
Tengah malam ini, aku pergi diam-diam melalui selokan istana Kekaisaran. Rute selokan tembus langsung ke tengah ibukota, selain itu paling aman pergi dari sini karna tidak ada penjagaan.
Aku terus berjalan menyusuri selokan bawah tanah menggunakan lentera dan gambaran rinci infrastruktur istana kekaisaran yang kuambil dari perpustakaan. Tiba-tiba aku merasa ada seseorang mengikutiku dari belakang.
Aku semakin mempercepat langkahku tanpa mempedulikannya. Aku tidak mau meladeninya karena itu akan membuang-buang waktuku saja. Tapi semakin cepat langkahku, orang itu semakin cepat juga mendekatiku.
Aku mengumpat dalam hatiku, bisa-bisanya ada yang mengikutiku disaat aku sedang terburu-buru seperti ini. Lebih baik aku bereskan saja dulu dia daripada ia terus mengusikku begini.
Aku menoleh kebelakang dan tidak menemukan siapapun, hanya gelapnya lorong yang kulihat.
Dengan penerangan yang minim, aku tidak bisa menemukan orang itu. Aku pun meminta tolong Adasha. "Adasha, dimana orang yang mengikutiku berada?" tanyaku pada Adasha dalam benakku.
"Orang itu ada di sudut kanan lorong kak," jawab Adasha. Aku pun menatap sudut kanan lorong dan bersiaga diri. "Tunjukkan dirimu! aku tahu kau ada disana," pekikku. Lalu munculah sosok lelaki berambut hitam dengan iris mata hijau dari kegelapan. "Jewel," panggilnya.
Mataku membola tak percaya. "Kak Stanley!!!" pekikku. "Oh my God! kok kakak bisa disini?!" tanyaku yang sedang kaget bukan main.
Stanley berjalan mendekatiku lalu menyentil dahiku. "Bodoh!"
"Ouch! apaan sih kak?!" gumamku sambil memegang dahiku yang sakit.
"Harusnya kakak yang bertanya seperti itu padamu. Apa yang kau lakukan disini jewel?" tanyanya sambil melipat kedua tangannya didada.
"Tidak ada waktu lagi kak! akan kuceritakan nanti setelah kita keluar dari sini. Sekarang, kita harus bergegas pergi dulu." Ucapku sambil menarik tangan Stanley tanpa aba-aba dan mulai berlari.
Aku dan Stanley berlari menyusuri lorong demi lorong dalam selokan hingga sampailah kami berdua di ujung lorong dan menemukan tangga jalan keluar dari selokan ini.
"Biar kakak yang buka tutupnya," ujar Stanley sambil menaiki tangga dan memutar tutup tepat diatas tangga itu. Setelahnya aku pun menaiki tangga dan akhirnya kami berdua keluar dari selokan dan sampai di ibu kota Kekaisaran Moncerrat, Tarthaire.
Aku pun menceritakan pada Stanley alasan kepergianku.
"Jadi kau berencana untuk pergi ke hutan flame oak sendirian?" tanya Stanley dengan penuh penekanan pada kata sendirian. Aku mengangguk pelan. Lalu tiba-tiba ia menarik tanganku dan berjalan dengan cepat. "Tidak bisa, kakak akan membawamu kembali ke istana!" ucapnya setengah berteriak.
"Tidak! aku harus pergi ke hutan itu kak. Lepaskan aku kak Stanley!" pekikku sambil menarik-narik tanganku berusaha melepaskan genggamannya. "Kumohon lepaskan aku kak, kakak mau aku cepat jadi janda muda?" tanyaku memelas.
Stanley pun berhenti dan membalikkan badan. "Apa kau sadar perbuatanmu ini akan mendatangkan masalah untukmu nanti?" tanya Stanley.
"Aku sadar kak, tapi apapun konsekuensinya aku siap menanggungnya," ucapku yakin.
"Ikut kakak," pinta Stanley yang kembali menarikku. Benar-benar batu kakakku yang satu ini, selalu sulit di ajak berkompromi. "Kakak kumohon biarkan aku pergi, aku tidak bisa kembali ke istana kekaisaran sekarang." ucapku.
__ADS_1
"Kakak tidak akan membawamu kembali ke istana sekarang, ikut saja," pintanya. Aku menghela nafas panjang sebelum akhirnya berhenti menolak genggaman Stanley dan berjalan mengikutinya. Setelah berjalan sekitar 15 menit, kami berhenti di jalan setapak yang sepi.
Mataku melebar menatap tidak percaya, didepan jalan setapak itu ada kereta berwarna biru gelap dengan hiasan tepian perak dan memiliki simbol pedang dan perisai. Tidak salah lagi, ini kereta kuda milik keluargaku.
Senangnya bisa melihat kereta yang sudah menemaniku dan keluargaku kemanapun dari dari kecil. Aku langsung mendekati kereta kuda itu dan membuka pintunya. Seketika aku berteriak kaget. "Huaaaaaaaaaa!!!!"
Disaat yang bersamaan Arthur dan Halbert yang tengah duduk dalam kereta pun terperanjat mendengar teriakanku.
"Jewelllllllllllllll!!!!" pekik keduanya.
