
⛔ Caution: (14+) para pembaca yang budiman, episode kali ini terdapat sedikit adegan gore.
______________________________________
Dua minggu telah berlalu, setiap harinya berulang-ulang kali aku memanggil Adasha, namun hasilnya tetap nihil. Ia belum menampakkan diri lagi.
Sejak Adasha tidak muncul saat kupanggil, sekujur tubuhku mulai menggigil kedinginan. Semakin lama , tubuhku terasa seperti akan membeku. Bahkan saat sekarang aku berbicara pun, terlihat udara napas keluar dari bibir mungilku ini.
Harusnya aku sudah tak sadarkan diri sekarang karena kemungkinan aku sudah terkena hipotermia.
(Hipotermia: suhu bagian dalam tubuh di bawah 35 °C)
Tubuhku mulai membeku dan sudah mati rasa. Ini buruk! saat suhu tubuhku nanti mulai menurun, aku bisa saja akan menderita amnesia, kehilangan kesadaran, hipotermia akut, atau bahkan yang paling buruknya adalah kematian.
Sudah beberapa malam aku tidak bisa tidur karena kedinginan. Mungkin karena terlalu lelah, malam ini aku bisa tertidur. Menjelang subuh, terdengar suara seseorang seperti tengah makan sesuatu dengan rakusnya.
*HHAAPP *HHAAPP *HHAAPP *HHAAPP
“Ribut sekali mereka, siapa yang tengah makan dengan rakusnya jam segini sih?!” gumamku dalam hati yang mulai merasa terusik dengan suara itu.
*CHOPP *CHOPP *CHOPP *CHOPP
Terdengar lagi suara seseorang tengah memotong-motong sesuatu dengan keras.
“Jangan sampai aku mendengar suara ribut ini lagi, atau akan kuminta Goddard menghukum berat orang-orang pembuat keributan ini!!!”
Suara-suara itu pun berhenti, aku kembali tertidur dengan pulasnya lagi.
Tak berapa lama kemudian, tercium bau anyir darah yang begitu menusuk hidung. Seketika kubuka kedua kelopak mataku. Kulihat sekelilingku penuh dengan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi ke langit dan semak-semak dedaunan.
“Dimana aku?” Ini seperti dejavu. Apakah Lydia yang membawaku kemari lagi? tapi kenapa aku tak mendengar suaranya?
“Lydia, apa kau ada disini?”
“Adasha dimana kau?”
Tidak ada respon dari keduanya. Hutan ini penuh dengan bau darah yang menusuk hidungku, sebenarnya ada dimana aku?
*HHAAPP *HHAAPP *HHAAPP *HHAAPP *HHAAPP *HHAAPP *HHAAPP *HHAAPP
*CHOPP *CHOPP *CHOPP *CHOPP *CHOPP *CHOPP *CHOPP *CHOPP *CHOPP *CHOPP
Suara yang tadi kudengar menjadi sangat jelas sekarang, sumber suara itu berasal dari balik-balik semak-semak dibelakangku. Aku berjalan perlahan mendekati celah kecil yang terdapat diantara semak-semak dedaunan itu.
Semakin mendekat, mulai terdengar suara tertawa terbahak-bahak dari balik semak-semak.
“Apa disini sedang ada pesta?” pikirku seraya mulai merayap pelan menuju celah kecil itu.
Mulutku menganga dan mataku melebar menatap tidak percaya apa yang tengah aku lihat didepan mataku sekarang. Hamparan potongan-potongan mayat monster dan ditengah-tengah hamparan mayat itu, terlihat olehku para iblis tengah memakan daging monster itu dengan lahapnya.
Langsung kupalingkan wajahku dari pemandangan amat mengerikan itu dan kututup mulutku menahan rasa mual yang mengocok perutku ini. Aku tak bisa mengenali monster yang tengah mereka santap itu, tubuhnya telah terpotong-potong menjadi beberapa bagian.
“Tak kusangka, daging ratu naga Galaea begitu lezat!”
“Hahahahaha..Rimmon..Rimmon..makanlah yang banyak, setelah makan daging ini kita akan makin kuat!”
“Karena sudah mendapat daging seenak ini, aku akan membantu yang mulia kaisar Leviathan untuk menaklukan Irefria!”
“Niat bulusmu tak perlu kau sembunyikan bodoh.”
“Hahahahahaha..Agares! bisa tidak kau tak merusak mood ku hari ini yang tengah asik menikmati makananku?
“Tadi saat kau mengalahkannya Agares, kau memanggil ratu ini Lydia? Apa kau mengenalnya?”
*Terdengar suara dari balik semak-semak
“Siapa itu?!?!”
