Destined To Be Empress

Destined To Be Empress
Chapter 12 - Oriel True Self I


__ADS_3

Aku memutuskan untuk membeli bahan kulit kayu berwarna coklat, hijau, biru, masing-masing sebanyak sepuluh buah dan kertas tulis tebal.


"Berapa harga semuanya?" tanyaku.


Evelyn tiba tiba terdiam, matanya terlihat berkaca-kaca.


What the? kenapa dia jadi mellow gini sih? aku yakin ga ngelakuin kesalahan atau sesuatu apapun yang membuatnya sedih.


"Kau kenapa Evelyn?"


Sebenarnya Evelyn sangat senang karna hasil kerja keras ayahnya sudah laku terjual sekarang. Sejak kemarin, ia sudah menjajakan dagangannya selama dua hari.


Namun belum ada satupun yang terjual. Ia terharu melihat ada ada seorang nona muda bangsawan baik yang berkenan memborong jualannya ini.


"Tidak apa Nona. Nona adalah pelanggan pertamaku, jadi hari ini aku akan memberi nona bonus. Semuanya lima keping emas saja nona," jawabnya.


Apa?Lima keping emas? aku mengambil sebanyak ini dan semua hanya lima keping emas? bukankah ini terlalu murah untuk bahan-bahan sebagus ini? Hmm..aku akan memberikannya tujuh keping emas saja.


"Ini bayarannya."


"Nona..ini kelebihan dua keping emas..," ucap Evelyn.


"Tidak apa-apa, ambilah dua keping emas itu. Kau juga telah memberikan bonus untukku bukan?" jawabku sambil tersenyum.


"Te..te..terima kasih nona!" jawab Evelyn.


"Sampai bertemu dilain waktu Evelyn," ucapku.


Tampak Evelyn melambaikan tangannya sampai kami sudah tidak terlihat lagi. Aku, Oriel, dan Goddard pun melanjutkan belanja. Tanpa terasa ini sudah jam 5 sore.


Pheww..akhirnya bahan-bahan yang aku perlukan untuk membuat hadiah Stanley sudah terkumpul semua, gelas yang aku hias di pengrajin keramik tadi juga sudah selesai dan akan diantarkan besok ke rumah. Setelah itu, kami bertiga pun berjalan pulang.


Setiba kami bertiga di kediaman Luksemburg.


Aku melihat kedua kakak ku tengah berbincang-bincang didepan rumah.


"Kakakk!!!" panggilku.


"Jewel, kau darimana saja?" tanya Halbert.


"Sepertinya dia habis pergi berbelanja ke pasar Halbert," ujar Arthur seraya mengelus kepalaku.


"Iya kak Arthur, kak Halbert..ada yang ingin aku buat," ucapku.


"Wahh..kau mau membuat apalagi kali ini?" tanya Halbert penasaran seraya merangkul bahuku.


"Ada deh..r.a.h.a.s.i.a!" ucapku.


Ternyata mereka menungguku pulang. Perhatian sekali mereka berdua. Ucapku dalam hati seraya tertawa pelan.


"Apa ini? bagaimana bisa ada rahasia diantara kita Jewel?" tanya Arthur.


"Hihihihihi..ini kejutan untuk kak Stanley, jadi aku tidak bisa memberitahukannya pada kalian berdua kak," jawabku.


"Apa kau hanya akan memberikan kejutan pada kak Stanley?" tanya Halbert sembari menundukkan kepala. Ia terlihat kecewa.

__ADS_1


"Jewel..kau tidak bisa begitu, aku juga mau kejutan darimu," ucap Arthur.


"Kak Arthur, Kak Halbert, kejutanku ini hanya akan kuberikan pada kalian saat kalian akan pergi bersekolah ke royal akademi," jawabku sambil merangkul lengan mereka berdua.


"Hmm..baiklah. Aku jadi sangat menantikan hari dimana aku akan bersekolah di royal akademi," ujar Arthur.


"Iyaa, aku juga jadi sangat menantikan hari itu," sambung Halbert.


Kami bertiga bercengkrama dengan asiknya seraya berjalan ke kamarku. Saat hendak memasuki kamarku, Grandy dan Vince terlihat tengah berjalan menuju kamarku juga.


"Tuan muda Arthur, sekarang sudah jadwal tuan untuk berlatih pedang. Kumohon jangan kabur-kabur terus tuan muda, ini semua demi kepentingan tuan muda sendiri," ucap Grandy.


"Aku lelah Grandy, biarkan aku beristirahat sejenak," jawab Arthur.


Grandy mulai emosi..


"Bukankah tuan muda Arthur sudah beristirahat sejak tiga jam yang lalu? kalau tuan muda Arthur tidak pergi latihan sekarang, besok aku akan tambahkan menu latihan memukul boneka jerami tuan menjadi tiga ratus kali!" ucap Grandy dengan nada kesal dan tatapannya yang mengintimidasi.


"Tung..tung..tunggu..baiklah..baiklah, aku akan segera pergi latihan sekarang Grandy. Jewell..kakak pergi latihan dulu ya," ucap Arthur seraya mencium pipi kananku.


"Jewel, sampai ketemu lagi nanti," ucap Halbert seraya memeluk dan mencium pipi kiriku.


"Saatnya untuk la.........."


Belum selesai ia berbicara, Vince menarik kerah bajunya dari belakang.


"Tuan muda Halbert, mau lari kemana kah tuan?" tanya Vince.


"Tidak Vince, aku tidak lari kok. Lepaskan aku...lepaskan aku. Vince, kau telah membuatku terlihat konyol depan Jewel! cepat lepaskan akuu!!!" pekik Halbert.


