Destined To Be Empress

Destined To Be Empress
Chapter 36 - Suratan Takdir


__ADS_3

Selama dua puluh tujuh tahun aku hidup di kehidupanku sebelumnya..


Selama empat belas tahun aku bertahan hidup dan berjuang keras dikehidupanku saat ini..


Roda takdir berputar terus membawaku kesemua posisi tertinggi yang diingini setiap insan namun sulit diraih. Membawa kebanggaan tersendiri, namun tak mudah dijalani.


Aku hanya ingin menikmati hidup seperti biasanya dengan keluargaku tercinta bahkan sudah banyak rencana yang aku pikirkan kedepannya. Belum lagi membalaskan kematian tragis Lydia dan ras naga Galaea, dan sekarang segulung titah Kaisar telah memporak porandakan semua itu.


<< Flashback On <<


*Tok tok tok *Tok tok tok *Tok tok tok (suara ketukan pintu)


"Nona, kami masuk," ucap Oriel.


Oriel, Nina, Risha dan Sasha tergesa-gesa masuk kedalam kamarku.


"Mereka ribut sekali pagi-pagi begini, sudah ngerusuh saja. Tidak bisa apa memberiku ketenangan untuk tidur?" gerutuku dalam hati.


"Nona.. Nona.. anda harus segera bangun!" ucap Oriel.


"Bukankah ini masih terlalu awal untuk aku bangun? setengah jam lagi, aku masih mengantuk!" ketusku yang masih setengah sadar.


"Tidak Nona! anda harus bangun sekarang. Utusan Kekaisaran Moncerrat datang menemui anda untuk menyampaikan titah Kaisar," ucap Oriel.


"HAH?!" teriakku yang seketika itu juga bangun.


"Kau tidak sedang bercanda bukan?" tanyaku sambil memegangi pundak Oriel.


"Apa yang dikatakan Oriel benar Nona, sebaiknya anda bersiap-siap segera," ujar Nina.


"Ehhhhhh, kenapa mendadak begini sih?!" tanyaku setengah berteriak.


"Kami tidak tahu Nona, kami berempat hanya diminta Nyonya Duchess untuk segera mempersiapkan diri Nona secepat mungkin," ujar Risha.


"Ya sudah, aku bersiap sekarang. Firasatku tidak enak tentang ini, kita harus cepat!" perintahku.


"Baik, Nona." Jawab mereka berempat serempak.


Dengan bantuan mereka berempat, aku dapat selesai bersiap diri dalam kurun waktu kurang dari 20 menit.


Selesai di dandani aku segera menuju ruang kerja Duke. Saat aku masuk, aku bisa melihat Duke, Duchess dan ketiga kakakku bersama seorang pria kira-kira seumuran Whitman dan Goddard tengah duduk disofa.


I have no idea, what's actually happen here?


Pria itu langsung bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Salam Tuan Putri, saya Ryann Teristo, asisten pribadi Yang Mulia Kaisar Moncerrat IV, Derius Ain Chevalier," ucapnya sambil menundukkan kepala memberi hormat


Tu-tuan Putri? apa maksudnya ini?


"Salam Tuan, nama saya Zwetta Ellaria Luksemburg, putri dari keluarga Luksemburg," balasku dengan memberi hormat ala putri bangsawan.


"Baiklah, karena anda sudah disini. Sekarang akan saya bacakan titah Yang Mulia Kaisar untuk anda," ucap Ryan sambil membuka surat gulungan dengan emboss singa emas simbol keluarga Kekaisaran Moncerrat.


"Titah ini ditujukan untuk putri keluarga Luksemburg, Zwetta Ellaria Luksemburg.


Sehubungan dengan kelima putraku yang telah berhasil membunuh separuh panglima iblis dan mengingat sudah waktunya juga bagi mereka untuk menikah, aku telah memutuskan untuk menganugerahkan mereka masing-masing seorang Permaisuri.


Setelah melakukan penyelidikan pada seluruh putri bangsawan sebenua Roshar, dengan ini aku menunjukmu sebagai satu dari lima calon Permaisuri para pangeran Kekaisaran Moncerrat.


Demikian titah ini disampaikan, Atas nama Kaisar Moncerrat IV, Derius Ain Chevalier." Ucap Ryan lantang.


• Flashback Off•


Begitulah bagaimana segulung titah Kaisar telah memporak porandakan rencanaku.


Bagai disambar petir disiang bolong, kami semua yang berada dalam ruangan seketika membatu usai mendengar titah Kaisar itu. Nafasku terasa berat, kakiku langsung lemas dan kepalaku blank, bahkan waktu seolah berhenti berputar.


Derius! bedeb** ! mana bisa aku percayakan putriku pada buaya darat seperti dirimu, pastilah anak-anakmu juga sepertimu! batin Duke.


Kaisar sialan! Aku tidak rela adikku menjadi Permaisuri dengan terpaksa seperti ini, apalagi dia belum genap 15 tahun. Pikir Stanley sambil mengeratkan genggamannya.


