
Ketiga kakakku menoleh kearah pintu masuk ruang bawah tanah, dilihatnya mereka Duke yang tengah berdiri memelukku.
"Jewel!!!" teriak ketiga kakakku yang tengah terkejut melihatku datang ke ruang bawah tanah.
"Mengapa ayah membawa Jewel ke tempat ini?" tanya Arthur bingung.
"Jewel, kau seharusnya beristirahat adikku. Kau tidak perlu kesini untuk menemui perempuan ini," ucap Halbert.
"Iya Jewel, benar apa kata Halbert. Sini biar kakak antar kau kembali ke kamarmu," ucap Stanley.
"Kakak, terima kasih telah mengkhawatirkanku. Maaf telah membuat kalian khawatir ya. Aku sudah tidak apa-apa sekarang,” ujarku.
Aku menceritakan apa yang terjadi padaku pada Duke dan ketiga kakakku, mulai dari perubahan sikap Oriel hingga kejadian ia mencengkram leherku.
“Sungguh lancang sekali kau Oriel! wanita tidak tahu malu! beraninya kau memperlakukan putriku seperti itu. Aku memerintahkanmu untuk melayani dan mengawalnya, tapi yang kau lakukan justru sebaliknya. Kau benar-benar telah mencoreng nama baik pasukan kesatria black knight!” pekik Duke dengan wajahnya yang menggelap.
"Tidak heran jika Jewel memintamu berhenti menjadi untuk melayani dan mengawalnya bila sikapmu begitu," tambah Halbert.
"Sepertinya memang ada yang salah dengan otakmu!" ungkap Stanley.
Tiba-tiba Goddard berjalan maju kehadapan Duke seraya menundukkan kepala memberi hormat.
“Tuan Duke, saya pantas mati karena telah lalai menjaga nona dan menjadi penyebab atas perbuatan Oriel pada nona Zwetta,” ucap Goddard.
“Goddard, jangan menyalahkan diri seperti itu! Ini bukanlah kesalahanmu, ini terjadi karena kau tidak mengetahuinya,” ujarku.
“Kau sudah mendengar dari putriku Goddard, ini bukan salahmu,” ucap Duke.
"Maafkan saya tuan Duke, nona Zwetta," ucap Goddard.
“Oriel, aku pikir kau sudah salah menerka dengan maksudku memintamu untuk berhenti menjadi pelayan pribadiku. Pertama, aku tidak tahu kalau kau menyukai Goddard. Kedua, aku tidak memintamu untuk berhenti karena aku hendak menjauhkanmu dari Goddard.
Aku memintamu berhenti menjadi pelayan pribadiku karena aku tidak menyukai sikap seenak jidatmu itu. Jangan menerka sesuatu kalau kau belum tahu pasti maksud seseorang!" ungkapku dengan raut wajah kesal.
"Saat ibu, kak Arthur, kak Halbert, dan Goddard ada, kau akan melayaniku dengan baik. Tapi saat mereka tidak ada, berapa kali pun aku meminta tolongmu, kau menghiraukanku. Inilah alasan kuminta kau berhenti menjadi pelayan dan pengawalku!
Hari ini kau telah bertindak seperti wanita yang kehilangan akal sehat dan telah melakukan percobaan pembunuhan padaku. Aku tak akan memaafkan perbuatanmu begitu saja Oriel," ungkapku lagi dengan tatapan tajam.
"Ayah, hanya itu yang ingin aku katakan padanya,” ucapku pada Duke.
Oriel diam tak bersuara, kepalanya masih tertunduk.
"Nona, saya mengakui apa yang telah saya perbuat pada nona adalah perbuatan yang tak bisa diampuni. Perasaan ini, perasaan yang saya miliki untuk Goddard telah menjadi boomerang untuk diri saya sendiri.
Saya tahu sebentar lagi saya akan mati. Sebelum itu, setidaknya saya harus meminta maaf padamu nona. Meski saya tahu nona tidak dapat memaafkan begitu saja, saya minta maaf karena tidak melayani dan mengawalmu dengan baik," ucapnya senbari tersenyum.
Senyum hangat yang muncul di saat terakhir disertai air mata dari pipinya yang penuh luka cambukan.
"Kau..kau..benar-benar bodoh Oriel..!!!" ucapku dengan suara bergetar menahan tangisan amarahku. Sekilas aku seperti merasakan ketulusan dari kata-katanya itu.
__ADS_1
"Tidak..tidak..tidak boleh!!! aku tak mau dibodohi olehnya lagi," ujarku dalam hati.
"Ayah, keputusan hukuman Oriel ada padamu. Tapi kalau aku boleh memberikan saran, aku sarankan kita tidak langsung menjatuhkan hukuman mati untuknya. Aku ingin dia bersumpah setia padaku dengan ritual Magic Voun yang pernah aku baca dibuku tentang ritual sihir," ucapku.
"Itu Bukan ide yang buruk Jewel," ucap Arthur.
"Magic Voun merupakan ritual sumpah setia antara master-servant. Setelah ritual ini dilakukan, maka apabila servant melanggar sumpah pada master-nya, ia akan langsung mati
diledakkan oleh kutukan sihir tak terampuni yang telah tertanam dalam jantungnya. Perintah master adalah perintah mutlak yang harus dilakukan," ujar Stanley.
"Aku rasa itu saran yang bagus daripada kita membunuhnya sekarang juga ayah," tambah Halbert.
"Oriel, aku telah memutuskan dua hukuman yang akan kuberikan padamu karena telah berniat membunuh putriku Ella. Kau berniat membunuh darah dagingku, itu sama saja kau berniat membunuhku Oriel.