"Tuan muda Halbert, nanti tuan akan memukul boneka jerami sebanyak tiga ratus kali," ucap Vince.


"Banyak sekali Vince?" tanya Halbert.


"Kalau begitu empat ratus kali," ucap Vince.


"Kenapa bertambah lagi?" tanya Halbert sambil tambah meronta-ronta.


"Baiklah, lima ratus kali," ucap Vince.


Seketika itu juga Halbert diam dan tidak memberikan perlawanan lagi. Melihat hal itu aku pun tertawa terbahak-bahak. Ada-ada saja mereka berdua.


Sore itu, pembuatan buku notes untuk Stanley pun dimulai, aku dibantu oleh Oriel dan Goddard.


"Nona, saya pergi ke markas pasukan black knight dulu untuk memeriksa dan memberikan arahan pada pasukan saya," ucap Goddard.


"Baik Goddard, pergilah. Sebelumnya Oriel,Goddard, terima kasih hari ini sudah menemaniku ke pasar dan membantuku memotong bahan kain ini," ujarku senbari tersenyum senang.


"Sama-sama nona," balas Oriel dan Goddard.


"Oriel, kau tetaplah disini menemani nona Ella," perintah Goddard.


"Siap, laksanakan kapten!" balas Oriel.


Ketika Goddard sudah keluar dari kamarku. Oriel yang tadi tengah membantuku membuat buku notes tiba-tiba berhenti. Oriel pergi keluar kamarku, tanpa mengucapkan satu patah katapun. Aku bingung mengapa ia tiba-tiba bersikap seperti itu?!

__ADS_1


Sikap Oriel yang pergi keluar dan tidak mengurusiku ketika tidak ada Goddard dan sebaliknya saat Goddard ada, ia baru akan mengurusiku itu terjadi setiap hari. Ia hanya berdiri depan pintu kamarku tanpa melakukan apapun. Setiap malam aku akan mengurusi mandi dan pakaianku tanpa dibantu olehnya.


Saat aku akan pergi ke ruang makan atau ke kamar ibu dan ketiga kakakku, ia akan menemani dan melakukan tugasnya seperti biasa. Tapi saat tidak ada siapapun, berapa kali pun aku memanggil dan memintanya, ia seperti berpura-pura tidak mendengar.


Inikah diri Oriel yang sebenarnya?


Sepuluh hari telah berlalu, ayah dan Stanley akan pulang hari ini. Entah apa yang merasuki Oriel hari ini, sejak pagi ia membantuku mandi dan memasangkan pakaian seperti yang seharusnya ia lakukan.


Sepertinya aku tahu! ini karena ayahku akan segera pulang, makanya sikapnya berubah lagi.


Sikapnya selama sepuluh hari ini, sengaja aku diamkan. Apakah dia tidak berpikir kalau aku bisa saja melaporkannya pada ayah? jangan kira aku diam karena aku pengecut Oriel!


"Oriel, terima kasih atas bantuanmu selama ini. Kau tidak perlu menjadi pelayanku lagi. Aku akan mengatakannya pada ayah saat ia tiba nanti," ucapku.


"Apa maksud nona?!" tanyanya seolah tidak mengerti apa yang aku ucapkan.


"Aku memintamu untuk tidak menjadi pelayan pribadiku lagi Oriel," jawabku.


Tiba-tiba ia menarik rambutku dengan kuat dan melempar badanku ke lantai.


"Aku tidak akan seperti ini kalau nona tidak memintaku untuk berhenti menjadi pelayan pribadimu," ucap Oriel dengan tatapan mengintimidasi.


"Oriel, aku tidak akan merubah keputusanku karena aku sangat muak pada sikapmu!" jawabku dengan tatapan tajam dan tak bergeming.


Oriel tampak kaget, ia melihat dimataku tidak ada ketakutan dan kegentaran. Justru ia yang mulai terlihat takut.


"Tidak..ini tidak boleh terjadi..aku mau terus mendampingi kapten Goddard mengawal nona. Aku tak mau terpisah dengannya," ucap Oriel dalam hati.


"Adasha, dimana posisi Goddard sekarang?" tanyaku pada Adasha dalam kepalaku.


"Ia sedang berjalan menuju ke kamarmu kak," jawab Adasha.


"Berapa menit lagi kira-kira ia akan sampai?" tanyaku.


"Sekitar tujuh menit lagi kak," balas Adasha.


"Terima kasih Adasha," jawabku.


"Muncullah saat ia mungkin akan melakukan tindakan yang mengancam nyawaku Adasha. Ketika itu terjadi, keluarlah dan gigit wanita ini sekuat-kuatnya," ucapku.


Aku berharap Adasha tidak perlu sampai keluar.


"Aku tidak mau melihatmu kesakitan kak," jawab Adasha sedih.


"Aku juga tidak mau Adasha, tapi mau bagaimana lagi. Aku mengandalkanmu untuk keselamatanku," ucapku.


"Baiklah, serahkan padaku kak," ucap Adasha.


Tiba-tiba Oriel berjalan cepat mendekatiku. Aku langsung berusaha menghindar dan berlari menuju kamar mandi. Pikirku aku akan bersembunyi disana.


Tapi, dengan menggunakan sihir tanahnya, kakiku dibuatnya tak bisa bergerak. Tanah sekeras batu tengah menahan kakiku saat ini. Posisi tubuhku tengah membelakangi Oriel. Ia mendekati aku dari belakang.


"Kalau perintah nona tidak berubah, sebaiknya nona mati saja," bisiknya.


- To be continued 

__ADS_1


__ADS_2