Destined To Be Empress

Destined To Be Empress
Chapter 14 - Oriel True Self III


__ADS_3

Setelah pergi memanggil dokter Cliff tadi, Halbert bergegas menuju kamar Oriel bersama Vince. Setibanya mereka di kamar Oriel, ia memerintahkan Vince untuk memeriksa kamar Oriel.


Vince memeriksa kesetiap sudut kamar, ia mengobrak-abrik semua barang-barang milik Oriel. Tidak ada satu benda pun yang mencurigakan dikamar ini pikir Vince. Ia pun berusaha menggeledah lagi, hingga sebuah buku diatas lemari baju Oriel menarik perhatiannya.


Diambilnya buku itu dan saat dibuka, ia menemukan lukisan wajah Goddard pada setiap halaman bukunya. Vince segera memberikan buku itu pada Halbert.


"Tuan muda Halbert, saya menemukan buku yang berisikan lukisan-lukisan wajah Goddard. Apakah ini bisa memberikan kita petunjuk?"


Halbert mengambil buku itu, dibuka dan diperhatikannya lembar demi lembar dengan seksama. Ditemukan olehnya bahwa ini buku ini berisikan catatan harian Oriel.


"Apakah perbuatannya pada adikku ada hubungannya dengan Goddard? kalau begitu, buku ini bisa memberikan kita petunjuk Vince," ujar Halbert.


Halbert pun bergegas kembali menuju kediaman Luksemburg dengan membawa buku catatan harian Oriel. Sesampainya dihalaman depan kediaman Luksemberg.


"Kalian tunggu disini, aku hendak melihat kondisi Jewel sebentar," ucap Halbert.


"Baik tuan muda Halbert," ucap Vince seraya menundukkan kepala memberi hormat.


Halbert berlari menuju kamarku. Ketika ia memasuki kamar, ia melihat Stanley yang sedang mengelus kepalaku.


"Halbert, dari mana saja kau ? kakak sudah pulang," ucap Stanley.


Halbert mendekati Stanley dan dipeluknya kakak pertamanya itu dengan erat. Halbert menangis dalam pelukan Stanley. Ia rindu pada kakaknya itu dan ini pertama kali baginya ikut mengurusi masalah di keluarga Luksemburg tanpa kehadiran Stanley.


Beban dihatinya seolah terangkat sudah saat ia melihat Stanley pulang. Stanley mengelus-elus punggungnya menenangkan adik ketiganya itu.


"Maafkan kakak terlambat pulang untuk membantumu dan Arthur, Halbert," ucap Stanley.


****


Duke dan Whitman bergegas menuju kamarku. Kesatria penjaga sudah menjelaskan semuanya pada Duke. Saat tiba dikamarku, Duke bergegas mendekati dan memeluk Duchess erat.


"Maafkan aku terlambat pulang kerumah Sapphira, aku sudah pulang," ucap Duke seraya membelai lembut surai Duchess.


"Kau lama sekali sampainya Ardolph," jawab Duchess sembari memukul-mukul kecil lengan Duke.


"Maaf..maaf istriku." Sungguh hanya kata maaf yang bisa dilontarkan oleh Duke. Ia benar-benar merasa bersalah karna telah lalai kembali menjaga putrinya.


"Apakah kondisi Ella sudah membaik Sapphira?" tanya Duke khawatir.


"Sudah Ardolph, kami sedang menunggunya bangun sekarang," jawab Duchess.


"Ayah, selamat datang kembali," ucap Halbert.


Dilihat oleh Duke mata Halbert yang sembab seusai menangis, ia mendekati Halbert dan memeluknya.


"Halbert, sekarang sudah tidak apa-apa nak, ayah dan kakakmu sudah pulang," ucap Duke senbari mengelus-elus punggung Halbert menghiburnya.


"Ayah, aku akan ke ruang bawah tanah. Ayah disini dulu saja menemani ibu, saat Ella sudah sadar, harap ayah menyusul kami kesana. Oriel dibawa kesana oleh Arthur," ucap Stanley.


"Baiklah Stanley, ayah akan menyusulmu kesana," jawab Duke.


"Kakak, aku ikut ke ruang bawah tanah. Ada yang perlu aku bawa kesana," ucap Halbert.

__ADS_1


Stanley menganggukkan kepal mengiyakan Halbert. Sebelum pergi Halbert mendekatiku, diusapnya kepalaku dan diciumnya keningku dengan penuh kelembutan.


"Cepatlah sadar ya my jewel.”


Stanley dan Halbert pun bergegas menuju ruang bawah tanah. Setibanya mereka berdua disana, Halbert memberikan pada Arthur buku catatan harian Oriel.


"Aku dan Vince menemukan ini diatas lemari pakaiannya kak Arthur. Aku curiga perbuatannya pada Jewel ini ada hubungannya dengan Goddard," ucap Halbert.


"Tidak..tidak..bagaimana tuan muda bisa menemukan itu?" tanya Oriel yang terlihat sangat panik.


****


[Sementara dikamar Ella]


Aku mendengar suara Duke dan Duchess, perlahan aku mulai membuka mataku. Saat membuka mata, aku melihat mereka berdua tengah memandangku dengan raut wajah mereka yang khawatir.


"Ayah, ibu!" panggilku.


"Ella sayang, kau sudah sadar nak?" tanya Duchess seraya memegang pergelangan tanganku.


Seketika aku menangis sesenggukan melihat wajah mereka. Rasanya semua rasa takut bercampur rasa tertekan harus menghadapi perlakuan Oriel meluap saat ini. Duke dan Duchess mendekapku erat. Pelukan hangat merekalah yang aku perlukan sekarang usai meregang nyawa kembali.