Hukuman pertama, kau akan diberhentikan menjadi ksatria pasukan black knight saat ini juga.
Hukuman kedua, kau yang pilih, mati disini atau melakukan ritual magic voun dengan putriku Ella sekarang di hadapanku dan ketiga putraku.
Setelah itu kau bukan lagi menjadi bawahanku, tapi kau akan menjadi budak putriku," ucap Duke seraya menatap tajam Oriel.
"Ma..ma..maafkan saya tuan Duke," ucapnya dengan menangis tersedu-sedu.
"Aku tidak perlu maafmu Oriel, cepat katakan hukuman mana yang akan kau pilih?!!!" tanya Duke.
"Saya akan melakukan ritual magic voun dengan nona tuan," jawab Oriel.
"Baik tuan," ujar Grandy. Grandy pun segera membuka ikatan tali yang melilit tangan Oriel.
Duke menurunkan aku dari pelukannya dan menggandengku berjalan mendekat ke Oriel. Sesampainya aku di depan Oriel, aku meminta Duke untuk melukai sedikit tanganku agar bisa menjalankan ritual magic voun.
"Goddard lukai sedikit tangan Ella, aku tak sanggup melakukannya. Pastikan kau melukai telapak tangannya sedikit saja," pinta Duke.
"Baik tuan," ujar Goddard.
"Nona, maafkan saya," ucap Goddard.
"Tidak apa-apa Goddard," ucapku seraya memberikan telapak tangan kananku.
*Ssrreett
"Ouch!!" rintihku.
Duke dan ketiga kakakku terlihat sangat kesal melihat aku harus terluka. Goddard juga melukai telapak tangan kiri Oriel. Aku menggenggam tangan Oriel dan ritual magic voun pun dimulai. Oriel mulai merapalkan mantra sihir dan mengucapkan sumpah:
"Magic Voun Servant ! aku, Oriel Magdan dengan ini bersumpah setia pada Zwetta Ellaria Luksemburg. Mulai saat ini, ia adalah tuanku, aku akan melayani, mengikuti dan menuruti semua yang ia perintahkan seumur hidupku," ucap Oriel.
"Magic Voun Master ! aku, Zwetta Ellaria Luksemburg, dengan ini menerima Oriel Magdan sebagai pelayan seumur hidupku," ucapku.
Tiba tiba muncul sebuah sinar merah gelap dari bawah kursi yang Oriel duduki. Sinar itu masuk kedalam tubuhnya Oriel. Ia berteriak sangat keras dan mengerang kesakitan. Tidak berapa lama kemudian, ia pingsan.
__ADS_1
"Ritualnya telah selesai Ella," ucap Duke seraya mengelus kepalaku lembut.
Stanley menghampiriku dan langsung menggendongku.
"Ayah, kami berempat akan kembali ke rumah sekarang. Kami ingin segera mengobati tangan Ella," ucap Arthur.
"Pulanglah ke rumah dan cepat obati luka Ella!" ujar Duke.
"Baik ayah," jawab Stanley, Arthur, dan Halbert.
Stanley, Arthur, dan Halbert berjalan keluar dari ruang bawah tanah menuju kamarku.
"Tabib Cliff, tangan Ella terluka. Tolong cepat obati dia," ucap Halbert.
Kak Stanley membaringkanku ke atas kasur.
"Apa yang terjadi padamu Ella ? kenapa dengan tanganmu ?" tanya Duchess khawatir.
"Ia melakukan ritual magic voun dengan Oriel ibu," ucap Stanley.
"Magic voun**? apa ayah yang memberikan hukuman itu?" tanya Duchess.
"Iya bu, atas saran dari Jewel," jawab Arthur.
"Ella, apa tidak apa-apa kau membiarkan perempuan yang hampir membunuhmu itu hidup nak?" tanya Duchess.
"Ibu, aku memberikannya kesempatan kedua untuk menebus dosanya padaku. Lagipula kalaupun Oriel mau membunuhku lagi, maka ia akan terbunuh lebih dulu oleh kutukan magic voun yang sudah tertanam dalam jantungnya," ujarku.
"Ella memang putri ibu yang bijak," ucap Duchess seraya mengelus kepalaku.
Tiba-tiba, Adasha mendekati telapak tanganku dan menjilati lukaku.
"Geli Adasha..geli.." ujarku seraya tertawa kecil.
Lukaku sembuh seketika itu juga. Ibu, ketiga kakakku, tabib Cliff, dan semua ksatria yang berada dalam kamarku sangat terkejut. Ini pertama kalinya aku mengetahui bahwa Adasha bisa menyembuhkan luka juga.
"Wahhh..terima kasih Adasha!" ucapku seraya mendekap dan menciumi wajahnya.
"Sama-sama kak," ujar Adasha.
"Kalau aku terluka, aku akan memintamu untuk menjilatinya juga Adasha," ucap Halbert.
"Kau tidak takut kalau Adasha bukannya menjilati dan menyembuhkan lukamu, tapi malah akan menggigitmu dengan kuat Halbert?" tanya Stanley.
"Betul juga Kak Stanley, melihat luka gigitan Adasha pada tangan Oriel, sebaiknya aku tidak jadi saja memintamu untuk menjilati lukaku Adasha..hehehe," ujar Halbert.
Mendengar perkataan Halbert, kami berempat pun tertawa bersama. Rasanya ingin sekali aku bisa menghentikan waktu sebentar saja, agar aku bisa selalu menikmati momen kebahagiaan ini sedikit lebih lama bersama mereka.
- To be continued
__ADS_1