“Keluar, tunjukkan dirimu! Jangan sampai aku yang kesana mendapatimu atau kau akan menjadi santapan kami juga malam ini!” ancam iblis itu.
“Arrrrrrggggghhhhhhhh!!!!!”
__ADS_1
Suara teriakan kemarahanku menggelegar dengan kuat. Tak mampu lagi aku mendengar diam percakapan para bajing** - bajing** ini dan meredam emosiku.
Para iblis tersentak kaget dan segera berlari menuju ke arah suara teriakanku. Tiba-tiba badanku seperti tertarik kuat ke atas langit dan aku langsung terbangun dengan keringat bercucuran disekujur tubuh.
“Jewel..jewel..jewel..sadar jewel...buka matamu!”
Mendengar suara panggilan dari ketiga kakakku, aku segera membuka mata.
“Akhirnya kau sudah bangun Jewel,” ucap Stanley.
“Kau berteriak dengan keras tadi, apa kau sedang bermimpi buruk?” tanya Halbert khawatir.
“Apa yang kau mimpikan? Ceritakanlah pada kami Jewel,” pinta Arthur khawatir.
Untung saja ketiga kakakku membangunkanku, kalau tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku disana.
*Duuuuggggg *Arrggghhh
Apa ini? kenapa tiba-tiba jantungku bak tengah dirajam oleh ratusan bilah pedang.
*Hhuueekkk
Duchess dan ketiga kakakku begitu syok melihat semburan darah keluar dari mulutku.
“Arthur, cepat panggilkan tabib Cliff!!!” pinta Stanley.
Arthur segera bangkit dari duduknya dan bergegas pergi memanggil tabib Cliff.
Aku memegang dada kiriku yang tengah merasakan rasa sakit teramat sangat, lalu perlahan kesadaranku mulai hilang.
______________________________________
Sepertinya sudah beberapa jam yang lalu sejak aku tak sadarkan diri. Saat ini, aku sadar sekarang, tapi entah mengapa mataku tidak mau terbuka.
“Zwetta..”
“Zwetta..”
“Benar, ini aku Zwetta!”
Aku terdiam mendengar suaranya, hatiku penuh dengan kemarahan dan kebencian mendalam pada para iblis biada* yang telah membunuhnya dengan keji.
“Jangan kotori kemurnian hatimu dengan kemarahan dan kebencian Zwetta.”
“Lydia aku.."
“Zwetta, ini pesan terakhir dari jiwaku sebelum aku akan menghilang selamanya.”
Mendengar ucapannya, aku tak kuasa menahan tangisanku. Aku menangis tersedu-sedu sambil mencoba membalas ucapannya. Tapi tak bisa ku keluarkan dari mulut ini satu patah kata pun.
“Zwetta, terima kasih sudah menepati janjimu untuk membujuk ayahmu pergi menyelamatkanku dan para naga Galaea.
Maafkan aku yang tidak dapat bertahan, aku tak menyangka Leviathan akan mengutus para panglimanya secara bersamaan untuk menghabisi kami.
Kelak kumohon hentikanlah kebengisan para iblis itu Zwetta, berlatihlah menjadi penyihir naga bersama Adasha dengan Jimbo, pendeta suci naga utara Galaea di kuil naga Galaea saat kau sudah menguasai sihir naturmu di level fighter.
Sekarang, nyawamu dan Adasha sedang dalam bahaya, hatinya sedang membeku dan kalau dibiarkan semakin lama, kalian berdua akan mati terbunuh oleh kutukan naga suci.
Sebagai naga suci, kami harus tetap menjaga kemurnian hati. Kalau tidak ketika terkontaminasi oleh perasaan kebencian dan dendam maka akan mengaktifkan kutukan naga suci ini.
Aku tahu hal ini akan terjadi, sehingga sebelum aku terbunuh, aku menyisihkan sihir pelindungku untuk menolong kalian berdua. Dengan ini, akan aku cairkan hatinya yang membeku. Setelah itu aku serahkan padamu Zwetta.
Aku selalu akan selalu berada di sisi kalian berdua. Aku percayakan Adasha padamu Zwetta Ellaria Luksemburg.
Selamat tinggal Ella........”
Suara Lydia telah menghilang.
“Lydia..Lydiaaaaa?!?!?!” teriakku.
“Kau selalu seperti ini Lydia....”
__ADS_1
Setelah suara Lydia menghilang, aku pun bisa membuka kedua mataku lagi. Saat kubuka kedua mataku, aku telah terbangun dalam gua sihir Adasha.
Terdengar suara tangisan yang menggema diseluruh gua. Bergegas aku menuju asal suara itu dan aku menemukan naga kecilku tengah terbaring telungkup dan menangis dengan terisak-isak.
