namun ternyata ia memiliki status yang tinggi, membuat mereka jadi sungkan.
Mereka pun kemudian menunduk memberi hormat padanya. "Ehhhhh.. angkat kepala kalian..," pinta Zwetta. Namun mereka tetap saja menunduk.
"Dengar, jika kalian berterima kasih padaku, bersikap biasa saja padaku. Jangan terlalu sungkan, aku tidak mempermasalahkannya. Justru ketika kalian bersikap seperti ini, aku jadi sedih," ungkap Zwetta.
Mendengar perkataan Zwetta, dengan ragu-ragu perlahan Nenek Rami dan para penduduk mengangkat kepala mereka. Supaya tidak lebih canggung lagi, Zwetta memutuskan untuk berjalan masuk kedalam lokasi evakuasi sambil menggandeng tangan nenek Rami.
"Ayo kita makan! aku sudah lapar..aku yakin kalian juga," ucap Zwetta sedikit berteriak agar mereka semua dapat mendengarnya.
Awalnya para penduduk yang berkumpul masih takut-takut mau berinteraksi bagaimana dengan Zwetta. Namun melihat Zwetta menggenggam tangan nenek Rami dan berjalan perlahan seirama dengannya melunturkan ketakutan mereka.
Setelah membersihkan diri, Zwetta dan pengawal bayangan makan-makan bersama dengan para penduduk yang mengungsi dalam tenda. Ia duduk berbaur bersama mereka, ia tidak keberatan makan menggunakan tangannya dan berbincang-bincang dengan para penduduk.
"Hohohoho.. Nona sangat rendah hati, anda gadis yang baik," puji nenek Rami.
__ADS_1
"Benar..benar, baru pertama kali saya bertemu gadis bangsawan seperti Nona Zwetta. Sudah cantik, baik, dan memiliki bakat sihir luar biasa pula. Anda benar-benar panutan kami Nona.." sambung salah satu ibu-ibu yang sedang menimbrung juga.
"Nenek dan ibu terlalu memuji, saya juga masih perlu banyak belajar," jawab Zwetta sambil tertawa kecil. Ia sangat jarang kumpul-kumpul ramai seperti ini baik dikehidupannya yang dulu maupun sekarang.
Tapi ternyata ini tidak buruk juga, ia senang dapat bercengkrama dengan para penduduk. Meskipun awalnya ia menganggap mereka bodoh saat tidak evakuasi disaat api tengah berkobar.
Namun ternyata setelah bercengkrama, Zwetta jadi sadar betapa pentingnya kota Basteria ini bagi mereka. Bahkan jika mati dilahap api saat meredakan kebakaran pun, mereka tidak masalah.
Sebab seumur hidup mereka, mereka lahir, tumbuh, dan besar di kota ini. Kalau mereka tidak melindungi dan mempertahankannya, maka mereka tidak akan punya rumah untuk kembali. Akan sangat sulit bagi mereka untuk bisa menetap di kota lain karena mereka sudah terbiasa disini.
Mendadak terlintas dalam benak Zwetta tentang penyebab kebakaran kota Basteria ini. Ia jadi penasaran dengan penyebab naga odren mengamuk. Zwetta pun mencoba menanyakannya pada nenek Rami.
"Oh iya nek, apa nenek tahu kenapa para naga Odren mengamuk?" tanya Zwetta penasaran.
Seketika nenek Rami dan para penduduk yang sedang bercengkrama mendadak terdiam.
Aduh.. apa aku menanyakan mereka diwaktu yang salah?
Nenek Rami menghela nafas panjang dan menatap para penduduk seolah menanyakan persetujuan.
"Apa Nona Zwetta kelompok mereka juga? Apa Nona akan membunuh kami jika kami berbicara?" tanya salah seorang penduduk pria.
Zwetta mengernyitkan dahinya bingung.
"Kelompok apa maksud kalian? dan kenapa aku harus membunuh kalian jika diberitahu?! apa aku terlihat seperti seorang pembunuh? justru aku akan sangat berterima kasih bila kalian mau memberitahuku.." jawab Zwetta.
Para penduduk terdiam dan nampak berpikir beberapa saat sebelum mengangguk menatap nenek Rami. Nenek Rami meresponi dengan mengangguk dan menjawab Zwetta.
"Kemungkinan besar kebakaran kota Basteria disebabkan oleh sekte pemuja iblis."
Zwetta terkesiap mendengar jawaban nenek Rami. "Sek-sekte pemuja iblis?" tanya Zwetta tergagap. Ia belum pernah mendengar rumor-rumor tentang sekte pemuja iblis di Osgard dan Talthaire, sehingga ia sangatlah terkejut.
Nenek rami mengangguk lagi, tatapan para penduduk seketika berubah menjadi penuh amarah. "Setengah tahun lalu, seorang pria bernama Rimmon datang ke Basteria. Ia pindah ke kota ini menjual roti dan roti yang ia jual sangat enak. Namun harganya juga sangat mahal, membuat hanya para bangsawan lah yang mampu membelinya.
Saya sebenarnya pendeta kuil naga odren. Dan sejak tiga bulan lalu, saya dan pendeta kuil lainnya sudah menemukan 15 bangkai mayat naga odren dalam keadaan mengenaskan. Maka, kami pun berusaha melaporkannya pada Tuan Jeremy Claighton selaku walikota Basteria, berharap agar ia bisa sesegera mungkin memerintahkan Royal Knights mengusut kematian mengerikan Sang Naga Api."
Mata Zwetta membola mendengar kata 'Claighton" dari mulut nenek Rami.
__ADS_1
- To be continued