"Anda benar Tuan Stanley, tapi menimbang hasil penyelidikan dan selisih usianya hanya terpaut setahun dari peraturan Kekaisaran, Kaisar telah bulat hati memilihnya," terang Ryan.


"Tidak bisakah menunggu adik saya sampai berusia 15 tahun Tuan Ryan?" tanya Arthur.


"Benar Tuan, anak saya baru saja kembali setelah sekian lama pergi, saya mohon," pinta Duchess.


"Titah Kaisar bersifat mutlak," jawab Ryan datar.


Suasana sempat hening beberapa saat, sebelum akhirnya Duke memecahkan keheningan ini.


"Kalau kalian ingin membawa putriku, maka tidak ada pilihan lain!" ucap Duke sambil menghunuskan pedangnya ke arah utusan Kekaisaran dan menatap tajam mereka. Stanley, Arthur, dan Halbert juga mengikuti Duke. Mereka mengeluarkan pedang dan menghunuskannya ke arah utusan Kekaisaran.


"Tunggu.. ayahh.. kakak.."


Pasukan kesatria Kekaisaran Moncerrat juga langsung menarik pedang dari sarungnya dan mengarahkannya kepada Duke dan ketiga saudaraku.


Entah aku harus senang atau sedih, entah aku harus bangga atau kecewa, entah aku harus menganggap ini suatu petaka atau keberuntungan setelah menerima sepucuk surat berisi titah Kaisar jika ia memilihku menjadi satu dari lima calon Permaisuri dari kelima pangeran Kekaisaran Moncerrat.


Menjadi Profesor dulu lalu mati dan menjadi Permaisuri sekarang, apa aku akan cepat mati lagi? Jangan permainkan aku lagi takdir sialan!

__ADS_1


Tapi jika aku menolak, keluargaku pasti akan melindungiku. Namun di sisi lain, mereka juga akan terkena masalah besar karna melawan Kekaisaran Moncerrat sebagai penguasa tertinggi benua Roshar.


Meski ayah adalah seorang legend warrior, tapi masa ayah sudah berlalu dan usianya juga sudah tidak muda lagi. Aku tidak mau menjadi beban buat mereka, lagipula cukup banyak masalah yang harus diselesaikan.


Aku menghela napas panjang.


Sampai hari ini, tak pernah terbesit sedikitpun untuk mengincar kedudukan Permaisuri ataupun Ratu. Bahkan aku sempat terpikir untuk melajang saja karna aku agak ngeri dengan yang namanya pernikahan.


Kenangan keluarga yang buruk dulu ditambah masalah Beatrice, membuatku jadi lebih ragu untuk menikah dan membangun keluarga?! Tapi tiba-tiba titah ini, hah*...(aku menarik napas dalam-dalam lagi) , apa ini memang takdirku untuk menjadi permaisuri?


•••••


••••


•••


••



Aku menghela napas panjang, sebelum akhirnya kuyakinkan hatiku.


"Ini bukan saatnya aku tenggelam dalam pikiran dan keraguanku! Akan aku coba saja lebih dulu! Kalau memang pada akhirnya aku tidak tertarik menjadi Permaisuri, aku akan cari cara untuk membatalkan ini." Batinku.


"Saya akan menerima titah dari Yang Mulia Kaisar. Mohon para kesatria Kekaisaran memasukkan kembali pedang anda sekalian," pintaku baik-baik.


"ELLA!"


"JEWEL!"


Aku tersenyum sedih melihat wajah mereka. Namun mungkin ini pilihan terbaik bagi semua.


"Baiklah Tuan Putri, kita akan langsung berangkat ke Kekaisaran Moncerrat sore ini. Anda dipersilahkan untuk mempersiapkan diri dan barang-barang anda terlebih dahulu. Saya dan kesatria Kekaisaran akan menunggu didepan," ucap Ryan dengan menundukkan kepala memberi hormat lalu pergi meninggalkan ruangan kerja Duke.


Setelah keluar, raut wajah kesedihan mendalam terpancar dari wajah Duke, Duchess dan ketiga saudaraku.


Duke mendekatiku, ia menatapku dengan wajah seriusnya. "Putriku, kalau kau memang tidak mau, janganlah dipaksa nak. Ayah akan minta bantuan Raja Alphonso dan paman Ephraim mengenai masalah ini," ucapnya lirih.


Sementara Duchess sudah menangis lebih dulu. Melihat mereka seperti ini, jujur hatiku dilanda kerisauan dan kesedihan pula.


"Ayah, ibu, kakak, aku tidak mau ada pertempuran darah tak berarti yang terjadi hanya karena keegoisanku tidak mau melaksanakan titah Kaisar. Jangan khawatir berlebihan, Aku sudah besar dan lebih kuat sekarang. Semua ini karena aku bersama dengan kalian, " ucapku seraya tersenyum paksa.


"Jewel..."


"Jika memang ini takdirku, aku harus menghadapinya. Masalah aku mau menjalani takdir ini atau tidak, itu urusan nanti. Yang terpenting kalian baik-baik saja ayah, ibu, kakak," batinku.

__ADS_1


- To be continued


__ADS_2