Sungguh sial diriku belakangan ini....


"Sudah tidak apa-apa sayang, ibu ada disini. Ibu akan menemanimu," ucap Duchess seraya mengelus-elus punggungku.


"Ayah juga sudah pulang Ella, kau sudah aman sekarang," ucap Duke sembari mencium pucuk kepalaku.


Kutarik nafasku dalam dan perlahan-lahan menenangkan diriku. Setelah tenang, aku meminum teh manis yang dibuatkan oleh Freya.


"Aku tidak apa-apa kak, aku senang kakak telah sadar," ucap Adasha.


"Terima kasih Adasha! kalau bukan karena gigitanmu yang ganas itu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku sekarang. Kau benar-benar naga kecilku yang hebat sekali!" ucapku seraya mengelus-elus kepalanya dan kuciumi wajahnya berkali-kali.


“Sudah cukup kakak, cukup..” ujar Adasha yang tengah meronta-ronta karena kuciumi wajahnya berkali-kali.


"Terima kasih banyak Adasha, kau telah melindungi Ella. Kami benar-benar sangat berterima kasih," ucap Duke.


"Adasha memang naga yang sangat bisa diandalkan dan pemberani ayah, ibu!” ujarku.


Duke dan Duchess menganggukkan kepala dan ikut mengelus kepala Adasha. Wajah Adasha yang memerah membuat kami bertiga pun tertawa melihatnya yang sedang tersipu malu.


"Freya, bawakan susu dan ikan segar untuk Adasha," pinta Duchess.


"Baik nyonya," jawab Freya.


"Ayah, dimana ketiga kakakku? dan dimana Oriel ibu?" tanyaku.


"Ia sudah dibawa oleh kakak-kakakmu ke ruang bawah tanah," ucap ibu.


Melihat perbuatannya padaku, sudah pasti dia akan disiksa atau bahkan dihukum mati oleh Duke dan ketiga kakakku.


"Ayah, bolehkah ayah membawaku kesana?" pintaku.

__ADS_1


Duke dan Duchess saling menatap karena terkejut. Setelah mengalami hal itu, aku terlihat tidak takut sama sekali untuk menemui Oriel.


"Sayangku, kau baru saja sadar nak, beristirahatlah," pinta Duchess.


"Benar apa yang dikatakan oleh ibumu Ella, biar ayah dan ketiga kakakmu yang mengurusnya," sambung Duke.


"Ayah, ibu, aku mengerti. Tapi aku merasa masalah ini perlu diluruskan agar tidak timbul kesalahpahaman dari semua pihak," pintaku.


"Baiklah, ayah akan membawamu kesana. Tapi berjanjilah pada ayah, setelah selesai, kau harus segera kembali ke kamarmu ya Ella," ucap Duke dengan mengulurkan kelingkingnya padaku.


"Iya, aku janji ayah," jawabku sambil mengaitkan jari kelingkingku ke jari kelingkingnya.


****


[Di ruang bawah tanah]


“Kau terlihat panik saat Halbert memberikan buku harian ini padaku?” tanya Arthur.


“Tidak..jangan dibuka tuan muda Arthur!” teriak Oriel dengan panik.


Arthur membuka buku harian itu, terlihat dilembaran-lembarannya terdapat lukisan-lukisan gambar Goddard.


“Isinya lukisan gambarmu Goddard, lihatlah ini!” ucap Arthur.


“Apa maksudnya ini Oriel?” tanya Goddard yang tengah terkejut, seolah tak percaya pada apa yang tengah dilihatnya.


Oriel tidak menjawab sepatah kata pun, wajahnya tertunduk malu.


“Jadi apa alasanmu mencengkram leher adikku?” tanya Stanley.


“Sa..ya..tidak berniat mencelakai nona hingga membunuhnya tuan muda, saya hanya menggertak nona saja,” jawab Oriel pelan.


“Menggertak katamu?” tanya Stanley dengan mata yang melotot tajam. Ia mendekati oriel dan mencengkram lehernya dengan kuat.


“Jadi maksudmu mencengkram dengan kuat seperti ini tidak akan membunuh Jewel? Kau benar-benar tidak sadar dengan posisimu Oriel. Membunuhmu saja hari ini tak cukup untuk membayar semua perbuatanmu padanya,” ucap Stanley dengan tatapan marahnya yang menakutkan.


Leher Oriel tercekik dan ia tak bisa bernapas, ia mulai merasakan nyeri yang luar biasa menjalar ke tengkuk dan dadanya.


“Kak Stanley, kita harus menunggu hingga ayah datang dulu kemari, barulah kita bisa membunuhnya,” ujar Halbert.


Stanley melepaskan cengkramannya.


“Bagaimana rasanya Oriel? menyakitkan bukan?” tanya Arthur.


“Itulah yang tadi Jewel rasakan saat kau mencengkramnya dengan kuat Oriel,” ujar Halbert.


“Katakan sekarang pada kami, apa yang membuatmu mencengkramnya kuat seperti tadi? Aku tidak akan mengulang dua kali pertanyaanku, kalau kau tidak menjawab, akan kuminta Grandy memotong tanganmu sekarang juga!” ucap Stanley dengan geramnya.


“Sa..sa..saya..”


Sebelum ia menyelesaikan ucapannya, aku telah berada didepan ruang bawah tanah bersama Duke.


“Kak Stanley, biar aku yang menjelaskan alasannya," ucapku.

__ADS_1


- To be continued


__ADS_2