Pilu benar hatiku melihat dirinya dan suara tangisannya itu.
“Adasha..”
Ia menolehkan kepalanya ke arahku. Spontan kututup mulutku dengan telapak tangan kananku dan mataku melebar menatap tak percaya melihat pupil mata Adasha yang berubah menjadi warna merah gelap dan air mata darah yang keluar dari kedua bola matanya, membuat satu badannya dilekati oleh darah yang membeku.
Aku jatuh terduduk dan menangis dengan sangat terisak, kudekati dirinya namun ia berlari ke sudut gua. Ia seperti tidak mau diganggu dan bahkan ia memalingkan badannya dariku. Aku berdiam diri sejenak menenangkan diriku.
“Adasha..
Kau tahu tidak, kurasa aku takut bahagia karena setiap aku merasakannya, sesuatu yang buruk selalu terjadi. Satu-satunya hal yang berdiri di antara aku dan kebahagiaan adalah kenyataan.
Tangisan adalah cara mata berbicara ketika mulut terbungkam, tak sanggup menjelaskan seberapa hancurnya hatiku saat ini setelah kehilangan Lydia dan melihat dirimu seperti ini.
Saat aku dan kau terlalu banyak menangis, itu membuatku tersadar bahwa bernafas itu berat.
Jika aku bisa melihat masa depan lewat sebuah mimpi, apa yang akan terjadi kemudian?
Untuk apa bisa melihat masa depan, namun tak bisa menghentikan petaka. Aku benci pada diriku yang tak bisa menghentikan pembunuhan pada Lydia dan ras naga Galaea, Adasha.
Sebelum Lydia pergi tadi, ia melelehkan hatimu yang membeku oleh kutukan naga suci. Ia menyerahkan dirimu padaku, tapi kau tahu kalau aku sama saja denganmu yang ingin balas dendam pada mereka.
Sekarang kau diam, penuh dendam, tersudut tak terdengar. Dalam perih, kau angkat wajah walaupun penuh luka.
Dendam itu penjara dan cinta itu anugrah Adasha. Kurasa kau dan aku sekarang seperti anugrah yang terpenjara saat ini.
Adasha, mungkin akan datang masanya ketika kita harus menghadapi para iblis keji itu. Kalau kita terpenjara oleh dendam, kita tidak akan pernah bisa membunuh mereka. Bahkan sehelai rambut mereka pun tak mungkin dapat kita sentuh.
Kita hanya perlu menjadi lebih kuat lagi dan ketika saatnya tiba kita bertemu dengan mereka, luapkan amarahmu dan pastikan mereka mengalami kematian yang paling tragis.
Tapi sebelum saat itu tiba, jangan habiskan waktumu hanya untuk tenggelam dalam perasaan dendam akan mereka yang tengah bersorak atas kematian ibumu dan teman-temanmu. Tenangkanlah dirimu lebih dulu..,” ungkapku.
Aku bangkit berdiri dan berjalan keluar dari gua sihir Adasha. Disini ternyata sedang bersalju.
Dalam tradisi kerajaan Magentia, terdapat sebuah lagu yang dinyanyikan untuk mengantarkan kematian seseorang yakni lagu pengantar arwah dalam bahasa kuno kerajaan Magentia.
Kututup kedua mataku dan mulai menyanyikan lagu itu untuk meratapi kematian Lydia dan para ras naga Galaea.
Yeshua ni nerata hendaikan idiansi
(Yeshua ini para jiwa-jiwa yang telah tiada).
Hanstarkhasn Jeewasi Merrekkan Kke Thempatso yansho tengeterama.
(Hantarkan jiwa mereka ke tempat yang tentram).
Riabkand Kedisnaoe Jakseadi Paskasol Reka Thempatsi Heice.
(Biarkanlah kedalaman misterimu membawa mereka ke tempat yang lebih baik).
Jeewasi Jeewasi Bhecka Papada Mueaia.
(Jiwa-jiwa ini akan kembali padamu).
Ishigitagahagaratlaei degesia tenaiska.
(Berisitirahatlah dengan tenang).
Ishigitagahagaratlaei dagalama dainmamo.
(Berisitirahatlah dalam damai).
Selesai aku menyanyikan lagu pengantar arwah, aku buka kembali mataku. Tampak Adasha tengah terbang disisiku dan mengatupkan kedua tangan mendoakan ibu dan teman-temannya.
Ia melihat ke arahku, kulihat warna matanya sudah kembali normal dan air mata yang dikeluarkan matanya sudah bukan air mata darah lagi.
Aku berlari dan memeluk dirinya dengan erat, hari ini salju dan matahari yang mulai terbit, menjadi saksi bisu rasa teramat kehilangan kami berdua.
__ADS_1
- To be continued