
“Aku sependapat dengan Jewel tentang itu, sihir unik para pengguna unique magic memang sudah terkenal sangat kuat. Tapi bentuk kekuatannya masih simpang siur dikalangan orang awam. Yang benar-benar tahu bentuk kemampuan sihir para pengguna unique magic hanya para petinggi kerajaan dan para kesebelas pengguna unique magic,” ujar Stanley.
“Lalu bagaimana Mamon bisa membunuh paman Claimence kalau ia tidak mengetahui sihir uniknya? Apakah hanya dengan menggunakan kekuatan sihir membuat tidur lawan baik kuat atau lemah saja?” tanya Halbert.
"Berarti mereka memang sudah mengetahui hal ini dan sudah menargetkan kalian ayah," ucap Arthur.
“Benar..sudah jelas mereka sudah tahu kalau kau dan Claimence adalah pengguna sihir unik. Tapi menurutku sangat tidak mungkin Claimence dapat dibunuh hanya dengan kekuatan itu karena kemampuan unik sihirnya adalah sihir pedang astarikh,” ucap paman Ephraim.
"EPHRAIM!" teriak Duke seraya melototi paman Ephraim.
"Ooppss..aku keceplosan lagi..maafkan aku Ardolph!" ucap paman Ephraim sambil mengatupkan kedua tangannya.
Mendengar ucapan paman Ephraim, Halbert terperanjat hingga berdiri dari tempat duduknya.
“Pedang astarikh?! kalau paman Claimence punya pedang itu dan sihirnya, tak mungkin ia bisa dibunuh dengan kekuatan Mamon begitu saja,” ujar Halbert dengan tatapan tajam.
“Apa itu sihir pedang astarikh kak Halbert?” tanyaku.
“Pedang astarikh, ialah pedang yang disebut sebagai pedang titisan dewa. Sebagai seorang yang gemar berpedang, kakak mengidolakan pedang ini dan berharap suatu hari bisa melihatnya. Vince memiliki buku langka yang berjudul 'Pedang Astarikh & Elenoir'.
Ia pernah meminjamkannya pada kakak. Tak ku sangka, pedang itu dimiliki oleh paman Claimence.
Kekuatan sihir dari pedang itu adalah anti sihir.
Dengan kemampuan bertarung paman Claimence yang hebat, sungguh tidak mungkin ia dapat terbunuh begitu saja. Kemampuan unik sihir pedang astarikh sangat hebat karena bisa mematahkan sihir apapun,” jawab Halbert.
“Wah..wah Halbert, paman tidak menyangka kau banyak tahu soal ini!” ucap Paman seraya merangkul pundak Halbert.
Mendengar penjelasan Halbert tentang unique magic pedang astarikh, membuatku merasa ada yang janggal. Aku mengerutkan dahiku, tengah berusaha mengingat semua kejadian pada hari dimana Lydia memberitahuku hingga Morgan dibunuh oleh Mamon.
Kususun semua rangkaian kejadian demi kejadian, hingga aku menemukan titik kejanggalan itu.
“Ra..cun..,” ucapku terbata-bata.
“Apa maksudmu Jewel?” tanya kak Arthur.
“Malam dimana Morgan dibunuh, aku dan ayah ada disana menyaksikan kejadian itu. Saat itu aku sangat ketakutan hingga tak memikirkan hal ini. Pada malam itu, Mamon tidak membuat Morgan tertidur menggunakan kekuatannya. Sebelum mati, Morgan memegang dada sebelah kirinya lalu ia memuntahkan darah dan langsung mati seketika.
Tidak ada yang bisa membunuh manusia secepat itu selain racun. Hal yang membuatku lebih yakin lagi kalau itu racun adalah saat aku mengamati Morgan yang tengah merapikan dokumen dimeja ayah, ia tampak terlihat memegang sesekali kepala dan perutnya. Seolah ia sedang menahan sakit,”ucapku.
__ADS_1
Mata Duke, Duchess, paman Ephraim, dan ketiga kakakku melebar mendengar perkataanku.
“Ayah baru sadar Ella! tidak ayah sangka, ayah bisa melewatkan sesuatu sepenting itu," ujar Duke yang terlihat kesal.
Mendengar penjelasan tersebut, membuat paman Ephraim semakin kagum dengan Zwetta. Ia tidak menduga anak perempuan Ardolph sangatlah cerdas.
“Kalau racun yang membunuh paman Claimence, itu sangat masuk akal Jewel! seperti biasa, kau tidak pernah berhenti mengejutkan kakak dengan kecerdasanmu,” ujar Arthur.
“Jewel, jadi maksudmu paman Claimence dan Morgan telah diracuni terlebih dulu oleh Mamon?” tanya Stanley.
Aku mengangguk pelan atas pertanyaan Stanley.
“Ella, menurutmu darimana dan bagaimana ia bisa meracuni Claimence dan Morgan?” tanya Duchess.
“Kemungkinan besar dari makanan atau minuman yang mereka santap ibu,” jawabku.
“Ti..ti..dak mungkin, bagaimana bisa? apa ada pelayan kita yang menjadi kaki tangannya Mamon?” tanya Duchess panik.