Badan kami mematung dan bertatap-tatapan dalam diam beberapa saat hingga Stanley menepuk pundakku. "Naiklah, kita bicara didalam," pintanya. Aku mengangguk dan masuk kedalam kereta kuda itu. Aku dan ketiga kakakku langsung berpelukan saling melepas rindu.
"Wah aku masih tak percaya kalian bertiga ada didepan mataku sekarang!" ucapku ceria. "Tapi kenapa kalian bertiga bisa ada disini? apa ada urusan di ibu kota?" tanyaku penasaran.
Arthur mengusak kepalaku. "Emangnya ada urusan apalagi selain perjodohan dan pernikahanmu jewel?"
"Apaa?! jangan katakan kalian memata-mataiku selama ini?" tanyaku sambil menatap wajah ketiga saudaraku menuntut jawaban. Mereka bertiga lalu membuang muka dan tampak menggaruk kepala tidak gatal.
"Astaga, ternyata benar tebakanku!" gumamku.
"Ya memang, salahkan aturan kekaisaran sialan yang tak mengizinkan keluarga mempelai wanita untuk menghadiri pernikahan Kekaisaran Moncerrat," ketus Stanley.
"Lagipula kau tidak berpikir ketiga saudaramu ini akan membiarkanmu dibawa begitu saja oleh mereka kan?" tanya Halbert seraya menyenggol tanganku pelan.
Kalian...
Tak kuduga, mereka sampai sebegininya mengkhawatirkan aku.
"Kalian emang yang terbaik! Aku sangatlah beruntung memiliki kalian kak. Ella selalu dan akan selalu menyayangi kalian," gumamku.
Mereka bertiga tersenyum lebar mendengar ucapanku.
"Dan kami pun selalu menyayangimu adik," ucap Arthur.
"Yaps, betul itu." Sambung Halbert lagi.
"Tapi kalau bandel kayak malam ini, rasa sayang kakak berkurang 5% padamu," celetuk Stanley.
Aku tertawa mendengar celetukannya, kurasa dia kesal denganku tadi. Sementara Arthur dan Halbert menatap Stanley kebingungan. Stanley pun mulai bercerita tentang apa yang terjadi tadi pada Arthur dan Halbert.
__ADS_1
Halbert mengernyitkan dahinya. "Pergi ke hutan flame oak?" tanya Halbert
"Sendirian?" sambung Arthur.
Arthur dan Halbert menggeleng bersamaan. "Tidak Boleh."
Aku menghela nafas kasar, kalau sudah begini mereka menjadi menyebalkan. Aku pun berusaha menjelaskan pada mereka alasan kepergianku. Udah macam presentasi aja anjr*t.
Kalau ga gini, pasti ga dibolehin dan dipersulit mereka nanti.
"Kalau kami bertiga ikut bagaimana?" nego Stanley.
"T.I.D.A.K" jawabku sambil memalingkan muka.
"Saat ini kalian bertiga sudah punya tanggung jawab dan urusan sendiri. Kak Stanley dengan urusan administrasi militer dan lamaranmu, Kak Arthur dengan urusan bisnis keluarga dan perjodohan, yang terakhir Kak Halbert yang masih harus mengamati Beatrice. Aku juga sudah punya tanggung jawab kak, aku bertanggung menjadi istri yang baik untuk Pangeran Elgant seperti ibu kita. Aku hanya ingin dia segera sembuh dan menjalani hidup dengan sehat. Kumohon mengertilah ya," pintaku pada mereka.
Mendengar perkataanku, mereka bertiga tampak bimbang sebelum akhirnya dengan berat hati mengizinkanku.
"Boleh, tapi dengan satu syarat," ucap Stanley.
"Pengawal bayanganku harus ikut untuk melindungi dan mengawasimu." Sambung Arthur.
"Tidak ada penolakan lagi atau malam ini kami bertiga akan membawamu kembali ke istana," ancam Stanley.
"Meski kau akan dihukum saat pulang ke istana kekaisaran, setidaknya kau aman disana dibanding di hutan flame oak." Ucap Halbert.
Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung memberikan jawabanku pada mereka. "Setuju."
Setelahnya, kami mengobrol hal lainnya. Mereka bercerita kalau selama ini mereka memata-matai aku melalui pelayan dan pengawal istana Kekaisaran Moncerrat yang adalah mata-mata Stanley dan Arthur.
Aku cukup terkejut mendengarnya karena setahuku sistem penerimaan pelayan dan pekerja istana kekaisaran itu sulit. Tapi mereka berdua berhasil menyusupkan mata-mata disana. Aku hanya bisa berdecak kagum melihat kerjaan mereka.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, kami berjalan menuju pasar Talthaire. Disana Stanley menyewa lagi satu kereta kuda tambahan yang besar dengan kursi yang sangat empuk. Mereka memberiku perbekalan dan tambahan uang pegangan. Padahal aku sudah membawanya, tapi tetap saja mereka memaksa. Ya mau dikata apa lagi?
Jalur dari Talthaire ke Osgard dan Ke Basteria itu berbeda, jadi kami akan berangkat terpisah. Setelah berpamitan dengan mereka bertiga, aku pun berangkat menuju kota Basteria, Kerajaan Magentia.
P.o.v Zwetta Ellaria, end.
- To be continued
__ADS_1