Destined To Be Empress

Destined To Be Empress
Chapter 42 - Missing


__ADS_3

Aku merasa bahwa Dewa Agung Yeshua sedang bercanda denganku. Aku seorang penyihir naga, namun menjadi istri seorang anti naga. Apakah lelucon itu lucu? tidak, sama sekali tidak lucu. Dan orang yang menyampaikan ini adalah Elgant sendiri yang kini telah sah menjadi suamiku.


Sejujurnya, sampai detik ini, aku masih tidak bisa percaya jika apa yang Elgant katakan itu benar adanya. Badanku mematung dan pikiranku sangat kacau. Kata-kata 'sangat membenci naga' terngiang-ngiang terus menerus ditelingaku.


Kumohon siapapun, tolong katakan padaku jika ini semua tidak nyata. Kumohon siapapun, tolong bilang padaku jika ucapan Pangeran Elgant itu cuma candaan semata.


Tapi saat aku melihat wajah datar Elgant padaku sekarang, aku mengira kalau aku mendengarnya dengan tidak benar tadi. Jadi aku hanya harus mengkonfirmasikannya sekali lagi, "Pangeran Elgant, apa benar demikian?"


Elgant mengangguk lalu memalingkan wajahnya dariku "Ya". Satu kata yang membuatku semakin gusar. Aku mengepal erat kedua tanganku.


Kenapa semua jadi seperti ini? bagaimana reaksinya jika ia tahu aku seorang penyihir naga? apa dia akan menceraikan aku? atau mungkin langsung menyiksa atau bahkan berniat membunuhku?" Pikiranku benar-benar langsung diserbu oleh semua kemungkinan terburuk.


Tak bisa begini, akan lebih baik jika kami berdua membuat semua lebih jelas di awal daripada saling tertutup dan membuat semua menjadi semakin rumit nantinya.


Aku mendekati Elgant dan menepuk pundaknya, "Apa Pangeran keberatan bila aku bertanya kenapa?" tanyaku.


Wajah Elgant langsung muram saat aku menanyakannya. Ia sempat diam sejenak sebelum akhirnya pergi keluar dalam diam tanpa sedikitpun menoleh ke arahku.


POV 2 (Elgant Gakerly C)


Aku pergi keluar kamar, hatiku berkecamuk sejak tadi. Aku tidak tahan lagi untuk melihat Zwetta yang berusaha mencaritahu masa laluku. Aku tak mau mengingat lagi hari itu, hari dimana semua kebahagiaanku direnggut tak bersisa. "Sial!" umpatku sambil terus melangkahkan kaki menuju danau yang terletak ditengah hutan tepat dibelakang pavilyunku.


Kesadaranku hampir termakan oleh amarah terhadap kata 'naga' yang sempat terlontar dari mulutku tadi. Jika aku tak pergi, aku takut akan mengamuk dan menyakiti dia. Hembusan angin malam membuat ranting-ranting pepohonan menari-nari mengiringi langkah kakiku berjalan ke tempat biasa aku menghabiskan waktu saat ingin sendiri. Saat ini aku hanya butuh ketenangan.


Aku pun tiba ditepi danau dan duduk disana menatap nanar gelombang air dengan tatapan kosong. Aku sadar sikapku egois pada Zwetta padahal dia sudah berusaha mencari obatku. Belum lagi, aku telah jatuh hati dengan gadis kecil itu. Dialah perempuan yang bisa menerima diriku apa adanya. Aku mencintainya dan tak ingin menyakitinya, sialnya kebencianku pada makhluk terkutuk bersisik itu masih menggerogoti hatiku.

__ADS_1


"Ibu, apa yang harus kulakukan sekarang? aku tak ingin menyakitinya lebih dari ini, aku ingin membantunya mencari tanaman itu. Tapi.. hatiku masih belum merelakanmu ibu.." ucapku dalam hati.


"Hai El" suara bariton seorang pria menyadarkanku yang sedang termenung ditepi danau. Aku mendongakkan kepala melihat asal suara itu. "Kau?"


"Tidak perlu sekaget itu melihatku, aku kemari untuk melihat adik kesayanganku menikah. Dimalam pertama kau meninggalkannya sendiri dikamar, apa kau sudah bosan hidup?" pria itu menatap tajam diriku.


"Sialan kau Arthur!" umpatku seraya membalas menatap tajam dia. Kami berdua sahabat saat di Royal Akademi dulu dan Zwetta belum tahu ini karna aku tidak memberitahu dia.


"Harusnya kau bersyukur Permata keluarga kami menikahimu. Bahkan ia sampai berbaik hati mau mengobatimu." Arthur menepuk pundakku.


Aku menyeringai, "Bisakah kau berhenti memata-matai kehidupan privasi adikmu sendiri? sikap posesifmu itu menggelikan," ucapku datar seraya tersenyum mengejek.


"Menggelikan?" Arthur tertawa terbahak-bahak.


Arthur menaikkan alisnya. "Lebih menggelikan mana antara sikapku pada jewel dan sikap kekanakanmu hmm?"