“Ibu benar, ibu tidak lupa bukan dengan iblis yang menyamar menjadi manusia yang telah dibunuh oleh Whitman, Goddard, Grandy dan Vince waktu itu? merekalah kaki tangan Mamon yang menaruh racun itu dihari kita sekeluarga akan dibunuh,” jawab Arthur.
"Tapi kalau mereka memang diracun, kenapa mereka berdua tidak langsung mati?" tanya Duchess.
"Begitu ya sayang, kau memang putri ibu yang sangat cerdas," ucap Duchess seraya mengelus kepalaku.
“Sekarang kita telah menggagalkan rencananya untuk meracuni kita, saat dimana kita membunuh kaki tangannya bulan lalu. Hingga saat ini belum ada pergerakan darinya, kita masih punya waktu sekitar delapan hari dan ini berarti kita tidak boleh sampai lengah,” ucap ayah.
"Bicara racun, ini benar-benar merepotkan Ardolph," gumam paman Ephraim.
"Kau benar Ephraim, anti racun adalah item sangat langka. Setahuku, hanya ras naga yang bisa membuatnya," ucap Duke.
Aku memanggil Adasha untuk keluar dari gua sihirnya.
“Adasha, kau memiliki sihir penyembuh bukan? Apakah bisa kau membuat sebuah penetralisir racun?” tanyaku.
“Saat semburan es milikku mencair maka akan menjadi air naga Galaea yang bisa menetralisir semua jenis luka dan racun kak. Hanya kami naga Galaea yang bisa membuat ini,” ucap Adasha dengan bangga.
“Wah hebat sekali Adasha! kaulah penyelamat kami!” ucapku seraya memeluk naga kecil itu.
Semuanya lega mendengar perkataan Adasha, mereka mendekati dan mengelus pelan kepalanya.
__ADS_1
"Tunggu dulu, bagaimana kita bisa bertahan dari kemampuannya membuat tidur lawannya Ardolph?" tanya paman Ephraim.
"Dipagi hari saat kejadian, kita semua akan berkumpul lagi disini. Putriku Ella, akan merapalkan sihir Adasha yang bisa menghilangkan efek tidur dari Mamon," jawab Duke.
“Wah, selain cerdas, putrimu juga pengguna sihir naga yang sangat kuat Ardolph. Kau tahu bukan, kalau teman kita yang sesama pengguna unique magic melihatnya, maka ia pasti akan ditetapkan sebagai pengguna unique magic keduabelas," ucap paman Claimence.
"Aku akan serahkan keputusan itu pada putriku nanti, dia masih sangat kecil," ujar Duke.
"Baiklah..kalau begini, kita tidak perlu menahan diri lagi kan Ardolph?” tanya paman Ephraim.
Duke mengangguk setuju pada paman Ephraim.
“Ardolph, malam itu kau pancing saja dia dan serahkan padaku sisanya. Amarahku tak akan pernah padam sebelum kubalaskan dendam Claimence,” ujar Ephraim dengan tatapan penuh amarah.
“Ephraim, jangan tunjukkan tatapan mengerikan itu didepan anak-anakku,” ujar Duchess yang terlihat terganggu oleh tatapan paman Ephraim.
“Baik kak Sapphira, maafkan aku kak. Lama tidak berjumpa dan kegalakanmu belum berubah sama sekali yaa,” goda paman Ephraim seraya mengambil punggung tangan Duchess dan menciuminya.
Di kerajaan Magentia ini, seperti itulah cara menyapa wanita bangsawan. Membayangkan suatu hari aku akan diperlakukan seperti itu oleh para bangsawan pria sudah membuatku tidak nyaman sama sekali.
“Ephraim kau yakin?” tanya Duke serius.
“Tentu saja! kalau aku kelepasan, kan ada dirimu Ardolph. Pastinya kau tidak akan membiarkanku mengamuk bukan?”
Duke menghela nafas panjang, tangannya tengah terlihat memegang kening kepalanya. Dipandanginya Ephraim yang tengah menatapnya penuh harap.
“Jika aku bersikeras menolak membantunya, Ephraim pasti akan semakin menjadi-jadi memohon padaku..” Duke merasa dilema, tak ada pilihan lain baginya untuk mengiyakan permintaan paman Ephraim.
“Meski ada aku, jangan mudah diprovokasi oleh musuh, kau paham Ephraim?” tanya Duke dengan tatapan mata yang serius.
Paman Ephraim berjalan mendekati Duke dan menepuk pundaknya pelan, “Baiklah Ardolph, aku mengerti.”
****
Selesai dari perundingan siasat kami hari itu, aku dan Adasha mulai membuat penetralisir racun dan memberi minum ini untuk Duke, Duchess, aku, ketiga kakakku dan paman Ephraim. Setetes saja penetralisir racun ini, bisa melindungi tubuh dari racun apapun selama tiga hari.
Rencana Mamon untuk meracuni keluargaku, sudah gagal. Namun, kami semua tetap tidak boleh sampai lengah.
- To be continued
__ADS_1