"Lebih baik kau kembali ke kamarmu sekarang dan selesaikan masalahmu dan jewel. Bicarakan baik-baik, jangan jadi pengecut," ucap Arthur.


Aku terperangah mendengar penuturan Arthur, pasalnya bagaimana ia bisa tahu kalau Zwetta dan aku ada sedikit masalah. "Darimana kau tahu masalahku dan Zwetta?" tanyaku penasaran.


Arthur mengernyit menatap heran aku, "Aku mengutus kesatria bayanganku untuk memata-mataimu dan adikku."


Mataku terbelalak kaget, "Apa kau sudah gila? aku tahu kau menyayanginya, tapi dia sudah menikah denganku dan kuharap kau tak mencampuri urusan rumah tangga kami," ketusku.


Arthur mengelus punggungku, "tenang saja, aku tahu posisiku. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja selama di Moncerrat. Malam ini aku akan kembali ke Osgard setelah memastikan pernikahannya denganmu berjalan lancar tadi. Jangan buat dia sedih El, aku tahu kau pria baik. Kita sudah bersahabat lama, jadi aku percayakan adikku padamu. Mewakili ayah, ibu dan kedua kakakku, kami serahkan dia padamu." Ungkap Arthur seraya bangkit berdiri.

__ADS_1


Aku menghela napas panjang sambil bangkit berdiri juga, "Terima kasih Arthur, sampaikan salamku pada ayah, ibu, dan kedua saudaramu. Jangan khawatir, aku mencintai dia. Aku ingin membuat dia bahagia juga," jawabku.


"Tentu, akan kusampaikan salammu. Senang mendengarnya, selamat datang di kelompok Ella Lovers sobat," ujar Arthur sembari tertawa senang.


Aku terkekeh mendengar ucapan Arthur. "Aku pergi dulu," ucap Arthur sambil berjalan pergi meninggalkanku. Tak berapa lama ia menoleh kebelakang menatapku kembali, "Oh iya, sering-seringlah berkunjung ke kediamanku membawa jewel. Rumah tidak bisa tidak ada dia, aku tak bisa membiarkan keadaan rumahku jadi lebih suram dari sekarang," ucapnya.


Aku mengangguk dan Arthur pun pergi sambil melambaikan tangan kanannya. Arthur dan aku sahabat lama, kami bertemu di Royal Akademi. Meski awal kami selalu berkelahi, namun sekarang dia adalah sahabat terbaikku yang tidak hanya mengetahui, tapi juga mengenal baik diriku. Lama tak berjumpa, tak membuat kami berdua canggung.


Ia masih tahu kebiasaanku ke danau ini. Aku tertawa pelan mengenangnya. Kurasa mengobrol dengannya telah mengembalikan moodku. Sudah hampir 2 jam aku keluar, sebaiknya aku kembali ke kamar. Aku berjalan kembali ke pavilyunku dan aku sudah berencana untuk meminta maaf atas kesalahanku pada Zwetta. Ditengah perjalananku, aku berhenti sejenak karna terbesit sesuatu dibenakku.


"Ray, Dev," panggilku. Dua sosok bayangan hitam langsung menghampiriku.


"Minta anak buah kalian untuk menyelidiki tanaman obat langka selain tanaman pureit yang tidak perlu membuatku harus berurusan dengan naga. Kabari aku secepatnya!" perintahku.


"Baik Yang Mulia," jawab keduanya serempak. Lepas itu mereka langsung melesat pergi menjalankan misi.


Setelah dua puluh menit berjalan, aku pun tiba di depan kamarku dan Zwetta. Betapa terkejutnya aku saat aku tak melihat istriku itu berada dikamar. Seketika aku panik dan mulai menyerukan namanya. "Gadis kecil! kau dimana?" pekikku. Aku segera memeriksa kamar mandi dan seluruh ruangan kamar kami, tapi dia tidak ada dimana-mana. Mataku tak sengaja melirik sepucuk surat di atas ranjang kami.


Teruntuk Suamiku, Pangeran Elgant.


Terima kasih sudah berusaha membuka diri. Aku menghargai dirimu yang sangat membenci naga dan memutuskan tidak akan memaksamu jika kau tidak mau mencari tanaman obat pureit. Tapi jika kau tidak bisa menggunakan tanaman itu hanya karna kau membenci naga, maaf aku keberatan. Biar aku yang mencari tanaman itu, kita sudah selangkah lebih dekat dengan kesembuhanmu dan aku tak akan menyia-nyiakan itu. Jangan khawatirkan aku, usai aku mendapat tanaman itu, aku akan segera kembali ke istana. Itu pun jika kau masih berkenan menerimaku menjadi istrimu setelah kau mengetahui kalau aku adalah seorang penyihir naga.


- Zwetta-


Seketika rasanya jantungku berhenti berdetak dan waktu terasa berhenti berputar. Kepalaku terasa berat, seolah dihantam tumbukan batu besar. "Zwe-zwetta, seorang penyihir naga?" gumamku pelan seraya jatuh terduduk lemas.

__ADS_1


- To be continued


__ADS_2